Penyanyi Tanpa Telinga

Penyanyi Tanpa Telinga
=24= Mimpi


__ADS_3

“Wahh... bagaimana dia tidur sepulas ini? Padahal disebelahnya ada orang tercantik di Korea?” gumam Semi sembari menatap setiap jengkal wajah laki-laki yang ada dihadapannya.


“Kalau aku gak tidur, apa kamu akan menyeretku pindah ke tempat tidur sekarang juga,” celetuk Haru yang tiba-tiba membuka kedua matanya perlahan.


“Kamu mendengar semuanya?” tanya Semi seketika terbelalak.


“Ho, apa perlu kita lakukan disini saja? Sepertinya disini lebih mendukung.” Satu tangan Haru yang berotot dengan kuat menarik pinggang Semi untuk menghilangkan sedikit jarak diantara mereka berdua.


Semi tertegun sembari berkali-kali menelan ludah, melalui kedua matanya yang berhenti berkedip, menandakan dia sangat terkejut sekaligus merasa berdebar, seluruh wajah dan telinganya juga sudah berubah menjadi merah seperti kepiting rebus, saat menatap Haru yang sudah memasang wajah nakalnya.


Sementara dalam hati Haru, perbuatannya itu memang dia sengaja untuk sedikit menggoda Semi yang terlihat sudah mulai terpengaruh. Beberapa detik kemudian, ekpresi Haru langsung berubah, dia tersenyum lebar dan kembali melepaskan tangannya dari pinggang Semi.


“Sudahlah kamu cepat tidur, malam ini aku gak akan ngapa-ngapain. Aku akan pindah ke tempat tidur sendiri, karena sofa ini terlalu kecil untuk kita berdua,” ucapnya bangkit dari tidurnya dan turun dari sofa.


Setelah Haru merebahkan badannya diatas tempat tidur, Semi terlihat baru saja bangun dari lamunannya. “Ah... ternyata dia cuman mau menggoda ku. Padahal wajah ku sudah seperti akan meledak,” batinnya dalam hati.


Malam yang dingin itu mereka lalui dengan tenang, meskipun tidur di kamar yang sama, mereka berdua hanya melakukan aktifitas tidur dengan tenang secara terpisah.


Keeseokan Harinya~


Karena kondisi sang Mama sudah membaik dan akan segera dipulangkan ke rumah, Haru dan Semi kembali bekerja, syuting yang sudah tertunda selama beberapa hari kembali mereka jalani. Keduanya berangkat dengan kendaraan yang sama, yaitu masih dengan menggunakan kendaraan Hera.


Keduanya terlihat sedang serius menjalani syuting pada hari itu, semua adegan yang belum mereka rekam karena tertundanya syuting, harus mereka rekam saat itu juga, karena batas waktu mereka di Bali hanya tinggal 3 hari lagi.


Syuting berjalan cukup cepat, pengambilan gambar yang harusnya membutuhkan waktu 2 hari, mereka selesaikan dalam waktu satu hari penuh dan hanya mengambil waktu istirahat 1 jam. Karena badan mereka terlalu lelah hari itu, mereka berdua memutuskan untuk langsung ke kamar mereka dan menghabiskan sisa waktu mereka untuk istirahat.


Malam kembali menghampiri mereka, Haru terlihat baru saja keluar dari kamar mandi dengan meletakkan sehelai handuk kering diatas rambutnya yang masih basah. Dia berjalan ke tempat tidurnya dan duduk di atasnya.


Haru langsung menatap ke arah layar hp nya yang mendadak menyalah karena ada notifikasi baru yang masuk ke hp nya. Setelah dia membukanya, ternyata pesan singkat itu berasal dari Semi, yang mengebom hp nya dengan pesan berentet.


“Haruuu.”


“Aku kangen.”


“Heh! Kim Haru! Kenapa kamu gak membalas pesan ku?!”


“Kamu gak kangen sama aku?”


“Kenapa kamu gak balas... balas pesan ku.”

__ADS_1


“Apa kamu sudah tidur?!”


“Hey!!!!”


Iya begitulah bunyi pesan berentet yang sedang dibaca Haru di layar hp nya. Senyuman kecil seketika terukir diujung bibir Haru, dalam benaknya kelakuan sang kekasih ini sangatlah lucu baginya, padahal baru 30 menit mereka berpisah, tapi dia sudah mengirimi banyak pesan ke hp nya.


“Lucu,” gumam Haru tersenyum tipis.


Kedua tangan Haru dengan cepat mengetikkan pesan balasan untuk Semi, dalam pesan singkatnya itu dia mengatakan, “Heem... aku juga kangen sama kamu. Cepat tidur, ini sudah malam... good night.”


Beberapa menit yang lalu....


Dikamarnya Semi terlihat sedang merebahkan badannya di atas kasur, dengan menghadap ke arah kanan sembari terus memelototi hp nya yang dia letakkan diatas kasur. “Apa ini... padahal sudah terkirim semua, tapi kenapa belum ada balasan juga,” gerutu Semi.


Semi bangkit dari tempat tidurnya dan merubah posisinya menjadi duduk, sembari tetap memasang tatapan waspada ke arah hp nya. “Apa hp aku yang rusak? Atau dia sedang mandi? Apa aku langsung ke kamarnya aja kali ya,” gumam Semi terus menerus.


“Enggak-enggak, nanti dikira aku cewek apaan lagi. Tenang Semi, tenang....” Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Semi terus bergumam sendiri didalam kamarnya yang sunyi.


“Pling!!” Suara notifikasi tiba-tiba terdengar keluar dari hp Semi, dia yang terlihat sangat antusias segera meraih hp miliknya begitu layar hp nya menyalah.


Dalam layarnya sudah tertulis dengan jelas siapa yang mengirim pesan singkat itu. Iya, siapa lagi kalau bukan Haru, tangannya dengan buru-buru membuka pesan dari sang kekasih itu, tapi ekspresinya tiba-tiba berubah setelah membaca jawaban dari Haru.


“Heem... aku juga kangen sama kamu. Cepat tidur, ini sudah malam... good night.” Begitulah jawaban singkat yang ditulis Haru.


40 menit setelah membaca balasan dari Haru, Semi masih belum bisa masuk kedalam alam mimpi, dengan kedua mata yang masih terbuka lebar, dia masih terus berguling-guling diatas tempat tidur, dia benar-benar terjaga pada malam itu.


Sementara Haru yang sudah tertidur pulas, tiba-tiba bergerak kekanan dan kekiri, dia tiba-tiba bermimpi sedang berjalan di ruangan yang sangat gelap dan sunyi, dalam mimpinya dia terus-menerus mencoba memanggil orang yang dia kenal, tapi tetap tidak ada satu orang pun yang menyambutnya.


Tiba-tiba suara ledakan muncul dari sudut yang tak menentu, suara ledakan itu seketika membuat satu telinga Haru berdenging cukup keras, hingga membuatnya merasa kesakitan. Ketika dia sibuk memegangi telinganya, lorong yang gelap nan kosong itu mendadak terbakar dengan cepat.


Haru terlihat semakin ketakutan, hingga membuatnya ingin lari dengan segala cara, tapi semua yang dia lakukan itu sia-sia. Api dari segala sisi dengan cepat mengepungnya, seketika dia merasakan sesak dalam dadanya, dia semakin kesulitan bernafas, hingga membuatnya terbangun dari tidurnya.


Perasaan takut, sesak nafas, dan telinga berdenging masih Haru rasakan, meskipun sudah baranjak dari tempat tidurnya. Begitu turun dari tempat tidur, sekuat tenaga dia mencoba mencari obat di koper miliknya, dengan menggunakan satu tangannya, tapi obat itu tak berhasil dia temukan, alhasil dia harus mencari cara lain.


Dengan kekuatan yang tersisa dalam diri Haru, dia mencoba meraih hp nya dan mencoba memanggil Hyunjae, untung saja saat itu Hyunjae langsung menerima panggilan Haru. Belum sempat melontarkan pertanyaan lebih dulu, Hyunjae sudah dikejutkan dengan suara Haru yang kurang jelas.


“O... bat... hah... hah... obat... aku...hah...dimana?” sahut Haru dengan suara terbatah-batah dan nafas yang sudah tersenggal-senggal.


Saat itu juga Hyunjae mulai terlihat sangat panik, dia yang baru saja menginjakkan kakinya di ujung lorong lantai kamar Haru berada, segera berlari menuju kamar Haru dengan perasaan takut.

