
Harapan dan doa Amira panjatkan agar ibunya bisa sehat kembali. Walau dia sudah tidak mengharapkan kembali pada kedua orang tuanya, tapi dia hanyalah seorang anak yang mencintai kedua orang tua sehingga dia sangat ingin orang tuanya baik-baik saja.
Amira tidak menyangka akan ada orang yang iri pada keharmonisan keluarganya padahal mereka bukan orang berada. Keluarga Amira hanyalah keluarga sederhana akan materi tetapi kaya akan cinta dan kasih sayang.
Memikirkan itu, Amira jadi teringat dengan temannya yang tidak mau berada dalam rumah setiap berada dalam rumah temannya itu selalu tidak tenang sehingga dia memilih tinggal dengan neneknya. Setelah di telusuri, ternyata temannya itu sudah membuat seseorang kecewa dan orang itu tidak terima.
Jadilah temannya itu di buat tidak tenang. Ada orang yang tidak percaya dengan hal-hal mistis seperti itu tapi ada juga yang percaya sehingga banyak terjadi kontroversi di tengah kalangan masyarakat.
Amira pernah menyaksikan secara langsung suami dan istri berdebat hanya karena hal seperti itu. Sang istri percaya bahwa dia perlu berobat karena tidak bisa tenang ketika melihat suaminya dan berada dalam rumahnya tapi sang suami hanya berkata kamu terlalu banyak pikiran.
Memang, pikiran adalah sumber dari segala sumber masalah dalam diri, tetapi hal seperti itu tidak bisa di abaikan juga. Sehingga pasangan suami istri itu sering terjadi pertengkaran dalam rumah tangga mereka. Anehnya, setiap sang istri pergi dia selalu memikirkan suaminya dan ingin kembali bersamanya tetapi ketika bersama, sang istri merasa tidak menyukai suaminya. Entahlah, hal seperti itu hanya Tuhan yang tahu.
“Mbak, makanan sudah siap.” Ratu membuyarkan lamunan Amira tentang masa lalu temannya.
“Oh iya, kita siap-siap makan, ya.” Ucap Amira.
Mereka selalu makan bersama di meja yang sama. Bagi Amira, mereka bukanlah pembantu tetapi suda dianggap saudara. Ratu juga sudah merasakan apa yang Revi rasakan selama tinggal bersama ibu tunggal itu. Mau sebanyak apa pun kerjaan yang Ratu lakukan, dia tetap melakukannya dengan senang karena kenyamanan di rumah Amira tidak pernah dia dapatkan di tempat-tempat sebelumnya.
Namun, sampai saat ini dia belum pernah kewalahan dalam mengerjakan kerjaan rumah karena baik Revi atau Amira selalu membantunya jika mereka tidak sibuk. Di rumah itu, mereka bertiga seperti saudara yang saling membantu dan saling melengkapi.
“Kita liburan, yuk!” ajak Revi pada dua asisten rumah tangganya. Saat ini Adam dan Hawa Sudan tidur. Mereka sudah makan duluan karena Ira khawatir dua malaikatnya itu akan tidur sebelum makan jika tidak segera di kasih makan.
Dua malaikat kecilnya itu kelelahan bermain seharian di pusat permainan anak dan berakhir membeli kado untuk dua orang keluarga baru mereka.
“Kemana?” tanya Revi di sela-sela dia mengunyah.
Amira mengangkat bahu tanda tidak tahu, “ngga tahu juga, kalian ada saran nggak?” tanya Amira pada dua keluarga barunya.
“Gimana kalau kita ke pantai?” usul Ratu.
“Pantai di mana?” tanya Amira yang di tunggu juga oleh Revi.
__ADS_1
“Pantai yang ada di kota ini saja.” Usul Ratu.
Amira menyanggupi dan mereka menyusun rencana di hari Sabtu agar tidak terlalu padat. Jika memilih hari Minggu, sudah di pastikan mereka tidak akan menikmati liburan karena hari Minggu biasanya banyak pengunjung tempat wisata.
Setelah makan dan berberes, tiga wanita satu usia tapi beda nasib itu menuju ruang keluarga. Mereka akan menonton drama yang setiap malam di tayangkan di salah satu Chanel televisi.
Beruntung, Adam dan Hawa sudah lebih dulu terlelap sehingga mereka tidak akan terganggu dengan keberadaan dua bocah yang super aktif itu.
“Kak, tahu ngga pemilik rumah yang sebelumnya kakak tinggali?” tanya Revi ketika drama yang mereka nonton sedang iklan.
“Rumah yang di lorong itu?” tanya Amira memastikan.
Revi mengangguk, “ iya.”
“Kenapa dengan pemilik rumah itu?”
“Ternyata, pemilik rumah itu sudah meninggal. Dia meninggalnya tidak wajar.” Ucap Revi membuat Amira dan Ratu penasaran dengan arah perkataan Revi.
“Tidak wajar gimana, Vi? Kamu jangan aneh-aneh deh.” Ucap Ratu sudah tidak biasa. Dia tipikal orang yang paling takut dengan hal-hal mistis.
Melihat dua orang di sampingnya masih penasaran, Revi melanjutkan “Aku dengar mereka adalah pengusaha terkenal pada kalangan bisnis sehingga banyak yang ingin menjatuhkan mereka.” Jelas Revi.
Setelah itu, mereka tidak lagi membahas itu karena drama yang tadinya iklan sudah mulai lagi. Akhirnya, percakapan mereka yang membuat Revi mulai tidak tenang berakhir begitu saja.
Jam sepuluh malam, Amira, Revi dan ratu baru beranjak dari ruang televisi untuk menuju kamar masing-masing. Ratu memilih tidur dengan Revi karena dia takut. Gadis itu sangat penakut.
***
Amira masih sibuk melayani pembeli di toko yang baru beberapa hari di resmikan itu. Dia belum memiliki karyawan sehingga dirinya sendiri dan Ratu yang melayani pembeli sedangkan Revi bermain dengan anak-anak di ruangan khusus anak-anak.
Amira meminta pada desainer yang mendesain tokonya untuk membuat satu ruangan khusus tempat bermain anak karena dia sewaktu-waktu akan membawa anaknya seperti hari ini.
__ADS_1
Karena tidak jadi ke pantai, Amira memboyong semua penghuni rumahnya untuk ke toko kebetulan sudah musimnya para mahasiswa berlomba ujian skripsi karena bentar lagi yudisium akan di adakan.
Banyak mahasiswa yang datang di toko Amira untuk membeli hadiah untuk teman mereka. Ada juga yang datang hanya melihat-lihat ada juga yang datang memesan dan ada juga yang datang beli tanpa tawar menawar.
“Kak Amira?” seorang pelanggan memanggil Amira yang sedang melayani pembeli.
Amira mengangkat kepala untuk melihat siapa yang memanggil namanya.
“Eh, Wulan. Kamu kuliah di sini?” tanya Amira ramah.
“Iya kak. Kak Amira kerja di sini?” tanya Wulan.
Wulan adalah adik ipar Devan. Amira kenal dengan anak itu ketika dia masih berstatus sebagai istri Devan. Dari Wulan lah, Amira tahu jika Devan yang saat itu menjadi suaminya masih berhubungan dengan mantan kekasihnya yang saat ini menjadi istrinya setelah Amira.
“Iya, dek. Kamu mau beli apa?”
“Aku mau cari boneka yang besar, kak.”
“Ya sudah, yuk kakak antar ke atas.” Ajak Amira. Di lantai dua adalah, tempat khusus untuk meletakkan boneka dengan ukuran besar.
“Bentar kak, aku mau tunggu bang Glen dulu.” Ucap Wulan.
“oh, kamu sama bang Glen?”
Orang yang bernama Glen juga menyapa Amira. Mereka akhirnya naik ke lantai atas. Amira menyuruh Ratu untuk melayani mereka sementara dia kembali ke bawah karena di bawah tidak ada yang jaga.
Saat Amira turun dari tanggal dia melihat Revi keluar dari ruangan tempat anak-anak bermain.
“Mana anak-anak, Vi?” tanya Amira.
Revi meletakkan tangan di pipi mengisyaratkan mereka sudah tidur. Revi ingin membantu Amira melayani pembeli mumpung dua bocah cilik sedang tidur. Namun, Amira menyuruh Revi untuk menempelkan kertas yang berisi tulisan mencari karyawan.
__ADS_1
Amira memutuskan untuk membuka lowongan kerja bagi siapa saja yang membutuhkan. Suatu kesyukuran bagi Amira jika dia bisa meringankan beban orang-orang yang butuh tambahan dana.
Saat hendak kembali ke dalam, Revi terpaku di tempat. Matanya terkunci dengan mata seseorang yang baru saja turun dari lantai atas. Revi tidak bergerak sama sekali, dia hanya diam di tempat sambil menatap orang yang kini menatapnya juga.