
Sementara Haru yang terlihat masih menggepalkan kedua tangannya, tiba-tiba menggerakkan kedua tangannya. Tangan kanan yang sudah terbuka lebar itu langsung saja memegangi tengkuk Semi, hingga membuat bibir mereka semakin erat, sedangkan tangan kiri nya juga ikut menarik pinggang Semi, agar semakin dekat dengannya.
Haru memejamkan kedua matanya dan perlahan membalas ciuman Semi dengan lembut. Tanpa dia sadari, setetes air mata pun jatuh membasahi pipi kirinya, dalam benaknya terus berfikir apakah tindakannya ini membuat wanita yang dia cintai mulai memasuki kandang singa, atau bahkan secara tidak langsung sudah membuatnya ikut bertarung bersama.
Apapun yang ada dibenak Haru saat itu, sudah tidak dapat lagi dia sembunyikan, terutama soal perasaannya kepada Semi. Saat itu juga dan didetik itu juga pertahannya mulai roboh, perasaannya seketika meluap tak tertahankan, hingga membuatnya ingin memberi tahu dunia, kalau dia sangat-sangat mencintai orang yang ada dihadapannya.
Beberapa detik kemudian mereka menghentikan ciuman yang keduanya lakukan, dengan jarak yang masih sangat dekat mereka mulai membuka mata perlahan.
“Apa itu artinya....” celetuk Semi.
“Iya, aku... sangat mencintai kamu. Hati aku sudah gak bisa menyembunyikan ini lagi, dan kamu benar... semua yang aku lakukan selama ini adalah karna aku sangat takut kehilangan kamu, termasuk saat kebakaran itu terjadi,” jelas Haru dengan mata yang berkaca-kaca.
Semi melepaskan cengkraman tangannya dari jaket Haru dan beralih memeluknya. “Aku janji, aku gak akan ninggalin kamu sendiri,” ucap Semi sembari mendekap erat laki-laki yang ada dihadapannya.
“Heem, aku juga janji akan melindungi kamu dari semua bahaya yang akan segera menghampiri kamu,” balas Haru sambil membelai lembut kepala belakang Semi.
Jam dinding terus berputar, matahari yang sebelumnya masih bersinar, saat ini telah meredupkan sinarnya, bulan dan bintang sudah menggantikan tugas sang surya untuk menyinari bumi. Malam kembali tiba, Haru dan Semi saat ini sedang ada di kamar Haru sedang menikmati makan malam bersama yang terlihat sangat romantis, meskipun dalam kondisi yang sederhana.
“Oh iya sayang, gimana keadaan Mama kamu sekarang?” tanya Semi secara tiba-tiba.
Haru seketika terbatuk-batuk kaget setelah mendengar kata-kata asing yang keluar dari mulut Semi. “Say... sayang kamu bilang?” balas Haru mengerutkan dahinya sembari menenggak air minum yang sudah tersedia di sebelah kanannya.
Semi meletakkan sendok dan garpu yang dia pegang, dia mengalihkan tatapannya sepenuhnya ke Haru. “Bukannya, mulai hari ini... kita mulai berkencan?” ujar Semi.
Haru terus mengedipkan kedua kelopak matanya dengan cepat, pandangannya yang tak fokus itu sangat menggambarkan kalau dirinya tiba-tiba merasa canggung. “Ya... memang, memang kita sudah berkencan, tapi kan... belum membahas soal panggilan itu,” kata Haru tergagap-gagap.
“Yaudah kalau gitu kita bahas sekarang aja. Kamu mau aku panggil apa? Sayang, beb, hony, atau apa?” desak Semi dengan nada suara yang sangat antusias.
“Haru, panggil aja seperti biasa.” Haru berdiri dari tempat duduknya, dia menyudahi makannya dan membawa piring kotor ke wastafel.
