Penulis Online Yang Diremehkan

Penulis Online Yang Diremehkan
33. Kakek


__ADS_3

Suasana rumah sedikit hening. Ibu-ibu di dapur yang tadinya cerita kini semua pada diam. Mereka penasaran dengan maksud kedatangan dari mantan mertua Amira sehingga mereka memilih diam agar bisa mendengar obrolan mereka. Bukan tidak sopan, tapi sudah hal lumrah di kampung seperti itu. Bahkan, setelah itu akan ada banyak orang yang menceritakan kedatangan mantan mertua Amira.


Beruntung, bukan Bu Dewi yang datang di rumah Amira. Jika dia yang datang, maka tidak dapat di prediksi akan terjadi apa di sana.


“Maafin ayah, Amira.” Ucap mantan ayah mertua Amira.


“Ngga udah minta maaf, yah. Ini memang sudah jalan takdir Amira untuk tidak bertahan dengan Devan. Apa pun yang terjadi pada kehidupan kita, itu sudah jalan takdir dari yang maha kuasa jadi kita tidak perlu menyesali apa yang telah terjadi, kita cukup jadikan sebagai pelajaran saja. Kalaupun Amira memaksa untuk tetap bertahan dengan Devan, Amira tidak tahu nantinya akan terjadi apa pada kami.” Jelas Amira membuat sakit di dalam hati mantan mertuanya.


Devan telah menyia-nyiakan orang sebaik dan selembut Amira. Walaupun mantan mertuanya itu tidak lama di rumah karena dia harus berangkat ke tempat kerja, tapi dia bisa merasakan ketulusan Amira pada keluarganya.


Sekarang, Devan malah memilih kembali membina bahtera rumah tangga dengan wanita lain. Walau tidak iklash, tapi ayah Devan harus menerima menantu keduanya dari Devan. Dia akan tetap menganggap Amira sebagai menantunya walau tidak lagi bersama Devan. Wanita yang kini telah menjadi istri Devan juga baik dan lembut tapi berbeda dengan Amira.


“Mira, apa cucu-cucu ayah sehat?” tanya mantan mertuanya yang sebenarnya pengen melihat cucunya dari Devan dan Amira itu. Hanya saja, dia terlalu malu untuk mengutarakan maksudnya dengan to the poin. Dia sadar diri jika untuk menemui kedua cucunya harus izin pada Amira.


“Oh iya, mereka sehat-sehat yah. Tunggu Amira panggilin dulu bentar.”


Amira berdiri menuju kamar Ainun untuk memanggil kedua anaknya. Sebenarnya bisa saja Amira memanggilnya dari ruangan di mana dia dan mantan mertuanya berada, tapi Amira tidak mengajarkan pada anaknya untuk teriak-teriak. Jika ada keperluan dengan orang lain, maka datangi dan panggil dia.


Tidak berapa lama, Amira keluar bersama tiga orang anak. Ya, karena ada Misya makanya anak-anak yang keluar ada tiga. Tidak mungkin Amira meninggalkan Misya sendiri di sana.


Rasa haru menyelimuti ayah Devan. Dia seperti melihat anaknya di waktu kecil. Wajah salah satu anak Amira sama persis dengan Devan. Dia tidak habis pikir dengan istri dan anaknya yang sempat menuduh Amira hamil dengan orang lain. Padahal, apa yang keluar dari rahim Amira sangat persis dengan Devan. Tidak mungkin itu anak orang lain apalagi Amira orang yang tidak mungkin melakukan itu.


“Itu kakek, sayang.” Ucap Amira pada kedua anaknya yang memandang bingung pada orang baru di hadapannya.


“Kakek Adam dan Hawa ada dua, Bu?” tanya Adam karena kakek yang mereka tahu adalah orang tua dari Devan.

__ADS_1


Ada yang merasa lucu dengan jawaban Adam, ada juga yang merasa sedih karena cucunya tidak mengenalinya, dia adalah ayah dari Devan.


“Iya sayang. Ini kakek Hawa dan Adam.”


“Kakek Misya juga.” Timpal Misya karena Amira tidak menyebut dirinya.


