
Sesampainya di Rumah Sakit, Haru langsung lari menuju UGD. Disuatu ruangan khusus yang terdapat di UGD, dia sudah melihat Kakak dan Adiknya menangis sejadi-jadinya didepan ranjang seseorang yang seluruh badannya sudah ditutupi kain putih.
Setetes demi setetes air mata Haru kembali mengucur membasahi kedua pipinya, langkah pelannya menuntunnya semakin mendekati keluarganya. “Haru?!” seru Hera menatap Haru yang sudah berlinang air mata.
Hera melangkah mundur, dan memberi jalan Haru untuk semakin mendekat, dengan hati yang masih bergetar dengan hebat, Haru perlahan membuka kain putih yang menutupi orang yang ada dihadapannya. Saat setengah kain itu sudah terbuka, air matanya semakin membanjiri kedua pipinya.
“Ma... bangun, kenapa Mama tidur disini? Bangun Ma. Haru bisa carikan rumah lain buat Mama,” ucap Haru lirih sembari menggoyangkan badan Mamanya yang sudah terbujur kaku.
Mendengar ucapan Haru yang merasa sangat putus asah, membuat Hera dan Hemi semakin mengucurkan air matanya. Tiga bersaudara itu merasakan hal yang sama, sakit, sedih, sekaligus marah karena tidak mampu melindungi orang yang mereka sayangi.
“Ma, kita baru ketemu, kita juga baru makan malam sekali, Haru juga baru main ke rumah Mama sekali, kenapa Mama sudah mau pergi ninggalin Haru lagi?” rancau Haru didepan Mamanya yang sudah tak dapat lagi menjawabnya.
“Maaaa!! Jawaaaabbb... kenapa Mama diam aja.” Tangisan dan rancauan Haru terus saja memenuhi ruangan yang tak terlalu tertutup itu.
Perasaan sedih yang sangat amat mendalam saat itu, membuat Haru tertunduk lemas hingga membuatnya duduk bersimpu disebelah ranjang sang Mama, sembari terus menangis tanpa suara. Semi yang mengetahui Haru dalam kondisi hancur, saat itu juga dia langsung menghampirinya dan memeluknya.
Dalam pelukan Semi yang sangat erat, Haru semakin meluapkan semua perasaan sedihnya. Aneh dan ajaib, perasaan hancur Haru yang dia luapkan saat itu langsung saja menyambar ke hati Semi, sampai membuat Semi ikut menangis menemani Haru.
Ketika mereka sudah tenggelam dalam kesedihan yang amat mendalam, ternyata Hyunjae sudah sampai dan sudah cukup lama melihat malaikat penolongnya telah pergi untuk selama-lamanya. Hyunjae juga terlihat sangat kehilangan, kedua pipinya yang sudah sangat basah membuktikan bagaimana perasaannya saat itu.
Saat orang terdekat dan ketiga anak dari mendiang nyonya Eunji sedang berduka, di bagian lain UGD ada Hyuri yang masih belum sadarkan diri, setelah diberi pengobatan untuk luka-lukanya. Dia juga mendapatkan beberapa luka bakar dibagian tubuhnya, karna saat itu dia juga bermalam di rumah mendiang nyonya Eunji.
Suasana duka itu terus berlanjut, tetesan air mata juga masih terlihat membanjiri kedua mata Hera, Haru, dan Hemi, hingga salah satu dari mereka mulai membuka mulut untuk memecahkan suasana.
“Kaka minta maaf mempertanyakan ini dalam kondisi saat ini, tapi kita juga harus segera memutuskan ini dengan segera,” ujar Hera.
“Dimana kita harus meletakkan abu jenazah Mama? Apa kita akan letakkan di sini, atau kita perlu membawanya ke kota kelahirannya Seoul?” sambung Hera.
“Menurut aku, sebaiknya kita bawa Mama pulang ke kota kelahirannya,” jawab Haru lirih.
“Aku tahu Kak, pendapatku ini terdengar sangat egois, tapi tolong izinkan aku, sama Hemi yang dari kecil tidak mendapatkan kasih sayang Mama secara penuh, bisa mengunjunginya setiap saat,” sambung Haru.
“Aku juga setuju sama Kak Haru, aku juga ingin selalu bisa mengunjungi Mama,” sahut Hemi.
Hera mengangguk pelan, tanda dirinya mulai menyetujui perkataan kedua Adiknya itu. “Baiklah kalau itu mau kalian, Kaka hanya mengikuti keputusan kalian,” jawab Hera.
“Aku akan meminta Papa untuk mengosongkan 1 pesawatnya untuk mengantar kita ke Seoul,” Sahut Haru yang mulai terlihat sedikit lebih tenang.
__ADS_1
Setelah semua proses kremasi sudah selesai dilakukan, dan 1 pesawat KI Airlines sudah berhasil disewa, mereka pun segera berangkat menuju ke Seoul, termasuk Jisu sang manager Semi dan juga Hyuri yang sudah mampu berjalan, meskipun dia harus kembali melakukan perawatan setibanya di Seoul.
Siang Hari Seoul~
Setibanya mereka di Seoul, mereka semua pulang terlebih dahulu untuk mengganti pakaian, dan barulah setelahnya mereka langsung menuju ke sebuah Rumah Sakit, untuk menyewa kamar duka.
Meskipun sang Mama sudah lama tidak tinggal di Seoul, tapi Haru sangat tahu kalau teman dan kerabat mendiang masih banyak yang tinggal di Seoul, itu sebabnya Haru sengaja menyewa sebuah kamar duka yang biasa digunakan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang, sebagai salam perpisahan.
Selain itu, Haru juga dengan sengaja mengumumkan berita kematian sang Mama melalui sosial medianya, supaya orang-orang yang mengenal sang Mama dengan baik bisa menyempatkan waktunya untuk memberikan penghormatan terakhir.
Satu jam kemudian, satu-persatu orang-orang yang mengenal keluarganya, dan orang-orang yang mengenal baik sang Mama mulai berdatangan. Tiga bersaudara itu terus menerus membalas hormat para pelayat dengan sopan, meskipun badan mulai terasa sedikit lelah dan hati yang masih sangat hancur.
5 Jam Kemudian...
Pelayat mulai sedikit berkurang, Haru dan Hemi yang terlihat sangat lelah mengganti posisinya menjadi duduk, mereka berdua menyandarkan punggung lelahnya disebuah tembok pembatas untuk mengurangi rasa lelahnya.
Sementara Hera terlihat tidak berada disatu ruangan bersama adik-adiknya setelah pelayat mulai berkurang. Dia sengaja memisahkan diri dari dua adiknya, karna dirinya tidak ingin adiknya tau, kalau dia sedang meluapkan rasa sedihnya melalui air matanya yang sudah membasahi kedua pipinya.
Ketika luapan perasaan sedihnya semakin tidak terkontrol, datanglah Hyunjae yang tiba-tiba menghampirinya. “Ini, minum dulu. Meluapkan isi hati juga butuh tenaga, kamu belum makan dari tadi, jadi paling tidak minum ini dulu,” ucap Hyunjae sambil menyodorkan sekotak susu coklat ke Hera.
“Susu coklat? Emang kamu pikir aku anak usia 8 th?!” sahut Hera.
“Latte,” balas Hera.
“Ho?!” sahut Hyunjae bingung.
“Minuman kesukaan ku yang sekarang, latte,” ujar Hera pelan.
“Aaa... oke lain kali aku akan mentraktir kamu latte, tapi untuk sekarang minum itu dulu,” angguk Hyunjae.
Entah karena susu coklat yang diberikan Hyunjae atau dengan kehadiran Hyunjae sendiri, Hera mulai terlihat lebih baik. Tanpa disadarinya, dia mulai melemparkan senyum tipisnya ke arah Hyunjae yang masih duduk disebelahnya.
Ketika mereka berdua sedang mengobrol santai, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak yang datang menghampiri mereka berdua. “Hera?! Hera ini beneran kamu nak?” ucap bapak-bapak itu yang ternyata adalah Kim Hejun, Papa dari Hera, Haru, dan Hemi.
