
Tiga gelas di atas meja menjadi saksi bisu pertemuan tiga kawan lama yang sudah lama bertemu itu. Mereka sedang bertukar kabar tentang kehidupan masing-masing tetapi Amira tidak menceritakan kehidupannya yang begitu pelik. Dia hanya menceritakan kehidupan yang bahagia pada dua teman lamanya itu.
Mereka sesekali membahas masa lalu yang begitu menyenangkan. Amira sampai lupa jika dia harus segera pulang untuk melihat keadaan dua penyemangat hidupnya. Dia keasyikan cerita dengan dua kawan masa sekolah dasarnya itu.
“Oh iya, Mir, suami kamu mana?” tanya Stevan teman Amira.
Nina yang mendengar pertanyaan Stevan merasa tidak enak karena dia tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga Amira. Nina tinggal tidak jauh dari kampung Amira, mereka bersebelahan desa. Mustahil dia tidak mendengar apa yang terjadi dengan rumah tangga Amira karena berita tentang rumah tangga Amira sudah beredar hampir seluruh desa di kampung apalagi, Devan sudah menikah lagi.
“Oh, dia sudah nikah lagi.” Jawab Amira tenang membuat kedua temannya diam.
“Maksud kamu?” Stevan masih belum mengerti dengan maksud dari perkataan Amira.
“Iya, kami sudah pisah dan dia sudah menikah lagi.” Jelas Amira.
“Kamu ngga sedih, Mir?” tanya Nina merasa aneh dengan ekspresi wajah Amira yang biasa saja. Padahal, biasanya setiap istri akan merasa sedih ketika suaminya bahkan sudah mantan suami sekalipun menikah lagi.
“Ngapain sedih? Kami sudah lama pisah. Tuhan tidak menakdirkan kamu untuk bersama selamanya.” Ucap Amira.
Stevan dan Nina merasa tidak enak dengan pembahasan saat ini. Stevan menyesali pertanyaannya yang tidak di saring dulu. Dia tidak tahu jika Amira sudah berpisah dengan suaminya. Jika dia tahu, dia tidak akan bertanya di mana suaminya karena pertanyaan seperti itu sensitif di kalangan para wanita yang di tinggal oleh suaminya. Stevan tidak tahu saja jika Amira biasa saja karena dia tidak ada rasa sama sekali lagi dengan Devan. Rasanya sudah hilang sejak Devan menalaknya melalui telepon.
Tidak, rasa itu sudah hilang sejak Amira pergi dari rumahnya dan Devan tidak ada inisiatif mencarinya. Dengan tidak datangnya Devan mencarinya, rasa itu telah pergi walau terkadang dia masih mengingat potongan-potongan kenangan dengan Devan ketika dia bermain dengan kedua anaknya. Apalagi, wajah Hawa sangat mirip dengan Devan.
Walau begitu, Amira tidak membenci anaknya karena mirip dengan mantan suaminya seperti kebanyakan orang pada umumnya. Rasa cinta dan kasih sayang pada kedua anaknya begitu besar.
“Oh iya, Mir, kamu tinggal di mana?” tanya Nina mengalihkan pembahasan.
__ADS_1
“Aku tinggal di jalan Dahlia. Kalian kalau sempat, mampir-mampir ke rumah.” Ajak Amira ramah.
“Oh iya, aku harus pulang. Kasihan anak-anak kelamaan di tinggal.” Ucap Amira mengambil tasnya dari atas meja.
Stevan masih ingin bertanya tentang maksud Amira menyebut anak-anak tetapi di tahannya.
Sepeninggal Amira, Stevan bertanya pada Nina tentang kehidupan Amira. Kehidupan wanita yang dulunya sangat di manjakan oleh kedua orang tuanya itu. Ya, Stevan tahu jika Amira sangat di manjakan oleh kedua orang tuanya karena selama di sekolah dasar, Amira selalu di antar jemput oleh kedua orang tuanya.
Pernah juga Stevan berkunjung ke rumah Amira dan dia melihat secara langsung perlakuan kedua orang tua Amira padanya. Dia kadang iri pada anak-anak sederhana seperti Amira yang bisa mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dari kedua orang tuanya.
