Penulis Online Yang Diremehkan

Penulis Online Yang Diremehkan
Titik Terang


__ADS_3

“Kak, aku sudah dapat orang yang bisa kerja di sini.” Ucap Revi pada Amira yang sedang sibuk main ponsel.


“Kak,” ulang Revi karena Amira tidak merespons ucapannya.


“Ah iya, bagaimana Revi?” Tanya Amira baru beralih dari ponselnya.


“Aku sudah dapat orang yang bisa kerja di sini.” Ulang Revi.


Amira sedang membalas komentar-komentar yang ada pada kolom komentar tulisannya. Dia terlalu fokus sampai tidak mendengar Revi bicara padanya.


“Oh iya, dari mana? Dia mau nggak tinggal di sini?”


“Dia sahabatku, kak. Di jamin orangnya pembersih dan rajin sekali.” Ucap Revi memuji orang yang akan dia jadikan kandidat anggota baru dalam rumah bernuansa biru itu.


“Kapan dia bisa kesini?”


“Kakak mau terima?” tanya Revi tidak mengerti dengan perkataan majikannya.


“Lah, kan kamu bilang bagus. Ya udah, langsung panggil kesini saja Kaka mau lihat.” Ucap Amira disertai dengan senyum.


Revi segera pamit dari hadapan Amira untuk menghubungi sahabat masa SMA nya. Dia sangat dekat dengan orang yang akan di panggilnya kerja bersamanya.


Revi juga sudah menjelaskan bagaimana kehidupannya selama tinggal bersama Amira. Tidak ada cerita negativ sedikitpun yang Revi jelaskan pada sahabatnya itu karena dia tidak oerna mendapat hal negativ dari majikannya.


Sahabatnya sangat antusias ketika mendengar jika Amira begitu baik bahkan memperlakukan Revi sebagai adik sendiri. Sahabatnya bernama ratu itu tidak sabar menunggu pagi untuk segera ke rumah Amira.


***

__ADS_1


“Revi! Ratu! Bentar sore aku mau ke toko, kalian ikut, ya.” Ajak Amira pada dua asisten rumah tangganya.


Dia ingin berkunjung ke toko yang masih dalam tahap pembangunan itu untuk di cek perkembangannya. Rencananya, dia akan membawa anak-anaknya pergi main di pusat permainan anak tetapi mau singgah di toko dulu.


Ratu yang baru dua hari kerja masih merasa sungkan dengan Amira apalagi Amira yang terlihat seperti wanita sibuk.


“Bukannya kakak mau ke bank?” tanya Revi tidak mengerti dengan agenda majikannya. Dia tahu jika majikannya itu jam dua ada agenda ke bank untuk mengurus segala keperluan undian dan membawa pulang mobil baru itu.


Namun, dia malah mengajak mereka ke toko padahal kalau ke bank, majikannya itu selalu terlambat pulang dan pastinya capek. Revi tidak tahu jika dua hari ini selama dia ke bank, dia bertemu dengan kawan lamanya sehingga terlambat pulang. Mana ada bank yang melayani nasabah sampai jam enam.


“Dari bank kita ke toko, aku sengaja kasih tahu kalian lebih awal biar kalian bisa siap-siap.” Ucap Amira.


Di sisi lain, orang tua Amira sedang berada pada posisi yang menegangkan. Ayah dari Amira sedang menyelesaikan masalah mereka yang tak kunjung selesai. Sejak kejadian ayahnya mengucapkan talak satu, tidak ada kehidupan di dalam rumah orang tua Amira.


Ainun sampai sakit memikirkan kehidupan keluarganya yang seperti orang lain. Mereka serumah tapi seperti orang tak saling mengenal. Bukan hanya Ainun, tapi kakak iparnya juga merasakan hal yang sama apalagi dia hanya seorang menantu di sana. Dia bahkan sudah meminta pada suaminya yang tak lain adalah kakak dari Amira untuk tinggal di rumahnya tapi kakaknya menolak.


Dia tahu, Devina pasti merasa tidak enak karena di keluarganya sedang tidak baik-baik saja tapi dia tidak bisa membawa Devina pergi dari sana sementara orang tuanya belum menemukan titik akhir.


