
Happy Reading.
Malam itu, setelah makan malam, William dan Hanum memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. William duduk mendekati istrinya yang sedang asyik membaca buku yang siang tadi dia beli sebelum bertemu dengan Katrine.
William merapatkan tubuhnya dan langsung mendekap sang istri, Hanum terkejut saat merasakan wajah William berada di dagunya.
"Ada apa Mas?" tanya Hanum saat merasakan hembusan nafas hangat di telinganya. William memeluk tubuh Hanum dari samping dan menyeruaknya kan wajah di tengkuk Hanum, menghidu aroma tubuh wanita yang sudah menjadi isterinya selama tujuh bulan itu.
"Aku cinta kamu, Num! Kamu percaya 'kan?" bisik William.
Hanum terkikik geli saat William mencium leherku. "Ehmm, percaya nggak ya?" gumam Hanum mencoba menggoda suaminya.
William mengangkat wajahnya, tetapi tangannya masih memeluk erat pinggang istrinya. "Kenapa? Apa kamu masih ragu?"
Hanum mengangguk, mengiyakan ucapan suaminya itu. "Aku sedikit ragu, mas I'am benar-benar cinta, tapi aku bersyukur jika memang perasaan Mas sama aku sudah seperti itu, secara mantan Mas yang cantik itu sudah kembali, aku takut Mas belum bisa move on darinya," ujar Hanum berusaha tenang. Meskipun, hati dan dadanya terasa bergemuruh lantaran dia tidak mau apa yang dia takutkan itu terjadi.
__ADS_1
"Kamu masih nggak percaya, ya? Aku tuh udah benar-benar jatuh ke dalam pesonamu, hatiku milikmu, aku cinta sama kamu udah sejak lama, tapi aku baru sempat mengatakan perasaan ku hari ini, terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas aku cinta sama kamu, istriku!" ujar William, suaranya terdengar sangat serius. "Untuk masalah Katrine, aku sama sekali udah nggak cinta sama dia, perasaan ku habis berganti dengan rasa benci saat dia pergi meninggalkan ku begitu saja waktu itu, apalagi jelas-jelas dia mengatakan jika malu memiliki calon suami yang lumpuh, kalau kamu ingin bertanya kenapa diawal-awal pernikahan kita aku masih sering menatap fotonya, itu karena aku merasa harus mengatakannya pada wanita itu jika hanya tersisa kebencian dan sekarang sudah ada wanita yang tulus menemaniku dari 0 hingga sekarang, aku hanya tidak ingin melupakan kebencian itu, untuk perasaan cinta, semula sudah lenyap tak bersisa," ujar William panjang lebar.
William menegakkan tubuhnya sambil memegang kedua bahu sang istri, matanya menyelami netra coklat kehitaman milik Hanum seakan mengatakan jika dia benar-benar serius tidak ada kebohongan dala setiap ucapannya.
Hanum tersenyum.
"Aku percaya, Mas. Aku juga cinta sama kamu, bahkan mungkin di saat kamu belum memiliki perasaan apapun untukku, saat kamu masih sering marah-marah tidak jelas, saat itu aku sudah menaruh perasaan itu padamu," jawab wanita itu.
William mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Hanum sekilas, dia tidak menjauhkan wajahnya dari wajah wajah Hanum, tetapi William menyatukan kening mereka, menangkup kedua sisi wajah istrinya.
"Sama-sama Mas, aku juga sangat berterima kasih karena Mas I'am mencintai Hanum," jawab Hanum yang juga berdebar-debar.
William mencium bibir istrinya itu kembali, kali ini lebih lama dan dalam, keduanya saling memagut dan menghisap. William menekan tengkuk Hanum untuk memperdalam ciumannya.
"Sayang, bolehkah malam ini aku meminta hak ku?" tanya William dengan serak, tanda jika dia benar-benar sudah tidak bisa menahan hasratnya lebih lama lagi.
__ADS_1
Hanum mengangguk malu-malu, dia juga sudah merasa hasratnya naik saat William menciumnya dengan dalam. "Iya Mas," William tersenyum lebar, malam ini dia akan menjadikan Hanum miliknya dan tidak akan ada yang bisa membuatnya menunda lagi.
Hanum benar-benar malu ketika William berhasil meloloskan pakaiannya satu persatu dari tubuhnya. Tersisa bra dan cd-nya saja. William benar-benar takjub dengan tubuh indah istrinya itu. Sungguh menawan dan mempesona, kulitnya putih mulus, dengan dada yang lumayan besar dan indah. Meskipun William sudah pernah menyentuh benda ke kenyal itu, tetapi melihatnya secara langsung seperti ini rasanya benar-benar berbeda, membuat William ingin menerkamnya.
Hanum memalingkan wajahnya karena mali ditatap seperti itu oleh suaminya, tetapi dia benar-benar sudah siap lillahi ta'ala menyerahkan kesuciannya pada pasangan halal nya.
"Mas mulai ya?" tanya William. Hanum mengangguk dan kali ini dia berani menatap wajah suaminya.
Akhirnya malam itu terjadilah tragedi berdarah dan kesakitan sesaat, kemudian berganti dengan kenikmatan yang hakiki dan melayang seperti di awan. Dua sejoli yang sama-sama baru merasakan yang pertama kali indahnya surga dunia itu.
Bersambung.
Maaf lama updatenya 🙏🙏 aku ngurusin lomba di desa🤭🤭
Oh ya, jangan lupa mampir ke karya salah satu sahabat author.
__ADS_1