Pengkhianatan

Pengkhianatan
BAB 14


__ADS_3

Pagi hari, via mulai membuka matanya, kepalanya sakit seperti mau pecah rasanya,


Via melihat keselilingnya dan ternyata dia di kamarnya bersama suaminya di sampingnya, tangan bagas setia memeluk tubuh mungil istrinya, seolah dia takut jika dia membuka mata istrinya tidak ada di sampingnya.


Via mencoba memindahkan tangan bagas dan ingin pergi kekamar mandi karna rasa ingin buang air kecil yang ia rasakan tidak bisa di tahan lagi, tapi saat via mengangkat tangan bagas, pemilik tangan itu terbangun dan langsung duduk memandang istrinya.


"sayang, kamu udah bangun, ada yang sakit tidak, mau aku ambilkan air minum, atau kamu butuh sesuatu??". Tanya bagas memborbardir istrinya, via yang melihat wajah khawatir bagas ingin tertawa rasanya, tapi dia tidak mungkin akan melakukan itu, mungkin jika dulu iya, tapi sekarang keadaannya sudah berbeda, dan akhirnya via hanya berdiri, hendak kekamar mandi, tanpa mau menjawab apapun yang di tanyakan oleh bagas.


"kamu mau kemana,??". Tanya bagas lagi.


"ke kamar mandi". Jawab via singkat.


"aku bantu yah?" tawar bagas.


"tidak usah". Via


"sayang aku bantu ya, aku takut kamu kenapa-kenapa seperti semalam". Ucap bagas.


Via hanya memandang bagas sekilas lalu meneruskan jalannya, dan bagas pun mengikuti setiap langkah istrinya, takut kalau tiba-tiba istrinya terjatuh. Via yang heran kenapa bagas jadi seposesif itu pun akhirnya menghentikan langkahnya tepat setelah ia membuka pintu kamar mandi.


"ngapain kamu?, aku cuma mau pipis". Kata via ketus.


"aku temani yah". Jawab bagas masih dengan wajah yang khawatir.


"apa-apaan sih, minggir sana". Kata via kesal sambil sedikit mendorong tubuh bagas.namun karna kondisi via yang masih lemah saat dia mendorong bagas. Malah tubuhnya sendiri yang terhuyung hampir terjatuh, untung suaminya siap mengkap tubuhnya hingga tak jadi jatuh.


"tuh kan aku bilang apa, sudahlah aku temani, kamu itu sekarang gak sendiri, jadi harus hati-hati dong". Kata bagas kesal, karna istrinya itu tidak mau mendengarkan ucapannya.


"apa maksudmu??". Tanya via tidak faham dengan maksud bagas yang mengatakan dia tidak sendiri.

__ADS_1


Dan bagas pun baru ingat bahwa istrinya itu belum tahu kalau dia tengah mengandung buah cinta mereka.


"oh iya aku lupa, sayang sekarang kamu gak sendiri, karna sekarang ada malaikat kecil kita disini". Ujar bagas sambil mengelus pelan perut istrinya.


Via terkejut dibuat oleh bagas dia spontan memegang perutnya.


"benarkah??, benarkah aku hamil, apa ini benar". Tanya via meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia dengar bukan hanya gurauan atau candaan bagas saja.


"iya sayang, kamu hamil, hamil anak kita, buah hati kita". Ucap bagas sambil mengelus pipi istrinya.


"benarkah?,terimakasih ya tuhan, kamu sudah mendengar kan semua do'aku". Via tersenyum bahagia bahkan hampir menangis, dia tersenyum sumringah sekali, dan bagas yang melihatnya benar-benar bahagia.


"aku rindu senyum mu". Kata bagas sambil memandang via dengan lekat, seolah tak ingin senyuman via hilang dari pandangannya, namun justru yang tersenyum, malah memudarkan senyumannya.


"aku benar-benar rindu, rindu istriku yang ceria dan selalu tersenyum untukku". Ujar bagas lagi sambil membelai pipi via dan memajukan wajahnya hendak mencium bibir manis via yang amat ia rindukan, pasalnya setelah kejadian di hari pernikahan itu, via tidak lagi mau tersenyum untuk bagas, tak lagi mengantarnya saat hendak pergi kekantor, tak lagi menyambutnya saat ia pulang dari kantor, tak pernah ada senyuman via lagi, yang ada hanyalah hatinya yang merasa kosong kehilangan semua itu dari istrinya yang amat ia cintai itu.saat bibir bagas sudah menempel dengan bibir via, via justru menghindar dan mundur kebelakang tak ingin mendapat kan ciuman dari suaminya itu.


Via pun berbalik dan langsung masuk kekamar mandi dan mengunci pintunya. Bagas yang melihat hanya mendesah dan menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi.


Yang di kamar mandi justru sudah menahan isakannya, karna setiap bagas hendak menyentuhnya bayangan akan bagas menyentuh wanita lain terus terlintas di fikirannya, dan membuat dia tidak bisa menerima sentuhan apapun dari suaminya itu.


Setelah pertengkaran batin didiri masing-masing, via keluar kamar mandi, namun dia kembali keranjang, ingin berbaring lagi,tidak tahu apa sebabnya tapi dia merasa tubuhnya selalu lelah akhir-akhir ini dan hanya ingin tidur dan tidur, mungkin itu efek karna iya hamil.


"sayang, kata dokter kita harus ke dokter kandungan untuk memastikan kehamilan mu, dan juga usianya". Kata bagas sambil duduk di pinggir ranjang membelai rambut istriny.


"hmmzz". Hanya itu yang keluar dari mulut via.


"aku mau mandi dulu, dan bersiap, nanti kita pergi kedokter ya,aku juga sudah menyuruh bibi mengantarkan sarapannya ke kamar, mungkin sebentar lagi datang".terang bagas, namun via tidak menjawab dan setia memejamkan matanya, bagas pun memilih untuk mandi dan bersiap.


1 jam kemudian bagas dan via sudah siap untuk pergi kedokter, di perjalanan via masih ingin memejamkan matanya, rasanya kepalanya pusing sekali, dan setelah sarapan tadi dia sudah muntah-muntah mengeluarkan semua sarapannya, dan efeknya membuat tubuhnya lemah.

__ADS_1


"sayang kamu capek ya, kalau ingin sesuatu bilang sama aku ya". Kata bagas.


"iya". Singkat saja via menjawab, meskipun bagas sebenarnya sudah geram dengan sifat istrinya yang cuek dengan dia, namun dia berusaha memaklumi, apapun yang di lakukan istrinya itu terhadapnya.


Sesampainya di rumah sakit, via dan bagas langsung mengambil nomor antrian untuk pemeriksaan, saat hendak duduk di ruang tunggu via menghentikan langkahnya, karna di tempat duduk yang agak jauh dari pandangannya itu, dia melihat selingkuhan suaminya itu tengah duduk juga menunggu giliran periksa.


"oh tuhan, kenapa harus pas sekali waktunya". Gumam via pelan.


"ada apa sayang??". Tanya bagaz.


Via tidak menjawab, dan ingin langsung duduk, namun tangannya di tarik oleh bagas, karna bagas baru saja melihat dara.


"kita pindah rumah sakit saja". Kata bagas pada via karna dia tidak mau via emosi atau berfikiran macam-macam, karna dokter menyarankan agar via tidak terlalu stres, di awal kehamilannya.


Via tidak menggubris omongan bagas dan memilih terus berjalan dan duduk berjarak 2 kursi dari dara.


"bagas, kamu ngapain disini??" kata dara yang baru menyadari ada via dan bagas di sebelahnya.


"bagas kebetulan kamu di sini, ini bulan pertama pemeriksaan anak kita, kamu temani aku ya??". Kata dara yang tidak memperdulikan via di sebelah bagas.


"aku kesini mengantar istriku, bukan datang untukmu". Jawab bagas.


"kamu ngapain nganterin istri kamu, bukannya dia ini gak hamil". Kata dara terang-terangan.


"tutup mulutmu, ini di rumah sakit, dan juga istriku tengah hamil dan kami akan memeriksakan kandungannya".


"apa", kata dara dalam hati "sialan kenapa wanita ini bisa hamil, aku gak rela, pasti bagas akan semakin gak perduli sama aku dan anakku nantinya".


"tapi aku juga mengandung anakmu bagas, aku juga ingin di temani olehmu" kata dara sambil meneteskan air matanya.

__ADS_1


Bagas sedikit merasa bersalah, meskipun dia tidak menyukai dara, tapi bayi yang di kandung dara adalah anaknya juga, darah dagingnya, bagas melihat kearah via, dan via terlihat hanya memainkan ponselnya,seperti tidak terganggu oleh percakapan bagas dan dara.


. Bersambung.


__ADS_2