
"bagas, please, ini juga anak kamu, apa kamu tega nelantarin anak kamu sendiri yang bahkan dia belum lahir, usianya baru 4 minggu, kamu tega??". Ucap dara menangis dan menghiba pada bagas,sedang bagas amat bimbang, jika dia menemani dara dia takut via akan marah, namun jika dia tidak menemani dara itu berarti yang di katakan dara adalah benar dia sudah menelantarkan buah hatinya, yang bahkan belum berbentuk sempurna dalam rahim dara.bagas terus memandang kearah istrinya, namun via tetap teguh dengan diamnya.
"Ibu Azkia darawati,silahkan masuk". Kata suster memanggil dara, karna sudah gilirannya untuk pemeriksaan.
"bagas, aku mohon". Ucap dara lagi.
Akhirnya bagas mengiyakan untuk menemani dara, dia berjalan kearah via yang hanya asik memainkan ponselnya.
"sayang, kamu jangan salah faham yah, aku cuma mau lihat keadaan bayi yang ada di kandungannya, aku tidak berniat menemaninya, kamu tunggu disini yah, kamu jangan sedih, ingat cuma kamu satu-satunya wanita untukku.. Hmz??". Bagas mencoba memberikan pengertian kepada via, yang sebenarnya dia juga tahu, bahwa istrinya tidak akan memperdulikan apapun yang coba bagas katakan. Bagas akhirnya masuk kedalam ruangan bersama dara, darapun melemparkan smirk nya kepada via, karna dia berhasil membuat bagas mendengarkan kata-katanya.
"selamat siang". Sapa dokter ramah.
"selamat siang dok". Kata dara senang, karna akhirnya bagas mau menemaninya.
"silahkan berbaring di sini bu". Dara pun naik ke ranjang yang di tunjukan dokter untuk melakukan usg.
"bayinya sangat sehat, dan juga kandungannya cukup kuat, tidak ada masalah, saya akan memberikan beberapa vitamin saja" kata dokter itu tersenyum.
Bagas yang melihat gambar dalam monitor usg tersebut, tak hentinya mengembangkan senyum karna mengetahui anaknya dalam keadaan sehat.
"apa bapak suami ibu dara?". Tanya dokter yang membuat bagas serta dara terkejut.
"i.. Iya.. Dia suami saya". Kata dara gugup sambil melihat bagas. Bagas pun hanya memandang kearah dara sekilas lalu kembali memandang kearah dokter.
"sebagai suami nya ibu dara, saya harap bapak lebih perhatian yah pak, jangan sampai ibu dara mengalami stres, karna di kandungan yang masih awal seperti sekarang ini, akan sangat rentan". Kata dokter kepada bagas.
__ADS_1
"baik dok".jawab bagas.
"baiklah, ini resep vitaminnya, selalu periksakan kandungannya, tepat waktu yah pak, bu".
"baik dok terimakasih". Jawab dara dan bagas lalu keluar ruangan.
"bagas temani aku tebus vitaminnya yah". Kata dara. Namun yang di ajak bicara justru seperti orang yang sedang kebingungan.
Bagas setelah keluar ruangan langsung melihat kearah kursi tunggu, namun dia tidak melihat sosok istrinya, dia langsung panik, bahkan tidak mendengarkan apa yang di ucapkan oleh dara.bagas langsung berlari kearah suster yang lewat.
"sus,apa suster lihat wanita yang duduk disini??". Tanya bagas pada suster tersebut.
"tidak pak, saya tidak lihat, mungkin beliau sedang ke toilet". Kata suster.
Benar mungkin via ke toilet pikir bagas.
"baiklah, tunggu sebentar yah pak".
10 menit kemudian. Suster keluar dari toilet dan bagas langsung menghampirinya, sedangkan dara yang dari tadi memperhatikan kepanikan bagas merasa jenuh dan memutuskan untuk pergi.
"maaf pak, tapi istri bapak tidak ada di dalam" kata suster.
