
Riuh kendaraan berlalu lalang di jalanan. Seorang ibu tunggal sedang memperhatikan dua orang dewasa dan satu anak kecil sedang bermain di halaman rumah mereka. Mereka terlihat sangat bahagia walau hanya sekedar menendang dan melempar bola. Anak kecil itu sampai tidak bisa berhenti tertawa.
Mendung tidak menghalangi mereka untuk bermain sementara seorang ibu tunggal sedang menonton permainan bola itu dari balkon rumahnya. Amira membayangkan anak-anaknya sedang bermain dengan ayahnya hingga pada akhirnya dia tersadar.
“Ngapain juga aku mikirin laki-laki tidak bertanggung jawab itu.” Ucap Amira menggelengkan kepala.
Ya, ibu tunggal yang sedang menonton permainan bola oleh keluarga itu adalah Amira. Dia sedang santai di balkon kamarnya sementara anak-anaknya masih bermain dengan dua asistennya di lantai bawah. Amira sengaja membiarkan mereka karena dia ingin duduk sendiri.
Entahlah, mood Amira hari ini sedang tidak baik padahal dia tidak sedang halangan. Kilasan kenangan masa lalunya bermunculan disaat dia sendiri. Tak terasa, bulir bening itu mulai menetes membasahi pipi putih itu.
Kilasan masa kecil, masa remaja hingga masa di mana dia menikah dengan Devan membuatnya tersenyum lalu menangis karena kilasan hari-hari menakutkan dalam hidupnya. Dimana dia harus hidup tanpa ada sanak saudara.
Sekuat apa pun Amira, dia juga pasti ada saatnya akan sedih. Seperti hati ini, air matanya tidak berhenti mengalir memikirkan betapa bahagianya dia dulu. Dia memang bahagia sekarang, tapi teta saja kebahagiaannya itu serasa ada yang kurang. Bukan kehadiran Devan yang membuat kebahagiaannya kurang, tapi orang tuanya yang masih dalam pengaruh mistis.
“Hah.” Amira menghembuskan nafas berat.
“Semangat Amira! Kamu bukan wanita lemah. Kamu harus kuat karena anak-anakmu membutuhkan kamu yang kuat.” Amira menyemangati dirinya sendiri lalu menghapus air mata yang terus mengalir.
Rasa rindu itu membuat dia ingin pulang kampung tetapi dia sadar tidak ada tempat untuk dirinya di kampung. Sejahat apa pun orang tua pada anaknya, jika anak itu tetap menyayangi orang tuanya, maka dia akan tetap rindu padanya seperti halnya Amira. Dia tidak sabar ibunya kembali seperti dulu sehingga dia bisa kembali ke kampung.
Bukan. Bukan kembali untuk tinggal, tapi kembali untuk memeluk orang tuanya. Dia tidak mungkin meninggalkan rumah dan usahanya di kota.
Di sisi lain, Bu Dinda sedang meraung, berteriak hingga menangis bersamaan di hadapan seorang kiai. Saat ini, dia sedang di ruqyah oleh seorang kiai di rumahnya. Istri Damar sampai menangis melihat ibu mertuanya sangat tersiksa seperti itu.
Pak Kiai berhasil menginterogasi siapa yang mengirim guna-guna itu pada Bu Dinda. Namun, mereka tidak akan membocorkannya di luar. Biarlah, hanya keluarga mereka yang tahu siapa orang jahat yang mengirim itu pada Bu Dinda.
__ADS_1
Pak Susilo tidak habis pikir dengan orang yang mengirim guna-guna itu pada istrinya. Padahal, orang itu begitu baik pada keluarganya bahkan mereka pernah makan sepiring bersama.
“Itu siapa sih? Kenapa ayah begitu tidak percaya?” tanya Devina pada suaminya. Dia melihat ekspresi ayahnya yang tidak percaya dengan apa yang diucapkan istrinya.
“Keluarga kita, tepatnya keluarga ayah.” Jawab Damar.
Ya, pelaku yang mengirimkan guna-guna pada Bu Dinda adalah keluarganya sendiri yang tak lain adalah sepupu dua kalinya. Padahal, orang itu sangat dekat dengan keluarga mereka. Dia juga kerap kali memuji keharmonisan keluarga Amira apalagi Amira menikah dengan Devan yang di kenal sangat baik di lingkungan mereka.
Entah apa yang membuat salah satu dari keluarga Amira itu iri pada mereka. Saat pak Susilo masih memikirkan betapa tega sepupunya itu menghancurkan kebahagiaan keluarganya, tiba-tiba bu Dinda muntah.
Dia memuntahkan cairan hitam yang entah dari mana asalnya. Beruntung, pak Kiai tahu apa yang akan terjadi pada Bu Dinda sehingga dia menyiapkan plastik untuk menampung apa ya g dikeluarkan Bu Dinda agar tidak terhambur ke mana-mana. Setelah muntah, bu Dinda pingsan mungkin kelelahan. Devina dengan sigap mengambilkan minyak angin untuk ibu mertuanya.
Setelah sadar, Bu Dinda menanyakan apa yang terjadi padanya. Dia merasakan nyaman dan ringan di bagian bahunya. Selama ini, dia merasa leher bagian belakangnya terasa berat. Sekarang, dia begitu ringan seperti baru habis tidur lelap.
“Ada apa?” tanya Bu Dinda.
“Ibu takut tidak bisa mengontrol emosi lagi.” Ucap Bu Dinda menunduk.
“Tidak, Bu. Ibu sudah di obati, kan pak Kiai?” Damar menoleh pada kiai yang sedang bicara dengan ayahnya.
Anggukan pak Kiai membuat Damar bersemangat. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Amira melalui panggilan Vidio cal. Dia sekalian mau memperlihatkan wajah Amira pada ibunya.
Tidak menunggu waktu lama, wajah Amira sudah muncul di hadapan Damar. Dia mengucapkan apa tujuannya pada Amira.
“Amira takut, kak. Amira tidak mau melihat ibu marah lagi.” Ucap Amira menunduk. Dia tidak sanggup melihat kemarahan ibunya lagi.
__ADS_1
“Tidak, Mir. Ibu sudah di obati. Dia tidak akan marah lagi.” Ucap Damar meyakinkan adiknya.
“Tapi, kak ....” belum sempat menolak, ibunya muncul pada layar.
“Amira ....”
Bu Dinda menangis melihat anaknya. Dia merasa bersalah pada anaknya yang sudah lama pergi dari rumah itu. Hal yang paling dia sesali adalah kata-kata yang selama ini dia keluarkan pada anaknya itu.
Anak yang selama ini berjuang sendiri membesarkan kedua cucunya.
Air mata keduanya mengalir tanpa aba-aba. Amira menangis karena rasa rindunya pada ibunya sedangkan ibunya menangis karena rasa bersalahnya yang begitu dalam.
“Maafin ibu, nak.” Ucap bu Dinda penuh penyesalan.
“Tidak Bu, ibu tidak salah jangan minta maaf.” Ucap Amira.
Rasa haru menyelimuti keluarga beda tempat itu. Amira di rumahnya sendiri sedangkan ibunya di kampung halaman.
Adam dan Hawa yang kebetulan masuk di sana langsung duduk di pangkuan ibunya, “bu, ibu kenapa nangis?” tanya Adam. Anak itu seperti sudah dewasa mengerti dengan ibunya.
Amira tidak sanggup menghentikan tangisnya, dia memeluk kedua anaknya dan diperlihatkan pada ibunya.
“Bu, ini cucu ibu.” Ucap Amira menangis.
Bu Dinda tidak sanggup melihat Amira dan kedua anaknya. Dia begitu merasa bersalah sehingga dia menyuruh Damar untuk bicara dengan Amira. Dia menyuruh Damar untuk memanggil Amira pulang atau mengirimkan alamatnya biar mereka yang ke tempat Amira.
__ADS_1
Karena Amira belum bisa meninggalkan toko yang baru di bukanya, dia mengirimkan alamat rumahnya pada Damar. Dia begitu senang melihat ibunya sudah bisa menerimanya kembali. Dia akan menyiapkan yang terbaik untuk mereka.
Amira tidak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur atas nikmat yang di dapatkannya hari ini. Dia akan bersatu kembali dengan keluarganya.