
Lima orang beda usia itu baru saja turun dari kapal. Mereka memesan taksi untuk menuju tempat di mana alamat yang tertera pada ponsel milik Damar.
“Sesuai alamat ya, mas?” Tanya supir taksi pada penumpangnya.
“Iya, pak.”
Mereka pergi dengan perasaan masing-masing. Ada yang membawa rasa bersalah, ada yang membawa rasa khawatir, ada yang membawa rasa sedih. Namun, diantara semuanya, mereka semua merasa bersalah karena selama ini menelantarkan Amira.
Hanya butuh waktu lima belas menit, mobil putih yang membawa rombongan keluarga Amira itu sudah sampai di halaman rumah mewah itu. Mata mereka semua sampai tidak percaya. Mereka saling pandang seolah bertanya apakah alamat mereka tidak salah?
“Damar?” pak Susilo tidak tahan untuk tidak bertanya.
“Ini benar alamatnya, Yah.” Ucap Damar melihat kembali pada ponselnya.
“Coba lihat lagi, kamu salah kali.” Ucap pak Susilo belum yakin dengan alamat rumah yang mereka tuju.
“Benar, yah.” Damar sampai memperlihatkan ponselnya pada ayahnya. Bu Dinda, Devina dan Ainun ikut melihat pada ponsel yang di tunjukkan oleh Damar.
“Apa iya, ini rumah Amira?” tanya Bu Dinda, padahal mereka tidak ada yang tahu.
Mereka semua hanya menggeleng karena tidak tahu mau menjawab apa.
“Coba kamu hubungi Amira, Mar.” Ucap Bu Dinda.
Mereka takut salah rumah jika langsung mengetuk saja. Walau mereka tahu jika Amira punya penghasilan dari menulis, mereka tidak yakin Amira bisa punya rumah sebesar dan semewah itu dalam waktu kurang lebih dua tahun. Mereka tidak tahu jika setelah keluar dari rumah Devan, retensi dan tayangan pada tulisan Amira begitu meningkat hingga dia punya penghasilan yang besar setiap bulannya.
Dua kali panggilan, Amira tidak menjawab. Hingga akhirnya mereka melihat Revi yang baru saja pulang dari rumah tetangga. Revi mengantarkan makanan pada tetangganya yang sudah renta. Atas izin Amira, Revi bertugas mengantarkan makanan pada tetangga yang tak lagi punya sanak saudara itu dan sudah renta untuk bekerja.
“Kamu ....”
“Cari Amira ya, pak?” tanya Revi pada Bu Dinda karena yang berdiri tepat di hadapannya adalah Bu Dinda.
“Iya, apa ini rumahnya Amira?” tanya Bu Dinda.
__ADS_1
“Iya, Bu. Amira sudah menunggu kalian di dalam. Silakan masuk Bu, pak, mas, mbak.” Ajak Revi pada keluarga Amira.
Sebelumnya, Amira sudah menyampaikan pada dia dan Ratu jika keluarga Amira akan datang di sana. Revi dan Ratu juga turut membantu Amira menyiapkan makanan untuk keluarganya.
Dengan rasa bertanya-tanya, rombongan keluarga Amira yang baru sapai itu memasuki halaman rumah. Ketika mereka masuk, yang ada hanya Ratu dan juga dua anak Amira yang sedang asyik menggambar. Tapi, gambar mereka lebih seperti coretan-coretan.
Melihat ada Bu Dinda, Adam dan Hawa reflek memeluk Ratu yang ada di dekat mereka. Anak-anak itu seperti ketakutan melihat nenek mereka sendiri.
Bukan tanpa alasan mereka takut pada Bu Dinda yang notabenenya adalah nenek mereka sendiri tapi karena kesan pertama yang mereka tangkap dari nenek mereka adalah marah.
Saat pertama kali bertemu dengan nenek mereka, nenek mereka itu malah marah-marah dan mengusir mereka.
Bu Dinda hampir meneteskan air mata melihat reaksi cucunya sendiri. Dia tahu apa yang membuat kedua cucunya itu takut padanya.
Saat mereka masih membujuk Adam dan Hawa, Amira turun dari lantai dua. Dia baru saja melaksanakan kewajibannya pada Tuhan. Bohong jika Amira tidak gugup saat bertemu kembali dengan keluarganya setelah apa yang terjadi.
Melihat Amira, Bu Dinda langsung lari dan bersujud di kakinya. Amira langsung mundur dan memegang bahu ibunya untuk berdiri.
“Maafin ibu, Amira. Ibu bukan ibu yang baik. Ibu sudah menelantarkan kamu dan kedua cucu ibu.” Ucap Bu Dinda menangis di kaki Amira.
“Maafin Amira juga, Bu. Amira ....”
“Tidak, nak. Kami tidak salah. Ibu lah yang salah. Ibu sudah jahat sama kamu.”
Rada haru menyelimuti keluarga mereka. Bahkan, Revi pun turut serta menangis di sana. Semua orang kecuali dua anak kecil menangis melihat pertemuan kembali anak dan ibu yang sempat terjadi masalah itu.
Bukan. Bukan ada masalah tapi karena ada orang jahat yang tega membuat Bu Dinda membenci anaknya sendiri padahal anak itu adalah anak emasnya dalam rumah.
Setelah ibunya, Amira memeluk satu persatu keluarganya lalu mengantar mereka ke kamar masing-masing. Ada empat kamar yang kosong di rumah itu sehingga mereka masih menyisakan satu kamar kosong.
Amira hanya menyuruh mereka istirahat sebentar lalu makan siang. Dia sudah menyiapkan segala keperluan keluarganya. Saat ini, orang paling bahagia dalam hidup adalah Amira. Walaupun rumah tangganya tidak bertahan lama, dan sempat di buang oleh keluarganya, tapi sekarang dia lah yang paling bahagia.
“Ibu!” Panggilan dari anak kecil menyadarkan Amira jika sejak tadi dia tidak mendekati dua malaikatnya.
__ADS_1
“Eh, kesayangan ibu. Gimana gambarnya, sayang?” tanya Amira dengan senyum hangat.
“Ibu kenapa nangis lagi?” tanya Adam.
“Ibu senang sayang. Ibu senang karena kakek, nenek, bibi dan paman datang ke sini nengokin kita. Adam sama Hawa sayang ngga sama kakek dan Nenek?” tanya Amira membuat dua anak itu terdiam.
Amira mengerti apa yang membuat dua malaikat kecilnya itu diam.
“Sayang,” dia memeluk kedua anaknya.
“Kakek sama nenek itu orang baik. Tadi ibu nangis karena bahagia.” Ucap Amira tidak tahu harus menjelaskan seperti apa pada anak kecil seperti Adam dan Hawa.
“Bahagia tapi kok nangis?” timpal Hawa.
Amira memeluk erat keduanya, “menangis itu bukan hanya satu, sayang. Tapi ada juga menangis karena bahagia namanya menangis haru.” Jelas Amira.
Dua anak itu hanya mengangguk seolah mengerti padahal Amira yakin mereka tidak mengerti karena orang tua Amira sudah keluar dari kamar. Mereka akan makan siang bersama di meja yang sudah Amira siapkan dengan penuh cinta.
Mereka seperti canggung padahal sebelumnya sangat dekat. Mungkin karena sempat ada sekat sehingga mereka merasa canggung kecuali Ainun. Gadis itu begitu santai bahkan dia sempat bermain dengan dua keponakannya.
Amira berusaha membuat suasana menjadi enak agar tidak canggung dengan menceritakan kelucuan Adam dan Hawa. Dia juga menyuruh kedua anaknya memanggil kakek dan nenek pada orang tuanya.
Ketika makan, Damar tidak tahan untuk tidak bertanya, “ini rumah kamu, Mir?” tanya Damar.
Amira mengangguk, “iya, kak. Alhamdulillah Amira bisa beli rumah ini.” Jawab Amira.
Melihat tatapan penasaran dari keluarganya, Amira memutuskan untuk menjelaskan semua yang terjadi padanya setelah pergi dari rumah tetapi tidak menjelaskan masa di mana dia menderita tanpa ada yang membantu.
Saat mereka tengah asyik makan sambil sesekali mengobrol, ada yang mengetuk pintu rumah Amira. Bukan. Itu bukan seperti orang mengetuk pintu tapi lebih pada menggedor-gedor pintu.
Mereka yang ada di meja makan saling pandang. Ratu berdiri untuk membukakan pintu pada orang yang tidak tahu cara mengetuk pintu itu.
“Cari si ....” belum sempat Ratu bertanya, orang tanpa etika itu langsung nyelonong masuk saja. Dia seperti pemilik rumah di sana.
__ADS_1
“Amira!” dia berteriak mencari pemilik rumah.
Saat tiba di ruangan makan, mereka semua tercengang dengan pikiran masing-masing.