Penyanyi Tanpa Telinga

Penyanyi Tanpa Telinga
=34= Bintang Biduk dan Bintang Salib Selatan


__ADS_3

Tidak hanya itu, dengan sifat fans nya yang kurang sopan itu, sampai membuat Semi terdorong hingga sampai kebelakang.


Pada awalnya, Haru membiarkan dua fans yang cukup membuatnya merasa risih itu terus menempel padanya, tapi tiba-tiba dia mendengar suara rintihan orang terjatuh dari arah belakang.


“Awwhh!!”


Suara itu seketika membuat Haru memalingkan wajahnya, dan disaat itu dia sudah melihat Semi jatuh terduduk dilantai sambil membersihkan tangannya. “Semi!” pekiknya sembari melepaskan dirinya dari dua fans yang cukup mengganggu.


Haru dengan cepat menghampiri sang kekasih, dan berlutut menyamakan tinggi Semi yang sedang duduk. “Kamu gak kenapa-kenapa?!” tatap Haru.


“Heem, aku baik-baik aja,” angguk Semi.


Haru berdiri lebih dahulu, dan ia langsung mengulurkan tangannya. “Berdiri sekarang, kita harus melanjutkan agenda kita,” tegasnya.


Saat Haru sedang sibuk membantu Semi untuk kembali berdiri, salah satu fans yang belum puas mengganggunya kembali menghampirinya. “Maaf Kak Haru, foto yang kita ambil tadi belum ada yang bagus, bisa minta foto lagi gak,” tanya fas nya.


“Tapi menurut aku foto-foto tadi sudah lebih dari cukup. Jadi maaf, tolong pergi dari sini sekarang juga, karna saya juga butuh ruang privasi,” tegas Haru.


“Baiklah kalau begitu, terimakasih banyak.” Mendengar apa yang dikatakan Haru kedua fans itu mulai berjalan menjauhinya.


Ketika kedua fans itu belum berjalan terlalu jauh dari tempat Haru berdiri, kedua fans itu terus membicarakan sikap Haru yang terakhir kalinya.


“Ternyata benar menurut rumor, sifat Kak Haru jadi berubah setelah berkecan sama j*l*ng itu.”


“Iya benar, buktinya image dia beberapa minggu ini jadi jelek gara-gara wanita itu.”


“Dewi Korea t*i, apanya yang dewi Korea?! Masih cantikan juga sahabatnya Jung Hyuri.”


Kata-kata kasar itu terus berterbangan masuk ke telinga Haru dan Semi secara lirih, dan karena kata-kata kasar itu juga wajah Haru seketika menjadi merah, emosi dalam dirinya tiba-tiba memuncak seiring bertambahnya menit yang dia lalui.


“Mulut mereka benar-benar harus dibuat diam.” Haru yang tak lagi dapat mengontrol emosinya mulai membalik badannya, dan akan menghampiri dua orang yang melemparkan kata-kata kasar ke Semi secara tidak langusng.


Namun saat dirinya akan melangkah pergi, tiba-tiba lengannya ditahan oleh Semi. “Hentikan, aku gak mau agenda kita batal hari ini, cuman gara-gara dua orang gak penting,” ucap Semi lirih.


Haru menatap Semi dengan sendu, dalam tatapan tanpa suaranya dia mengatakan, “Gimana dia bisa berlapang dada dengan hujatan seperti itu? Apa dia selalu melalui kehidupan yang sangat kejam ini?!”


“Baiklah kalau begitu kita lanjutkan saja kegiatan kita yang belum selesai.” Tanpa menunjukkan isi hatinya, Haru kembali melempar senyum lebarnya untuk membuat Semi melupakan hujatan dari dua fans nya yang telah pergi.


“Heem,” balas Semi diiringi senyum lebarnya.


Mereka berdua pun kembali melangkah menuju ke bagian tengah dari puncak namsan tower. Sesampainya mereka disana, Semi langsung membuka sepasang gembok yang baru dia beli sebelum naik ke puncak.


Haru yang memiliki kepekaan hati yang lumayan tinggi, saat itu dia langsung mengeluarkan spidol yang sudah dia bawa dari mobilnya. “Ini, kamu pasti butuh ini kan?!” Tanpa berpikir panjang Haru menyodorkan spidol berwarna putih yang sudah dia keluarkan dari kantong saku.


“Ini, permanen kan?” tanya Semi kembali setelah menerima spidol pemberian Haru.