Seketika, tawa mewarnai ruangan itu. Misya langsung berlari ke arah kakeknya dan memeluknya seolah tidak mau kakeknya itu hanya melihat pada Adam dan Hawa.


“Iya, kakek Misya juga.” Ucap Amira tersenyum lucu.


“Berarti, Adam, Hawa dan Misya saudara?” Ada saja yang keluar dari mulut pria kecil itu.


“Iya, Adam dan Hawa adiknya kakak Misya.” Ucap Amira menyebut kata kakak di depan nama Misya karena Misya lebih tua dari mereka.


Saat hendak menjawab lagi, tiba-tiba ayah dan ibu Amira yang baru pulang dari ziarah kubur sudah tiba. Ayah Amira menyalami mantan besannya itu begitu juga dengan Bu Dinda. Mereka terlihat damai seperti tidak terjadi apa-apa.


Bu Dinda izin untuk ke dalam sementara pak Susilo menemani mantan besannya di sana. Nenek dan Ainun juga pamit dari sana.


“Main lagi, yuk!” ajak Misya pada si kembar.


Mereka mengangguk dan kembali ke kamar Ainun. Entah sudah menjadi apa kamar Ainun saat ini. Kamar yang di tinggali tiga anak kecil yang main di dalam. Beruntung, Ainun tipikal gadis yang suka dengan anak-anak sehingga tidak mempermasalahkan kamarnya yang berantakan.


***


“Sayang, bangun yuk!” Amira membangunkan kedua anaknya. Sekarang sudah jam enam pagi dan kedua anaknya belum bangun.

__ADS_1


Sebenarnya, Amira bisa saja membiarkan kedua anaknya masih di alam mimpi tapi mereka juga harus mandi dari air yang di buat oleh nenek. Nenek menyuruh keluarga Amira mandi tanpa terkecuali termasuk Adam dan Hawa yang masih anak-anak. Walau mereka masih anak-anak tidak menutup kemungkinan akan ada yang iri pada mereka.


Adam dan Hawa duduk dalam keadaan mata tertutup. Mereka masih mengantuk tapi sudah harus di suruh bangun apalagi suasana di kampung Amira yang begitu dingin ketika pagi dan sore hari. Tapi, sedingin-dinginnya sore hari, lebih dingin lagi pagi hari.


Amira tidak tega pada kedua anaknya jika harus mandi sepagi ini apalagi mereka sedang di kampung. Dirinya saja sampai menggigil ketika di sentuh air, apalagi Adam dan Hawa yang masih kecil. Namun, biasanya anak-anak tidak merasakan dingin.


Amira meninggalkan kamar dan menemui neneknya. Dia akan bertanya apakah bisa Adam dan Hawa jangan dulu mandi karena dia sangat tidak tega pada kedua malaikat kecilnya itu.


“Apa boleh Adam dan Hawa sebentar-sebentar mandinya, nek?” tanya Amira pada neneknya yang masih cerita.


“Bagusnya sekarang saja, Mir sebelum ada orang lain yang datang ke sini.


“Tapi kasihan anak-anak, nek. Mereka nanti kedinginan.”


“Tidak, kok. Adam dan Hawa ngga kedinginan, ya kan Dek?” Adam menoleh pada adiknya yang mengangguk.


Amira tersenyum, pasti kedua anaknya itu sudah mendengar Amira minta pada neneknya untuk tidak memandikan mereka sekarang. Pasti anak-anaknya itu takut sang ibu akan di marahi karena menolak perintah neneknya.


“Anak ibu emang hebat-hebat.” Ucap Amira memeluk keduanya.


Amira segera membawa kedua anak kembarnya ke kamar mandi. Namun sebelum itu, dia meminta tolong pada Revi untuk menyiapkan handuk dan membantunya untuk kasih mandi Hawa.


“Tolong bantu Hawa, ya.” Pinta Amira.


Revi mengangguk. Dengan handuk di bahunya, kedua wanita sama usia itu memandikan dua anak kembar yang menggigil kedinginan. Bohong jika Adam dan Hawa tidak dingin. Tapi mandi pagi sangat bagus untuk kesehatan begitulah yang orang tua di sana pahami.

__ADS_1


__ADS_2