Stevan masih ingin sering-sering ke ruang Amira untuk melihat kasih sayang orang tua Amira yang diberikan pada anaknya bahkan terkadang padanya juga tapi orang tuanya harus pindah tugas dan dia terpaksa pergi dari kampung tempatnya menemukan indahnya pertemanan, indahnya kebersamaan dan indahnya kasih sayang.
Orang tuanya sangat sibuk sehingga dia termasuk anak yang kurang kasih sayang dan perhatian orang tua.
“Kamu kenapa melamun, Stev?” tanya Nina.
“Maaf, maaf. Ha ha aha”
Stevan paling ngga mau di panggil Stev oleh siapapun karena nama itu bisa diartikan sebagai nama perempuan. Stevan berpikir jika Stev itu bisa saja Stevi.
“Oh iya, kamu ngga ngundang Amira sekalian?” tanya Nina.
Sebulan lagi, Stevan akan melangsungkan pernikahan dengan sang kekasih yang sudah dua tahun mereka menjalin kasih.
“Boleh juga, nanti kamu yang antar undangannya ya.” Ucap Nina.
__ADS_1
Setelah perbincangan singkat setelah kepergian Amira, akhirnya Stevan dan Nina memilih pergi juga dari tempat itu.
Disisi lain, Amira baru saja sampai di rumah. Dia mendapati dua anaknya tidur di depan televisi dengan di temani oleh Revi yang juga tertidur pulas di samping anak-anaknya.
Amira membawa kunci cadangan sehingga dia tidak perlu teriak-teriak minta dibukain pintu. Amira memandang wajah teduh ketiga orang beda usia di hadapannya. Tak terasa, air matanya mengalir begitu saja. Dua bulan lagi, terhitung sudah dua tahun dia hidup dengan tiga orang berbeda usia yang sedang tertidur pulas di hadapannya.
Amira tidak henti-hentinya mengucap syukur pada Tuhan atas anugrah dan rezeki yang telah di berikan padanya. Dia tidak tahu jika Revi tidak ada di sisinya, mungkin dia akan sangat kewalahan mengurus dua anak yang sedang aktif-aktifnya.
Amira sudah menaikkan gaji Revi sejak dua bulan setelah kinerjanya yang bagus. Bahkan, terkadang Amira sering memberi bonus pada asisten rumah tangga yang sudah dianggapnya adik itu. Di luar gaji bulanan hak Revi, Amira sering memberi uang belanja untuk Revi sendiri.
Amira sedang berpikir untuk menambah satu asisten rumah tangga lagi untuk membantu keperluan dapur dan mengurus rumah. Biarlah Revi fokus mengurus Adam dan Hawa karena dia akan membuka usaha kecil yang nantinya akan menyita banyak waktunya. Amira sedang berencana membuka percetakan di dekat kampus.
Dia sudah membeli tanah di lokasi strategis untuk membuka usaha percetakan di sana. Selain percetakan, Amira juga ingin membuka toko yang menyediakan segala keperluan mahasiswa ketika ujian akhir seperti boneka dan berbagai jenis yang bisa di jadikan kado ketika ujian akhir.
Toko itu sudah lama Amira idam-idamkan untuk di buka tetapi baru sekarang dia punya modal untuk usaha itu.
Dia sangat ingin membuka lapangan kerja bagi siapa saja yang membutuhkan. Berkat kegigihannya dalam menulis, dia bisa mengumpulkan modal untuk buka usaha. Memikirkan itu, Amira sampai tidak sadar jika Revi sudah bangun.
“kapan tiba, kak?” Tanya Revi pada Amira yang melamun.
“Ah, iya aku baru aja tiba.” Jawab Amira.
“Sini deh.” Amira mengajak Revi untuk duduk di sofa yang ada di dekat mereka.
“Kamu ada kenalan yang bisa ngurus rumah, nggak?” tanya Amira membuat Revi bingung.
__ADS_1
“Maksudnya gimana, kak?” tanya Revi tidak mengerti.
“Gini, aku kan mau buka usaha kecil-kecilan, nantinya akan sibuk di sana untuk awal-awal. Jadi, anak-anak kamu yang akan urus keperluannya. Aku butuh asisten rumah tangga untuk mengurus rumah dan dapur kita, nanti kamu cukup fokus sama anak-anak saja.” Jelas Amira.