
Baru beberapa saat mereka mengobrol, hp Semi pun tiba-tiba berdering. Saat dia jawab, ternyata telepon itu berasal dari Sonyi, teman sekolah mereka berdua dari SMP Myungsung. “Songyi?! Kenapa kamu tiba-tiba....” ucap Semi yang terpotong begitu saja.
“Semi aku maaf menelepon mendadak, tapi aku sedang butuh bantuan kamu sekarang,” sahut Songyi gemetar ketakutan.
“Bantuan?! Bantuan apa?” tanya Semi sedikit gagap.
Haru yang merasa penasaran, tiba-tiba ikut menimbrung dan bertanya ke Semi dengan gerakan mulut. “Siapa?”
“Songyi,” sahut Semi dengan gerakan bibir dan tanpa suara.
“Tolongin aku... di rumahku sekarang sudah ada beberapa laki-laki yang mendobrak masuk, waktu aku tinggal keluar sebentar,” jawab Songyi berbisik.
Semi mengalihkan tatapannya ke Haru yang tepat berada disebelahnya dengan tiba-tiba memasang ekspresi kagetnya. “Apa?! Oke, kalau begitu sebaiknya kamu sembunyi dulu. Aku akan menjemput kamu dengan cepat, kalau sudah sampai... akan aku kabari lagi,” tegas Semi.
“Ho, thank you,” jawab Songyi menutup teleponnya.
Setelah Semi menutup teleponnya, Haru dengan cepat melontarkan pertanyaan. “Ada apa? Kenapa dia?”
“Haru, sepertinya kita harus nolongin dia. Dia dalam bahaya, ada beberapa laki-laki yang masuk kedalam rumahnya sekarang.” Tatapan kedua mata Semi bertambah panik, ketika dia menggoyang-goyangkan lengan Haru, untuk mendesaknya.
“Oke kamu tenang dulu, tapi sekarang banyak wartawan internasional dibawah. Kita gak akan mudah keluar dari Rumah Sakit ini begitu saja,” jelas Haru.
“Ya terus gimana dong... kalau kita gak segera menjemputnya, dia bisa terluka.” Semi semakin bertambah panik, dengan menggerakkan jari telunjuk kanannya, dia mencoba memikirkan cara keluar dari Rumah Sakit dengan aman.
Jam dinding terus berputar, matahari juga semakin memancarkan sinarnya, Semi masih terlihat kebingungan sekaligus khawatir, beberapa ide juga sudah dia coba lontarkan ke Haru, tapi ide itu terus ditolak Haru dengan menyebutkan resiko-resiko yang akan terjadi.
Sudah 10 menit mereka mencoba memikirkan cara yang bagus, tapi semua rencana yang akan mereka lakukan selalu dianggap kurang tepat. Sampai suatu saat, Hera tiba-tiba masuk kedalam ruangan berbarengan dengan Hyunjae.
“Begini saja, Kak Hera! Kakak bawa mobil kan?” Haru mendadak berdiri dari duduknya dan menghampiri sang Kakak.
“Iya, kenapa memangnya?” tanya Hera bingung.
“Pinjamkan mobil Kakak ke aku sekarang, Kak Hyunjae tolong bantu aku mengalihkan semua wartawan yang menunggu di depan pintu dengan mobil Kakak,” jelas Haru yang mulai melaksanakan rencana cerdiknya.
“Oke, tapi kalian mau kemana?" jawab Hyunjae.
"...." Haru tidak merespon balik dan langsung mengalihkan tatapannya ke Semi.
“Hey, cepat berdiri... kita pergi sekarang,” ajak Haru menatap Semi.
“Hem,” angguk Semi.
__ADS_1
Sesuai permintaan Haru, Hera segera menyerahkan kunci mobil dan STNK miliknya ke Haru. Sementara itu Hyunjae sudah berjalan lebih dulu, barulah disusul Haru dan Semi yang berada tepat dibelakangnya.
Sesuai rencana yang sudah dibuat Haru, mobil Hyunjae berjalan ke arah wartawan yang masih terlihat berkerumun, dia juga dengan sengaja menghentikan mobilnya ditengah-tengah para wartawan setelah berhasil membelah para wartawan itu, hingga membuatnya terlihat seperti sebongkah gula batu yang dikerumuni koloni semut.
Sementara itu, mobil sedan Hera yang berwarna merah mawar dengan lancarnya melewati para kerumunan para wartawan yang sedang sibuk berebut mengambil gambar mobil Hyunjae. Bibir Haru tersenyum tipis, saat mengetahui rencana yang dibuatnya berhasil.
Diperjalanan yang lumayan panjang itu, kedua tangan Haru masih dengan sigap menggenggam kemudi mobil yang dia kendarai, dan kedua matanya juga masih menatap tajam kedepan, sementara kedua telinga mendengarkan suara GPS yang terdengar sangat jelas memandunya menuju ke rumah Songyi.
Ketika mereka sudah dekat dengan tujuan, Semi mencoba kembali menghubungi Songyi untuk menanyakan keberadaannya dan Sonyi menjawab, “Aku ada di belakang pura sederhana yang berada 20 langkah dari rumah.”
Semi dengan cepat menyampaikan keberadaan Songyi kepada Haru, dia juga menyampaikan ke Haru untuk memperlambat mobilnya, karena dia sendiri juga takut keberadaan mereka berdua diketahui oleh orang-orang yang menyerang rumah Songyi.
Setibanya mereka ditempat, Haru dengan sengaja memarkirkan mobilnya sedikit lebih jauh dari lokasi yang dikatakan Songyi, sebelum turun dia juga tidak lupa memakai topi hitam dan kacamata hitam andalannya untuk menyamarkan sedikit wajahnya.