Sebagai anak tertua, Damar berusaha mendamaikan kedua orang tuanya karena Ainun masih butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Damar merindukan orang tuanya yang begitu penyayang dan tidak pernah marah pada anak-anaknya apalagi pada Amira. Amira bagaikan emas di keluarganya tapi entah mengapa perubahan orang tuanya begitu drastis.


Ibunya seperti kesetanan ketika melihat Amira padahal sebelumnya dia begitu membanggakan Amira.


Damar pernah menceritakan masalah keluarganya pada seorang kiai yang kebetulan mampir di mesjid di kampungnya. Kiai itu yang sering mengobati orang sakit dan dia hanya datang sekali dalam dua bulan.


Dari penjelasan kiai itu, ada orang yang sirik pada kehidupan keluarga mereka sehingga ada yang sengaja menutup mata dan hati ibunya pada Amira sehingga ibunya ketika melihat Amira seperti melihat musuh besar.

__ADS_1


Damar tidak terlalu percaya dengan hal mistis seperti itu tapi kejadian di hadapannya sendiri begitu meyakinkan apalagi kehidupan mereka begitu tentram.


Damar menceritakan apa yang di dapatnya dari Kiai itu pada ayahnya. Ayahnya manggut-manggut dan di sinilah mereka di ruang keluarga dengan keadaan dingin dan tegang. Ayahnya sedang bertanya apa yang diinginkan istrinya.


“Sebenarnya, apa yang ibu inginkan?”


Orang yang di tanya malah menangis padahal suaminya hanya bertanya tapi dia tiba-tiba menangis tersedu-sedu.


Damar dengan inisiatif sendiri menelpon Amira melalui Vidio call tetapi tidak diangkat. Damar sampai mengulang tiga kali tapi tidak diangkat oleh Amira. Dia hanya bisa mengirimkan pesan pada saudaranya itu.


“Kenapa ibu benci pada Amira? Ibu lihat kan, siapa yang salah sebenarnya? Devan dan keluarganya yang tidak menghargai dan menganggap keberadaan Amira sehingga dia memilih pergi.” Ucap ayahnya Amira.


Yang di tanya hanya geleng-geleng dan menangis. Dia sepertinya sangat berat untuk membuka bibir.


“Ibu ngga tahu.” Ucapnya sambil terus menangis geleng-geleng kepala.


Tidak berapa lama, ponsel Damar berdering. Ada panggilan Vidio cal dari Amira. Dia menjauh untuk mengangkat telepon karena takut ibunya akan murka lagi. Dia bicara pada Amira untuk tidak mengeluarkan suara cukup mendengar penjelasan ibunya lalu kembali duduk di ruangan yang dingin itu.


“Ibu ngga tahu kenapa setiap melihat Amira ibu selalu emosi. Ibu sadar ibu salah, tapi ibu tidak bisa menahan diri untuk tidak marah pada Amira. Ketika ibu tidak melihat Amira, ibu merasa tenang. Tidak tahu apa yang terjadi pada ibu.” Jelas ibu Amira.


Amira di seberang sana hanya mendengar dalam diam. Dia tidak menangis atau sekedar bersedih karena dia sudah terima apa yang akan terjadi padanya. Jika ibunya kembali menerimanya, maka dia akan bahagia dan jika ibunya tidak menerimanya kembali, maka dia akan terima semua keputusan ibunya.


“Sekarang, apa yang ibu rasakan?” tanya sang suami. Dia menanggapi serius apa yang Damar dengar dari Kiai beberapa hari lalu.


“Ibu tenang jika tidak mendengar atau melihat Amira.”


Tiba-tiba Damar mengangkat ponselnya dan menunjukannya pada ibunya. Ibunya yang sebelumnya menangis sedih, tiba-tiba berubah menjadi seperti orang kesurupan. Dia kesetanan saat melihat Amira.

__ADS_1


Ibunya kembali memaki Amira bahkan Damar juga kena Omelan ibunya. Damar segera mematikan ponsel dan menyimpan kembali ponselnya. Dari apa yang mereka lihat, perkataan kiai itu tidak salah.


__ADS_2