Penyanyi Tanpa Telinga

Penyanyi Tanpa Telinga
=22= Perasaan Tulus


__ADS_3

“Ini bukan sembarang kalung, tapi ini adalah flashdisk,” jelas Songyi sembari membelah kalung rosario nya menjadi dua bagian.


Jawaban Songyi itu seketika membuat Haru dan Semi yang mendengarkannya ikut terkejut, hingga membuat mata keduanya terbuka lebar. “Memang apa isi flashdisk itu?” sahut Semi.


“Rekaman CCTV SMP Myungsung beberapa tahun lalu,” jawab Songyi.


“Apa?! Jangan bilang itu... rekaman waktu kebakaran?” tanya Haru memasang wajah terkejutnya.


“Iya Haru ini memang ada kaitannya dengan kebakaran, tapi rekaman ini bukan saat kebakaran... melainkan rekaman sebelum kebakaran,” terang Sonyi.


“Melihat dari seberapa pentingnya rekaman itu, aku yakin rekaman itu pasti bukti langsung milik pelaku. Songyi berikan itu, aku akan membuat beberapa salinan rekamannya,” pinta Haru.


Begitu Haru menyodorkan tangannya, Songyi segera memberikan flashdisk rahasia yang dia pegang. Tanpa membuang waktu kembali, Haru berjalan ke arah komputer milik sang Kakak, dan mulai menyalin vidio yang belum dia lihat itu dibeberapa memori card dan flashdisk kosong yang ada di laci meja kerja sang Kakak.


Sementara Haru sibuk menyalin vidio, Semi kembali bertanya ke Songyi. “Kalau memang vidio itu penting, kenapa kamu gak kembali menuntut pelaku? Bukannya dulu kamu memang berencana akan menuntutnya?”


“Gak bisa, waktu aku nemuin vidio itu... masa berlaku kasus sudah berakhir, jadi menuruku percuma kalau mau melakukan itu,” balas Songyi.


“Itu artinya, hanya Haru yang bisa menggunakan rekaman itu,” angguk Semi pelan.


“Ho, itu sebabnya aku membuat lebih banyak salinan,” sahut Haru yang sudah selesai membuat salinan vidio, kembali mengahampiri Semi dan Songyi yang masih duduk di sofa panjang yang ada di ruangan sang Kakak.


“Kalau begitu Songyi, aku mau tanya sesuatu lagi, dan aku harap kamu menjawab ini dengan jujur,” sahut Semi.


Haru menatap Semi dengan bingung sembari menunggunya meontarkan pertanyaan untuk Songyi. “Apa yang ingin dia tanyakan?” batin Haru.


“Kamu pasti tau kan, siapa yang nolongin aku saat kebakaran?” celetuk Semi.


Kedua mata Haru seketika terbelalak, batinnya merasa takut dan jantungnya tiba-tiba berdebar tak menentu hingga membuatnya tiba-tiba menyahut, “Heh! Kenapa pertanyaan kamu malah keluar dari topik?!”


“Kenapa memangnya?! Aku cuma pengen tahu, dan aku yakin Songyi tau soal ini,” sangkal Semi sambil melotot ke arah Haru.


“Songyi cepat katakan, kamu pasti tau kan... siapa orang yang mengeluarkan ku dari kepungan asap saat itu?!” desak Semi kembali mengalihkan tatapannya ke Songyi.


Ketika Semi sedang sibuk mendesak Songyi, Haru terus menatap Songyi dengan tajam, dan saat Songyi menatapnya balik, dia langsung melemparkan isyarat gelengan kepalanya untuk tidak menjawab pertanyaan Semi dengan jujur.


Perasaan Semi mendadak merasa janggal saat Songyi tiba-tiba mengalihkan tatapannya ke Haru, dan ketika dirinya menatap Haru, seketika Haru menundukkan kepalanya. “Kenapa perasaan ku jadi gak enak begini,” batinnya.


“Songyi cepat katakan, siapa orangnya?!” desak Semi sekali lagi.

__ADS_1


“Semi apa kamu benar-benar gak tahu siapa orang itu?” tanya Songyi pelan.


“Ho, sampai sekarang aku belum tahu,” balas Semi.