Hyunjae yang terkejut dengan kehadiran Pak Kim, dengan cepat kembali berdiri dan langsung memberi hormat dengan menundukkan kepalanya sedikit. “Pak Pimpinan.”
Pandangan Hera juga dengan cepat berpaling ke arah sumber suara yang memanggil namanya itu, tak di sangkah dia adalah orang yang lama tak ditemuinya.
__ADS_1
“Papa?!” Dengan tatapan kaget sekaligus terkejut, Hera langsung bangkit dari duduknya dan mentap orang yang dia panggil Papa itu dengan kedipan pelan. Sedih, bahagia, marah, dan rindu bercampur menjadi satu dalam hati Hera yang hanya menatap sang Papa dengan diam seribu bahasa.
Sementara Hyunjae yang merasa gak enak hati segera pergi meninggalkan anak dan ayah itu. “Hey, aku balik kedalam dulu,” ucap Hyunjae sebelum berjalan pergi.
“Heem,” angguk Hera pelan.
Kepergian Hyunjae diantara ayah dan anak itu, semakin membuat suasana keduanya menjadi semakin canggung dan terlihat dingin. Hera sendiri juga semakin bingung harus memberikan reaksi bagaimana, dalam kepalanya terus bergemuru banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan, tapi perasaan yang bercampur dalam hatinya terus menahan pertanyaan itu keluar dari mulutnya.
“Papa turun berduka cita, atas kepergian Mama kamu. Gimanapun juga kita pernah hidup bersama, jadi Papa ingin melakukan penghormatan terakhir, setelah tau kalau akan disemayamkan di negara ini,” ucap sang Papa memecahkan keheningan yang cukup panjang.
“Terimakasih Pa, sudah menyempatkan mengunjungi Mama untuk terakhir kalinya. Haru dan Hemi ada didalam, biar Hera antarkan Papa ke kamar duka.” Hera yang masih terlihat canggung segera berjalan lebih dulu masuk kedalam rumah duka.
Sesampainya didalam kamar duka....
Haru yang duduk dan bersandar di tembok tiba-tiba dikejutkan kedatangan Papanya yang sudah menginjakkan kakinya didalam kamar duka. “Hemi! Ada Papa,” kata Haru menyenggol pelan lengan Hemi.
Haru dan Hemi langsung berdiri dari duduknya, mereka berdua memberikan tatapan sayu ke arah Papa mereka. Setelah memberikan penghormatan terakhir, sang Papa berjalan ke arah mereka berdua dan mendekati Haru lebih dulu yang sedang berdiri ditengah dua saudarinya.
“Papa turut berduka atas kepergian Mama kalian,” ucap sang Papa sembari menghelah nafas berat dengan menundukkan kepalanya.
“Papa tau sebenarnya kurang pantas mengucapkan ini sama kalian, tapi gimanapun juga kalian adalah anak-anak Papa dan dia, dia adalah wanita yang pernah Papa cintai dan kita juga pernah hidup bersama, jadi Papa juga merasa kehilangannya... meskipun rasa kehilangan itu gak sebesar yang kalian rasakan,” sambung sang Papa.
“Kami tau Pa, Hera mewakili mereka berdua mengucapkan terimakasih sudah menyempatkan datang,” jawab Hera tiba-tiba membuka mulutnya yang sudah terkunci cukup lama.
“Yasudah kalau begitu Papa permisi dulu, besok di hari pemakamannya... Papa akan menyempatkan untuk datang, Haru kirim pesan ke Papa untuk jam pemakamannya,” kata sang Papa yang langsung mengalihkan tatapannya ke Haru.
“Baik Pa,” angguk Haru pelan.
Setelah mendengar jawaban Haru, sang Papa melangkah pergi ke luar dari rungan, dan beberapa menit kemudian seseorang laki-laki lain berjalan memasuki kamar duka, kedatangannya yang secara tiba-tiba itu sangat membuat Haru terkejut, hingga tak dapat mengedipkan kedua matanya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung~