Penulis Online Yang Diremehkan

Penulis Online Yang Diremehkan
Acara Ainun


__ADS_3

Para tetangga mulai berdatangan ke rumah orang tua Amira untuk membantu acara lamaran Ainun. Tidak sedikit orang yang mengatakan Ainun sangat beruntung bisa menikah dengan seorang dokter.


Dari banyaknya tetangga yang datang, hanya keluarga yang pernah membuat keluarga Amira hancur yang tidak datang. Mulai dari yang sengaja membuat Bu Dinda benci pada Amira hingga yang tidak menganggap keberadaan Amira.


Nenek Amira mendekat padanya. Dia mencari Ainun karena sejak dia tidak di sana tidak melihat keberadaan Ainun. Neneknya sengaja ingin memandikan Ainun agar terhindar dari mata-mata jahat orang. Walau saat ini banyak yang tidak percaya dengan hal-hal mistis bahkan sudah hampir tidak ada, tapi di kampung Amira masih banyak yang percaya dengan hal itu.


Sang nenek memandikan Ainun sebagai benteng pertahanan diri dari iri dengki dan kebencian orang. Apalagi, sudah banyak lagi yang memuji Ainun beruntung akan menikah dengan seorang dokter. Pujian itu sama persis dengan yang di berikan pada Amira ketika akan menikah dengan Devan. Neneknya takut ada banyak kebencian berbalut pujian kebahagiaan dari orang-orang dengki.


Bukannya terlalu khawatir, tapi apa yang sudah terjadi di keluarga mereka tidak bisa di biarkan begitu saja. Bukan hanya Ainun, sang nenek juga mandikan semua saudara Amira termasuk Amira dan kedua anaknya. Bukan mandi kebal atau yang bersifat negatif, tapi hanya mandi untuk benteng.


Biasanya, mandi seperti itu akan di lakukan ketika perubahan musim karena saat itu banyak penyakit yang menyerang manusia. Berdasarkan atas kepercayaan orang zaman dulu, mereka akan di bentengi dengan mandi dari air yang di buat oleh orang tua kampung. Biasanya, pada malam Jum’at orang tua kampung yang biasa di sebut orang tua adat akan menyiapkan sebaskom air hujan dan akan di tutup di belakang rumah.


Air itu yang nantinya akan di bagi-bagi pada masyarakat yang percaya pada kepercayaan orang tua zaman dulu di pagi hari. Bukan. Bukan di pagi hari tapi di subuh hari dengan panduan orang tua adat.


Air itu di khususkan untuk mandi dan memercikkannya ke seluruh rumah dengan niat akan terhindar dari bahaya. Biasanya, jika terjadi perubahan musim dan datang penyakit, akan ada banyak yang meninggal.


Amira pernah menyaksikan secara langsung ketika dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saat itu, banyak teman-temannya yang tidak masuk sekolah karena sakit. Bukan sakit parah tapi hanya flu, batuk dan demam. Itu yang selalu terjadi ketika perubahan musim. Namun, jika pada saat ada yang namanya kampung dingin, maka akan ada banyak yang meninggal.


Ada yang meninggal bersaudara hanya selang satu hari, setelah itu ada lagi tetangga. Pokoknya, dalam satu Minggu itu terkadang bisa tiga empat orang sampai membuat para pegawai sara di desa kewalahan.


Namun, berkat kejadian dari masa lalu seperti itu, sehingga ketika terjadi wabah penyakit yang mengguncang dunia hingga harus melakukan vaksin berkali-kali bisa membuat masyarakat di kampung Amira tenang. Mereka tidak terlalu takut pada penyakit itu padahal banyak yang sampai tidak keluar rumah untuk menghindari penyakit yang mengguncang seluruh dunia.


Ketika penyakit itu ada, Amira masih kuliah dan hendak melakukan penelitian tetapi tertunda karena semua akses ke kota dan lintas kabupaten di tutup. Akhirnya Amira memilih istirahat di kampung sampai keadaan membaik.


Sekarang, bukan perubahan musim seperti itu yang keluarga Amira takutkan, tapi mata jahat dari orang-orang dengki dan iri hati.


“Ainun, di cari sama nenek.” Ucap Damar pada Ainun yang sedang sibuk membantu para gadis yang di tugaskan membuat kue.


Ainun segera berdiri untuk bertemu dengan neneknya itu. Dia sudah rindu sama neneknya itu.

__ADS_1


“Kamu sudah mandi?” tanya nenek ketika Ainun duduk di sampingnya.


“Sudah, nek. Ainun baru saja selesai.”


Sang nenek hanya manggut-manggut karena di sana juga masih banyak orang. Biarlah nanti subuh baru mereka semua mandi, lagian acara lamaran akan di laksanakan besok di sore hari.


