
Suasana lamaran Ainun berjalan lancar. Amira sedang sibuk membantu para ibu-ibu menyiapkan makanan untuk para tamu. Sudah menjadi kebiasaan dia kampung Amira jika ada yang lamaran maka akan ada tamu dari keluarga.
Adam dan Hawa sedang bersenang-senang di halaman rumah bersama anak-anak di lorong itu dengan di pantau oleh Revi. Padahal, anak-anak seusia Adam dan Hawa sudah bisa di tinggal main bersama yang lain tapi Revi belum biasa meninggalkan Adam dan Hawa ketika bermain.
Hingga pada akhirnya, Revi di panggil oleh Amira.
“Anak-anak gimana, kak?” tanya Revi khawatir meninggalkan Adam dan Hawa main bersama anak-anak lain.
“Ngga apa-apa. Di sini aman, kok.” Ucap Amira meyakinkan Revi. Dia mengerti dengan ke khawatiran Revi tapi ini bukan di kota yang biasanya sangat rawan anak-anak dibiarkan main di luar.
Dengan enggan, Revi memenuhi panggilan majikannya. Ternyata, dia di panggil untuk mengambil salah satu jenis makanan dari talang yang di pakai ketika lamaran. Orang disana mempercayai jika hal itu bisa mempermudah lamaran menular pada gadis yang belum dan ingin menikah.
Revi mengambil telur rebus lalu memakannya dan kembali ke halaman untuk menjaga Adam dan Hawa. Namun, dia tidak bisa mempercayai matanya. Hawa sudah berada di atas motor bersama Devan. Tangisan Hawa tidak membuat orang dalam rumah keluar karena itu hal biasa bagi mereka di kampung. Jika anak-anak main bersama dan ada yang menangis, maka itu tidak apa-apa selama mereka masih main aman.
Namun, tangisan Hawa kali ini bukan karena bermain tapi karena di ambil paksa oleh Devan dan ibunya.
“Kak! Kak Amira!”
“Ibu!!”
Revi dan Adam memanggil Amira secara bersamaan. Mereka ingin melaporkan jika Bea di culik.
Dengan tergopoh-gopoh, Amira berlari keluar. Dia masih memegang sendok makan di tangannya.
“Ada apa?” tanya Amira melihat Revi yang panik dan Adam yang menangis.
“Hawa di bawa pergi, kak.” Ucap Revi.
“Di bawa pergi bagaimana? Siapa yang bawa pergi Hawa?” tanya Amira panik. Dia menoleh pada anak laki-lakinya, “adek ke mana, sayang?” tanya Amira lembut. Dia takut rasa paniknya akan membuat Adam takut.
“Itu tadi, mantan suami kakak.” Jelas Amira. Orang dalam rumah sudah banyak berkumpul di dekat Amira karena mendengar mereka bicara dengan suara keras.
__ADS_1
Selain khawatir dengan anaknya, Amira juga merasa perbuatan telah mengganggu ketenangan lamaran adiknya. Dia tidak bisa menunda lagi untuk ke rumah Devan.
Dengan perasaan campur aduk, Amira mengendarai motor milik adiknya tetapi di tahan oleh Damar sang kakak. Damar mendengar keributan di luar sehingga dia keluar dan melihat adiknya sudah di atas motor.
“Jangan tahan Amira, kak. Amira harus ambil anak Amira.” Ucap Amira.
“Biar kakak Antar.” Ucap Damar mengambil alih kemudi motor.
Dia khawatir adiknya itu kenapa-kenapa kalau menyetir motor dalam keadaan emosi. Walaupun jarak ke rumah Devan tidak begitu jauh, tapi dia tetap khawatir karena adiknya tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Di sisi lain, Hawa terus saja menangis sementara Devan dan ibunya sedang berusaha menenangkan anak itu. Segala macam permen dan jajan mereka tawarkan tetapi Hawa menolak.
“Apa yang kamu lakukan, Bu, Devan?” tanya pak Bram ayah Devan.
“Ayah diam aja, ya.” Ucap Bu Dewi tanpa menoleh pada suaminya.
“Kalian ini keterlaluan. Kenapa kalian mengambil paksa anak Amira?”
“Dia juga anak Devan, yah. Bukan hanya anak Amira. Lagian, Amira bisa bawa satu anak.” Teriak Bu Dewi membuat Hawa makin menangis karena mendengar suara keras dari Bu Dewi.
Istri Devan juga keluar dari dapur. Dia berdiri di samping ayah mertuanya. Istri Devan itu sudah melarang suaminya untuk mengambil anak dari Amira. Semalam, mereka hampir bertengkar karena ide gila Devan yang berniat mengambil paksa salah satu anaknya dengan Amira. Bukannya sang istri tidak mau merawat anak Devan dengan wanita lain, tapi dia juga seorang wanita yang mengerti perasaan sesama wanita.
“Ibu!” Hawa berdiri ingin pergi pada ibunya, tapi di tahan oleh Bu Dewi.
Melihat itu, Amira maju. Dia tidak tahan melihat anaknya di tarik oleh mantan ibu mertuanya itu.
“Kamu jangan egois Amira! Kamu bisa merawat satu anak, biarkan anak ini sama ayahnya. Jangan mentang-mentang kamu punya segalanya kamu bisa egois membawa kedua anak Devan.” Ibu Dewi tidak punya hati.
Amira tidak habis pikir dengan jalan pikiran mantan ibu mertuanya itu. “ibu bilang aku egois? Kalian yang egois. Setelah kalian perlakukan aku seperti babu di rumah ini, lalu Devan menceraikan aku melalu telepon, kalian bilang aku egois? Kalian tahu nggak seperti apa egois itu. Egois itu seperti kalian.” Ucap Amira.
“Amira! Kamu kurang a*ar sama yang lebih tua.”
__ADS_1
“Bu Dewi! Jangan pernah berkata kasar di hadapan anakku. Aku tidak pernah membiarkan anak aku mendengar kata-kata kasar apalagi dari mulut orang-orang seperti kalian.”
Hilang sudah rasa sopan santun Amira pada orang lebih tua. Bu Dewi tidak bisa di anggap sebagai orang tua lagi karena dia sudah sangat keterlaluan. Amira sudah menjaga telinga anak-anaknya dari kata-kata kasar tapi Bu Dewi dengan entengnya berkata kasar di depan anaknya.
Bukannya merasa bersalah, Bu Dewi malah makin gencar berkata kasar di dekat Hawa.
Plak!
“Ibu!
“Amira!”
Tangan Amira mendarat sempurna di pipi kiri mantan ibu mertuanya. Semua yang ada di situ tidak bisa mempercayai matanya apalagi Tiara yang kebetulan masuk. Dia di sambut dengan pemandangan mengerikan dari Amira.
“Kamu?”
“Kenapa? Anda mau marah? Mau lapor polisi karena ada kekerasan? Silakan!” Amira meraih tangan anaknya.
“Yuk, pulang.” Ajak Amira lembut.
“Amira!”
Devan berdiri dari duduknya. Dia menarik tangan Amira. Selain karena marah Amira sudah menampar ibunya, dia juga emosi karena Amira juga membawa Hawa.
“Apa? Perhatikan saja istrimu jangan sampai dia jadi budak di istana kalian ini.” Ucap Amira pada mantan suaminya.
Istri Devan dan pak Bram hanya diam tanpa ikut campur. Mereka berpihak pada Amira tapi tidak berani berkata.
“Aku tidak menyangka kamu ternyata tidak sebaik yang kamu munculkan. Bahkan, kamu sampai berani menampar ibu kamu sendiri? Jangan bawa anakku. Aku tidak mau anakku sepertimu.”
“Sadar Devan. Aku seperti ini karena kalian yang membuat aku berubah. Aku pernah baik tapi kalian menginjak-injakku. Satu lagi, jangan bandingkan aku dengan kalian karena aku baik jika kalian baik, dan aku lebih jahat jika kalian jahat. Kalian, mau baik atau jahat selalu sama.” Ucap Amira hendak keluar.
__ADS_1
Dia kembali menoleh, “oh iya, kamu istrinya Devan, kan? Jangan biarkan kamu di injak-injak orang lain karena kamu juga berhak bahagia.” Ucap Amira lalu meninggalkan rumah mantan mertuanya.
Saat sudah keluar dari rumah, Amira tersungkur karena ada tangan yang mendorongnya. Beruntung, dia segera melepas pegangannya dari Hawa sehingga Hawa tidak ikut jatuh.