
Setelah mendengar jawaban Haru, sang Papa melangkah pergi ke luar dari rungan, dan beberapa menit kemudian seseorang laki-laki lain berjalan memasuki kamar duka, kedatangannya yang secara tiba-tiba itu sangat membuat Haru terkejut, hingga tak dapat mengedipkan kedua matanya.
Selesai melakukan penghormatan terakhir, laki-laki itu berjalan mendekati mereka bertiga. “Haru, Hemi, dan... Hera, Paman turut berduka atas kepergian Mama kalian,” ucap orang itu yang ternyata adalah Paman mereka.
Dengan masih mempertahankan ekpresi datarnya, Haru membalas ucapan sang Paman dengan menundukan kepalanya sedikit. “Terimakasih atas kehadiran Paman,” balas Haru singkat.
“Kalian jangan terlalu bersedih, karna gak baik buat kesehatan kalian. Lagian Paman yakin Mama kalian diatas sana sudah bahagia, karna sudah pernah berkumpul sama ketiga anaknya,” ujar sang Paman.
Kata-kata yang dilontarkan sang Paman itu sontak saja membuat Haru melemparkan tatapan tajamnya secara mendadak. Selain itu, Haru juga melihat ada gelagat mencurigakan dari setiap detail ekpresi yang dilontarkan sang Paman, dari senyum sang Paman yang cukup canggung hingga satu alis Pamannya yang tiba-tiba terangkat, seolah ingin melontarkan peringatan secara tersirat kepada Haru.
Saat itu juga Haru mulai memikirkan banyak pertanyaan tanpa jawaban yang terus berputar di kepalanya. Dia juga terlihat sangat menahan amarahnya dan tidak bertindak gegabah di hari duka keluarganya.
“Terimakasih atas saran Paman. Kita akan berusaha tidak terlalu sedih, karna gimanapun juga ini adalah sebuah kecelakaan,” jawab Haru yang terus berusaha melemparkan senyum palsunya.
“Heem, kalau bagitu Paman permisi dulu, karna masih ada pekerjaan.” Sang Paman menundukkan kepalanya sedikit, lalu berjalan keluar dari rungan.
“Kak, itu perbuatan dia kan?!” celetuk Hemi dengan tatapan kesal.
“Entahlah, tapi sepertinya begitu,” balas Haru.
“Hemi, Kak Hera, aku mau ke Kak Hyunjae dulu.” Diiringi ekspresi datarnya, Haru melangkah pergi meninggalkan kedua saudarinya.
Begitu melihat Hyunjae yang ada di luar ruangan, Haru segera memberi kode ke Hyunjae yang saat itu menyadari kedatangannya. Sementara Hyunjae yang mampu memahami kode itu dengan cepat langsung mengikuti langka Haru.
Halaman belakang rumah duka~
“Ada apa?! Kenapa wajah kamu tiba-tiba terlihat kesal?” tanya Hyunjae lebih dulu.
“Kim Hebom, dia berani datang tadi,” jawab Haru.
Hyunjae langsung mengerutkan dahinya saat mendengar jawaban dari Haru. “Apa?! Lalu dia bilang sesuatu yang bikin kamu kesal?” sahut Hyunjae.
“Bukan hanya itu, aku juga curiga kebakaran ini adalah perbuatan dia. Karena dari gelagat licik yang diperlihatkan secara tersirat, aku yakin ini adalah sebuah peringatan buat aku yang mulai bertindak,” balas Haru terlihat sangat kesal hingga membuatnya mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
“Kamu tenang aja, aku sudah mengutus orang untuk menyelidiki semuanya. Aku juga merasa kebakaran yang terjadi secara mendadak ini sangat ganjil, ditambah lagi dengan rusaknya beberapa cctv di wilayah itu,” ujar Hyunjae.
__ADS_1
“Baguslah kalau begitu, karena tindakan Kim Hebom benar-benar gak bisa dianggap remeh,” sahut Haru yang masih terlihat kesal dan sangat marah.