__ADS_1


Begitu sampai didepan kamar Haru, Hyunjae langsung membuka pintu kamar Haru dengan kunci cadangan yang sudah dia bawa, dan saat pintu itu sudah terbuka dengan sempurna, disaat itulah dia menemukan Haru sudah terlentang dan tak sadarkan diri.


Hyunjae menghampiri Haru dan mencoba membangunkannya dengan sekuat tenaga. “Haru... Haru bangun Haru!” pekik Hyunjae sembari terus menggoyang-goyangkan badan Haru.


Tak berhasil membangunkan Haru, Hyunjae mencoba melakukan CPR dan memberinya nafas buatan. “Hey... Haru! Bangun! Aku mohon Haru, aku mohon kamu harus bangun,” rancaunya diiringi kedua tangannya yang terus bergerak menekan dada Haru.


Suara Hyunjae yang terus-menerus memanggil Haru, pada akhirnya terdengar hingga ke kamar Semi yang bersebelahan langsung dengan kamar Haru. Semi yang kebetulan belum tidur dengan pulas, langsung kembali membuka matanya, dan berjalan membuka pintu kamarnya.


Semi perlahan berjalan ke kamar Haru yang kebetulan pintunya masih sedikit terbuka, dengan satu dorongan dia sudah berhasil membuka pintu yang ada dihadapannya itu. Seperti tersambar petir, dia merasa sangat terkejut saat mengetahui Haru sudah terlentang dan tak sadarkan diri.


“Haru!” pekik Semi yang langsung berlari mendekati Hyunjae yang masih memberikan CPR untuk Haru.


“Kak dia kenapa? Kenapa dia bisa begini?” tanya Semi yang mulai meneteskan air matanya.


“Aku juga gak tau, tapi sepertinya mimpi buruknya kembali,” kata Hyunjae.


“Semi coba kasih dia nafas buatan lagi,” pinta Hyunjae.


Tanpa menjawab Hyunjae, Semi dengan cepat memberi Haru nafas buatan, sementara Hyunjae masih terus memberi CPR. Beberapa detik kemudian Haru membuka kedua matanya dengan tersentak diiringi nafas panjangnya.


Setelah terbangun dari tidur panjangnya, Haru masih mencoba menstabilkan nafasnya secara perlahan. Sementara Hyunjae hanya bisa bernafas lega, meskipun dia sangat terlihat kelelahan. Disisi lain Semi terlihat langsung menangis sembari tertunduk lemas.


Semi menangis sejadi-jadinya, dalam batinnya dia merasa lega, karena Haru berhasil kembali membuka kedua matanya, disisi lain dia juga merasa takut kalau Haru pergi meninggalkannya. Haru yang baru terbangun bangkit dari tempatnya, dia langsung menatap dua orang yang ada dihadapannya sembari masih mengatur nafasnya.


“Makasih banyak Kak,” celetuk Haru menatap Hyunjae dengan layu.


“Heh...! Sudah ku bilang berapa kali! Sebelum tidur, sediakan obat kamu lebih dulu di meja, biar seperti ini gak terjadi lagi!” pekik Hyunjae yang terlihat sangat marah.


Haru yang sedang tidak memakai alat bantu dengar, hanya melemparkan senyum tipisnya setelah melihat gerakan bibir Hyunjae. Dia merangkak ke meja tempat tidurnya untuk mengambil alat bantu dengar miliknya, lalu segera memasangnya di kedua telinganya.


“Haaaiiisshh... anak ini benar-benar, ternyata dari tadi dia gak menggunakan alat bantu dengar. Percuma aku mengomel tadi,” gerutu Hyunjae yang masih didengar orang terdekatnya.


Haru hanya menatap Hyunjae dan kembali melemparkan senyum tipisnya. “Yaudah kalau begitu aku kembali ke kamar dulu,” ucap Hyunjae sembari berdiri dari duduknya, dan berjalan keluar dari kamar Haru.


Seperginya Hyunjae dari ruangan, Haru kembali mengalihkan tatapannya ke Semi yang masih terus mengucurkan air matanya. Dia dengan cepat merangkak mendekati Semi dan langsung....


.


.

__ADS_1


.


Bersambung~


__ADS_2