“Heeeemmm... gak asik! Apa kamu nunggu aku bertahun-tahun hanya untuk terus memanggilku seperti yang lainnya? Bahkan fans kamu aja ada yang manggil sayang, dan fans kamu yang diluar negeri juga ada yang manggil kamu beb,” gerutu Semi diiringi gerakan mulutnya yang mengerucut.
Haru terus melanjutkan kegiatan mencuci piringnya, sembari mendengar gerutuan Semi tanpa henti. Semi yang merasa diacuhkan Haru, mencoba kembali berjalan mendekati Haru sambil membawa piring kotor miliknya ke wastafel.
Lirikan tajam langsung saja dilemparkan Semi ke arah Haru yang masih sibuk mencuci piring, merasa mendapatkan lirikan yang menusuk itu, Haru segera menghentikan pekerjaannya dan langsung menatap Semi yang berdiri disampingnya.
__ADS_1
“Hentikan, tatapan kamu itu gak akan berpengaruh ke aku,” kata Haru menggeleng pelan.
Semi melangkah pergi sambil berdecak kesal, karna keinginannya tidak dipenuhi oleh sang pacar. Dia meninggalkan dapur dengan memanyunkan bibirnya, dan beralih duduk di sofa panjang sembari menonton acara TV.
Selesai mencuci piring, Haru menghampiri Semi yang sudah duduk santai didepan TV, sambil memegang remot di tangan kanannya. “Kamu nonton apa? Kayaknya seru banget,” celetuk Haru sembari mencoba tidur diatas sofa dan menjadikan paha Semi sebagai alas kepalanya.
Sesuatu yang tak terduga pun terjadi, Semi dengan cepat menggeser duduknya menjauh dari Haru, hingga membuat kepala Haru terpantul ke atas sofa secara langsung. “Acara apapun yang menghibur,” jawab Semi memasang wajah juteknya.
Haru terlihat hanya menahan kesal nya dengan memejamkan kedua matanya sekilas, beberapa detik kemudian hp miliknya berbunyi, tanpa bangkit dari sofa tempat dia merebahkan badannya, dia meraih hp nya dan mulai menjawab nya.
“Hei beb, gimana kabar tante Eunji sekarang? Maaf ya aku gak bisa langsung menjenguk, tapi tenang aja... aku sekarang sudah ada di Bali,” kata sang penelpon dengan suara yang cukup keras.
Semi langsung saja menoleh ke arah Haru dan memberinya tatapan tajam, saat dirinya mendengar sang penelpon memanggil sang pacar dengan sebutan “Beb”. Haru yang menerima tatapan tajam dari sang cewek, segera bangkit dari sofa dan mencoba tetap tenang saat menjawab orang yang menelponnya.
“Heh Hyuri!! Berhenti memanggilku seenaknya begitu, kalau gak mau aku coret dari daftar pertemanan,” sahut Haru.
“Kenapa? Aaaa... aku tahu, karna yang boleh manggil seperti cuma sang dewi Korea kan?!” ledek orang yang menelpon Haru dengan suara lantang, seakan ingin melompat dari dalam telepon.
Mendapat ledekan dari Hyuri, Haru mendadak menjadi salah tingkah hingga membuatnya tanpa sadar memalingkan tatapannya ke arah Semi yang masih duduk disebelahnya. Sedangkan Semi yang mendengar percakapan mereka berdua dengan jelas, merasa sangat canggung dan bingung harus bereaksi seperti apa.
“Begini, karna aku ada tour di Bali... jadi aku menyempatkan mengunjungi tante Eunji, dan sekarang aku sedang ada di kamar inap Mama kamu,” jawab Hyuri.
“Oh, yaudah kalau begitu nikmati waktu kamu di Bali,” ujar Haru.
“Cuma gitu doang?! Kamu gak ingin gitu menemuhi aku disini? Hei, kita sudah gak ketemu berminggu-minggu, tapi kamu malah....” Saat Hyuri terus nyerocos, tiba-tiba ucapannya terpotong.
“Hey Hyuri, aku sedang sibuk sekarang, nanti aku telpon lagi... oke,” potong Haru yang terlihat akan mengakhiri panggilan.