“Heh! Kamu mau ngapain?” pekik Haru menatap Semi yang sudah ancang-ancang membuka mobil.
“Turun lah, kita kan mau nolongin Songyi,” jawab Semi.
“Gak usah, kamu tunggu disini saja. Biar aku aja yang jemput dia, disana berbahaya,” ujar Haru.
“Tapi Haru....” sahut Semi.
“Heeepss!!” potong Haru hanya dengan desisan dari bibirnya dan lirikan kedua matanya yang tajam.
“Bagus, kalau gitu aku turun dulu.” Haru membuka pintu mobilnya perlahan, lalu dengan tenangnya dia berjalan lebih mendekat ke tempat persembunyian Songyi.
Sebelum sampai ditempat persembunyian Songyi, Haru mencoba mengalihkan tatapannya ke arah rumah Songyi, dan benar saja di rumah Songyi masih ada beberapa laki-laki yang berjaga didepan rumahnya.
Mengetahui itu, Haru lebih merapatkan topi yang dia gunakan sambil terus berjalan menunduk. Perlahan tapi pasti, akhirnya Haru mengetahui tempat persembunyian Songyi, dia berjalan perlahan dan mulai mendekatinya.
“Songyi... hei...!” pekik Haru dengan suara rendah, dan sudah berada disisi lain dinding pura.
Mendengar ada suara yang memanggilnya, Sonyi langsung menolehkan kepalanya, dengan kedua alis terangkat dia menyahut, “Haru?! Kenapa... kamu yang....”
“Ceritanya panjang, tapi untuk sekarang kita harus pergi dari sini dulu. Sekarang pakai ini dan berjalan ke sini pelan-pelan,” pinta Haru sembari melempar topi hitam yang dia kenakan.
“Oke.” Tanpa membuang waktu lagi, Songyi langsung memasang topi hitam yang dipinjamkan Haru.
Songyi juga dengan cepat memahami perkataan Haru, dia juga langsung memasang topi hitam milik Haru sesuai dengan pinta Haru. Perlahan dia merangkak ke arah Haru sembari terus menatap ke arah rumahnya sesekali, untuk memastikan para penjahat itu tidak melihat ke arahnya.
Setelah Songyi berada tepat didepan Haru, dirinya segera membantu Songyi berdiri sembari masih terus bersembunyi dibalik tembok. “Oke, sekarang ikuti langkah ku, untuk pergi dari sini,” pinta Haru.
__ADS_1
"Heem," angguk Songyi.
Haru mulai melakukan aksinya, dia sengaja mengacak-ngajak rambutnya terlebih dahulu sebelum meninggalkan tempat dirinya dan Sonyi berdiri. Lalu ketika dia sudah siap, dia mulai merangkul Songyi dan menyandarkan kepala Songyi ke bahu kirinya yang terlihat sangat lebar itu.
Tanpa menatap ke arah rumah Songyi lagi, mereka terus berjalan dengan posisi itu hingga mendekati mobil Haru. Semi yang berada didalam mobil tiba-tiba menaikkan satu alisnya, saat melihat orang yang dia cintai diam-diam itu sangat dekat dengan Songyi.
“Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan? Bukannya tugasnya cuman untuk menjemput Songyi, tapi kenapa malah... seperti mau mengajaknya berkencan?” gerutu Semi sambil menatap Haru dan Songyi yang terlihat sangat dekat.
Setelah mereka sampai disebelah mobil, Haru lansung membukakan pintu belakang mobilnya untuk Songyi, lalu barulah giliran dia masuk kedalam mobil. Sebelum para penjahat itu mengetahui keberadaan mereka semua, Haru dengan cepat memacu mobilnya meninggalkan wilayah itu.
Sesampainya mereka di Hotel....
Mereka bertiga sudah duduk dengan santai berada di ruangan Hera, Haru dengan sengaja meminjam ruangan itu untuk menjaga kerahasiaan keberadaan Songyi sekaligus mencegah para paparazi mengintai mereka bertiga.
Suasana semakin terlihat sunyi saat mereka belum mengeluarkan suara sedikitpun didalam ruangan yang terkunci itu, Haru sengaja tidak membuka mulutnya sedikitpun untuk membuat Songyi tenang lebih dulu.
Sementara Semi juga terlihat tenang tanpa suara, dalam kepalanya tidak memikirkan sedikitpun cara untuk memecah keheningan antara mereka bertiga, dia justru masih memikirkan apa yang sudah dia lihat sebelumnya.
“Apa yang sebenarnya tadi mereka lakukan?”
“Terus siapa yang merencanakan ide saling menempel begitu?”
“Apa Haru orangnya memang se-friendly itu?”
Tanpa henti kata-kata itu terus berputar di otak Semi, dan tak tahu kenapa hatinya terus merasa gelisah setelah melihat Haru terlihat dekat dengan wanita lain, meskipun dia sendiri tahu yang dilakukan Haru pasti untuk menolong Songyi.
“Oke, Songyi kamu gak kenapa-kenapa kan? Apa kamu tahu maksud kedatangan mereka?” celetuk Haru mulai memecah keheningan.
"Heem, aku baik-baik saja,” angguk Songyi.
“Aku gak tahu maksud kedatangan mereka semua apa, tapi kemungkinan... mereka datang karena membutuhkan ini.” Songyi mengangkat kalung rosario nya yang berwarna perak.
Haru mengerutkan dahinya sambil kembali bertanya, “Memang apa itu? Kenapa itu sampai mereka perebutkan?"
“Ini bukan sembarang kalung, tapi ini adalah....”
Jawaban Songyi itu seketika membuat Haru dan Semi yang mendengarkannya ikut terkejut, hingga membuat mata keduanya terbuka lebar.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung~