
Gagalnya pernikahan Stevan menjadi bumerang bagi keluarga Amira khususnya sang ayah. Dia menyukai perangai Stevan sejak kecil tapi sayangnya Stevan dan Amira tidak berjodoh. Mau menjodohkan Amira dengan Stevan sekarang juga pak Susilo sadar diri anaknya sudah pernah menikah dan punya anak sementara Stevan masih bujang.
“Kasihan, ya. Kok tega sih itu calon mempelai wanitanya pergi di saat pernikahan lagi beberapa hari?” Ucap Bu Dinda merasa kasihan dengan Stevan. Sekarang mereka sedang duduk di ruang keluarga.
“Beluk jodoh kali, Bu.” Jawab Amira.
“Oh iya, Mir? Gimana ceritanya kamu bisa punya rumah Segede ini?” tanya Damar mengalihkan perhatian orang tuanya dari gagalnya pernikahan Stevan. Dia takut, ada rencana lain lagi untuk Amira dan Damar tidak mau itu. Dia ingin, Amira menentukan hidupnya sendiri.
“Oh, ini aku dari menulis. Aku juga di bantu sama temanku. Tapi, untuk pinjaman sama temanku sudah aku lunasi ketika jual mobil.” Jelas Amira tidak menutup-nutupi pada keluarganya.
“Mobil? Terus yang di depan itu mobil siapa?” timpal Ainun.
“Itu hasil aku menang undian dari salah satu bank.”
Mendengar itu, semua keluarga Amira tercengang. Luar biasa rezeki yang Amira dapatkan ketika hidupnya menderita.
“Kebetulan, yang jual rumah ini sedang butuh banget uang sehingga harganya tidak semahal keadaan rumahnya. Aku bersyukur, semua kebutuhanku begitu mudahnya tercukupi.” Ucap Amira membayangkan betapa banyak orang baik di sekelilingnya walau tak sedikit juga yang berpikiran negatif padanya.
Amira jadi ke pikiran pada pemilik rumah yang dulu dia kontrak tapi tidak bayar, juga pada pemilik restoran yang begitu menghargainya padahal dia hanya seorang wanita lemah tapi masih di terima kerja di restoran miliknya.
“Kak, kakak mau ngga ikut pulang sama kita?” tanya Ainun. Dia melihat ekspresi ayah dan ibunya sudah lain saat Amira menjelaskan perjalanannya ketika keluar dari rumah.
“Bagaimana dih? Kakak harus sering-sering memantau toko.” Ucap Amira.
“Maksud Ainun, kakak ikut bukan untuk tinggal di sana. Maksud Ainun, kakak hadir di acara lamaran aku.”
Amira seketika menoleh pada adiknya, “kamu mau lamaran? Kapan?” tanya Amira senang.
“Rencananya Minggu depan, Ra.” Jawab pak Susilo mengambil alih jawaban Ainun.
“Lah, kok cepat?”
“Biarlah, Ra. Lagian, mereka tidak langsung menikah. Lamaran saja dulu, menikahnya nanti.”
“Sama siapa yah?”
“Sama Damar.” Kali ini, yang menjawab adalah Ainun.
__ADS_1
Amira langsung menoleh pada kakaknya.
“Bukan aku. Tidak tahu itu anak kenapa cari calon yang namanya sama dengan kakaknya sendiri. Ntar malah di kira lamaran sama kakak kandung sendiri kan ngga lucu.” Ucap Damar.
“Ya, kan tinggal ganti namanya jadi Amar, kak. Dia juga mau kok di panggil Amar.” Ucap Ainun.
“Iya ... Iya.”
Orang yang ada di situ setengah mati menahan diri agar tidak tertawa. Selalunya, Ainun dan Damar akan bertengkar jika sudah membahas tentang calon yang akan melamar Ainun.
“Orang mana?” Amira masih tidak mau berhenti untuk bertanya perihal calon dari adiknya itu.
Bukannya mau menyamakan semua laki-laki itu sama seperti ucapan para wanita sakit hati pada umumnya, tapi dia takut adiknya akan merasakan hal yang sama sepertinya. Jika itu terjadi, Amira tidak tahu harus berbuat apa karena itu sangat sakit.
“Orang b*gis, kak. Dia juga kerja di salah satu rumah sakit di sini.” Jelas Ainun.
“Rumah sakit? Dia perawat?”
“Dokter, kak. Dokter ahli saraf.”
“Iya, jadi nanti kalau nih anak macam-macam, tinggal minta Damar untuk membelokkan sarafnya biar jadi anak baik-baik.” Damar tidak mau kalah.
Melihat itu, pak Susilo dan Bu Dinda begitu bahagia. Keluarganya sudah mulai hidup lagi. Rasa kaku yang selama ini menghiasi keluarganya sudah membaik kembali.
“Ngga ada waktu ya, buat ketemu kita di sini? Undang kek, kesini untuk di kenalin sama kita.”
“Kamu saja, Mir. Kami semua sudah kenal. He he he.”
“Oh, sudah pernah ketemu?”
“Sering malah. Sebelum jadi dokter, dia sering bertandang ke rumah. Entah pakai guna-guna apa nih anak sampai-sampai tuh pria mau datang ke kampung kita hanya untuk bertemu dengan anak bandel ini.” Ucap Damar menjitak kepala adiknya.
Ainun murka, dia berdiri lalu memeluk kakaknya dari belakang. Dia menarik rambutnya sehingga Damar kesusahan untuk mengangkat kepala.
Gelak tawa menghiasi ruang keluarga bernuansa putih itu. Di ujung sana, ada seorang gadis yang melihat dengan senyum bahagia. Dia adalah Revi yang melihat dengan bahagia keharmonisan keluarga itu. Bahkan, dia meneteskan air mata saling bahagianya melihat kebahagiaan majikannya. Dia tidak lagi risau jika harus melangkah.
Ya, Revi sudah ada niat untuk menerima lamaran Glen tetapi dia tidak tega meninggalkan majikannya. Dia sudah terlanjur sayang pada majikannya itu sehingga masih menunda menerima Glen yang akan melamar.
__ADS_1
“Kenapa, Vi?” Ratu berdiri di samping Revi. Dia melihat ke arah pandangan Revi, barulah mengerti kenapa temannya itu terlihat menangis tapi tersenyum.
“Aku senang melihat kak Amira bahagia. Aku senang melihatnya kembali akur dengan keluarganya. Dulu, kak Amira selalu menutupi kesedihannya.”
Ratu belum lama tinggal dengan Amira sehingga dia tidak banyak tahu tentang majikannya itu. Revi lah yang menjadi saksi betapa susahnya Amira merawat bayi yang baru lahir tanpa orang tua. Hanya dirinya dan Lia lah yang selalu membantu Amira.
***
Suasana ruang makan begitu sejuk, semua penghuni rumah berkumpul di sana. Mereka tinggal menunggu kedatangan seseorang baru memulai makan malam. Seseorang itu adalah pria yang akan melamar Ainun satu Minggu ke depan.
Ya, malam itu ketika membahas calon Ainun, Amira meminta Ainun untuk menanyakan waktu kosong dari calonnya itu. Dia ingin melihat seperti apa calon adiknya nanti.
Terdengar bel berbunyi pertanda ada seseorang yang datang. Ratu bergegas untuk membukakan pintu dan mempersilahkan tamu masuk. Namun, yang datang bukanlah calon dari Ainun melainkan Lia dengan calon Revi.
“Lia!” Amira berlari ke arah sahabatnya itu. Sudah lama mereka tidak bertemu karena Lia begitu sibuk dengan kerjaannya apalagi dia di percaya mengelola cabang restoran dari bosnya.
Beda dengan Amira, Revi malah kaget melihat kedatangan Glen di sana padahal dia sedang tidak ada janji.
“Kamu mau bunuh aku, ya.” Ucap Lia. Pasalnya, Amira memeluknya dengan sangat keras.
“he he he, maaf. Habis, aku kangen sama kamu.” Amira melepaskan pelukannya, “Adam, Hawa, salam sama aunty, sayang.” Ucap Amira memanggil kedua anaknya.
Adam dan Hawa mendekati Lia. Lia belut lutut untuk menyejajarkan tinggi dengan dua bocah cilik di hadapannya.
Setelah memeluk dan mencium dua bocah cilik itu, Lia baru sadar ternyata mereka sedang ramai. Dia menoleh pada Amira.
Amira mengerti maksud dari Lia, “oh iya, itu keluargaku. Ini ayah, itu ibu, kakak, adik dan kakak iparku.” Ucap Amira memperkenalkan anggota keluarganya.
Namun, bukan itu yang Lia maksud. Amira juga tahu dengan pertanyaan dalam pikiran Lia tetapi dia tidak mungkin menjelaskannya sekarang. Nantilah dia menjelaskannya ketika waktu luang.
Baru saja Lia dan Glen hendak duduk, seseorang datang bersama Ratu. Semua mata tertuju pada pria yang mengenakan kemeja biru langit dan di padukan dengan celana hitam itu. Pria itu begitu berwibawa.
“Wishhh pak Dokter ngapain kesini?” tanya Lia ketika melihat Damar.
“Itu bukannya ...?”
“Iya, dia pria yang ada di sebelah kamar kosku dulu. Dia sudah jadi dokter ahli saraf sekarang. Jadi, kalau kamu ada kelainan, gila misalnya kamu bisa pergi sama dia.” Jelas Lia.
__ADS_1
“Aku bukan dokter di rumah sakit jiwa ya.”
Semua yang sedang duduk di meja makan sekarang memandang pemandangan yang di sajikan secara live itu dengan pikiran masing-masing.