Penulis Online Yang Diremehkan

Penulis Online Yang Diremehkan
Damar


__ADS_3

Dentingan sendok yang beradu dengan piring mewarnai makan malam di ruang makan milik Amira. Tiga belas orang yang terdiri dari dua anak kecil dan sebelas orang dewasa itu sedang menikmati hidangan yang tersedia.


“Oh iya, Lia kamu sibuk nggak Minggu depan?” Tanya Amira memecah kesunyian.


“Ngga, aku lagi ambil cuti sebulan.”


“Kenapa?”


“Pengen aja.”


“Kebetulan, kamu kan pengen banget jalan-jalan ke kampungku. Bagaimana kalau Minggu depan kita ke kampungku buat menghadiri acara lamarannya adikku.” Ajak Amira.


“Iya nak, kamu jalan-jalan ke rumah dengan Amira.” Timpal Bu Dinda. Dia paling senang jika teman dari anak-anaknya berkunjung ke rumah.


“Tanggal berapa ya, Tante?” tanya Lia memastikan.


“Tanggal 25.”


“Wah, aku ngga bisa Tante. Temanku juga mau lamaran di tanggal itu.” Lia menoleh pada Amira, “maaf ya, Amira, aku ngga bisa ikut sama kamu.” Setelah melihat Amira, Lia kembali melihat ke arah Damar, “harusnya kamu lamaran di tanggal lain.” Ucap Lia.


“Enak aja.” Damar tidak mengatakan jika dia akan lamaran bersamaan dengan adiknya Amira itu karena calonnya adalah adiknya Amira.


“Maksud kamu, kamu mau pergi di lamarannya Damar?” tanya Amira.


“Iya, dia juga mau lamaran hari yang sama dengan adikmu.” Setelah mengucapkan itu, seketika Lia diam, “Di mana lagi, Mar? Dimana kampung calonmu?” tanya Lia baru ingat jika calon Damar satu kampung dengan Amira.


Ainun sejak tadi tidak bisa menahan tawa. Dia mencubit pinggang Damar yang kebetulan duduk di sampingnya.


“Aw! Sakit, yang.” Keluh Damar karena cubitan Ainun begitu terasa.


“Lagian, kamu iseng banget ngerjain temanmu.” Ucap Ainun.


“Siapa yang ngerjain, sih. Aku kan cuman menjawab pertanyaannya, yang.”


“Jadi, calonmu itu adiknya Amira?” tanya Lia sudah mengerti.


“Iya.”

__ADS_1


Jika tidak mengingat di mana dia berada, mungkin Lia sudah melemparkan sendok bahkan piring pada temannya itu. Bisa-bisanya dia tidak memberitahunya secara langsung malah menggodanya dulu.


“Berarti, aku bisa, Mir.” Ucap Lia menoleh pada sahabatnya.


Diam-diam, Lia melihat ke arah Ainun dan Damar. Gadis itu sejujurnya sudah menyimpan rasa sejak lama pada sahabatnya itu tetapi tidak berani mengungkapkannya. Dia hanya bisa mengagumi, menyukai, mencintai dan menyayangi dalam diam.


Pernah sekali Lia menahan malu dan ingin mengutarakan perasaannya pada Damar, tapi saat itu Damar kebetulan resmi jadi dokter ahli saraf membuat nyali Lia menciut. Dia sadar diri dengan kondisinya yang hanya seorang karyawan restoran sementara Damar seorang dokter.


Selain Damar, Lia juga dekat dengan Glen tetapi dia tidak punya rasa apa-apa dengan kekasih Revi itu. Bahkan, dia tahu jika Glen pacaran dengan Revi karena mereka pernah makan di restoran tempatnya kerja. Itulah alasan Lia datang dengan Glen di rumah Amira. Dia tidak curiga melihat kedatangan Damar juga di sana.


Dia mengira, Damar diundang oleh Amira karena mereka pernah kenal sebelumnya. Benar, benar Damar di undang tapi bukan karena hanya sekedar kenal dengan Amira tapi akan menjadi bagian dari keluarga Amira.


“Wah, selamat ya. Dek, kalau dia banyak nyakitin kamu, buang saja ke laut.” Ucap Lia berusaha mencairkan suasana.


Seketika, semua yang ada di situ tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Lia. Namun, Glen melihat ada yang tidak biasa dengan temannya itu. Dia bisa merasakan luka pada temannya itu karena dia tahu jika Lia menyukai pria yang akan menjadi ipar Amira itu.


“Oh iya, kamu kapan mau lamar Revi?” tanya Lia menoleh pada Glen.


Entah kenapa, Lia ingin selalu bicara agar tidak terlihat jika dia sedang terluka. Bahkan, dia memaksakan menelan makanan walaupun rasanya sudah hambar.


Ucapan Glen membuat Amira menoleh pada Revi yang kebetulan juga menoleh padanya. Tatapan mereka bertemu. Amira dengan perasaan senangnya, sedangkan Revi dengan perasaan takut-takutnya.


“Kamu mau menikah, Vi?” tanya Amira.


“Kalau kakak ngizinin.” Jawab Revi.


“Ya Allah. Kok izinnya ke aku? Ke orang tua lah, Vi. He he he.” Amira tidak habis pikir dengan pikiran pengasuh anak-anaknya itu.


“Kan kakak juga bagian dari keluargaku.”


Deg!


Ucapan Revi berhasil membuat mata Amira berkaca-kaca. Dia tidak menyangka ternyata pengasuh anak-anaknya itu sudah menganggapnya keluarga juga. Apalagi, dia membutuhkan izinnya untuk menikah. Amira tidak bisa untuk tidak terharu dan merasa bersyukur karena merasa di butuhkan oleh pengasuh anaknya.


“Hah. Jadi terharu aku.” Ucap Amira menghapus air matanya yang berhasil menetes.


***

__ADS_1


Suasana kampung terlihat ramai karena di sana sedang ada pertandingan bola antar desa. Lapangan bola berada di dekat rumah Amira sehingga orang yang pergi di lapangan akan melewati rumah Amira.


Amira baru saja turun dari mobil bersama rombongannya. Amira tiba di kampung pada pukul lima sore bertepatan dengan selesainya bola sehingga banyak warga yang duduk di dekat jalan. Pasti mereka sedang menceritakan apa yang mereka saksikan di lapangan.


Namun, topik pembahasan mereka kalah dengan berita baru yang akan mereka saksikan setelah Amira dan rombongan turun dari mobil. Amira, Revi, Ratu, Lia dan kedua bocah cilik berhasil mengalihkan perhatian para warga yang ada di sana.


Apalagi Adam dan Hawa yang tidak bisa diam. Baru turun dari mobil, mereka sudah berlarian. Mereka tidak sabar ingin bertemu dengan kakek, nenek dan paman serta bibinya. Kebetulan, keluarga Amira berhasil mengambil hati kedua anak itu sehingga mereka tidak sabar untuk bertemu.


“Pulang, Mir?” tanya salah satu ibu.


“Iya, Bu.” Jawab Amira seadanya.


“Wah, bawa rombongan ya.”


“Iya Bu, kebetulan ada acara keluarga.”


Mereka yang ada di sana saling pandang karena selama ini mereka tahu apa yang terjadi pada keluarga Amira.


Amira mengerti dengan ekspresi para tetangga orang tuanya itu tapi dia tidak mau menjelaskan.


“Lamarannya Ainun ya, Mir?”


Entah kenapa, para ibu-ibu itu seolah menahan Amira untuk tetap di sana dulu. Jika Amira langsung pergi, dia masih punya sopan santun pada ibu-ibu yang lebih tua darinya.


“Iya, Bu. Mari, Bu.” Amira pamit. Dia mengambil tasnya dan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Revi, Ratu dan Lia sedangkan dua anaknya sudah masuk duluan.


Damar keluar untuk membantu membawakan barang-barang adiknya. Pemandangan yang sejuk itu membuat para tetangga tersenyum. Mereka senang Amira tidak lagi di benci karena mereka juga sayang pada Amira. Selama di kampung, ibu dua anak itu tidak pernah menyimpan kesan buruk di mata para tetangga. Entah bagaimana keluarga Devan melihat Amira sehingga mereka dengan gampangnya melepas emas dari rumah mereka.


Setelah kepergian Amira, desas-desus diantara tetangga bermunculan. Mereka membahas kembalinya Amira pada keluarganya juga membahas kerugian Devan meninggalkan wanita baik seperti Amira, malah menikah lagi.


Padahal, ketika Amira memilih pergi dari rumah Devan, mereka mengalahkan Amira sekarang malah membela Amira. Entah bagaimana jalan prikiran para tetangga Amira itu.


Amira mengajak Lia, Revi dan Ratu untuk masuk di kamarnya saja karena di rumah orang tuanya tidak ada kamar kosong untuk tamu. Sebelumnya, Amira sudah meminta pada kakaknya untuk membongkar ranjangnya dan membiarkan kasur di lantai karena dia akan tidur di sama bersama teman dan anak-anaknya.


Ketika masuk di kamar sederhana itu, mata Amira berkaca-kaca. Dia sudah sangat rindu dengan kamar bernuansa biru langit itu. Sudah dua tahun dia tidak pernah lagi menginjak lantai di kamar itu. Dia tidak menyangka, masih punya kesempatan untuk kembali pada kamar penuh kenangan itu.


Di atas pintu, masih ada foto pernikahannya dengan Devan. Dia belum sempat membuka foto itu karena saat dia keluar dari rumah Devan, dia tidak lagi sempat untuk menurunkan foto pernikahannya. Jangankan punya pikiran untuk menurunkan foto, mengambil pakaian saja dari lemari dia sudah tidak sempat. Mengingat itu, Amira merasakan pasokan oksigen di dadanya melambat. Dia memikirkan kenangan pilu dalam hidupnya hingga Lia menyadarkannya.

__ADS_1


__ADS_2