Setelah berbincang dengan Hyunjae, Haru kembali ke ruangan penghormatan terakhir sang Mama, tapi ketika baru sampai ambang pintu ruangan, dia menghentikan langkahnya dan melihat dari jauh bagaimana kesedihan Adik dan Kakaknya yang terlihat sangat jelas saat itu.
Dalam hatinya, Haru merasa semakin sedih, ditambah lagi dia tidak bisa melakukan apapun untuk menghibur kedua saudarinya. Rasa bersalah yang sebelumnya sudah pudar kini perlahan kembali, sampai membuat hatinya menjadi sesak, ketika ia melihat air mata Adik dan Kakaknya yang terus menetes.
Pada akhirnya, Haru kembali beranjak pergi dari ruangan itu, dan ia berfikiran ingin menenangkan fikirannya sejenak ditempat yang akan dia tuju. Semi yang menyadari kepergian Haru dengan wajah tertekuk bagai kertas kusut, langsung mengetahui kalau hati sang kekasih sedang tidak baik-baik saja.
....
Haru terlihat sedang duduk sendirian disebuah ayunan taman bermain yang ada di halaman belakang rumah duka, sambil melamun dia terus berusaha menggerakkan ayunan yang dia naiki secara perlahan dengan kedua kakinya. Nafas beratnya juga terus berhembus keluar, hingga tak terhitung berapa kali ia menghela nafas.
Seandainya kalau helaan nafas berat Haru dapat dilihat, udara yang ada disekitar Haru saat itu pasti sudah dipenuhi semua masalah yang ada di benaknya. Ketika pandangan Haru masih kosong, tiba-tiba Semi datang menghampirinya, tanpa meminta persetujuan dari Haru, dia langsung menempelkan minuman dingin ke pipi Haru.
Sontak saja Haru langsung berbangun dari lamunannya dan mentap ke arah rasa dingin itu berasal. “Kamu kenapa bisa ada disini?” tanya Haru.
“Aku tadi melihat kamu gak jadi masuk ke ruangan, jadi aku berfikir kalau kamu banyak fikiran dan ingin menangkan diri,” jawab Semi sembari terus menyibukkan kedua tangannya membuka minuman dingin yang sempat dia tempelkan ke pipi Haru.
“Ini minum dulu, dan ceritakan apa yang sedang kamu pikirkan. Aku akan mendengarkan semuanya dengan seksama,” sambung Semi sambil menyodorkan minuman yang sudah dia buka ke Haru.
Saat itu juga Haru mulai menceritakan semua yang ada dibenaknya, dari mulai kedatangan sang Paman, hingga asumsinya tentang siapa yang dia curigai sebagai pelaku pembakaran yang terjadi di rumah Mamanya yang ada di Bali.
“Tunggu, jadi maksud kamu... kebakaran yang terjadi di Bali itu, lagi-lagi perbuatan manusia?” tanya Semi membelalakkan kedua matanya.
“Heem dugaan aku begitu, dan lagi-lagi itu perbuatan Kim Hebom,” angguk Haru yang terlihat kembali menahan air matanya dengan senyuman kecil singkatnya.
“Pantas saja kamu terlihat murung dari tadi, ternyata ini beban fikiran kamu,” batin Semi sembari menatap Haru yang ada disebelahnya.
Seketika suasana berubah menjadi hening, Semi yang tadinya berniat untuk menghibur, kini malah tertular perasaan sedih yang sedang dirasakan Haru. “Kenapa kamu malah diam aja? Bukannya kamu disini berniat mau menghibur ku?” tanya Haru sembari menenggak minuman dari Semi.
Semi membalas tatapan Haru dengan senyum lebarnya sembari mengatakan, “Itu dia, entah kenapa aku jadi ikutan sedih. Aku juga kembali teringat kepergian Ayah ku, yang meninggal gara-gara masalah duniawi seperti ini.”
“Ayah kamu?! Dia meninggal karena apa kalau boleh tau?” sahut Haru.