“Dia,” tunjuk Songyi ke arah Haru. “Dia yang sudah susah payah mengeluarkan kamu dari api, dan dia juga yang melindungi kamu dari dua ledakan yang terjadi saat kebakaran kantin waktu itu,” tambah Songyi.


“Apa?! Sonyi kamu gak bercanda kan?” jawab Semi dengan tatapan yang mulai bergetar.


“Iya, itu sebabnya kedua telinganya jadi seperti itu,” jelas Songyi sembari terus menatap Haru yang masih menundukkan kepalanya.


“Jadi... dua telinganya tuli gara-gara aku.” Kedua mata Semi tiba-tiba berubah menjadi merah, perlahan setetes air mata jatuh dan mulai membasahi kedua pipinya.


“Haru! Apa yang dikatakan Songyi itu benar?! Kamu yang udah nolongin aku?” tatap Semi dengan air mata yang sudah menggenang dikedua matanya.


Tanpa menatap Semi secara langsung, Haru masih terus menundukkan kepalanya sembari terus menghelah nafas, dia masih menyiapkan jawaban yang akan dia berikan ke Semi. Pikiran dan hati yang tak selaras membuatnya masih belum menjawab ucapan Semi.


“Heh!! Jawab!! Jangan diam aja... aku mohon,” pekik Semi yang mulai hilang kesabarannya.


Haru mulai mengangkat kepalanya secara perlahan dan menatap Semi dengan kedua matanya yang sudah berubah menjadi senduh. “Ho,” angguk Haru. “Aku yang nolongin kamu saat itu, dan soal telinga aku... memang benar gara-gara ledakan waktu itu,” sambung Haru.


Semi terkejut bukan kepalang mendengar jawaban yang dilontarkan Haru, dia langsung menundukkan kepalanya, dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tangisnya langsung pecah dibalik kedua tangan mungilnya yang menutupi wajahnya.


Semi tak merespon Haru sedikitpun, hati dan pikirannya masih tenggelam dalam tangisannya. Wajahnya yang putih berubah menjadi sedikit memerah, sesenggukannya tak dapat lagi dia sembunyikan dari orang yang ada didekatnya. Sementara Haru hanya bisa menghela nafas, saat melihat keadaan Semi yang sedang kacau.


“Songyi ini aku kembalikan, untuk malam ini sebaiknya kamu menginap dulu disini. Aku sudah telepon resepsionis dan memesan kamar buat kamu, jadi kamu bisa kan pergi sendiri untuk meminta kuncinya dengan menunjukkan ini ke mereka,” ucap Haru sembari menyodorkan kartu nama sang Kakak ke Songyi.


“Eeemm, kenapa kamu gak mengantar sendiri?! Kalau resepsionis gak percaya gimana?” tanya Songyi dengan wajah ragunya.


“Maaf, tapi kalau aku mengantar kamu sekarang, nanti bisa menimbulkan skandal. Apalagi sekarang posisi aku sebagai pacar sang dewi Korea,” jawab Haru yang sesekali melirik ke arah Semi yang masih menangis terseduh-seduh.


Songyi mengangguk mengerti maksud Haru, dia akhirnya berdiri dari tempat duduknya. “Oke, kalau begitu aku permisi dulu,” pamit Songyi.


“Heem, besok kalau mau pulang, jangan lupa kabari aku,” angguk Haru Sembari berdiri dari tempat duduknya.


Songyi mengangguk pelan ke arah Haru, sembari terus melangkah pergi menjauh dari Haru dan berakhir meninggalkan ruangan. Sementara itu, Haru kembali mengalihkan tatapannya ke Semi yang masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Haru melangkah perlahan mendekati Semi, dia mencoba duduk di tepi sofa dan tiba-tiba meraih Semi untuk masuk kedalam pelukannya. “Maaf, aku benar-benar minta maaf sudah bohongin kamu masalah ini.” Sambil membelai lembut kepala Semi, dia terus mencoba menenangkan Semi.


Perlakuan Haru saat itu berhasil membuat Semi membuka tangannya yang menutupi wajahnya. “Kenapa kamu lakukan itu? Kamu sendiri udah tahu kan, kalau aku sangat-sangat merasa bersalah ke orang yang sudah nolongin aku waktu itu, apalagi aku baru tahu kalau sampai membuat orang itu cacat permanen,” kata Semi sembari terus mengucurkan air matanya.

__ADS_1


Haru melepas pelukannya dan mulai berlutut didepan Semi untuk menyamai tinggi Semi yang masih duduk di sofa. “Hey... telinga ku ini bukan termasuk telinga yang cacat, tapi ini adalah sebuah keberuntungan. Jadi jangan lagi menyalakan diri kamu sendiri,” sahut Haru sambil menghapus air mata yang membasahi pipi Semi.


“Aku... melakukan ini semua karna keputusan ku sendiri, penyebab kebakaran itu terjadi juga bukan karna kamu, jadi berhenti nangis... karna kamu gak salah, oke.” Haru menatap kedua mata Semi dengan sangat dalam, dia masih terus mencoba membuat Semi tenang.


“Terus, kenapa kamu mau nolongin aku waktu itu?!” tanya Semi.


“Ho?! Itu... itu karna... karna kita berteman baik saat itu.” Kedua mata Haru terus berkedip dengan cepat, dia terlihat sangat jelas berkali-kali mencoba menghindari kontak mata langsung dengan Semi.


“Bohong! Aku tahu kamu coba berbohong lagi. Semua yang kamu katakan, itu bukan alasan kamu yang sebenarnya,” tolak Semi.


Haru kembali menundukkan kepalanya, dan seketika beranjak dari tempat dia berlutut. “Sudahlah, apapun alasannya... itu semua gak penting. Hari sudah mau gelap, sebaiknya kamu kembali ke kamar dan bersihkan diri kamu,” sahut Haru kembali yang mulai membalik badannya dan berjalan perlahan meninggalkan Semi.


“Kamu suka kan sama aku!! Enggak aku salah, kamu... bukan cuma suka sama aku, tapi kamu juga cinta sama aku... sampai sekarang.” Semi tiba-tiba berdiri dari duduknya, dan langsung saja menatap Haru sembari melontarkan kata-kata yang cukup mengejutkan buat Haru.


Langkah kaki Haru seketika berhenti begitu saja, seperti terkena lem yang sangat kuat, kakinya tiba-tiba tidak mampu melanjutkan langkahnya. Semi yang masih ada dibelakangnya tiba-tiba menghampiri Haru yang berada lima langkah didepannya, dan langkahnya berhenti tepat didepan Haru.


“Benar kan yang aku bilang, sampai sekarang kamu masih cinta sama aku?! Karna itu kamu sangat mengkhawatirkan ku setiap kali aku ingin mendekati bahaya,” tatap Semi dengan tajam.


Sekali lagi Haru mengalihkan tatapannya dari mata Semi yang mengarah ke arahnya bak laser pemotong. “Enggak, kamu salah paham. Aku gak pernah suka sama kamu,” jawabnya.


“Benar kah?! Kalau begitu katakan lagi dengan lantang dan tatap mata aku,” pinta Semi.


Haru mengangkat pandangannya, dia mulai mengalihkan tatapannya ke arah Semi. “Aku... gak pernah suka sama kamu!!” pekiknya.


Semi masih menatap tajam ke arah Haru sambil mengeluarkan smirk di ujung bibirnya. “Oke, ternyata kamu masih mampu menyembunyikannya.”


Tiba-tiba Semi kembali melangkah dan lebih mendekati Haru yang ada dihadapannya, dengan kedua tangannya yang mungil itu, dia langsung saja mencengkram dan menarik jaket Haru hingga membuat jarak mereka menjadi sangat dekat. “Aku baru yakin dengan ucapan kamu barusan, setelah melakukan ini langsung.”


Tanpa meminta izin dari Haru lagi, Semi langsung saja mencium Haru dengan sangat lembut. Kedua matanya yang kembali tertutup, sekali lagi menggambarkan hati tulusnya yang sangat mencintai orang yang ada dihadapannya itu.


Perlahan air mata Semi kembali membasahi pipi kanannya, meskipun belum mendapatkan balasan dari Haru, Semi hanya berfikir ingin menunjukkan perasaan tulusnya kepada laki-laki yang ada dihadapannya.


Sementara Haru yang terlihat masih menggepalkan kedua tangannya, tiba-tiba menggerakkan kedua tangannya. Tangan kanan yang sudah terbuka lebar itu langsung saja memegangi tengkuk Semi, hingga...


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2