
“Sinta.” Amira menyebut nama orang yang masuk tanpa permisi itu.
Ya, orang yang datang seperti orang melabrak itu adalah Sinta, mantan kakak ipar Amira. Dia adalah istri dari Roni.
“Di mana adikku!” Teriak Sinta.
Semua yang ada di situ bingung maksud dari tamu tak di undang itu apa. Amira menyuruh Revi untuk membawa Adam dan Hawa ke kamar takut mereka melihat tindakan Sinta yang tidak berperikemanusiaan.
“Saya ngga tahu, mbak.” Ucap Amira sopan.
“Jangan pura-pura. Kemarin kamu habis teleponan sama dia, kan?” Tebak Sinta.
“Lebih tepatnya dia yang menelpon ku pakai nomor baru.” Bela Amira. Ya, Amira di telepon oleh Devan pakai nomor baru. Pria tidak tahu malu itu menanyakan di mana anak-anaknya. Amira sampai harus mengeluarkan kata-kata kasar untuk memaki pria yang pernah menjadi suaminya itu.
“Jangan banyak alasan! Kamu pasti sengaja kan, menggoda Devan kembali karena kamu hanya seorang janda dan tidak sanggup menjadi janda!”
Plak!!!
Tamparan keras dari tangan Bu Dinda membuat Sinta hampir tersungkur. Dia tidak siap dengan tindakan Bu Dinda.
“Ibu!!”
“Bu!!”
Semua yang melihat tidak menyangka akan terjadi seperti itu.
“Masih mau ngomong?” tanya Bu Dinda dengan penuh emosi. Dia tidak bisa membiarkan anaknya di kata-katai oleh keluarga Devan lagi. Sudah cukup anaknya itu menderita karena ulah dirinya dan keluarga Devan.
__ADS_1
“Sudah Bu, biar Amira saja yang menyelesaikannya.” Ucap Amira menyuruh ibunya untuk mundur.
Pak Susilo menarik istrinya dari hadapan Sinta. Dia tahu bagaimana tabiat istrinya. Jika anak-anaknya di ganggu, maka dia akan berubah seperti monster di hadapan orang yang mengganggu anaknya itu.
‘”Maafin ibuku. Kamu kesini mau cari Devan, kan? Devan ngga ada di sini, jadi kamu bisa pulang sekarang.” Ucap Amira tenang.
Sinta mengangkat tangan hendak menampar Amira, tapi tangannya berhenti di udara. Tangan Amira berhasil menangkap tangan kotor Sinta yang akan menyentuh pipinya.
Amira menghempaskan tangan milik Sinta lalu,
Plak!!!
Tangan Amira mendarat dengan sempurna di pipi mulus milik Sinta.
“Jangan kira aku akan tetap diam jika kamu dan keluargamu datang menggangguku lagi. Aku sudah peringatkan kalian jika aku tidak akan tinggal diam jika kalian menggangguku dan anak-anakku.” Ucap Amira penuh emosi. Kali ini, dia tidak bisa menahan diri lagi karena sekarang dia harus kuat agar bisa menjadi tameng buat anak-anaknya.
“Kamu ....”
“Aku punya hati dan pikiran untuk tidak mengganggu kebahagiaan orang lain. Tidak seperti mbak dan keluarga yang selalu berlaku seenaknya padaku. Di keluarga kalian, aku tidak lebih dari seorang babu. Tidak. Lebih rendah dari seorang babu!” Amira tidak lagi menahan diri untuk melawan.
Empat pasang mata yang menyaksikan Amira dan Sinta tidak mempercayai mata dan telinga mereka. Ini bukan Amira yang mereka kenal sebelumnya. Amira yang lembut dan pendiam menjadi sangat emosional dan tempramen.
Sebenarnya, alasan Amira menjadi begitu karena ingin memperingati keluarga mantan suaminya itu untuk tidak berani-beraninya mengganggu ketenangan hidupnya dan kedua anaknya.
“Jaga ucapanmu a....”