“Ayah ku dulu seorang kontraktor, saat itu dia mendapatkan job dengan kontrak milyaran won dari perusahaan yang cukup besar. Sebelum penandatangan kontrak, dia sudah membacanya dengan teliti, tapi setelah penandatangannya kontrak dan selesai pengerjaan, hasil yang didapat hanya 40% .” Perlahan Semi mulai menceritakan kisah pahit yang selama ini dia sembunyikan sendirian.
__ADS_1
“Saat Ayah ku mulai komplain ke perusahaan itu, dia malah tertampar oleh kenyataan setelah membaca kembali kontraknya. Nominal yang ada di kontrak itu tiba-tiba berubah, dan yang lebih anehnya... tanda tangan yang ada dikontrak itu adalah tanda tangan asli milik Ayah ku,” jelas Semi.
“Setelah kejadian itu, keluarga ku langsung jatuh miskin dan hancur. Ibu ku meninggal karna serangan jantung, Ayah ku mulai mabuk-mabukan tiap hari, sampai pada akhirnya Ayah ku meninggal karn bunuh diri, saat aku duduk di bangku SMA,” sambung Semi.
Selesai menceritakan kisah pahitnya, Semi terlihat menundukkan kepalanya sembari menghapus air matanya yang menetes di pipinya. Sementara Haru yang masih duduk disebelah tidak mampu melakukan apapun dan hanya bisa mendengarkan sisi gelap kehidupan Semi.
Suasana di sekitar keduanya tiba-tiba mendadak menjadi lebih gelap, setelah mendengar cerita sedih Semi. Haru berdiri dari duduknya dan mendekati Semi yang masih duduk di ayunan sebelahnya, dia langsung menggenggam lengan Semi dan mengatakan, “Ayo kita masuk. Sebentar lagi langit gelap, aku takut disini banyak hantunya.”
Celotehan Haru yang terdengar sangat kekanak-kanakan itu seketika membuat Semi tersenyum lebar, dan membuatnya seketika berdiri dari duduknya. “Oke, karna kamu takut hantu, kalau begitu kita masuk sekarang,” jawab Semi yang langsung merubah posisi tautan tangan Haru pada lengannya menjadi genggaman erat satu sama lain pada telapak tangan mereka berdua.
Haru kembali tersenyum, setelah melihat Semi menjadi lebih baik dan keluar dari perasaan sedihnya. Mereka berdua kembali berjalan masuk ke rumah duka dengan bergandengan tangan, sebagai tanda untuk menguatkan satu sama lain.
Keesokan Harinya~
Matahari kembali bersinar cerah seperti biasanya, Hera, Hyunjae, Hemi, Haru, dan Semi masih berada di rumah duka. Hera terlihat masih tidur dengan nyaman bersandar di bahu milik Hyunjae, dan disisi lain ruangan ada Hemi yang juga masih tertidur dengan bersandar di sebuah meja yang ada didekatnya.
Sementara disisi seberang Hera ada Haru yang juga masih tidur dengan menyandarkan kepalanya di paha Semi sebagai bantal yang terlihat cukup nyaman. Karna sinar matahari yang mulai masuk kedalam ruangan, Hera bangun lebih dulu dan disusul Hemi, juga Hyunjae.
Karna suasana yang mulai sedikit gaduh, pada akhirnya membangunkan Semi juga dari tidur panjangnya. Sekilas Semi melihat Haru masih tertidur seperti bayi di pangkuannya, hingga dia lupa kalau Haru memiliki trauma dan gangguan tidur yang cukup parah.
Beberapa detik kemudian hp Semi bergetar, dia sangat menyadari kalau telepon itu penting baginya, tapi kalau langsung menjawabnya dia akan membuat Haru terbangun dari tidurnya. Pada akhirnya dia mencoba mengganti sandaran kepala Haru menjadi kotak tisyu, dan barulah dia dapat berdiri dan meninggalkan ruangan untuk menjawab telepon yang masuk.
Sebelum menjawab panggilan masuk yang ada di hp nya, Semi terlihat menghela nafas berat saat melihat nama sang penelpon. “Semi disini,” jawab Semi setelah menjawab telepon masuk yang masuk ke hp nya.
“Semi saya cuman ingin menanyakan, kapan kalian akan....”
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung~