
Via masih duduk di meja makan memikirkan apakah keputusannya ini benar atau tidak, namun iya sudah terlanjur membicarakannya dengan bagas, jadi kini dia sudah menguatkan hatinya, kalau-kalau bagas akan setuju menikahi dara.
Perlahan via masuk kedalam kamar, terlihat bagas yang tengah duduk melamun di atas ranjang, via mendekat, tak berani bicara apapun, ia tau kini suaminya itu tengah memikirkan perkataannya tadi.
Via perlahan berbaring memunggungi bagas, hening sesaat, dan bagas mulai membuka suara..
"aku tidak tau apa yang kamu fikirkan, tapi aku tidak bisa menikahinya". Jelas bagas tegas.
Via membalikan badannya menghadap bagas,
"aku tau, tapi dia mengandung anakmu, apa kamu gak kasian, anakmu tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah setiap harinya, aku jg sedang hamil, jadi aku tau rasanya, terkadang ada perasaan ingin sekali di elus perutnya, itu bukan keinginan ibunya, melainkan anakmu, tapi apa kamu melakukannya?" via sudah benar2 memantapkan hatinya, kalaulah tuhan memang sudah menakdirkan jalan hidupnya untuk di madu, kini ia ikhlas.
Bagas memandang netra istrinya, via tersenyum di situ, yang justru senyumnya malah menyayat hati bagas, harus kah ia berpoligami, haruskah ia menduakan istrinya.
"tapi kau akan kekurangan perhatianku nanti". Kata bagas.
"aku tau, tidak apa-apa, sekarang aku sudah punya teman" jawab via lagi dengan senyumnya yang indah..
__ADS_1
"nanti kamu cemburu dan stres". Lanjut bagas mencoba menghentikan keinginan istrinya.
"aku akan berusaha tidak cemburu, bahkan aku akan berusaha tidak melihat kalian saat kalian berdua" kata via lagi.
2 minggu kemudian..
Dan setelah perdebatan panjang malam itu bagas dan via, berakhirlah bagas duduk di kursi depan penghulu, bersama dengan calon istri keduanya, setelah bagas memberi tahu dara bahwa dia akan menikahinya, dara benar-benar terkejut sekaligus bahagia, akhirnya bagas mau menikahinya.
Via duduk di salah satu kursi, itulah janjinya pada bagas, bagas mengatakan dia akan menikahi dara asal via hadir di pernikahan, dan kalau sampai bagas melihat setetes saja air mata via, dia akan langsung membatalkannya, itulah yang di inginkan bagas, kejam memang, tapi dia ingin melihat bahwa via, sudah mantap dengan keputusannya, berakhirlah via di sini dengan berusaha mati-matian menahan air matanya, melihat suaminya menikahi perempuan lain.
Bagas yang sudah selesai acara dan tidak melihat istrinya, bergegas untuk pulang kerumah dan tentu saja ada istri barunya di sampingnya yang tengah tersenyum bahagia.
"bagas, terimakasih akhirnya kamu menikahiku" ucap dara.
bagas hanya melihatnya dan tersenyum sekikas, dan itu sontak membuat hati dara berbunga-bunga, bukan tanpa alasan bagas kini bersikap lembut terhadap dara, karna ini juga permintaan via. "bersikap baiklah kepadanya setelah menikah, perlakukan dia layak nya istri yang sesungguhnya". Begitu lah ucapan memilukan yang sampai kini masih membuat bagas tersakiti.
Sesampainya di rumah, bagas mengantarkan dara kekamarnya.
__ADS_1
"mulai sekarang ini kamarmu" kata bagas singkat.
"apa maksudmu, bukankah ini kamar kita, apa kamu tidak akan pernah tidur sekamar denganku, aku istrimu juga tidak bisakah kamu perlakukan aku dengan adil, ini malam pertama kita". Ucap dara dengan wajah kecewa.
Sebenarnya bagas sudah lelah dengan semua nya, tpi kenyataannya memang benar dara kini adalah istrinya, istri sahnya.
"aku hanya akan melihat via sebentar". Tegas tidak dapat di bantah, itulah perkataan terakhir bagas sebelum menutup pintu.
Bagas berjalan menaiki anak tangga dan membuka pintu kamarnya, kosong tak ada siapapun lalu terdengar suara gemricik air di kamar mandi rupanya via sedang mandi, bagas duduk di tepi ranjang sambil terus melihat pintu kamar mandi, tak lama via keluar dan terkejut melihat bagas yang sudah melihatnya dengan tatapan yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"aku sudah bilang kamu harus di sana, kenapa kamu pulang" pertanyaan bagas membuat nafas dara tercekat, namun ia berusaha sebisa mungkin untuk tenang.
"aku sudah di sana, aku hanya sedikit pusing jadi pulang duluan" itulah pembelaan via, berharap bagas akan percaya.
Tapi tidak mungkin bagas akan percaya, apalagi kini mata via terlihat sangat sembab, dan hidungnya merah, tapi bagas tidak ingin membahasnya lagi, dia lelah,dan dia tau istrinya juga pasti lelah, dia butuh istrahat..
. Bersambung..
__ADS_1