“Heh... hei... Haru... tunggu dulu... heh!” pekik Hyuri yang panggilannya sudah diakhiri oleh Haru lebih dulu.
Selesai bertelepon dengan Hyuri, Haru memejamkan kedua matanya sejenak sembari menghelah nafas berat. “Apa kali ini Semi kembali kecewa, gara-gara mendengar Hyuri memanggil ku dengan sebutan beb? Sedangkan aku melarangnya memanggilku dengan sebutan norak itu,” batin Haru melirik Semi dengan canggung.
Disisilain Semi yang masih merasa sangat canggung, mengambil tindakan lebih dulu mendahului Haru, dia berdiri dari tempat duduknya dan mengatakan, “Aku mau kembali ke kamar dulu, ini sudah malam.”
Perlahan Semi melangkah pergi dari hadapan Haru, sementara Haru yang awalnya hanya mentap kepergian Semi dengan perasaan ragu. Hingga akhirnya dia segera mengejarnya, dia dengan cepat menghentikan langkah Semi dengan melingkarkan kedua lengannya di pinggang Semi dan meletakkan dagu jenjangnya di bahu Semi.
__ADS_1
“Jangan pergi,” ucap Haru lirih.
“Kamu marah gara-gara Hyuri manggil aku dengan sebutan beb?” sambung Haru.
Perlakuan yang dilakukan Haru saat itu membuat jantung Semi berdegup begitu kencang, hingga membuatnya bingung dan hanya bisa terdiam dalam dekapan orang yang dia cintai. Hembusan nafas Haru yang terus menggelitiki tengkuk Semi, semakin membuatnya gagal menenangkan degupan jantungnya.
Pada akhirnya Semi berusaha untuk melepaskan tangan Haru yang melingkar dipinggangnya, dia membalik badannya dan menatap Haru sambil mengatakan, “Kalau aku mengatakan marah, apa kamu akan mengizinkan ku untuk memanggil kamu dengan sebutan bab?”
“Eeemm... tergantung,” balas Haru.
“Tergantung?! Apa maksud kamu, dengan kata tergantung?” tanya Semi mengangkat kedua alisnya.
“Ah... gak tau, intinya aku gak ingin pake panggilan norak seperti itu.” Tanpa menjelaskan apapun lagi ke Semi, Haru pergi begitu saja dari hadapan Semi dan kembali duduk di sofa panjang tempat dia duduk sebelumnya.
“Oke... ini memang ciri khas kamu, kalau begitu aku gak akan maksa kamu lagi,” jawab Semi sembari berjalan menyusul langkah Haru dan duduk sebelahnya.
“Kalau begitu....” Haru dengan cepat kembali merebahkan badannya kembali, kini dia berhasil menjadikan paha Semi menjadi bantal untuk kepalanya. “Biarkan aku seperti ini, selama 5 menit. Ah, enggak... kalau bisa sampai aku tertidur pulas.”
Semi tersenyum tipis sembari membelai lembut ujung rambut Haru dengan beberapa jari tangan kanannya. Sementara Haru hanya memejamkan kedua matanya, sembari menautkan jari-jari tangan kirinya ke jari tangan Semi.
30 menit kemudain....
Haru terlihat sudah tertidur dengan sangat pulas, Semi yang sudah mulai perlahan menguap, mencoba memindahkan kepala Haru ke bantal sofa secara perlahan, setelah itu dia juga ikut merebahkan badannya tepat disebelah Haru dan memakai bantal yang sama.
“Wahh... bagaimana dia tidur sepulas ini? Padahal diseblahnya ada orang tercantik di Korea?” gumam Semi sembari menatap setiap jengkal wajah laki-laki yang ada dihadapannya.
“Kalau aku gak tidur, apa kamu akan menyeretku pindah ke tempat tidur sekarang juga,” celetuk Haru yang tiba-tiba membuka kedua matanya perlahan.
.
.
.
Bersambung~
__ADS_1