Pengkhianatan

Pengkhianatan
BAB 12


__ADS_3

Bagas terduduk di sofa dengan kedua tangan yang meremas rambutnya. "kenapa vi, kenapa kamu gak tegur aku dari awal, kenapa kamu biarin aku yang brengsek ini menyakiti kamu, seharusnya kamu bunuh aku saja vi, aku tidak sanggup membayangkan hidupku tanpa kamu". Bagas frustasi membayangkan perasaan istrinya, yang mendengar semua pembicaraannya dengan dara, apalagi pembicaraan tentang seorang anak. "kamu pasti sangat membenciku kan sekarang.Aaakhhhhhhh".bagas membanting semua yang ada di depan matanya melampiaskan semua amarah atas kebodohannya sendiri.


Tok tok tok..


Bagas menoleh ke arah pintu, dan melihat dara melangkah masuk.


"kita harus membicarakan masalah kita bukan?? ". Tanya dara.


Bagas hanya meliriknya dengan malas, dia berfikir seharusnya meskipun bagas memaksa melakukan hubungan yang tidak seharusnya, harusnya dara bisa menghindarinya, dan fikiran bagas yang seperti itu membuat dia juga membenci dara, padahal dia tau sepenuhnya adalah salahnya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karna kini wanita yang tidak ingin dia lihat itu sedang mengandung anaknya.


"tidak ada yang harus di bicarakan". Ketus bagas.


"ada!!, bagaimana dengan pernikahan kita, kamu sudah berjanji kan, jika kamu tidak menikahiku maka aku akan membawa anak ini pergi" kata dara.


Bagas mendekat kearah dara, lalu mencengkram dagu wanita itu dengan kuat.


"Tidak akan pernah ada pernikahan, tugasmu hanya harus melahirkan anakku, dan setelah itu pergi jauh dari hadapanku". Kata bagas dengan amarah.


"huh!!, dasar laki-laki ********, segitu takutnya kamu kehilangan istrimu yang mandul itu!!". Jawab dara mengejek.


Dan PLAAAAKKKKKKK, satu tamparan mendarat di pipi dara, bagas sangat marah dengan ucapan dara yang mengatai istrinya mandul.


"TUTUP MULUTMU!!, atau aku robek dengan tanganku sendiri!!". Kata bagas.


"kalau begitu nikahi aku!!, nikahi aku sekarang juga, kalau tidak aku akan menggugurkannya". Dara.


"hahaha, ada hak apa kamu mau menggugurkannya". Jawab bagas mengejek.


"tentu saja aku punya hak, karna aku ibunya". Ucap dara.


"asal kamu ingat ya wanita, kita melakukannya atas dasar pelunasan hutang, jadi anak ini termasuk dalam pelunasan hutangmu padaku, dan ingat satu hal lagi, kalau kamu ingin ibumu masih baik-baik saja di ranjang rumah sakit, cukup turuti perkataanku, kamu paham!!! ". Bagas sudah muak berbicara dengan dara, yang menurutnya semakin lancang, dan dia memutuskan keluar dari kantor.

__ADS_1


" ********, brengsek!!, aku tidak akan tinggal diam, kamu sangat mencintai istrimu itu kan, jika aku tidak bisa membuatmu meninggalkannya, maka akan aku buat dia meninggalkanmu". Kata dara.


Dara menghubungi via mengirimkan pesan pada via bahwa dia ingin bicara..


Pesan..


"maaf bu via, ini saya dara sekertaris pak bagas". Dara.


"bisakah kita bertemu, dan membicarakan sesuatu". Dara.


"Datang lah ke kafe Xx nanti sore jam 5..". Dara.


Sedang kan via di rumah merasa teramat marah membaca pesan dari wanita yang di anggap selingkuhan suaminya itu.


"mau apa, wanita ini??" pikir via, dia masih bimbang akan datang atau tidak, karna jika dia datang dia pasti akan benar- benar ingin mencabik-cabiknya. Namun jika tidak datang, dia penasaran apa yang akan di katakan oleh wanita itu.


Akhirnya sore hari pun tiba sekarang sudah jam 5,,via sebenarnya sudah mandi dan bersiap, entah kenapa dia merasa ragu kembali, sampai saat dia ingin melangkah keluar, bagas membuka pintu kamar.


"aku tanya, kamu mau kemana??" tanya bagas lagi stelah menahan tangan via agar tidak keluar.


"aku hanya akan pergi makan dengan temanku, kenapa?? Apa sekarang aku tidak boleh hanya sekedar keluar makan dengan temanku Tuan bagas gautama??". Jawab via pada bagas namun dengan tambahan-tambahan pertanyaan yang mengisyaratkan bahwa via sangat membenci bagas.


Bagas menghembuskan nafasnya kasar mendengar setiap ucapan istrinya, padahal dia sangat ingin mendapatkan pelukan hangat istrinya seperti biasa saat dia pulang kerja, melihat senyum istrinya, tapi bagas sadar kesalahannya pasti benar-benar sudah menyakiti hati via.


"diluar akan hujan, aku akan mengantarmu, dan ganti bajumu dengan baju yang lebih hangat" ucap bagas lembut pada via.


"tidak perlu, aku akan pergi sendiri, terimakasih atas tawarannya". Jawab via lalu melenggang pergi dari hadapan bagas.


Bukan sengaja via melakukan sikap seperti itu terhadap bagas, hanya saja setiap melihat bagas emosinya masih sulit untuk dia kendalikan, dan dia juga sudah berharap agar bagas menceraikannya supaya bagas bisa bahagia dengan anaknya kelak,walau bagaimanapun via bukan wanita yang kuat, yang mau menerima anak suaminya dengan wanita lain.


Via sampai di restoran sudah jam 5:30,via berfikir jika wanita itu sudah pergi dia tidak akan menemuinya lagi suatu hari nanti..

__ADS_1


Namun rupanya wanita itu masih setia menunggu via, dia terlihat duduk di salah satu kursi di restoran itu, lalu via pun menghampiri dan duduk di hadapannya.


"bisa kita persingkat saja, aku merasa muak melihat mu" kata via dengan to the point, bahkan tanpa melihat dara.


"santai saja, aku akan pesankan coffee". Jawab dara, lalu dia memesan kan coffee untuk via.


"bukankah bu via sudah tau bahwa saya sedang mengandung anak pak bagas??". Tanya dara sengaja tujuannya adalah ingin memanas-manasi via, agar via benci terhadap bagas.


Tak lama coffee yang di pesan datang.


"jika kamu hanya ingin membahas hal-hal tidak penting, tidak perlu menghubungiku lagi". Kata via santai sambil meminum coffee nya.


"haha, ibu via ini bisa saja, maaf yah jika saya menyinggung bu via, maklum bu via ibu hamil terkadang memang lebih sensitif, ibu tahu kan??,, ah maaf sekali lagi saya lupa kalau bu via belum pernah hamil". Kata dara.


Via benar-benar ingin mencakar mulut wanita di depannya, namun dia mencoba menahan emosinya, agar tidak masuk perangkap wanita itu.


"tidak apa-apa, setidaknya saya kan punya suami". Jawab via tak kalah lebih menohok dari dara.


"wanita sialan, apa dia mau pamer bahwa bagas tidak jadi menikahiku dan lebih memilih dia, kurang ajar!!". Dara mengumpati via dalam hatinya mendengar ucapan via yang membuatnya sangat marah, mungkin dara termakan oleh omongannya sendiri, bahwa ibu hamil sangat sensitif, buktinya sekarang dia sudah gemetar menahan amarah.


" bu via, jangan lupa kita sekarang berbagi lelaki yang sama, bahkan saya sudah unggul 1 langkah di depan bu via, anak ini adalah bukti cinta kami berdua, apa bu via tidak malu jika masih ingin berada di samping pak bagas, apa yang bisa bu via berikan untuk pak bagas, saya bisa memberikan semua yang bu via tidak bisa berikan pada pak bagas". Kata dara.


"yah sepertinya kamu benar, namun sayangnya bagas lebih memilih saya, buktinya dia meninggalkan kamu di hari pernikahan karna saya, padahal saya tidak bisa memberikan apa-apa pada dia tapi dia masih mempertahankan saya, saya juga berfikir apakah bagas benar-benar mencintai kamu, atau hanya sial, bibitnya tumbuh di perut kamu". Jawab via semakin membuat dara meledak.


BYURRRRRR,, dara menyiramkan coffee nya ke wajah via, karna sudah benar-benar emosi.


"dasar wanita mandul, tidak tahu diri, asal kamu tahu ya, bagas sendiri yang bilang dia menginginkan anak saat dia mau melakukan hubungan intim denganku itu tandanya dia mau anak dariku, dan seharusnya kamu sadar diri dan pergi ceraikan dia" kata dara berapi-api bahkan tidak menghiraukan pengunjung kafe yang melihat.


"haha, itu sudah membuktikan bahwa dia hanya menginginkan anak, bukan menginginkanmu, dan kurasa kalau kamu mau aku cerai dengannya, kamu harus lebih berusaha keras, karna kamu yang sudah hamil anaknya saja tidak bisa membuat dia menceraikan aku, kenapa?? Karna dia itu hanya mencintaiku". Jawab via lalu berdiri hendak pergi, malas menanggapi ocehan wanita di depannya yang membuatnya sakit kepala, dan mual melihatnya.


. Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2