Penulis Online Yang Diremehkan

Penulis Online Yang Diremehkan
Sean


__ADS_3

“Kamu sudah menempelnya dengan baik, Vi?” Tanya Amira tetapi tidak mendapat respon dari lawan bicaranya.


“Vi, Revi.” Amira melambai di depan Revi membuat Revi tersentak kaget.


“Eh iya, kak. Ada apa?” Tanya Revi gelagapan.


“Kamu kenal dia?” Tanya Amira setelah melihat arah pandangan Revi. Ternyata, Revi tidak bergerak karena melihat ke arah Glen dan Wulan.


“Sedikit, kak.” Ucap Revi dengan malu-malu.


“Kak Revi!!!!!!” Wulan berlari ke arah Revi dengan menenteng boneka yang mereka beli dari atas.


Wulan dan Revi saling berpelukan layaknya saudara yang sudah lama tidak bertemu.


“Gimana nih, bang?” tanya Wulan setelah saling peluknya dengan Revi selesai.


“ya mau gimana lagi, dia sudah ada di sini.” Ucap Glen pasrah.


Amira makin bingung dengan apa yang terjadi di hadapannya. Mereka bertindak seperti saling kenal tetapi Amira tidak tahu.


“Kalian saling kenal?” tanya Amira pada akhirnya.


“Ini calonnya bang Glen, kak.” Ucap Wulan tanpa basa basi.


“Serius? Revi? Bang Glen?” tanya Amira tidak percaya.


Glen mengangguk begitu juga Revi yang mengangguk malu-malu.

__ADS_1


“Bagaimana bisa?” tanya Amira tidak percaya dengan apa yang di saksikannya.


Mereka masih ingin ngobrol tetapi sudah ada pelanggan yang menghentikan mereka. Amira harus melayani pelanggan dan membiarkan Revi keluar bersama Glen yang tak lain adalah calonnya sedangkan Wulan memilih membantu Amira di toko.


Baik Wulan atau pun Glen tidak ada yang tahu jika toko itu milik Amira mereka taunya Amira hanya pekerja di toko itu.


***


“Ibu harus di rukiah secepatnya, yah. Kasihan Amira di luar sana. Bahkan, dia pergi kerja dengan kedua anaknya, yah.” Ucap Damar merasa kasihan dengan Amira. Dia tidak tahu, jika yang temannya sampaikan perihal Amira adalah salah.


Amira bukannya datang kerja dengan membawa kedua anaknya tetapi dia hanya datang untuk membuka lowongan kerja yang kebetulan sedang musim skripsi sehingga dia memutuskan membuka toko dengan karyawan dia dan dua asisten rumah tangganya.


“Dia kerja di mana?” tanya sang ayah merasa kasihan pada Putri yang pernah menjadi anak emas di keluarganya.


“Di toko depan kampus, yah. Sean bilang, Amira pergi kerja dengan anaknya. Toko itu baru buka masih kekurangan karyawan. Amira pasti sangat kesusahan sekarang.” Ucap damar kasihan.


Sean adalah temannya yang mengajar di kampus di mana toko Amira berada. Kebetulan, saat itu Sean mau ke ATM yang ada di dekat toko tempat Amira kerja. Sean melihat itu dan mengambil beberapa gambar yang menunjukkan Amira sedang menggandeng anak sambil melayani pelanggan.


Setelah di pastikan, benar adanya. Amira melayaninya sebagai karyawan dan pelanggan. Amira tidak mengenali Sean karena dia tidak memperhatikan siapa saja teman kakaknya yang datang berkunjung ke rumah sehingga Sean bisa dengan mudah memastikan Amira sebagai karyawan di sana.


Setelah pasti, dia mengirimkan gambar-gambar yang berhasil diambilnya pada Damar. Sean juga begitu kasihan sama ibu tunggal yang membesarkan dua anak sendiri. Dia sedikit banyak tahu dengan apa yang terjadi pada keluarga temannya.


Dulu, ketika Damar menikah, Damar minta tolong pada Sean untuk memantau Amira. Dia diminta untuk memastikan keselamatan Amira. Walau saat itu Damar cuek, tidak bisa di pungkiri bahwa dia begitu sayang pada adiknya itu apalagi waktu datang di pernikahannya, Amira masih dalam keadaan hamil tua.


Damar tidak bisa membayangkan betapa sulitnya kehidupan Amira setelah pergi dari rumahnya. Walau Damar tahu Amira punya penghasilan dari menulisnya, tapi dia khawatir Amira tidak konsentrasi menulis hingga dia bisa gagal gajian.


“Coba kamu hubungi pak haji, apa bisa pak Kiai datang secepatnya?” ucap sang ayah pada Damar.

__ADS_1


Dengan penuh harapan, Damar menghubungi pak hakim dia berharap pak Kiai segera datang untuk membantu menyembuhkan ibunya.


Damar tidak tahu, di luar sana Amira tidak kesusahan. Dia bahkan punya dua asisten pribadi sendiri yang bisa meringankan semua kerjaannya. Dia juga bukan pelayan toko seperti apa yang Sean sampaikan padanya. Justru, dia adalah pemilik toko di mana Amira bekerja di sana.


Setelah di hubungi, ternyata pak Kiai akan datang seminggu lagi. Damar tidak sabar menunggu Minggu depan untuk mengobati ibunya. Ibunya juga mau di obati oleh pak Kiai karena dia juga kasihan dan merindukan anaknya itu.


Dia memikirkan anak dan cucunya tetapi ketika bertemu bawaannya pengen marah terus. Dia ingin sekali mengendalikan amarah ketika melihat Amira tapi tidak bisa sama sekali. Ibu Dinda hampir gila mengontrol emosinya yang tidak bisa sama sekali.


Ibu Dinda sudah berusaha dengan cara bangun salat malam, berzikir juga tapi tetap tidak bisa. Entahlah harus bagaimana lagi dia berusaha agar bisa kembali seperti sebelumnya. Dia juga merindukan keharmonisan keluarganya seperti dulu apalagi sekarang dia sudah memiliki dua cucu yang menggemaskan.


Memikirkan itu, Bu Dinda sampai menangis meraung-raung membuat Damar dan pak Susilo yang sedang diskusi berlari ke arahnya. Mereka melihat Bu dinda sedang menangis sambil menjambak rambut seperti orang frustrasi.


“Bu, ada apa, Bu?”


“Kenapa, Bu?”


Tanya Damar dan ayahnya bersamaan. Mereka menarik dua tangan Bu Dinda dari kepalanya. Kalau di biarkan, mungkin Bu Dinda akan menarik rambutnya sampai terlepas.


“Ibu sudah salah sama Amira. Ibu berdosa pada Amira, ibu mau ketemu Amira. Ibu mau minta maaf.” Ucap Bu Dinda di selah tangisnya.


Damar dan ayahnya saling pandang. Mereka tersenyum senang melihat Bu Dinda akan meminta maaf pada Amira. Itu berarti, ibunya sudah sadar.


Buru-buru Damar menelpon Amira melalui panggilan telepon. Dia akan memberikannya pada ibunya


Setelah diangkat, dia memberikan ponselnya pada sang ibu. Bukannya bicara, ibunya malah menangis lalu pada akhirnya tetap sama. Dia tidak bisa mengontrol emosinya, malahan, ponsel Damar jadi korban. Ponsel itu di buang ke sembarang arah oleh ibunya.


Setelah tidak melihat Amira lagi, Bu Dinda menangis. Dia masih belum bisa mengontrol emosinya. Jika sedetik lagi melihat wajah Amira, mungkin dia sudah marah lagi bahkan lebih parah.

__ADS_1


Akhirnya, Bu Dinda memilih tidak melihat wajah anaknya lagi tetapi dia tidak sadar jika yang di lemparnya adalah ponsel Damar. Setelah melempar ponsel, Bu Dinda makin menangis tak terkendali. Dia seperti orang gila sekarang. Rambut acak-acakan dan menangis meraung-raung.


Tetangga yang mendengar itu berdatangan. Mereka mengira sudah terjadi apa-apa di rumah pak Susilo karena tangisan Bu Dinda seperti tangisan orang kehilangan. Tangisan Bu Dinda seperti orang yang menangis di depan mayat. Walau di larang menangis meraung-raung, tapi di kampung Amira masih banyak yang menangis meraung-raung jika kehilangan sanak saudara. Hingga para tetangga tahu apa yang terjadi di rumah itu.


__ADS_2