“Heem, jelas permanen. Aku hanya punya satu itu dimobil,” jawab Haru.

__ADS_1


“Oke. Biar aku yang menulisnya.” Tangan Semi pun seketika dengan sangat lancar menuliskan namanya dan Haru di satu gembok yang sama. Sementara di gembok lainnya, dia menuliskan beberapa harapan singkatnya dengan huruf yang sangat kecil dan bahkan kemungkinan hanya dia yang mampu membacanya.


Haru yang masih setia berada disisinya ikut tersenyum, saat menatap Semi yang perlahan sudah melupakan kejadian sebelumnya. Padahal dia tau kalau hujatan langsung yang dilontarkan seseorang secara langsung itu, lebih lama disembuhkan dari pada hujatan yang dia baca dari sosial media.


Ketika Semi sedang sibuk menuliskan harapannya, tiba-tiba Haru memeluknya dari belakang dan langsung menyandarkan dagunya di bahu kanan Semi. “Kamu nulis apa aja? Kenapa lama baget, heem?” bisiknya lirih.


Semi tersenyum malu dan langsung menghentikan aktifitas menulisnya, dia memalingkan wajahnya ke arah Haru yang masih bersandar di bahunya dengan nyaman. “Haru, kamu gak malu apa dilihatin banyak orang? Kita bukan di Rumah, kita sekarang ditempat umum,” ucap Semi.


“Biarin, aku gak perduli. Mau berkencan secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, sama aja bagi paparazi,” balas Haru yang semakin mempererat pelukannya.


“Kalau begitu sebentar, biarkan aku menyelesaikan ini dulu,” ujar Semi yang kembali menggerakkan tangannya.


Beberapa menit kemudian....


“Sudah selesai. Kamu lihat, bagus kan... dua gembok yang penuh arti ini?” tunjuk Semi ke arah dua gembok yang sudah dia pasang.


“Heem bagus. Apapun yang kamu bikin selalu bagus,” jawab Haru.


Semi membalik badannya dan langsung mengalungkan tangannya di leher Haru dengan manja dia berkata, “Apaan jawaban kamu tadi klasik banget, terdengar seperti cuman mau menghibur aku.”


“Bukan begitu, memang kenyataannya bagus, tapi apa kamu yakin semua harapan itu akan bertahan lama?” tanya Haru.


“Heem, aku yakin. Aku yakin tulisan itu akan bertahan sampai tahun depan, atau bisa bertahan lebih dari dua tahun,” angguk Semi.


“Oke aku percaya,” sahut Haru diiringi senyum tipisnya.


Semi seketika membalik badannya dan ikut menatap ke arah langit yang sama. “Indah... meskipun aku gak begitu paham tentang rasi bingtang, tapi menatapnya saja membuat aku jadi lebih tenang,” balas Semi.


“Bintang, sama seperti seorang artis. Jika dilihat dari jauh, akan terlihat sangat terang... tapi kalau kita dekati, sinarnya akan redup,” gumam Haru yang masih dapat didengar Semi yang ada dihadapannya.


“Jadi bintang ataupun jadi artis... menurut pandangan orang sama aja, mereka sama-sama seperti ditakdirkan hidup sendiri. Seumur hidupnya dilarang memiliki pasangan, dan harus membahagiakan penggemar mereka,” sahut Semi.


“Tapi pandangan orang selalu salah. Kata siapa bintang gak punya pasangan?” Haru menggeser tubuhnya, dan berdiri tepat disebelah Semi.


Semi mengalihkan tatapannya ke arah Haru, dengan wajah yang bingung ia kembali bertanya, “Hem?! Apa yang kamu maksud?”


Haru membalas tatapan Semi dengan tatapan dan senyumnya yang hangat. “Rasi bintang biduk punya pasangan bernama rasi bintang salib selatan. Meskipun dua rasi bintang ini terlihat biasa saja buat sebagian orang, tapi dua rasi bintang ini adalah bagian terpenting untuk orang yang ada dilaut,” jelas Haru.


“Haru, aku semakin gak paham sama penjelasan kamu. Bukannya kedua rasi bintang itu letaknya berbeda? Kenapa malah disebut pasangan?” sahut Semi mengerutkan dahinya.


“Justru itu, karna letaknya yang berbeda itu... mereka punya makna yang sangat dalam. Meskipun berpisah sejauh ribuan mill, mereka tetap bisa menemukan satu sama lain.” Sekali lagi Haru menjelaskan apa yang belum dipahami Semi dari kata-katanya sebelumnya.


