Penyanyi Tanpa Telinga

Penyanyi Tanpa Telinga
=32= Beberapa Pasang Mata Bola


__ADS_3

“Jadi sebenarnya begini....”


Disaat itu juga Haru mulai menjelaskan semua kejadian yang dia alami, sejak kebakaran sekolah SMP nya, sampai kejadian kebakaran yang baru saja di alami sang Kakak dan mendiang Mamanya. Dia juga tidak lupa menunjukkan semua bukti-bukti tidak langsung yang sudah dia temukan setelah menyelidikinya sendiri.


Hyunjae juga ikut menjelaskan dan memperjelas apa yang sudah ditemukan Haru, dia juga mengatakan kalau dia sendiri yang menjadi saksi atas perbuatan sang Paman kepada Haru. Hyunjae juga tidak lupa menjelaskan tentang trauma yang sudah dialami Haru selama bertahun-tahun, akibat dari kebakaran kantin sekolah SMP nya.


“Jadi apa itu juga yang menyebabkan kamu memilih jalan menjadi artis?” tanya Hera setelah mendengar dari keseluruhan cerita.


“Kalau masalah profesi aku yang sekarang, sebenarnya bukan karena itu, tapi setelah dipikirkan lagi... ada baiknya kalau memang aku seorang artis yang gak terlalu memperlihatkan gila kekuasaan,” jawab Haru.


“Kenapa memangnya? Kekuasaan juga dapat melihat dan bisa memilih kemana dia akan jatuh. Jadi kalau orang itu mampu kenapa gak boleh memilikinya?” tegas Hera.


“Aku tau, dan yang Kakak pikirkan juga hampir sama kayak aku, tapi yang terjadi dikeluarga kita bukan cuman sekedar siapa yang mampu dan tidaknya seseorang, melainkan kita harus menghadapi keserakahan, ambisi dan kekejaman Kim Hebom dalam merebut yang namanya kekuasaan, jadi kita harus tetap berhati-hati dalam menghadapinya,” jelas Haru dengan tatapan tegasnya.


Saat itu juga perasaan Hera menjadi campur aduk, kini apa yang Hera pikirkan hampir menyamai apa yang sedang dipikirkan Haru. Dia terus menghela nafas beratnya setelah mengetahui beratnya kehidupan kedua Adiknya.


“Lalu rencana kalian selanjutnya bagaimana? Aku yakin kalian berdua sudah merencanakan langkah berikutnya kan?” tanya Hera.


“Untuk sementara ini, aku sudah menyuruh seseorang menyelidiki kejadian kebakaran rumah kamu yang di Bali, dan setelah kita dapatkan... kita kumpulkan semua bukti tak langsung, lalu menunjukkannya didepan semua pemegang saham, saat dia mulai bergerak ingin merebut posisi pimpinan,” sahut Hyunjae yang ikut menjelaskan rencana yang sudah ia susun bersama Haru.


“Tapi Haru, gimana kamu bisa yakin kalau Kim Hebom bakal merebut posisi ketua? Padahal kamu tahu sendiri, Papa masih bisa dan sangat mampu memimpin? Bukannya itu terlalu mencolok kalau Kim Hebom melakukan semua itu?” tukas Hera.


“Aku tahu, tapi menurutku lebih baik kita sedia payung sebelum hujan, dengan sifat yang dimiliki Kim Hebom, dia bisa melakukan apapun dan menghalalkan cara apapun untuk menurunkan Papa dari tahtah, lalu mengosongkan tahtah itu untuk dirinya sendiri,” tegas Haru yang terlihat sangat dewasa saat menegaskan rencanya.


“Kalau begitu, Kakak akan coba bantu dengan kemampuan Kakak,” ucap Hera menaikkan satu alisnya.


“Bantu apa Kak?” tanya Haru.


Saat itu juga Hera mulai menjelaskan kalau dirinya memiliki kemampuan khusus yang sudah dia sembunyikan cukup lama dari semua orang, yaitu kemampuan hacking. Tidak hanya itu, kemampuan yang dimiliki Hera ini bukan kemampuan hacking amatiran yang dimiliki semua hacker pemula, malainkan kemampuannya ini sudah sekelas hacker profesional.


Melalui laptop yang dia dipinjam dari sang Adik, Hera juga langsung menunjukkan secara langsung ke Haru dan Hyunjae, kalau dia bisa mengakses seluruh cctv yang ada digedung apartement nya dalam waktu 3 menit.


“Wah... sejak kapan kamu punya ke ahlian seperti ini?” kagum Hyunjae hingga membuat mulutnya mengagah.


“Itu dia? Sejak kapan Kak? Perasaan dulu Kakak gak punya keinginan jadi hacker?!” sahut Haru yang ikut terkagum-kagum.


“Kalian gak perlu tahu kapannya, tapi aku bisa kan ikut membantu kalian untuk mencari bukti?” tanya Hera.


“Sangat bisa. Kebetulan ada tempat yang gak bisa kita jangkau dan kita periksa, tapi dengan kemampuan Kakak, aku yakin semuanya akan jadi mudah,” jelas Haru.

__ADS_1


“Tempat apa? Dan dimana letaknya?” sahut Hera.


“Komputer Kim Hebom dan sistem 'I entertainment',” jawab Haru sambil menaikkan satu alisnya.


Perbincangan mereka terus berjalan hingga lupa waktu dan sampai langit sudah mulai meredupkan sinarnya. Setelah langit mulai gelap, Hyunjae lebih dahulu pamit untuk pulang ke rumahnya, sementara Haru dan Hera memulai acara makan malam mereka berdua sebelum memutuskan untuk istirahat.


Keesokan Harinya~


Hari ini Haru akan melakukan kegiatannya seperti biasa, setelah bangun tidur dia langsung mandi dan sudah keluar dari apartement pukul 7 pagi, sementara sang Kakak Hera terlihat masih tertidur dengan pulas. Pada pagi yang sangat cerah ini, Haru sengaja menyempatkan diri untuk pergi ke Rumah Sakit terlebih dahulu untuk menjenguk sahabatnya.


Haru tidak lupa mampir ke sebuah minimarket untuk membeli beberapa makanan dan minuman kesukaan sang sahabat. Dipilihlah sekotak donat, satu bungkus yogurt, dan satu botol susu pisang, dimasukkan ke dalam tas kertas yang berukuran sedang setelah dibayarnya.


Haru langsung berjalan keluar dari minimarket menuju ke mobil biru nya usai membeli oleh-oleh untuk sang sahabat. Dia dengan cepat menancap gas mobil mewah nya itu menuju ke salah satu Rumah Sakit yang ada ditengah kota Seoul.


Rumah Sakit Hwang~


Haru turun dari mobilnya dan langsung berjalan masuk menuju lobi terlebih dahulu untuk menanyakan kamar inap Hyuri sang sahabat. Setelah mendapatkan info kamarnya, dia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar Hyuri.


Haru berjalan melalui lorong yang penuh dengan pasien, dan dia juga harus menaiki lift untuk sampai di lantai 5 tempat Hyuri dirawat. Ketika sudah sampai di lantai 5, Haru masih harus berjalan kembali untuk mencari kamar 507.


Perlahan namun pasti akhirnya dia menemukan juga kamar dimana Hyuri dirawat, sebelum masuk kedalam kamarnya, Haru kembali mengecek papan nama yang ada di luar kamar, dan disanalah tertulis nama Jung Hyuri, itu artinya dia tidak akan salah ruangan.


Haru membuka pintu kamar tersebut tanpa mengetuknya, dia tak menyadari kalau ada orang lain didalam ruangan itu selain Hyuri sang sahabat. Begitu pintu itu mulai terbuka, dua pasang mata langsung menyorot ke arah kedatangannya.


Ya, siapa lagi kalau bukan Semi, ternyata dia lebih dulu punya rencana untuk menjenguk Hyuri tanpa sepengetahuan Haru. Semi memang berniat melakukannya secara diam-diam tanpa memberitahu Haru sang kekasih, tapi langit tidak membantu rencananya dan malah mempertemukannya dengan Haru secara langsung.


Agar mengurangi rasa canggung diantara ketiganya, Haru segera masuk dan menutup pintu kamarnya. Lalu melangkah mendekati ranjang Hyuri, tanpa memperlihatkan perasaan terkejutnya dengan kehadiran Semi sang kekasih.


“Apa ini, kenapa kalian datangnya sendiri-sendiri?” celetuk Hyuri menyipitkan kedua matanya sembari menatap keduanya.


Haru berdehem ria sebelum menjawab candaan yang dilemparkan Hyuri. “Karna ada sesuatu yang ingin aku omongin sama kamu,” sahut Haru.


“Apa?!” Dengan nada antusiasnya, Hyuri mengangkat kedua alisnya saat menatap Haru.


“Itu... eemm... nanti saja aku kasih tahunya,” balas Haru dengan sedikit gagap sembari beberapa kali melirik ke arah Semi yang ada dihadapaannya.


Semi menghela kesal setelah mendengar jawaban dari Haru. “Yaudah kalau gitu Hyuri, karna aku sudah terlalu lama juga disini, jadi aku permisi dulu,” ucap Semi sembari menundukkan kepalanya sebelum pergi.


“Eh...?! Yaudah hati-hati!” balas Hyuri ke arah Semi yang sudah melangkah pergi.

__ADS_1


“Dia pasti salah paham lagi,” gumam Haru pelan.


“Kamu bilang apa tadi?” sahut Hyuri.


“Enggak, gak ada. Oh iya, ini aku bawakan makanan kesukaan kamu.” Haru menyodorkan sebuah tas kertas ke arah Hyuri yang masih duduk diatas ranjang pasiennya.


“Wah... mewah banget, sekarang katakan kenapa kamu kesini? Aku yakin ini bukan cuman sekedar hadiah, tapi juga sebuah sogokan,” tukas Hyuri mengangkat satu alisnya.


“Jadi gini....” Haru menyeret kursi yang ada disebelah ranjang pasien dan mulai mendudukinya sembari menjelaskan keinginannya kepada Hyuri.


“Heh! Kamu gila apa? Gimana aku bisa melakukan itu? Kamu baru masuk ke agensi aja sudah pasti langsung di kenali banyak orang, jangankan paman kamu... setiap petugas kebersihan saja sudah jelas kenal sama kamu,” pekik Hyuri yang sangat menentang rencana Haru.


“Ya terus gimana dong? Aku cuman perlu memasukkan alat-alat ini di ruangan Kim Hebom,” sahut Haru sembari menunjukkan beberapa gambar yang ada di hp nya.


Hyuri menghelah nafas dan merasa sedikit frustasi dengan pemikiran sahabatnya itu, dia sendiri juga terlihat berfikir dengan keras apa yang bisa dia lakukan untuk membantu sang sahabat. “Begini aja, aku akan pikirkan sendiri caranya, tapi tolong kasih waktu aku sampai aku keluar dari Rumah Sakit dan kembali bekerja,” ujar Hyuri.


“Oke, kalau begitu kabari aku kalau kamu sudah pulang dari Rumah Sakit,” balas Haru melempar senyum lebarnya.


“Iya, bahkan tanpa aku kabari pun kamu pasti bakal tahu dari media,” angguk Hyuri.


“Yaudah kalau begitu aku permisi dulu, karna masih ada jadwal syuting.” Sebelum pergi, Haru tidak lupa menundukkan kepalanya sedikit untuk berpamitan.


Setelah berpamitan, Haru kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruangan, dia kembali berjalan melewati jalan yang sama untuk keluar dari Rumah Sakit, tapi kali ini lorong terlihat tampak lebih lengang dari sebelumnya, hingga tak berasa kalau langkah kakinya sudah sampai dipintu keluar Rumah Sakit.


Supaya tidak menunda waktu syuting terlalu lama, Haru segera memacu mobil mewahnya menuju lokasi syuting. Meskipun tampak agak merepotkan, akhir-akhir ini Haru lebih suka mengendarai mobil sendiri dari pada naik mobil van Hyujae. Selain lebih menjaga privasi, Haru merasa jadi lebih bebas kemanapun dia mau tanpa merepotkan Hyunjae yang jelas sudah sangat sibuk.


Lokasi syuting~


Setelah melewati jalanan yang cukup padat di siang itu, akhirnya Haru tiba juga di lokasi syutingnya. Baru juga menginjakkan kakinya di lokasi syuting, dirinya sudah melihat pemandangan yang sedikit membuatnya terkejut.


Sepasang mata bola Haru, langsung merekam kehadiran seorang laki-laki yang sedang mengobrol dengan Semi. Bukan hanya sekedar mengobrol, laki-laki yang dia lihat juga sesekali membuat Semi tertawa lebar beberapa kali.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Besambung~


__ADS_2