
“Itu beneran kamu, kak?” Ainun menghampiri kakaknya. Dia sampai salah mengira jika yang ada di hadapannya bukanlah Amira kakaknya.
“Amira?” Damar juga mendekat pada adiknya.
“Aku kesal aja sama dia. Bisa-bisanya dia nuduh aku nyembunyiin Devan. Emang Devan barang bisa seenaknya di sembunyikan?”
Mereka semua hampir tertawa melihat Amira. Bangga dan merasa lucu dengan ekspresi ibu dari si kembar itu.
“Makan kita jadi terganggu.” Lanjut Amira.
“Udah kok, sayang. Kami semua sudah selesai makan.”
Tidak berapa lama, terdengar ketukan pintu lagi. Amira bahkan tidak bisa menebak itu siapa dan ternyata Glen. Dia datang untuk menjemput Revi yang sebelumnya sudah ada izin untuk jalan-jalan bersama.
Amira juga tidak melarang Revi untuk jalan dengan Glen karena dia juga pernah berada di posisi Revi. Pernah merasakan indahnya masa-masa pacaran. Dia hanya berharap, wanita yang sudah dianggapnya adik sendiri itu tidak diperlakukan buruk oleh Glen.
“Itu bukannya ....”
“Iya, dia kakak dari istrinya Devan yang sekarang.” Ucap Amira mengerti dengan apa yang akan adiknya tanyakan.
“Apa ngga masalah, Mir?” timpal Damar. Dia khawatir, kehadiran Glen di dekat Amira akan menjadi masalah baru buatnya.
“Ngga masalah. Glen ngga seperti yang kalian bayangkan. Aku kenal sama dia kok.” Jelas Amira.
Keluarga Amira hanya manggut-manggut dan berharap Glen tidak menjadi biang masalah bagi Amira berikutnya walaupun dia hanya berhubungan dengan asisten rumah tangga Amira.
Amira hanya berpesan pada Revi harus pulang sebelum magrib karena setelah magrib dia akan mengajak keluarganya jalan-jalan termasuk dia dan Ratu. Amira akan membawa keluarga mengunjungi toko kecilnya.
***
“Apa kamu tidak masalah sama bosmu jika mengajak kami semua di sini, Mir?” tanya Damar membuta Amira mengerutkan kening.
“Maksud kakak?”
“Iya. Kamu kan karyawan di sini, masa iya ngajakin kami semua buat datang ke sini. Ntar di tegur sama bosmu, loh.”
Belum sempat Amira menjawab, seseorang memanggil nama kakaknya, “Damar!”
Walau yang punya nama damar hanya satu, tapi yang menoleh ada enam pasang mata.
__ADS_1
“Bu, Adam mau mandi bola.” Pinta Adam.
Amira menoleh pada Revi dan minta tolong untuk membawa anak-anak ke ruang bermain yang di desain khusus untuk mereka.
“Sean?” Damar berpelukan ala pria dengan temannya itu.
“Kamu ....”
“Ah iya, kami di ajakin sama Amira untuk ke sini. Kamu?”
“Aku mau lamar kerja di sini. Kebetulan, masih ada di butuhkan karyawan cowok.” Ucap Sean mengangkat map berwarna coklat. Dia sudah menyiapkan persyaratan yang tertera pada lembar yang di tempel di depan.
Amira hanya menyimak pembahasan dua pria yang dia yakini mereka berteman.
Damar mengedipkan mata pada Sean. Ya, alasan utama Sean melamar kerja di sana adalah karena permintaan Damar. Dia meminta Sean untuk satu tempat kerja dengan adiknya agar dia bisa mendapatkan perkembangan kehidupan adiknya melalui Sean. Damar tidak tahu jika adiknya lah pemilik tokoh itu.
Namun, Sean pura-pura tidak melihat kedipan mata dari temannya karena dia betul-betul butuh pekerjaan itu. Dia saat ini harus membiayai kuliah adiknya sehingga dia butuh kerjaan tambahan apalagi biaya semesternya tidak main-main. Sean lanjut kuliah di strata dua sehingga butuh biaya banyak.
“Ini temanmu, kak?” tanya Amira pada Damar yang di balas dengan anggukan oleh kakaknya itu.
“Kalau gitu, kamu di terima kerja di sini. Kalau boleh, kamu kerja mulai hari ini.” Ucap Amira menambah kebingungan diantara semuanya.
“Iya, teman kak Damar kan mau kerja di sini. Tidak perlu interview aku yakin dia bisa di percaya soalnya kami memang lagi butuh karyawan laki-laki.”
“Tapi bukan kami juga yang nentuin kali, Mir. Bos kamu mana?” Damar melihat ke sekeliling.
Amira baru mengerti sekarang kenapa mereka sejak tadi merasa takut ada di sana. Ternyata, mereka tidak tahu jika pemilik toko itu adalah Amira sendiri.
“Oh, jadi sejak tadi kalian menanyakan apa tidak masalah datang ke sini rombongan itu karena takut akan di marahi bos?”
“Iya, nak. Ngga baik kamu bawa rombongan ke sini.” Timpal pak Susilo. Dia takut anaknya kena masalah hanya karena kehadiran mereka.
“Tenang aja, yah, kak. Di sini, bosnya aku.” Ucap Amira.
“Maksud kamu?”
“Iya, toko kecil ini aku yang punya jadi ngga akan ada yang marah.”
“Kamu jangan main-main deh, Mir.”
__ADS_1
“Benar, yah. Alhamdulillah aku bisa punya toko ini dari hasil keringatku.”
Mendengar itu, orang tua Amira merasa sedih. Ternyata, anak mereka sudah berhasil walau tanpa campur tangan mereka. Namun, tak lupa mereka mengucapkan rasa syukur atas keberhasilan anaknya.
“Ya udah, yuk. Kita lanjut jalan lagi.” Ajak Amira. Namun sebelum itu, dia mempersilakan Sean untuk masuk dan bertemu dengan karyawan toko yang Amira percaya. Dia berharap Sean bisa mulai kerja saat ini juga karena mereka sangat membutuhkan karyawan laki-laki.
Amira mengajak keluarganya ke pusat belanja utama di kota itu. Lippo plaza menjadi tujuan Amira untuk menyenangkan keluarganya. Makan dan main mereka lakukan di sana. Adam dan Hawa menjadi orang paling bahagia diantara semuanya karena mereka sangat suka permainan di sana.
Dari ujung tempat mereka makan, ada dua pasang mata yang memperhatikan. Dua pasang mata itu menatap dengan pikiran masing-masing hingga pada akhirnya salah satu dari keduanya pamit dan yang satunya memutuskan untuk menghampiri mereka.
“Hai, Amira.” Sapa orang itu.
Seluruh pasang mata yang duduk melingkari meja memandang ke arah pria yang menyapa Amira.
“Hai, om, Tante.” Lagi, orang itu menyapa kedua orang tua Amira.
“Stevan?” Amira langsung menyebut nama teman lamanya itu.
“Stevan? Stevan yang dulu gendut itu?” tanya pak Susilo setelah mendengar nama pria yang menyapa mereka.
“He he he, iya om. Itu aku.” Ucap Stevan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Wah! Kamu sudah besar sekarang. Kamu makin gagah sekarang. Sama siapa ke sini?” pak Susilo melihat ke belakang Stevan tetapi tidak mendapati siapa pun.
“Aku sama klien, om. Kebetulan tadi ada pertemuan di sini. Hanya saja, biau sudah pergi.” Jawab Stevan.
“Duduk dulu, Stev.” Damar menyuruh Stevan untuk duduk.
“Bang Damar. Aku Stevan bukan Stev.” Protes Stevan membuat mereka semua tertawa. Sejak kecil, Damar suka menggoda Stevan dengan memanggilnya Stev karena anak itu tidak mau di panggil Stev.
Stevan duduk di sana. Dia menjawab banyak pertanyaan dari keluarga Amira hingga pertanyaan Bu Dinda membuatnya diam sejenak.
“Kamu sudah menikah?” tanya Bu Dinda membuat Stevan diam.
“Dia akan menikah bulan depan, Bu. Eh, Minggu ini kan, ya?” tanya Amira. Dia baru ingat jika Stevan akan mengundangnya bulan ini.
“Iya, harusnya Minggu ini.” Jawab Stevan pelan membuat Bu Dinda saling pandang dengan Amira.
“Di undur, ya?”
__ADS_1
“Nggak. Pernikahannya ngga jadi.”