“Kalau begitu mulai hari ini, aku melambangkan diri kita sebagai bintang biduk dan bintang salib selatan, giamana menurut kamu?” tanya Semi.


Haru kembali tersenyum mendengar celotehan kekasihnya itu, dia mengangguk pelan sembari menjawab, “Boleh.”


“Oke kalau begitu. Karna seorang laki-laki... kamu bintang biduk dan aku sebagai seorang perempuan... bintang salib selatan,” gumam Semi.

__ADS_1


“Kenapa begitu? Kenapa aku harus bintang biduk?” tanya Haru mengerutkan kedua alisnya.


“Karena wibawa seorang laki-laki harus berada diatas perempuan, dan harus bisa melindungi seorang perempuan yang lebih lemah,” jawab Semi dengan bijaksana.


Senyum Haru kembali merekah setelah mendengar jawaban bijaksana dari sang kekasih. “Malam semakin larut, udara disini juga semakin dingin, lebih baik kita turun sekarang,” ajak Haru mengulurkan satu tangannya dihadapan Semi.


“Heem,” angguk Semi yang langsung menerima uluran tangan Haru.


Malam indah di namsan tower malam itu akhirnya berakhir, kedua pasangan kekasih yang sedang bahagia ini turun melewati rute yang sama, seperti saat mereka menuju ke atas. Kedua tangan yang tertaut dengan erat itu mengiringi langkah mereka kembali ke mobil Haru yang berjarak tak terlalu jauh.


Sesekali mereka juga terkadang mengobrol hal-hal yang random di perjalanan mereka, gelak tawa juga sering terdengar diantara mereka. Entah apa saja yang mereka obrolkan, perjalanan menuju parkiran mobil pun menjadi terasa lebih singkat dari yang mereka kira.


Setelah masuk mobil, Haru segera menancap gas mobilnya untuk balik ke apartemennya untuk beristirahat, sekaligus mempersiapkan kembali tenaga dan mentalnya menghadapi kesibukan yang sama dan terus saja berulang.


Keesokan Harinya~


Haru yang baru terbangun dari tidurnya berjalan keluar dari kamarnya, di ruang tengah dia sudah melihat sang Kakak Hera sedang sibuk didepan laptop miliknya. Sambil terus menguap, Haru berjalan mendekatinya dan langsung duduk disebelah sang Kakak.


“Kakak ngapain? Pagi-pagi begini sudah sibuk didepan laptop?” tanya Haru sembari terus menatap ke layar laptop yang ada dihadapannya.


“Ini, aku lagi bikin yang kamu minta,” jawab Hera sambil menyodorkan 3 alat yang berukuran cukup kecil ditangannya.


Haru meraihnya dari tangan sang Kakak dan menatapnya dengan seksama. “Apa ini? Kenapa ukurannya sangat kecil?” timpal Haru.


“Ini, alat yang kamu minta untuk jadi mata-mata di kantor Kim Hebom,” balas Hera.


“Kamera dan alat sadap? Kenapa ukurannya kecil banget?” sahut Haru mengangkat kedua alisnya dengan terheran-heran.


“Heh! Jangan sembarangan kamu, lihat ini.” Hera yang terlihat kesal karna alat buatannya di remehkan, langsung menunjukkan kualitas gambar sekaligus kualitas suara yang dihasilkan alat rancangannya melalui laptop yang ada dihadapannya.


Setelah mendengar beberapa menit, ekspresi Haru kini berubah menjadi kagum sekaligus terkejut. Suara yang dihasilkan dari benda kecil yang ada ditangannya itu sangat jernih dan gambar yang dihasilkan dari kamera kecil itu juga sangat terlihat jelas, meskipun sudah di zoom beberapa kali juga masih terlihat sangat jernih.


“Waw... keren,” celetuk Haru sembari mengacungkan satu jempolnya kepada sang Kakak.


Melihat reaksi sang Adik yang tiba-tiba saja berubah, Hera hanya tersenyum bangga dan senang. Karena alat yang dia rancang dalam semalam itu berhasil dia buat, dan akan sangat membantu sang Adik dalam melakukan mencari kebenaran.


Ketika mereka sedang asyik mengobrol masalah alat baru buatan Hera, tiba-tiba seseorang masuk kedalam apartement Haru. Iya, siapa lagi kalau bukan....


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2