“Pantas? Pantas aku menjaga ucapan dari hadapan orang sepertimu? Ha ha ha.” Amira tertawa melihat mantan kakak iparnya itu. “Kamu dan keluargamu lah yang membuat aku seperti ini. Aku pendiam bahkan sangat lembut sebelumnya, tapi kamu dan keluargamu lah yang membuat kain itu menjadi kasar. Kamu datang dengan cara tidak sopan lalu minta di hargai? Heh! Ini rumahku. Ingat, rumahku bukan rumah orang tuamu yang bisa kamu berlaku seenaknya.” Tegas Amira dia tidak lagi sopan memanggil Sinta dengan sebutan mbak tapi sudah menyebutnya dengan kata kamu.
__ADS_1
“Rumahmu? Jangan mimpi! Jadi babu aja bangga.” Sinta masih tidak mau kalah berdebat dengan Amira. Dia tidak percaya jika rumah mewah yang di datanginya itu adalah milik mantan adik iparnya.
Alamat itu dia dapat dari ponsel Devan. Teman Devan yang sempat melihat Amira di sana mengirimkan alamatnya pada Devan karena Devan ingin mencari Amira untuk bertemu dengan kedua anaknya.
Namun, Sinta yang lebih dulu melihat ponsel itu dan Devan tidak pulang dua hari. Dia berpikir, Devan sudah pergi menyebrang lautan luas untuk bertemu dengan mantan istrinya itu. Dia tidak tahu jika Devan sedang ada tugas di luar kota dan kotanya berbeda dengan kota tempat Amira tinggal bersama kedua anaknya.
Sinta salah tidak bertanya dulu pada istri Devan dan langsung melabrak Amira. Dia berpikir, adik iparnya hanya menyembunyikan Devan dengan mengatakan bahwa Devan ada kerjaan di luar kota sehingga Sinta memutuskan mengikuti petunjuk dari teman Devan untuk mencarinya ke tempat Amira.
“Orang sepertimu mana percaya. Sekarang, saya beri kesempatan untuk kamu keluar dari rumahku.” Ucap Amira melihat tepat di mata Sinta.
“Aku kasihan sama bang Roni, bisa-bisanya orang sebaik bang Roni bisa mendapatkan istri sepertimu.”
Amarah Sinta meningkat ketika Amira menghinanya. “Kamu! Dasar kamu wanita j*Lang. Awas saja kamu menggoda suamiku. Kamu itu j*nda yang bisanya cuman menggoda suami orang. Padahal kamu tahu Devan sudah beristri tapi kamu masih menggodanya.”
“Ah, sepertinya aku tidak tertarik lagi sama Devan. Aku lebih suka bang Roni sekarang. Kira-kira, bang Roni mau nggak ya, sama aku?” ucap Amira di iringi dengan senyum jahat.
“Kamu!” lagi, tangan Sinta hanya melayang di udara karena Amira untuk kedua kalinya berhasil menahan tangan Sinta.
“Mau menamparku? Maaf, aku tidak selemah yang kamu bayangkan.” Ucap Amira menghempaskan tangan Sinta.
“Boleh minta nomornya bang Roni, mbak?” Amira memajukan wajahnya seolah menantang mantan kakak iparnya itu. Dia tidak benar-benar ingin menggoda suami dari mantan kakak iparnya tapi dia senang melihat amarah dari wajah mantan kakak iparnya itu.
Bukannya Amira dendam sama mereka sehingga dia sengaja melakukan itu, tapi karena dia tidak mau Sinta dan keluarganya datang lagi sehingga dia mengancam Sinta. Dia tahu, Sinta sangat gampang memasukkan kata-kata orang ke hati sehingga sudah di pastikan Sinta pasti selalu teringat dengan kata-kata Amira.
“Sekali saja kamu mengganggu suamiku, akan kupastikan kamu tidak akan berani hidup lagi.” Ancam Sinta tapi tidak membuat Amira takut.
“Hah, aku sudah capek berdebat. Kamu pulang aja deh, aku masih lapar.” Ucap Amira tenang.
__ADS_1
“Ka ....”
“Pergi! Aku bilang pergi!!! Budek, ya.” Amira berteriak tepat di hadapan Sinta membuat ibu satu anak itu ngeri. Tidak ada pilihan lain selain meninggalkan rumah Amira. Bohong jika dia tidak takut pada Amira sehingga dia sejak berdebat dengan Amira lebih banyak diam hanya sesekali membela diri.