
“Kita sudah berkencan, kita juga memiliki perasaan yang sama, bukannya itu sudah membuktikan kalau aku sudah jadi milik kamu?” tanya Semi kembali.
“Bukan itu yang aku maksud, tapi pernikahan. Aku ingin pernikahan itu dilaksanakan lebih dulu, dengan begitu... orang itu akan terlihat lebih mahal dan berharga,” jelas Haru, sembari mengangkat tubuhnya yang menggantung diatas Semi.
Haru duduk disebelah Semi yang masih terlentang dengan ekspresi wajahnya yang masih terlihat bingung. “Sudahlah, sebaiknya kamu keluar dulu, aku mau ganti baju,” tambah Haru.
Semi bangkit dari tempat tidur, dan mengangguk pelan ke arah Haru. Seakan dia sudah memahami apa yang dijelaskan oleh Haru, langkah pelan Semi membawanya keluar dari kamar dan meninggalkan Haru sendirian untuk mengganti pakaiannya.
1 Jam Kemudian~
Acara dirumah Haru pun selesai, Hyunjae, Hemi, Haru dan Semi kembali berpamitan ke nyonya Eunji. Haru tidak lupa mengembalikan mobil, kunci mobil, dan surat kendaraan ke Kakaknya Hera sebelum pergi. Mereka berempat akan kembali ke Hotel tempat mereka menginap, dan karena Hemi sendirian, jadi dia terpaksa ikut mobil van Hyunjae.
“Ma, aku balik duluan ya... jaga kesehatan Mama baik-baik, Hemi akan kesini lagi besok sebelum balik ke Seoul,” ucap Hemi yang berlulut menyamakan tinggi sang Mama yang duduk di kursi roda.
“Iya, kamu gak usah khawatir. Lagian kamu juga pasti banyak pekerjaan, jadi kamu gak perlu terlalu mencemaskan Mama,” jawab nyonya Eunji sembari menepuk-nepuk tangan Hemi.
“Heem,” angguk Hemi sembari beranjak dari tempatnya.
Kini giliran Haru yang menggantikan posisi Hemi, Haru memegang kedua tangan Mamanya dan menatapnya dengan dalam. “Ma, sekali lagi... Haru ingin minta maaf, tentang semua yang Haru lakukan. Haru benar-benar sangat takut kehilangan Mama lagi, jadi Mama benar-benar harus jaga kesehatan, sampai kita bertemu lagi,” ujar Haru memasang tatapan yang berkaca-kaca.
“Iya Mama akan jaga kesehatan demi bisa bertemu kamu lagi. Putra Mama satu-satunya,” balas nyonya Eunji sambil menggenggam tangan Haru dengan erat.
“Semi,” panggil nyonya Eunji.
“Iya tante?!” Semi yang merasa terpanggil langsung berlutut disebelah Haru.
Nyonya Eunji tiba-tiba meraih satu tangan Semi dan berkata, “Tolong jaga Haru untuk tante. Selalu temani dia saat dia sedih, dan selalu temani dia dikondisi apapun, terutama saat tante sedang tak berada disisinya.”
Hemi mengangguk pelan, dia hanya bisa menjawab, “Pasti tante. Karna Semi tahu, hati Haru sangat rapuh.”
“Anak baik, maaf tante merepotkan kamu,” ucap nyonya Eunji.
“Enggak apa-apa tante, ini juga termasuk keinginan Semi sendiri,” balas Semi.
“Yasudah kalau begitu Ma, kita semua balik ke Hotel dulu, dan maaf... Haru sama Semi harus balik ke Seoul duluan pagi ini, itu artinya... kita harus berpisah sampai disini,” ujar Haru.
“Heem, gak apa-apa. Asal kalian baik-baik disana,” balas nyonya Eunji.
Haru dan Semi beranjak dari tempatnya bersimpu, mereka bertiga kompak membungkukkan badannya sebelum pergi dari hadapan sang Mama dan masuk kedalam mobil. “Tante, Hyunjae juga pamit pergi dulu,” sahut Hyunjae.
“Heem, hati-hati mengemudinya, dan tolong jagain mereka bertiga untuk tante,” angguk nyonya Eunji.
__ADS_1
“Pasti tante.” Hyunjae juga tidak lupa membungkukkan badannya 90 derajat sebelum pergi dari hadapan nyonya Eunji.
