Pengantin Pengganti Tuan Lumpuh

Pengantin Pengganti Tuan Lumpuh
Bab Tiga Puluh Empat


__ADS_3

Happy Reading.


Beberapa bulan kemudian.


Hanum merasakan perutnya bergejolak, dia baru saja melakukan sholat subuh sendiri karena William sedang ada di luar kota. Wanita itu langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan bening di wastafel.


Hoek! Hoek!


Lagi, Hanum mengeluarkan cairan bening dan hal itu membuat perutnya sakit. Hal ini sudah terjadi dua hari ini, Hanum merasa lemas, dia sepertinya masuk angin. William sudah 4 hari berada di Kalimantan, meninjau proyek pekerjaan yang sedang di garap di sana. Awalnya William ingin sekali mengajak Hanum, tetapi saat itu Hanum sudah merasa tidak enak badan. Alhasil William harus mengurungkan niatnya untuk mengajak sang istri.


Suara ketukan pintu membuat Hanum menoleh, dia lekas mencuci muka dan keluar dari dalam mandi, paling Bik Sum yang sedang mengetuk pintu, karena wanita paruh baya itu memang di tugaskan untuk menjaga Hanum.


"Non, muntah lagi?" tanya Bik Sum dengan raut wajah khawatir, dua hari ini Nonanya itu pasti akan muntah di pagi hari.


"Iya Bik, tolong bawakan air putih hangat ya?"


"Eh, iya non, non Hanum tunggu di sofa itu saja, saya ke dapur dulu untuk mengambil kan air putih," bik Hanum langsung berlari ke dapur untuk mengambil air hangat.


Hanum menurut dan berjalan tertatih ke arah sofa, kemudian dia duduk di sana. Hanum melihat ponselnya menyala dan berdering, itu pasti William yang menelepon.


Namun, untuk berjalan mengambil ponsel yang ada di atas ranjang saja dia tidak bisa karena merasa begitu lemah, akhirnya deringan itu berhenti. Sejujurnya Hanum saat ini sangat membutuhkan William, tetapi dia tahu kalau suaminya itu sedang bekerja dan tidak mungkin kalau Hanum melarangnya, bukan?

__ADS_1


"Ini Non air hangatnya," Bik Sum datang dan memberitahukan segelas air hangat kepada Hanum.


"Terima kasih, Bik," Hanum mengambil gelas itu dan meminumnya. Dia sepertinya orang yang kehausan, meskipun air itu terasa sedikit pahit di lidah tetapi tetap Hanum habiskan.


Setelah itu Hanum menyerahkan kembali gelas tersebut kepada bik Sum.


"Non, kita ke dokter ya, periksa kesehatan Non Hanum, kata tuan Willy Non harus ke dokter misal masih sakit, lihatlah Non sekarang pucat sekali," ujar bik Sum khawatir.


Hanum mengangguk lemah, dia juga merasa sudah sangat lemah tidak berdaya. Dua hari ini membuatnya tidak doyan makan membuat tubuhnya seperti tidak bertenaga. Akhirnya bik Sum menyuruh Ari untuk mengantarkan mereka.


Sementara di sisi lain.


"Rion, kapan kita selesai meninjau proyek ini?" tanya William pada sekretarisnya itu.


"Nanti kita harus ke gudang penyimpanan dulu Tuan, kita cek semen yang datang karena beberapa waktu yang lalu ada keteledoran sehingga mereka mengirimkan semen berkualitas buruk, kalau Tuan sendiri yang mengecek, mereka pasti tidak akan berani," ujar Rion.


William menghela nafas, itulah kenapa dia harus meninjau langsung proyek di Kalimantan, karena ada kecurangan salah satu orang dalam yang ingin korupsi dengan membeli bahan-bahan bangunan berjualan jelek. Membuat bangunannya pasti tidak akan bertahan lama, dan hal itu pasti membuat nama baik William dan perusahaan akan tercemar jelek.


"Baiklah, tetapi setelah semuanya beres aku ingin langsung pulang ke Jakarta, istriku sedang sakit," ujar William kemudian berjalan meningkatkan Rion.


***

__ADS_1


Hanum menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter. Penantiannya selama berbulan-bulan akhirnya membuahkan hasil, dia dinyatakan positif hamil.


"Selamat Non, akhirnya setelah berjuang setahun lebih, Non akhirnya di beri anugerah hamil kembar, Bibik bahagia sekali," Bik Sum berkaca-kaca, tentu dia yang paling merasa bahagia dengan kehamilan Nyonya-nya itu. Selama beberapa bulan ini memang perjuangan Hanum dan William untuk bisa mendapatkan anak sangatlah besar.


Keluarga besar sudah menginginkan kehadiran cucu dan Hanum sempat merasa frustasi karena belum juga kunjung hamil. Namun, sepertinya kebahagiaan Hanum sudah mulai berdatangan. Dia sekarang menyatakan hamil anak kembar dan itu adalah anugerah yang sangat luar biasa yang dipilih oleh Tuhan untuknya.


"Bik, tolong telepon kan Mas I'am, kasih kabar bahagia ini sama dia Bik," ujar Hanum.


Bik Sum langsung mengambil ponsel Hanum yang dia bawa di dalam tas, kemudian langsung menghubungi nomor tuannya. Ponsel Hanum tidak di kunci membuta Bik Sum mudah untuk membukanya.


Setelah panggilan di angkat, Bik Sum menyerahkan ponsel tersebut pada Hanum.


"Assalamualaikum, sayang kok baru hubungi Mas?"


"Waalaikumsalam, mas aku baru ke rumah sakit, setelah diperiksakan ternyata aku hamil mas, akhirnya doa-doa kita terwujud!"


"Alhamdulillah!"


Selesai.


Nggak kok, aku cuma nge-prank 🤭🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2