Penyanyi Tanpa Telinga

Penyanyi Tanpa Telinga
=31= Kehidupan baru Hera


__ADS_3

“Semi saya cuman ingin menanyakan, kapan kalian akan melanjutkan syuting? Atau paling tidak salah satu dari kalian aja dulu deh yang ngambil gambar. Karna kalau enggak, kita bisa telat tayang dan bisa menyebabkan mundurnya jadwal tayang,” tanya sang penelepon yang ternyata adalah Pak Sutradara drama mereka.


Dengan nada yang sopan dan halus Semi mulai menjelaskan apa yang sedang terjadi baru-baru ini dengan cukup detail. Tak disangkah pembicaraan Semi dengan Pak Sutradara ternyata diam-diam didengar oleh Haru yang sudah berdiri dibalik pintu masuk.


Melalui tatapan Haru, sudah sangat terlihat dengan jelas apa yang ada dibenaknya. Diiringi dengan tatapan tajamnya, Haru pergi meninggalkan Semi yang masih terlihat sibuk berbicara melalui telepon. Ketika dirinya sudah kembali ke kamar duka, Haru kembali duduk dan bersandar ditembok diiringi helaan nafas beratnya.


Haru mengambil hp nya dan mulai mengirimkan beberapa pesan singkat kepada Pak Sutradara. Dia sendiri yang mengkonfirmasi secara langsung, kalau besok dirinya sudah mampu kembali syuting. Tanpa menunggu lama, Pak Sutradara pun membalas dan mengatakan kalau mereka akan menyiapkan untuk syuting besok.


“Ma, maafkan Haru. Bukan maksud Haru tidak berbakti dan tidak berduka setelah kehilangan Mama, tapi Haru cuman gak ingin dia berkerja sendiri menggantikan kekosongan Haru,” batin Haru sembari menatap dengan dalam foto pemakaman sang Mama.


Saat Haru sedang tenggelam dengan pikirannya sendiri, sang Kakak tiba-tiba menghampirinya dan mengatakan, “Haru kita akan berangkat jam 8.”


Haru hanya bisa mengangguk pelan. “Heem,” jawab Haru.


Jam 8~


Iring-iringan pengantaran abu jenazah pun telah dimulai, pada bagian barisan paling depan sudah ada Haru yang memegang bingkai foto sang Mama, dibelakangnya ada Hemi yang sudah memegang abu jenazah Mama mereka yang diletakkan didalam guci tertutup berwarnah putih, dengan bagian depan terukir rapih nama sang Mama.


Mereka semua masuk kedalam mobil van Haru yang sudah disiapkan didepan pintu rumah duka. Seperti biasa, Hyunjae duduk di belakang kemudi, lalu disebelahnya ada Hera yang menemaninya, dan di barisan tengah kursi ada Hemi yang sedang duduk sendirian, dan dibagian paling belakang ada Haru dan Semi yang duduk bersebelahan.


Setelah mereka semua masuk kedalam mobil, Hyunjae mulai menancap gas menuju ke sebuah rumah abu yang sudah dia pesan sebelumnya. Semua orang yang ada di mobil itu terlihat jelas, masih sangat sedih dengan kepergian sosok seorang Mama dihidup mereka. Hemi yang bertugas membawa guci, masih terus mengelus dan memeluknya berkali kali.


Hera juga masih terlihat meredahkan sedihnya dengan mengajak Hyunjae berbicara random dan tanpa topik yang jelas. Berbeda dengan Haru, meskipun kedua matanya masih terlihat berkaca-kaca, tapi setengah hatinya juga sedang memikirkan bagaimana kebakaran itu bisa terjadi, dan sebenarnya apa penyebabnya.


Ketika Haru tenggelam dalam lamunannya yang dalam, Semi yang kebetulan duduk disebelahnya langsung mengetahui apa yang sedang dipikirkan sang kekasih. Tangan kanannya yang penuh perhatian itu langsung memegang tangan kiri Haru yang ada diatas sandaran tangan.


Sontak itu membuat Haru sedikit terkejut, hingga mampu membuatnya keluar dari ruang lamunan yang sudah dia ciptakan. Kedua mata Haru seketika teralihkan ke arah Semi yang duduk disebelahnya, Semi terlihat berusaha menenangkan Haru sambil mengangguk pelan dan menggenggam erat tangan Haru.


Genggaman erat yang diberikan Semi tak berakhir dengan percuma, Haru yang sangat paham dengan respon yang diberikan sang kekasih, segera membalas genggaman itu dengan semakin memasukkan jarinya ke selah jari-jari Semi, sekilas Haru juga melempar senyum tipisnya untuk memberi isyarat kalau dirinya sudah baik-baik saja.


Perjalanan yang mereka tempuh itu terasa sangat sunyi dan tenang, hingga pada akhirnya mobil yang mereka naiki sampai ditempat tujuan, yaitu tempat peristirahatan terakhir sang Mama yang sudah menempuh perjalanan cukup jauh.


Rumah Abu~


Terlihat seperti sebuah istana yang megah, rumah abu yang mereka datangi itu adalah tempat penyimpanan abu jenazah terbesar di Seoul. Semua loker penyimpanan abu jenazah sudah dibagi menjadi beberapa blok yang sudah diatur menjadi sangat rapih.


Mereka semua berjalan menuju ke blok H, tempat yang sudah Hyunjae pesan sebelum mereka berangkat. Blok H sendiri terletak di bagian lantai 2 dan berada sisi kanan setelah tangga utama, tempat itu sengaja dipilih Hyunjae karena sesuai dengan kata sang anak pertama, yang menginginkan sang Mama agar tetap merasa dekat dengan orang yang dia sayangi.


Arti huruf H bukan hanya sebuah huruf biasa bagi mereka, Hera sendiri berharap dengan tempat peristirahatannya yang diwakili dengan huruf H, bisa membuat sang Mama berasa dikelilingi orang-orang tercintanya, seperti dirinya, kedua adiknya, lalu ada juga Hyunjae yang sama-sama memiliki nama awalan huruf H.


Setelah proses yang cukup lumayan panjang itu, mereka semua pulang secara terpisah. Hemi pulang terlebih dahulu dengan menaiki taxi, sementara Hera, Haru, Hyunjae dan Semi masih berada di satu mobil yang sama.

__ADS_1


Ditengah perjalanan yang masih terlihat cukup sunyi, Haru mulai membuka jendela sekat bagian tengah yang memisahkan kursi depan dan kursi tengah. Mendengar jendela yang terbuka secara otomatis itu, sedikit membuat Hera yang duduk didepannya menjadi cukup tekejut, hingga berhasil membuat Hera mengalihkan pandangannya.


“Setelah ini Kak Hera mau tinggal dimana? Apa Kakak bakalan tetap di Seoul, atau... balik lagi ke Bali?” celetuk Haru menatap sang Kakak melalui jendela kecil dibagian tengah.


“Entahlah, Kakak juga sebenarnya bingung harus bagaimana. Mau balik ke Bali, tapi di Bali Kakak sudah gak punya rumah, mau tinggal di Seoul... rasanya juga masih canggung dan disini juga Kakak gak punya tempat tinggal,” jawab Hera tanpa membalas tatapan Haru.


“Sebaiknya, Kakak harus tetap di Seoul. Karna kalau Kakak tetap di Bali, itu malah membuat aku sama Hemi cemas, dan bahaya juga kalau tinggal sendirian disana,” balas Haru.


“Bahaya? Bahaya gimana maksud kamu?” Seketika Hera membalik badannya dan menatap langsung ke arah Haru yang duduk dibelakangnya.


“Ada beberapa hal yang ingin aku jelaskan ke Kakak, tapi nanti aja kalau sudah sampai di apartement ku, dan untuk sementara waktu Kakak tinggal di apartement ku aja dulu,” kata Haru.


“Heem... oke kalau begitu,” angguk Hera.


Gedung apartement Haru dan Semi~


Akhirnya mereka pun sampai di parkiran basement gedung apartemen Haru, dengan langkah yang hampir sama mereka berdua berjalan memasuki gedung. Setibanya didalam lift, Hera menatap heran ke arah Semi yang masih mengikuti langkah mereka.


“Semi tinggal di gedung ini juga Kak, dia tinggal di unit 1801,” sahut Haru menjawab tatapan aneh sang Kakak.


“Ow, Kakak kira kalian tinggal bareng,” balas Hera.


Mendengar jawaban sang Kakak membuat Haru seketika terdiam dan hanya membalasnya dengan helaan nafas beratnya.


“Heem,” angguk Haru diiringi senyum manisnya.


“Hati-hati adik ipar,” celetuk Hera mengiringi langkah Semi keluar dari lift.


Seketika Semi kembali membalik badannya dan menatap Hera sembari mengatakan, “Baik Kak.”


Interaksi bak keluarga bahagia yang ditunjukkan Semi dan Hera itu seketika membuat Haru mengukir senyum tipis di bibirnya. Pintu lift kembali menutup setelah kepergian Semi, mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai di apartement Haru.


Apartemen Haru~


“Masuk Kak, anggap saja rumah sendiri. Meskipun gak sebesar rumah Kakak yang ada di Bali,” ucap Haru berjalan lebih dulu.


“Kamu ngomong apa sih, ini juga sudah termasuk apartemen paling mewah kan di kota ini,” balas Hera.


Hera melangkah masuk sembari kedua matanya terus menatap kesegala arah seperti cctv yang mengecek setiap detail kecil yang dia lewati. Tanpa perasaan cangnggung lagi, Hera langsung duduk di sofa besar milik Haru yang ada di bagian ruangan tengah.


“Maaf Kak disini adanya cuman ini.” Haru datang dengan membawa 3 botol air mineral dan 3 kaleng bir yang langsung dia letakkan di atas meja, dia juga menyempatkan diri untuk duduk di sofa tempat Kakaknya duduk.

__ADS_1


“Haru!” panggil Hera tanpa menatap langsung ke arah sang Adik.


“Heem?!” sahut Haru.


“Kamu yakin tinggal disini?” tanya Hera yang masih saja celingukan kekanan dan kekiri.


“Iya, aku setiap hari memang tinggal disini, dan ini memang apartement ku sendiri,” jawab Haru dengan nada yang sangat percaya diri.


“Tapi kenapa apartement ini bukan seperti rumah tinggal?! Malah seperti rumah singgah, karna terlalu bersih dan rapih disetiap sudut,” ujar Hera mengalihkan tatapan ke Haru.


“Adik kamu memang seperti itu, aku yang sering kesini berkali-kali aja masih bingung dengan sifatnya, apalagi kamu yang baru datang ke sini sekali,” sahut Hyunjae.


Haru melempar senyum lebarnya setelah mendengar respon Hyunjae dan sang Kakak. “Ya mau gimana lagi, aku aja jarang di rumah. Setelah pulang ke rumah pun langsung tidur dan istirahat,” balas Haru.


“Kamu ini ya bener-bener. Emang sesibuk apa sampai ke rumah cuman dipakai untuk tidur dan istirahat?” tanya Hera.


“Kak Hyunjae, jelaskan jadwal ku yang super padat itu.” Haru mengalihkan tatapannya ke arah Hyunjae sambil mengangkat satu alisnya.


“Pagi sampai malam dia harus stanby untuk syuting drama, lalu disela waktu nya yang kosong dia gunakan untuk pemotretan, terus sisa waktu lainnya dia gunakan untuk latihan dance dan bikin lagu baru,” jelas Hyunjae.


Seketika Hera menghela nafas setelah mendengar apa yang sudah dipaparkan oleh Hyunjae. “Sebanyak itu? Lalu waktu istirahat kamu berapa jam?” tanya Hera kembali.


“Tergantung, kalau jadwal syuting drama kebetulan sama dengan jadwal comeback dan promosi lagu, waktu istirahat cuman 3 jam. Kalau gak ada drama dan hanya promosi album, waktu istirahat bisa sampai 5 jaman,” sambung Haru.


Hera terlihat sangat terkejut setelah mendengar penjelasan dari sang Adik, dan lagi-lagi dia hanya bisa menghela nafas sembari menutup matanya sekilas. “Hidup kamu benar-benar luar biasa. Kamu rela mengurangi waktu istirahat demi fans kamu, tapi fans kamu kadang masih menghujat dan membatasi ruang gerak kamu,” tegas Hera.


“Ya, mau gimana lagi, namanya juga artis. Pasti selalu jadi sorotan kemanapun dan apapun yang aku lakukan.” Untuk menenangkan sang Kakak yang terlihat cukup kesal, Haru melempar senyum lebarnya.


“Terus, apa kamu gak ada keinginan untuk pensiun dan meninggalkan semua? Karna Kakak dengar dari Hemi, bukannya kamu bakal jadi pemimpin K.I Corporation dimasa depan?” tanya Hera kembali.


“Nah, karena Kakak sudah mulai membahas ke arah sana, sebaiknya akan aku jelaskan semuanya mulai dari awal hingga kejadian yang baru aja terjadi, tapi aku harap Kakak jangan terlalu terkejut,” jawab Haru.


“Jadi sebenarnya begini....”


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung~


__ADS_2