Pengantin Pengganti Tuan Lumpuh

Pengantin Pengganti Tuan Lumpuh
Bab Dua puluh tiga


__ADS_3

Happy Reading.


William pulang ke rumah sudah malam, jam menunjukkan pukul 9 lebih. Akhir-akhir ini dia memang banyak sekali pekerjaan yang tidak bisa dilakukan dirumah, sehingga dia harus menyelesaikan dikantor.


William tahu jika memforsir tubuh dan pikirannya terlalu berat akan berdampak pada kesehatan nya. Namun, semua ini dia lakukan karena Hanum. Rencananya Minggu depan setelah semua pekerjaan William rampung, dia akan mengajak sang istri untuk bulan madu ke Maldives.


Jadi jangan heran kalau William giat sekali, bahkan bisa mengadakan meeting sehari dengan 6 klien dari berbagai negara.


William masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu karena dia membawa kunci cadangannya. Lampu ruang tamu sudah redup dan beberapa lampu lainnya juga sudah mati, menandakan jika Hanum dan Bik Sum sudah beristirahat. William segera melangkah menuju lantai atas, dengan sedikit berlari dia menuju kamarnya dan dan Hanum.


Tidak dipungkiri jika William begitu merindukan sang istri, seharian ini dia hampir tidak menyentuh ponsel sehingga tidak tahu keadaan istrinya. Bukan maksud William tidak mau mengabari, tapi dia benar-benar sibuk sampai lupa membuka ponsel atau sekedar mengirim pesan dan mengabari sang istri.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka, William masuk dan melihat pemandangan seperti biasanya, yaitu sang istri yang sudah terlelap di atas ranjang. William mendatangi Hanum terlebih dahulu untuk menatap wajah sang istri. Kemudian mencium rambutnya sebentar sebelum masuk ke kamar mandi.


William hanya membasuh muka dan cuci tangan kaki, serta berganti pakaian. Dia tidak mandi karena memang sudah mandi dikantor sore tadi.


Setelah beberapa menit, William keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai piyama tidur. William mengambil berjalan ke arah sofa dan mengambil tas kerjanya diatas meja, William duduk sebentar untuk mengambil laptop di dalam tas.


"Huh, tinggal memeriksa laporan-laporan ini, setelah itu aku harus tidur," gumam pria itu.


William berdiri dan berjalan ke arah ranjang, dia ingin berada di dekat istrinya, William duduk bersandar di samping Hanum dengan memangku laptop. Kali ini William mengecek laporan-laporan yang masuk ke dalam filenya sambil sesekali mengelus kepala Hanum.


William tersenyum kecil saat melihat Hanum menggeliat. Sungguh istrinya itu terlihat cantik natura kalau sedang terlelap seperti ini.

__ADS_1


Pria itu sesekali menguap karena memang sudah mengantuk, akhirnya setelah setengah jam kemudian William memaksakan diri untuk tidur. Setelah meletakkan laptop di atas meja pria itu kembali naik ke atas ranjang dan mendekap sang istri.


"Good night my wife," bisik William di telinga Hanum kemudian mengecup pipinya.


Keesokan harinya, Hanum bangun terlebih dahulu. Dia sudah bisa melaksanakan sholat subuh karena memang sudah bersih sejak siang kemarin.


(Bersih artinya suci dari haid)


Hanum melihat sang suami yang masih tidur terlelap, seperti sebelum-sebelumnya Hanum tidak pernah tahu jam berapa suaminya itu pulang karena dia juga sudah tidak ingin menunggu lagi. Apalagi seharian ini William juga hanya mengabari sekali di waktu siang.


Hanum merasa suaminya itu telah banyak berubah semenjak kembalinya mantan calon istrinya itu. Sungguh Hanum tidak sanggup jika harus patah hati, sehingga memilih untuk cuek dan tidak peduli dengan keberadaan Katrine. Meskipun tidak memungkiri jika Hanum juga merasa resah setiap kali memikirkan hal-hal yang tidak-tidak tentang suami dan mantan kekasih suaminya itu.


Biarlah mereka hidup seperti ini, Hanum sudah lelah. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Katrine, jika William ingin kembali dengan wanita itu sehingga membuat pria tersebut mengabaikan keberadaan Hanum di rumah ini meskipun tidak secara terang-terangan.


Pia itu melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi, itu artinya waktu subuh telah tiba.


William sebenarnya masih merasa mengantuk, tapi dia juga harus segera bangun karena tidak ingin melewatkan salat berjamaah bersama sang istri.


Dari mana William tahu kalau Hanum sudah bersih? Karena tadi siang Hanum berpamitan untuk mengambil wudhu karena akan melaksanakan salat Dzuhur saat membalas chat nya yang terakhir.


Beberapa saat kemudian William melihat pintu kamar mandi terbuka, terlihat Hanum keluar dengan wajah yang sudah lebih segar. Sepertinya istrinya itu sudah selesai cuci muka sekaligus berwudhu.


"Mas sudah bangun?" Tanya Hanum sambil berjalan ke arah meja riasnya dan duduk di sana. Dia sedikit terkejut melihat William yang juga tengah menatapnya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


William menguap lebar, "iya, kok nggak bangunin mas sih?"

__ADS_1


"Mas kelihatannya capek banget, jadi niatku bangunin mas nanti setelah aku selesai wudhu," jawab Hanum sambil mengambil mukena yang dia taruh di lemari di bawah laci meja rias.


Kemudian Hanum memakai mukena nya, semua kegiatan Hanum tidak terlepas dari pandangan William. Kalau saja Hanum tidak sedang memiliki wudhu, sudah pasti William akan memeluk dan mencium pipi wanita itu.


"Ya udah Mas ambil air wudhu dulu ya kita salat berjamaah, kayaknya udah lama banget kita nggak sholat berjamaah bareng," ujar William kemudian melangkah menuju ke kamar mandi.


Hanum menghela nafas, sebenarnya dia ingin sekali cuek kepada William tetapi entah kenapa tidak bisa. Hanum bukan tipe orang yang memendam amarah, lebih baik perasaan itu dihilangkan daripada membuat pikiran bingung dan selalu diselimuti rasa tidak tenang.


William akhirnya sudah kembali dari kamar mandi dan segera memakai sarung yang sudah disiapkan oleh Hanum.


Akhirnya setelah seminggu ini Hanum bisa salat berjamaah kembali bersama suaminya. Hanum lantunkan doa berharap jika rumah tangganya tidak diterpa oleh hal-hal yang buruk. Hanum selalu berdoa dan meminta kepada sang khalik jika rumah tangganya bersama William akan utuh selamanya sampai akhir hayat. Namun tentu saja tidak ada yang tahu akan hal itu, bukan. Hanum hanya akan berusaha dan berdoa.


Kalaupun William sendiri yang akan memilih mengakhiri hubungan mereka dan kembali kepada mantan kekasihnya itu, Hanum rela dan ikhlas. Bukankah dia hanya pengganti di kehidupan ini?


"Mas, aku siapkan sarapan dulu ya?" Hanum akan beranjak dari duduknya, tapi tangannya di pegang oleh William dan menarik tubuh sang istri ke dalam dekapannya.


"Nanti aja, lagian ada Bik Sum kan?"


Hanum tidak bisa untuk tidak menahan malu ditatap suaminya seperti itu. "Mas, ihh, aku malu loh!"


William terkekeh melihat istrinya yang terang-terangan mengatakan jika dirinya malu. "Nggak apa-apa, malu kenapa hem? Lagian kita tuh udah halal loh melakukan apapun," bisik William ditelinga Hanum yang semakin membuatnya memerah.


"Mas I'am jangan lupa untuk mandi ya, ini sudah pagi, tuh matahari sudah nampak," ujar Hanum.


William menarik hidung Hanum hemas, kemudian mencium ciuman panjang di bibir istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2