Mereka berempat pergi menaiki mobil van Hyunjae menuju ke Hotel tempat mereka menginap, sementara Hyuri tetap bermalam di rumah nyonya Eunji sampai dia balik ke negaranya.
Tubuh yang sudah lumayan lelah membuat mereka berempat hanya diam seribu bahasa, Hyunjae terus mengemudikan mobil dengan sangat hati-hati, sementara Hemi yang duduk disebelah Hyunjae terlihat sudah memejamkan kedua matanya, sambil bersandar di jendela kaca mobil.
Sementara Haru dan Semi masih terlihat sangat romantis jika dilihat dari cara tidur masing-masing. Semi terlihat menyandarkan kepalanya ke bahu Haru yang tepat ada disebelahnya dengan nyamannya, sedangkan Haru juga memiringkan kepalanya hingga menyentuh kepala Semi.
15 kemudian....
Akhirnya mereka sampai juga di Hotel tempat mereka menginap, Hyunjae membangunkan mereka semua yang tertidur satu-persatu dengan sabar. Setelah bangun, Hemi lebih dulu melangkah keluar dari mobil dan langsung masuk kedalam Hotel.
Sementara Haru dan Semi yang belum sadar sepenuhnya, sebelum turun sudah diperingatkan Hyunjae, kalau penerbangan mereka ke Seoul jam 01.00 WITA. Jadi saat sudah sampai di kamar Hotelnya, mereka harus segera berkemas dan kembali ke mobil 30 menit kemudian.
Mereka berdua yang mengerti arahan dari Hyunjae dengan cepat kompak mengangguk, dan setelah semuanya dianggap sudah beres, mereka semua masuk kedalam Hotel dan kembali ke kamar masing-masing, untuk melaksanakan perkataan Hyunjae.
Manager Semi juga tidak lupa mengingatkan Semi kembali melalu pesan singkat yang dikirim ke no pribadi Semi, dan Semi hanya menjawabnya dengan satu kata yang sangat singkat, apalagi kalau bukan kata, “Iya.” Sembari terus mengemas barang-barangnya kedalam koper miliknya.
30 menit kemudian~
Haru, Semi, beserta managernya sampai di bandara tepat pada pukul 00.30, di malam itu suasana bandara terlihat sangat sepi, hanya ada beberapa fans dan beberapa wartawan yang mengiringi kepergian mereka untuk kembali ke negara asal.
Ketika mereka baru sampai di gerbang keberangkatan, hp Haru tiba-tiba berdering, dia mencoba menjawabnya sembari terus berjalan masuk. “Heem, ada apa....” Ucapan Haru mendadak terpotong dengan rintihan tangis yang didengarnya melalui telepon.
Mengetahui Haru menghentikan langkahnya, Semi yang berjalan didepannya merasa sedikit terkejut, hingga membuatnya ikut berhenti melangkah. Semi membalik badannya, dan hanya bisa menatap Haru yang menjawab telepon dari seseorang.
Seperti terkena guncangan gempa di hari yang cerah, ekspresi wajah Haru dengan cepat berubah, tangan kanan yang sebelumnya terlihat sangat kokoh memegangi hp yang dia dekatkan dengan telinga, kini terjatuh lemas menggantung sembari masih menggenggam hp nya.
Ketika mengetahui ekspresi Haru yang cepat berubah, Semi dapat merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi. “Haru! Kamu gak kenapa-kenapa kan?!” tanya Semi berjalan mendekati Haru.
Tak lagi dapat mendengar sapaan Semi, pandangan Haru mendadak menjadi kosong, nafasnya tiba-tiba berubah menjadi lebih cepat, dalam pandangan kosongnya dia kembali melihat kebakaran kantin yang pernah dia alami sebelumnya. Tidak hanya itu, suara-suara teriakan korban kebakaran kantin juga kembali menghantuinya, hingga membuat satu telinganya kembali berdenging secara tiba-tiba.
“Acchhkk!!” rintih Haru memegangi satu telinganya.
“Hey, kamu kenapa? Ada apa sebenarnya?!” tanya Semi kembali menggenggam lengan Haru yang bebas menggantung.
Tanpa menjawab ucapan Semi, Haru mendadak melangkah mundur dan membalik badannya, dia dengan cepat berlari ke arah pintu keluar bandara tanpa memperdulikan apapun lagi. Semi yang berfikiran sikap Haru menjadi sangat aneh, membuatnya langsung mengejarnya, tanpa meninggalkan satu katapun kepada sang Manager dan Hyunjae.
“Haru kenapa?! Kenapa dia terlihat sangat ketakutan?” gumam Hyunjae dalam hati.
“Kak Hyunjae, jadi kita harus bagaimana?” tanya Jisu sang Manager Semi.
__ADS_1
Sebelum menjawab perkataan Jisu, hp Hyunjae tiba-tiba berdering. “Iya, ada apa Her....”
“Hyunjaeee... gimana ini... rumah ku... rumah ku kebakaran,” potong Hera dengan suara gemetaran dan sesenggukan tangisnya terdengar sangat jelas.
“Apa?! Lalu... lalu bagaimana dengan keadaan tante Eunji?!” jawab Hyunjae.
“Mama... Mama... kritis saat ini, dia menderita luka bakar 50%. Aku merasa sangat gagal melindunginya,” balas Hera yang masih terdengar nangis sesenggukan.
“Aku akan ke tempat kamu sekarang, katakan kamu dimana?” ujar Hyunjae sembari memberi isyarat Jisu untuk mengikuti langkahnya.
Beberapa menit sebelumnya, diluar bandara....
Haru dengan buru-buru langsung masuk ke sebuah taxi kosong, disusul Semi yang ada dibelakangnya. Tanpa diduga, Semi dengan cepat menghentikan Haru menutup pintu taxi yang dia naiki, dan tanpa meminta izin dari Haru, Semi langsung masuk begitu saja kedalam taxi, lalu menutup pintunya.
“Aku gak akan bertanya apapun, tapi kemanapun kamu pergi, aku akan ikut,” tegas Semi.
Sementara Haru hanya bisa terdiam sesaat melihat ekspresi tegas sang kekasih di kondisi genting, dalam hatinya sangat ingin mengucapkan terimakasih dan memeluknya, tapi fikirannya saat ini hanya mengkhawatirkan kondisi keluarganya.
Haru kembali memfokuskan tatapannya kedepan, dan langsung memberitahu pak supir untuk mengantarnya ke Rumah Sakit Kencana. Semi yang mendengar tujuan Haru, hanya bisa berfikir dan terus menebak-nebak, kalau kondisi nyonya Eunji kembali memburuk, itu sebabnya sikapnya berubah menjadi sangat aneh.
Diperjalanan yang cukup panjang, Haru hanya bisa menundukkan kepalanya sembari terus berdo’a. Tangan gemetar Haru yang tak dapat ia sembunyikan tergambar dengan jelas, kalau dirinya merasa sangat takut dan cemas secara bersamaan.
Semi yang sangat mengerti bagaimana kondisi Haru sekarang, mencoba menenangkan Haru dengan menggenggam satu tangannya. Merasa sedikit terkejut, itulah yang dirasakan Haru, ketika Semi mulai menyelipkan jari-jarinya ke jari tangan kananya.
Dalam benaknya, meskipun Semi belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia sangat terlihat mencemaskannya. Hingga membuat Haru mulai menjadi sedikit tenang, dan perlahan mulai melepaskan bebannya melalu setetes air mata yang sudah membasahi pipi kirinya.
“Rumah Mama... kebakaran, dan sekarang dia kritis di Rumah Sakit,” ujar Haru pelan.
“APA?! KRITIS?!” sahut Semi diiringi dengan ekspresi terkejutnya, hingga membuatnya tanpa sadar ikut meneteskan air mata.
“Heem,” angguk Haru pelan. “Kata Hemi, Mama menderita luka bakar 50%. Membayangkan bagaimana rasa sakitnya, membuat dadaku ikut merasa sesak,” sambung Haru.
“Aku tahu, aku tahu bagaimana perasaan kamu sekarang,” angguk Semi sembari terus menenangkan Haru dengan mempererat genggamannya.
Sesampainya di Rumah Sakit, Haru langsung lari menuju UGD. Disuatu ruangan khusus yang terdapat di UGD, dia sudah melihat Kakak dan Adiknya menangis sejadi-jadinya didepan ranjang....
.
.
.
__ADS_1
Bersambung~