Ainun tidak beranjak dari sisi neneknya hingga Adam dan Hawa menghampirinya.


“Bi, Adam dan Hawa boleh masuk kamar bibi?” tanya Adam yang diangguki oleh Hawa.


Adam dan Hawa Betah di kamar Ainun karena di sana banyak jajan dan banyak mainan. Bukan hanya mainan untuk Hawa seperti boneka, tapi ada juga mainan yang cocok dengan Adam seperti robot dan mobil-mobilan.


Mainan robot dan mobil-mobilan itu hadiah dari Damar sang kakak. Kakaknya sengaja memberikan Ainun hadiah untuk laki-laki karena dia ingin menggoda adiknya yang tidak ada feminim-feminimnya.


“Sini Salim dulu sama nenek, sayang.” Ainun merentangkan tangan memanggil kedua keponakannya.


Dengan pelan, Adam dan Hawa mendekat pada nenek dari mamanya itu. Di peluk ciumannya pipi cabi dari keduanya. Nenek begitu senang masih bisa melihat cicitnya dan dia masih kuat. Suatu kesyukuran baginya masih bisa melihat cicitnya.


Adam dan Hawa hanya memandang ke arah permen itu tanpa berani mengambil. Ainun mengerti jika kedua bocah itu takut makan permen karena di larang oleh ibunya.


“Ambil aja, nanti nenek yang ngomong sama ibu.” Ucap Ainun.


“Bener, nek?” Adam sudah mulai antusias. Namun, Hawa melarangnya.


“Kita izin ibu dulu, Kak.” Ucap hawa. Dia paling tidak mau melakukan hal-hal yang di larang ibunya. Walau masih kecil, mereka begitu patuh pada ibunya.


“Itu ada ibu.” Hawa berlari ke ibunya.


“Bu, nenek ngasih permen. Boleh nggak Hawa sama kakak makan permen?” tanya Hawa memeluk kaki ibunya.

__ADS_1


Amira menekuk lutut menyejajarkan tinggi dengan anaknya, “boleh, sayang. Tapi jangan lupa sikat gigi, ya.”


Hawa berseru riang, dia berlari untuk mengambil permen dari tangan neneknya. Setelah menerima permen itu, Adam dan Hawa menuju kamar Ainun untuk bermain.


“Pintar banget anak-anak mu, Mir.” Ucap neneknya.


“Iya nek, Alhamdulillah mereka penurut.” Jawab Amira di sertai rasa syukur.


“Semoga mereka bisa menjadi pelindung untuk kamu dan keluarga, ya.”


Amira mengaminkan doa dari neneknya. Dia juga selalu mendoakan yang terbaik untuk kedua anaknya. Ketika mereka masih cerita, tamu yang tak di undang masuk ke dalam rumah. Mereka masuk dengan wajah yang entah seperti apa tidak bisa di gambarkan.


Amira dengan lembut dan baik hati mempersilakan mantan mertua laki-lakinya dan anak Roni untuk masuk. Ya, dia adalah ayah dari Devan dan keponakan dari Devan.


Selama ini, ayah dari Devan itu tidak ada di rumah karena dia bekerja di luar. Dia hanya pulang ketika pernikahan Amira dan yang kedua ketika pernikahan Devan dengan orang lain. Bahkan, dia baru tahu ketika Devan izin menikah dengan istrinya yang sekarang jika anaknya dan Amira sudah berpisah. Ayah dari Devan itu begitu malu untuk bertemu dengan keluarga Amira tapi kali ini dia perlu minta maaf pada mantan menantunya itu.


Selain dia ingin minta maaf pada Amira, dia juga mau menemani cucunya yang rindu dengan Amira. Misya sudah minta pada ayah dan ibunya untuk membawanya ke rumah Amira tapi mereka menolak. Apalagi Roni yang tidak mau di salah pahami jika dia harus bertemu degan Amira tanpa istrinya.


Jadilah ayah dari Devan itu membawa Misya untuk bertemu dengan bibinya. Namun, anak itu malah hanya diam ketika tiba di hadapan Amira.


“Halo Misya. Kesini, sayang.” Amira merentangkan tangan memeluk keponakannya itu.


“Misya kangen ngga sama bibi?” tanya Amira melihat ke wajah anak itu.


Dia hanya mengangguk.


“Misya mau main sama adik-adik Misya?”


Setelah itu, Amira membawa Misya masuk ke kamar Ainun untuk main dengan Adam dan Hawa.

__ADS_1


“Amira bawa Misya ke kamar dulu, ya, yah.” Ucap Amira pada mantan mertuanya.


Setelah kepergian Amira, mantan mertuanya itu cerita dengan nenek Amira sedangkan orang tua Amira masih di luar. Mereka masih ziarah kubur.


__ADS_2