Penyanyi Tanpa Telinga

Penyanyi Tanpa Telinga
=26= Makan Malam Keluarga


__ADS_3

Setelah siap, mereka berdua keluar dari kamar masing masing. Tanpa di sadarinya, Haru tampak sangat kagum dengan penampilan Semi di malam itu. Kedua matanya yang mengedip secara perlahan, sangat menggambarkan bagaimana perasaannya saat itu, saat sang kekasih tampil dengan fashion yang sangat anggun, tapi tetap bergaya casual.


Semi memakai dress dengan panjang diatas lutut yang memiliki 2 warna, 2 motif, dan bagian bawahnya berbentuk beberapa segitiga yang tak rata. Bagian sebelah kanan bermotif garis-garis berwarna hitam putih, sedangkan pada bagian kiri tidak bermotif dan berwarna putih bersih. Pada bagian leher, dress itu juga memiliki kera bermotif garis-garis hitam putih yang berbentuk V.


Pada bagian lehernya, Semi juga terlihat memakai kalung berbandul bulat kecil yang berwarna perak, dia juga tidak lupa memakai jam tangan mahal berwarna perak, yang memiliki ukuran sedang di tangan kirinya. Sementara untuk alas kaki, dia hanya menggunakan high heels berwarna putih tulang.


Berbanding terbalik dengan Semi, Haru hanya menggunakan baju sederhana seperti biasa, dia hanya menggunakan kaos oblong, ditumpuk dengan jaket kulit berwarna merah, dan memakai celana panjang berbahan jeans berwarna hitam yang sobek dibagian lututnya.


Sedangkan untuk aksesoris, dia hanya menggunakan beanie hat berwarna hitam dipadupadankan dengan kacamata transparannya, jam tangan mewahnya yang juga berwarna hitam, dan juga sepatu sneakers putih andalannya. Selain itu dia juga tidak lupa memakai alat bantu dengar dan satu buah masker yang sudah dia kaitkan ke satu telinganya.


Malam itu, Haru seketika terdiam dan sedikit merasa tertegun saat melihat penampilan sang kekasih yang terlihat sangat anggun dan cantik. Meskipun menggunakan pakaian casual dan sederhana, aura cantik Semi sangat menyilaukan bagi siapapun yang melihatnya.


“Hey... Haru! Haru!!” pekik Semi yang coba menyadarkan Haru dari lamunannya.


“Oh?! Iya ada apa?” sahut Haru terlihat sedikit kebingungan.


“Kenapa kamu malah diam aja? Kita harus pergi sekarang juga,” ajak Semi.


“Ho, kita berangkat sekarang,” jawab Haru melangkah lebih dulu.


Haru sengaja berjalan lebih dulu, karena dia tidak ingin sikap gugup nya diketahui Semi yang sedang berjalan dibelakangnya. Sementara Semi yang menyadari sikap Haru yang terlihat gugup didepannya hanya membuatnya tersipu malu, sembari terus menatap Haru dan mengikuti langkahnya.


Setibanya di mobilnya, Haru dengan sopan membukakan pintu mobil untuk Semi, dia juga sengaja memegangi bagian atas mobil, supaya kepala sang kekasih tidak merasa sakit, kalau tidak sengaja terbentur.


Setelah menutup pintu yang ada disebelah Semi, Haru segera berjalan cepat dan masuk kedalam kursi kemudi. Sebelelum melajukan mobilnya, Haru kembali menatap Semi yang sudah duduk dengan tenang disebelahnya, sambil berusaha memasang sabuk pengamannya.


Sekali lagi Haru kembali membatu, dia kembali tersihir dengan kecantikan yang dipancarkan Semi. “Pantas saja dia mendapatkan julukan dewi Korea, dia bahkan bisa secantik itu hanya dengan berpakaian sederhana dan memakai riasan tipis,” batinnya.


Melihat Haru kembali terdiam, membuat Semi memikirkan sebuah ide untuk sedikit menggodanya. “Apa aku secantik itu? Sampai membuat kamu terus membatu,” celetuknya sambil menyibakkan satu sisi rambutnya.


Seketika Haru tersadar dari lamunannya, dan segera menancap gas mobil yang dia kendarai tanpa memberikan satu katapun ke Semi, yang masih duduk disebelahnya. Haru terlihat hanya berdehem ria untuk mengatakan kepada dirinya sendiri, untuk kembali fokus dengan apa yang akan dia lakukan.


Sementara Semi terlihat hanya tersenyum melihat tingkah aneh laki-laki yang ada disebelahnya, dalam benaknya dia merasa senang sudah berhasil menggoda Haru, yang menyebabkan Haru bertingkah aneh dan sedikit canggung disebelahnya.


....


Disisi lain....


Di Rumah Mama Haru sudah terlihat sangat sibuk, semua pelayan terlihat bergegas menyiapkan beberapa hidangan di atas meja. Hemi terlihat masih duduk santai sembari terus menatap ipad pribadinya, untuk memantau pekerjaannya dari jauh.


Sementara itu, Hyuri juga terlihat sibuk membantu Mama Haru memilih baju di suatu ruang ganti yang masih satu ruangan dengan kamar utama. Sedangkan Hera menjadi pengawas untuk para pelayan yang sedang menata meja makan, agar mereka meletakkan hidangan sesuai dengan keinginannya.

__ADS_1


Saat Hera menjelajahi seluruh ruangan dengan kedua matanya, dia tidak menemukan orang yang sedang dia cari. Hingga membuatnya mencoba melangkah lebih jauh ke arah kolam renang, dan senyumnya seketika mengembang saat dia berhasil melihat orang yang dia cari.


Hera berjalan perlahan mendekati orang yang dia maksud. “Kamu ngapain disini sendirian?” sapa Hera.


Iya, orang yang Hera ajak bicara itu adalah Hyunjae. “Oh... ternyata kamu, aku pikir siapa. Ada apa? Perlu bantuan ku?” tanya Hyunjae sembari melirik ke arah dalam ruangan.


“Memang harus ya, setiap panggil atau mencari kamu... harus ada pekerjaan yang harus dikerjakan?” ujar Hera mengangkat kedua alisnya.


“Ya enggak juga, tapi biasanya begitu,” jawab Hyunjae.


“Heh, kamu santai aja disini. Karena ini juga termasuk keluarga kamu,” jelas Hera.


“Kamu benar juga, kalian adalah keluarga ku satu-satunya,” angguk Hyunjae.


“Tapi apa masih pantas disebut keluarga? Saat salah satu nya pernah perjanji untuk menjadi pengantinnya dimasa depan?” sambungnya pelan.


“Ho?!” sahut Hera sedikit terkejut.


“Enggak lupakan, gak penting juga. Sebaiknya kita masuk, Haru juga akan segera sampai.” Sembari melempar senyum tipisnya, Hyunjae berjalan masuk lebih dulu meninggalkan Hera.


“Iiiisshh... ternyata dia masih ingat janji itu, padahal waktu itu kan... cuman lelucon anak-anak,” gerutu Hera yang ternyata paham dengan apa yang Hyunjae maksud.


3 menit kemudian....


Hera yang baru muncul dari arah pintu halaman belakang, segera menghampiri Haru dan menyambutnya dengan senyuman. “akhirnya kamu datang juga,” ucap Hera.


“Tapi kamu gak pernah bilang kalau kamu membawa calon mantu keluarga ini,” goda Hera melemparkan smirk andalannya.


Sementara Haru hanya membalas godaan sang Kakak dengan senyuman kecil di bibirnya. Dia menatap ke arah Semi yang ada disebelahnya sambil memberi tanda kepadanya, kalau mereka berdua harus masuk ke dalam saat itu juga. Semi hanya mengangguk pelan, dan langsung menyetujui ajakan Haru saat itu.


Meskipun hubungan mereka masih dalam status berkencan, tapi Semi sudah diperlakukan seperti adik ipar sama Hera, sangat berbeda dengan Hemi yang masih memperlakukannya dengan kaku dan masih menganggapnya sebagai ancaman.


Sedangkan untuk Mama Haru juga memperlakukan Semi seperti Hyuri, dia hanya bersikap netral. Apapun yang membuat anak laki-lakinya bahagia, dia akan langsung melakukannya. Termasuk kalau suatu hari nanti, Haru meminta restu ingin serius menikahi Semi, dia pasti akan langsung merestuinya tanpa syarat apapun.


Sesampainya mereka di ruang tamu, Haru dan Semi sudah disambut oleh nyonya Eunji sebagai pemilik rumah sekaligus Mama dari Hera, Haru, Hemi. Dia sudah duduk di kursi roda yang dibantu Hyuri untuk mendorongnya. Haru dan Semi dengan cepat membungkukkan badan dengan sopan, begitu ada dihadapan sang Mama.


Haru lebih dulu berjalan mendekati sang Mama, dia berlutut untuk menyamakan tingginya dengan sang Mama yang sedang duduk di kursi roda. “Maaf Ma, aku terlambat. Karena harus menyelesaikan syuting,” ucap Haru.


“Heem,” angguk nyonya Eunji.


“Semi, gimana kabar kamu hari ini?” tanya nyonya Enuji memalingkan pandangannya ke arah Semi yang masih terlihat berdiri.

__ADS_1


Semi melangkah lebih mendekat ke nyonya Eunji, dan dia pun langsung menjawabnya, “Baik tante. Sepertinya keadaan tante juga mulai membaik.”


“Apa ini, kenapa kamu berbicara sangat sopan hari ini? Gak seperti waktu di Rumah Sakit,” sahut nyonya Eunji.


“Mungkin dia ingin dilihat sebagai mantu yang baik Ma,” celetuk Haru tiba-tiba.


Semi langsung memasang ekpresi terkejutnya begitu mendengar ucapan Haru, lengan kanannya juga dengan cepat menyenggol lengan Haru untuk membungkam mulut Haru, dia juga dengan cepat memasang senyum lebarnya untuk mengurangi rasa canggung nya.


“Sudah-sudah kita makan malam aja dulu,” ajak nyonya Eunji


Semua anggota keluarga dan orang terdekat yang datang dimalam itu, segera berjalan menuju ke meja makan yang memiliki ukuran yang cukup panjang. Pada bagian atas meja itu sangat terlihat jelas sudah ada berbagai macam buah-buahan, nasi, dan banyak lauk yang sudah dihidangkan dengan mewah.


Berbeda dengan tempat duduk yang sudah mereka atur sesuai dengan kemauan mereka sendiri, dibagian paling ujung tengah sudah ada nyonya Eunji yang duduk dengan tenang. Pada bagian kiri nyonya Eunji sudah ada Hyuri sahabat Haru yang memilih duduk lebih dulu.


Sementara disebelah Hyuri sudah ada Haru, dan tepat disebelahnya lagi sudah ada Semi yang sudah duduk dengan anggunnya.


Pada bagian kanan nyonya Eunji juga tidak kalah seru, dibaris kanan sudah ada Hemi yang duduk tepat disebelah Mamanya, disebelahnya lagi ada Hera, dan disebelahnya lagi sudah ada Hyunjae yang duduk dibagian paling ujung.


“Kak Haru!” panggil Hemi.


“Heem,” sahut Haru.


“Apa Kakak berencana untuk punya 2 istri?” goda Hemi yang terlihat menahan tawanya.


“Heeeiiss... Heh!” pekik Haru kesal, setelah melihat kanan dan kirinya.


“Hemi,” sahut nyonya Eunji menggeleng pelan ke arah Hemi.


“Sebaiknya kita makan sekarang sebelum makanannya menjadi dingin,” ujar nyonya Eunji yang mulai mengambil lauk lebih dulu, dan diikuti yang lainnya.


Selama makan mereka semua tidak banyak berbicara, karna itu memang sudah menjadi kebiasaan mereka dari kecil. Tangan mereka hanya sibuk mengambil makanan yang dihidangkan di meja makan, dengan sumpit yang sering mereka gunakan.


....


20 menit kemudian~


Haru terlihat sedang mengobrol dengan seorang wanita, mereka terlihat sangat dekat, hingga membuat Semi ragu untuk mendekatinya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung~


__ADS_2