
Damar meraih tangan Hawa dan menggendongnya. Dia percaya Amira akan mampu mengatasi manusia tak punya hati di sekitarnya. Pak Bram juga sudah tidak bisa diam, dia menampar anaknya yang berani mendorong Amira hingga tersungkur.
“Ayah!”
“Ayah!”
“Ayah!
“Astaghfirullah!”
Hanya istrinya Devan yang beristighfar ketika melihat mertuanya menampar anaknya sendiri. Tiara memegang pipinya yang masih ada bekas tangan ayahnya sendiri. Seumur-umur, baru kali ini ayahnya itu menamparnya.
Air mata Tiara menetes begitu saja dengan perlakuan ayahnya. Pak Bram juga melihat tangannya. Dia tidak menyangka refleks dari kemarahannya melihat tingkah laku istri dan anak-anaknya membuatnya hilang kendali.
Roni menyuruh Misya untuk masuk kamar karena apa yang terjadi saat ini sangat tidak pantas untuk dilihat oleh anak seusia Misya. Begitu juga dengan Damar yang hendak membawa pergi Amira tapi berpapasan dengan Ratu dan Lia. Ratu dan Lia sengaja menyusul Amira ketika mereka mendengar dari Revi jika Hawa di bawa pergi.
Orang tua Amira tidak ikut karena mereka harus menghargai calon dari anak mereka. Walaupun pikiran mereka memikirkan Amira dan anaknya, tapi mereka harus tetap berada di tempat.
“Kebetulan, tolong bawa Hawa pergi.” Ucap Damar pada Ratu.
Ratu mengambil alih Hawa dari tangan Damar. Dia dan Lia kembali ke rumah Amira untuk menenangkan Hawa yang menangis. Gadis kecil itu sudah diam tetapi menangis lagi ketika melihat ibunya tersungkur akibat ulah Tiara. Sementara Damar kembali ke rumah Devan untuk memastikan adiknya baik-baik saja.
Karena emosi, Tiara mengangkat tangan hendak menampar Amira tetapi Amira bisa menahan tangan kotor Tiara.
Plak!
“Kamu masih mau merasakan tanganku menempel di pipimu?” ucap Amira setelah tangannya berhasil mendarat di pipi Tiara.
Plak!
“Aku sudah bilang, jika sekali kalian berani menyentuh anakku, maka ini balasannya.”
Plak!
Tiga kali Amira melepaskan tangan di pipi Tiara sehingga membuat ibu satu anak itu emosi. Dia hendak membalas tetapi di tahan oleh Roni. Roni baru kembali dari kamar membawa Misya.
__ADS_1
“Lepasin, mas! Aku harus beri pelajaran pada wanita murahan ini!” teriak Tiara memberontak.
“Sudah. Amira tidak akan seperti itu jika kamu tidak mulai duluan.” Ucap Roni. Ucapan Roni memang benar. Amira sebenarnya sangat tenang tetapi kelaukuan mereka lah yang membuat Amira menjadi buas.
“Kamu belain dia, mas! Dari dulu kamu selalu belain wanita murahan ini. Apa jangan-jangan kamu suka sama dia.”
“Tiara!”
“Apa, mas? Kamu mau menamparku juga? Silahkan, mas. Silahkan.” Ucap Tiara menadahkan pipinya Roni.
Roni tidak tahan dan hanya memaksa Tiara untuk menjauh dari hadapan Amira. Bu Dewi sedang bicara di telepon, ternyata dia sedang melaporkan Amira ke polisi sekalian dia melapor perihal hak asuh anak.
“Aku sudah memanggil polisi kesini. Sebentar lagi, kamu akan masuk penjara dan Devan akan mendapatkan hak asuh dari anaknya.” Ucap Bu Dewi percaya diri.
“Apa yang kamu lakukan, bu?” Tanya pak Bram tidak habis pikir dengan tindakan gegabah istrinya.
Bukannya takut, Amira malah tersenyum mendengar Sanga mantan ibu mertua telah melapor polisi. Dia sangat menantikan itu karena sudah tidak tahan dengan keluarga mantan suaminya itu yang terus saja mengganggu hidupnya.
“kenapa kamu senyum disitu? Kamu merasa akan menang?” ucap Bu Dewi.
“Apa maksud kamu?” tanya Bu Dewi.
“Aku ngga ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin melihat, bagaimana kalian membuktikan jika aku yang salah telah menampar anda dan menampar anak kesayangan anda.” Ucap Amira tersenyum meremehkan.
“Kami semua bisa bersaksi atas apa yang kamu lakukan.” Ucap Bu Dewi yakin. Seketika, Amira tertawa membuat emosi bu Dewi makin naik sedangkan Devan tidak berbuat apa-apa.
Dia hanya memandang mantan istrinya itu dengan perasaan campur aduk. Baru kali ini dia melihat mantan istrinya itu menjadi se tempramen yang dilihatnya. Selama ini, Amira hanyalah wanita lugu yang selalu senyum dan lembut.
Hari ini, Amira seperti orang lain. Devan tidak sadar jika ulah merekalah yang membuat Amira menjadi seperti itu.
Tidak berapa lama, Lia tiba dengan membawa ponsel milik Amira. Sebelum memperlihatkan Vidio rekaman CCTV dari rumahnya di kota dan dari rumah orang tuanya, Amira menyalin Vidio itu ke google Drive dengan tujuan jaga-jaga jika ponselnya akan diambil paksa.
Beruntung, sehari setelah mereka tiba di rumah orang tuanya, Amira langsung menyarankan untuk memasang kamera CCTV di sekitar halaman rumah sampai belakang. Tujuan Amira memasang itu untuk jaga-jaga jika ada orang jahat yang mengirimkan sesuatu yang bisa membuat keluarganya hancur lagi.
Ya, biasanya jika ada orang yang berniat jahat akan meletakkan sesuatu di sekitar rumah dan paling sering di bawah tangga atau di dekat jendela kamar. Namun, bukannya niat jahat dengan cara tak terlihat, malah Devan yang muncul mengambil paksa anaknya.
__ADS_1
“Bagaimana dengan ini?” Tanya Amira memperlihatkan Vidio Devan mengambil paksa Hawa.
“Atau ini?” Amira juga menunjukkan Vidio di mana Tiara masuk dengan paksa di rumah Amira. Tiara juga mengangkat tangan untuk menampar Amira tetapi dia menahannya. Vidionya hanya sampai di situ saja.
“Kamu!”
“Aku tak sebodoh yang kalian pikirkan.” Ucap Amira.
Dia sengaja menyimpan semua rekaman itu karena untuk di jadikan bukti jika keluarga Devan akan minta hak asuh anak. Seperti hati ini Bu Dewi sudah melapor pada polisi.
Dengan gesit, Devan meraih ponsel Amira dan melemparnya dengan keras. Ponsel itu hancur berkeping-keping bersamaan dengan tangan pak Bram yang mendarat sempurna di pipi Devan.
Ya, pak Bram kembali menampar anaknya tetapi kali ini bukan Tiara melainkan Devan.
“Siapa yang mengajarimu tidak sopan seperti itu, Devan!” teriak pak Barm emosi.
“Ayah betul-betul tidak habis pikir dengan kelakuan kalian ketika ayah tidak di rumah. Ternyata, didikan ayah salah telah memanjakan kalian. Tahu akan jadi begini, ayah lebih baik tidak pulang.” Ucap pak Bram merasa tidak becus mendidik istri dan anak-anaknya.
Istri dari Devan sudah meneteskan air mata. Dia bisa merasakan sakit yang di rasakan oleh ayah mertuanya. Ucapan penyesalan dari ayah mertuanya sangat menyentuh hatinya tetapi tidak dengan Devan dan ibunya sedangkan Tiara sudah di bawa pergi di kamar oleh Roni. Roni sengaja menjauhkan Tiara dari Amira karena dia tahu istrinya itu tidak bisa mengontrol emosi.
Bersamaan dengan itu, dua polisi telah tiba di rumah orang tua Devan. Mereka menanyakan apa masalah yang terjadi sebelum menangkap Amira seperti tuduhan Bu Dewi. Bu Dewi sedikit lebah karena ponsel Amira sudah rusak.
“Dia sudah mengacaukan keluarga kami!” ucap Bu Dewi tanpa tahu malu.
“anda tidak salah ngomong?” tanya Amira tersenyum meremehkan.
“Kak, pinjam ponselmu.” Amira menoleh pada Damar dan mengulurkan tangan.
Dia membuka akun googlenya melalui ponsel Damar lalu menunjukkan rekaman Tiara dan Devan yang mengganggu ketenangannya.
“Biar bukti yang bicara. Aku sudah capek bicara sama orang yang maunya menang sendiri.” Ucap Amira menunjukkan Vidio itu.
Polisi menyarankan mereka untuk menyelesaikan secara kekeluargaan saja. Sudah menjadi hal biasa jika ada masalah di kampung, polisi akan menyarankan mereka untuk menyelesaikan secara kekeluargaan saja.
“Iya pak, kami akan menyelesaikannya secara kekeluargaan.” Ucap Bu Dewi cepat.
__ADS_1
“Tidak bisa, pak. Mereka sudah melibatkan pihak berwajib, jadi urusan ini harus di selesaikan di pengadilan. Jika bapak tidak mau menangani kasus ini, biar saya melapor ke polres langsung.” Ucap Amira yakin. Dia tidak lagi punya kesabaran menghadapi keluarga Devan.