
“Sekarang bagaimana, Mar?” pak Susilo ayah dari Amira sedang memikirkan cara agar istrinya kembali sehat tanpa ada gangguan sedikitpun.
“Kita harus temui kiai itu lagi, Yah. Aku pernah dengar cerita jika kiai itu akan datang di sini dua bulan apa tiga bulan sekali, ya? Adam lupa tapi yang pasti, beliau sering ke sini.” Ucap Damar.
“Kira-kira, dimana beliau akan tinggal selama di sini, ya?” Pak Susilo memikirkan tempat yang kemungkinan menjadi tempat persinggahan kiai yang di maksud oleh anaknya.
Damar yang tidak tahu hanya bisa mengangkat bahu. Dia hanya kebetulan melihat kiai itu di mesjid dan tidak bertanya banyak padanya. Sekarang, Damar baru menyesali kenapa dia tidak bertanya minimal nomor kontak kiai itu.
“Mungkin pak Haji, yah?” tebak Damar. Setelah di pikir-pikir dimana kiranya kiai itu akan menetap selama di sini, Damar memikirkan satu tempat yang mungkin pas yaitu rumah pak Haji.
“Coba kita ke sana.” Ajak pak Susilo dia tidak sabar untuk segera melihat kembali keluarganya utuh.
Dia ingin kembali membuka mata hati istrinya agar tidak memandang anak kandungnya sendiri dengan mata kebencian.
Setelah tiba di sana, dugaan Damar tidak salah. Pak Kiai itu sering menginap di rumah pak Haji jika ke sana. Pak Susilo menanyakan kapan kiranya pak Kiai akan kembali ke kampung mereka karena dia membutuhkan bantuan kiai itu.
Pak haji meminta pak Susilo untuk menjelaskan apa permasalahan yang terjadi sehingga mereka mencari pak Kiai sedangkan sekarang sudah hampir jam sembilan malam.
Pak Susilo menceritakan apa yang dialami istrinya dari awal sampai akhir, bahkan rumah tangga anaknya yang hancur juga di ceritakannya pada pak haji.
“Ini hampir sama dengan kejadian dua bulan lalu di desa sebelah. Anaknya tidak bisa berada dalam rumah. Jika dia berada dalam rumah, maka emosinya tidak terkontrol bahkan dia hampir gila karena emosinya sendiri.” Ucap pak haji setelah mendengar kasus dari istri pak Susilo.
__ADS_1
“Kita hanya berusaha, urusan duanya itu kita serahkan sama Tuhan yang maha kuasa. Ada namanya penyakit ain yang bisa membuat orang bisa melakukan apa saja. Apa selama ini Amira dan ibunya ada masalah?” tanya pak haji pada ayahnya Amira.
Pak Susilo menggeleng, “tidak. Mereka tidak pernah ada masalah sedikit pun, bahkan Amira termasuk anak emas di keluarga kami. Hubungan Amira dengan ibunya sangat baik. Banyak orang yang mengagumi dan memuji hubungan Amira dengan ibunya.” Jelas pak Susilo.
“Nah, pujian itu yang biasanya terkandung makna di dalamnya. Jangan pernah terlena dengan pujian orang lain karena kita tidak tahu apa yang ada dalam hati orang tersebut. Pujian tidak hanya bermakna baik tapi ada juga yang bermakna lain.”
“Amira tidak pernah berbuat salah sama kami apalagi sama ibunya. Tapi, ketika dia pergi dari rumah suaminya, istri saya sangat marah bahkan dia sampai mengusir Amira dari rumah tanpa mau mendengar penjelasan apa pun dari anak saya.”
Pak haji manggut-manggut, “ya, penyakit seperti itu tidak akan mau mendengar apa pun dari orang lain karena mata dan hatinya di selimuti oleh amarah dan emosi yang tidak terkontrol. Dia akan sadar jika apa yang dilakukannya itu salah, tapi dia tidak bisa mengendalikannya. Seperti ada yang mengendalikan tubuhnya, tapi dia tidak di masuki oleh jin atau setan. Dia tidak kemasukan, hanya saja seperti bukan dirinya yang bertindak.”
“Lalu, bagaimana agar istri saya bisa kembali pulih, pak haji? Saya sudah sangat bingung mau bagaimana lagi untuk meyakinkan istri saya bahwa Amira itu tidak salah. Amira dan Devan, mereka tidak di takdirkan untuk tetap bersama. Namun, istri saya sangat tidak bisa menerima itu. Dia tetap memaksakan agar Amira balik dengan Devan sekalipun Devan sudah menikah. Istri saya masih saja menganggap Amira yang salah telah meninggalkan Devan padahal Devan dan keluarganya tidak menganggap kehadiran Amira selama dia ada di sana.” Pak Susilo mengusap wajah.
“Maaf, saya jadi membuka aib.” Ucap pak Susilo tapi dia tidak bisa menahannya ketika menjelaskan permasalahan keluarganya.
Setelah mereka bercerita panjang lebar, pak Susilo dan Damar meninggalkan rumah pak haji dan akan datang kembali bulan depan dimana pak Kiai akan datang di sana.
Pak haji juga menelpon pak Kiai untuk menceritakan masalah yang dialami istri dari pak Susilo dan kiai mengatakan sudah tahu. Dia memang sempat mendengar cerita dari para warga yang kebetulan saat itu pak Kiai sedang beli minum di sebuah warung dan beberapa ibu-ibu yang duduk di dekat warung sedang menceritakan masalah dari ibu dari Amira hanya saja, pak Kiai tidak tahu siapa itu Amira karena dia juga hanya pendatang.
Bertepatan dengan itu, dia melihat kejadian di mana Amira di usir oleh orang tuanya sendiri. Bahkan, dia melihat dengan jelas betapa orang tuanya membenci anak kandungnya sendiri walaupun sang anak datang dengan membawakan cucunya.
Pak Kiai melihat semua anggota keluarga itu dan hanya ibunya yang sedikit aneh. Kebetulan, hari dimana pak Kiai akan pergi, dia bertemu dengan Danar sehingga dia menyampaikan beberapa kata yang membuat Damar sampai mencari tahu kapan pak Kiai akan kembali.
__ADS_1
Disisi lain, Amira dan dua anaknya sedang bermain di tempat bermain. Anak-anak itu ingin sekali jalan-jalan dengan ibunya yang sudah mulai sedikit sibuk itu. Amira tidak mengajak Revi dan Ratu, dia sengaja ingin jalan berdua dengan dua malaikat hidupnya.
Revi dan Ratu diminta Amira untuk menyiapkan makan malam bersama. Entah kenapa, Amira ingin sekali jalan bertiga dengan anak-anaknya padahal jika dengan Revi dan Ratu dia tidak akan kewalahan mengurus Adam dan Hawa walaupun dua anak itu gampang di atur.
“Bunda, Adam mau beli ini boleh?” Adam menunjuk pada mukena berwarna biru langit yang di gantung di samping tempat bermain. Saat ini, mereka baru saja keluar dari tempat bermain.
Melihat apa yang di tunjuk oleh anak laki-lakinya, Amira mengerutkan kening, “untuk apa, Dam? Adam kan cewek, masa pakai mukena?” tanya Amira heran dengan keinginan anak laki-lakinya itu.
“Bukan buat Adam Bu, tapi buat kak Revi. Mukenanya udah rusak, sudah banyak nodanya.”
“Benal Bu, mukena kak Levi sudah lusak.” Timpal Hawa tidak mau kalah.
“Oh, ya udah. Beli dua, ya. Anak-anak ibu emang pintar.” Amira mengelus lembut kepala anak-anaknya.
“Yeeeeei!” dua anak sama usia itu berseru kegirangan ketika di bolehin beli mukena untuk pengasuh mereka.
Amira sangat senang dengan perhatian mereka pada Revi.
“Bungkus seperti kado, boleh, bu?” tanya Adam.
Amira menekuk lutut untuk mensejajarkan tinggi dengan kedua anaknya, “boleh sayang. Apa sih yang ngga boleh buat anak-anak ibu? Apalagi anak-anak ibu mau bersih hadiah pada Revi dan Ratu.” Ucap Amira sangat bangga dengan anak-anaknya.
__ADS_1
Dia tidak mengira Tuhan akan sangat baik padanya setelah apa yang menimpa dirinya. Amira merasa Tuhan tidak adil hingga kehadiran Adam dan Hawa membuka mata dan pikirannya bahwa Tuhan sangat sayang padanya. Air mata yang Amira tumpahkan setiap harinya sudah berubah menjadi kebahagiaan dan senyuman hangat setiap kali melihat wajah kedua malaikat kecilnya.