Bagas langsung berlari keluar rumah sakit, dia panik, khawatir, dia tahu pasti via marah, dia yang seharusnya menemani via malah menemani dara, bagas terus mencoba menelfon via sambil mengemudikan mobilnya, namun via tak kunjung menjawab panggilannya, meskipun panggilan itu tersambung.
Bagas terus menyusuri jalanan, sambil terus melihat siapa tahu istrinya belum jauh, dia melihat ponselnya dan melihat lokasi istrinya lewat GPS, ternyata via pergi kerumah sakit lain, bagas bergegas menuju rumah sakit yang sekarang istrinya datangi.
__ADS_1
Saat sampai,dia langsung berlari menuju ke arah ruangan dokter kandungan, namun ternyata istrinya tidak ada disitu, dia masuk keruangan dokter tersebut dan menanyakan apakah istrinya memeriksakan kandungan di situ atau tidak.
"permisi dok, apa tadi ada wanita yang memeriksakan kandungannya, namanya davia anjani??".kata bagas.
"benar, tapi sudah pulang sekitar 15 menit yang lalu". Kata dokter.
"baiklah terima kasih". Kata bagas.
Bagas kembali ke mobilnya, dia sedikit lega, karna ternyata via masih memeriksakan kandungannya, dia lalu memutuskan untuk pulang.
Saat sampai di rumah, dia melihat via tengah berbaring di sofa ruang tamu, dengan baju yang sama, serta sepatu yang belum di lepas, dan juga tas kecil yang teronggok di lantai, bagas tau istrinya itu pasti kelelahan, karna semenjak hamil via sering mengalami pusing dan lelah.
Bagas berjalan kearah istrinya tersebut, dan mengangkat tubuh mungil istrinya itu untuk di pindahkan kekamar.
Via meskipun amat malas membuka matanya namun dia tahu bahwa bagas lah yang menggendongnya, dia tadi memutuskan untuk pergi dan pindah rumah sakit, sebenarnya bukan hanya karna marah melihat bagas yang masih memiliki rasa perhatian terhadap dara,marah itu ada namun rasa tidak ingin egois itu juga ada, via tidak mau kalau bagas malu karna mengantarkan 2 wanita periksa kandungan, apa kata dokternya nanti, serta via juga tidak ingin bagas nantinya merasa bersalah kepada anak yang di kandung dara, karna bagas kurang perhatian, dan itulah yang menyebabkan via mengalah dan memilih pindah rumah sakit.
Meskipun hatinya sakit, sebagai seorang calon ibu dia tidak mau ada anak yang di terlantarkan oleh ayahnya sendiri, meskipun anak nya nanti juga harus rela berbagi kasih sayang ayahnya.
Bagas meletakkan perlahan tubuh istrinya di atas ranjang, lalu melepaskan sepatu istrinya, via memang tidak terlalu suka pakai high heels, dia lebih suka pakai sepatu kets, karna menurutnya lebih nyaman.
Bagas membelai rambut, wajah, serta mencium sekilas bibir mungil istrinya.
"sayang, apa kamu lelah??". Tanya bagas yang padahal tahu istrinya itu tidak akan mendengarnya.
"via,,ternyata sesusah ini yah mendapatkan maaf, sesusah ini meluluhkan hati kamu kembali, apa kamu dulu juga merasakan hal yang sama seperti ku, mencoba sebisa mungkin mendapatkan maaf dan hatiku, jika aku tahu rasanya semenderita ini, aku pasti dulu sudah memaafkan mu lebih awal dan tidak pernah memutuskan hubungan kita, meskipun akhirnya kita bersama, tapi aku baru tahu rasanya sangat sakit, aku sangat menderita, tidak bisakah kamu memberiku maaf lebih cepat, dan jangan membalasku dengan merasakan apa yang kamu rasakan dulu, karna aku semakin merasa bersalah".curahan hati bagas kepada istrinya yang terlelap, air mata sudah mengalir dengan sendirinya, apalagi disaat bagas mengingat masalalu nya dengan via.
__ADS_1
. Bersambung...