Penyanyi Tanpa Telinga

Penyanyi Tanpa Telinga
=33= Kencan Sepulang Kerja


__ADS_3

Sepasang mata bola Haru, langsung merekam kehadiran seorang laki-laki yang sedang mengobrol dengan Semi. Bukan hanya sekedar mengobrol, laki-laki yang dia lihat juga sesekali membuat Semi tertawa lebar beberapa kali.


“Dia siapa? Kenapa bisa akhrab banget sama Semi?” batin Haru sembari memberi tatapan tajam ke arah Semi dan mengerutkan keningnya.


“Sabar... tenang Haru, kamu gak boleh kepancing emosi. Mungkin itu temannya, jangan berfikiran aneh-aneh, lebih baik aku ke food truck untuk menyegarkan pikiran.” Haru yang terlihat menahan perasaan cemburunya segera berjalan ke arah food truck dan lebih memilih menghindari mereka berdua.


Semi yang menyadari kehadiran Haru dengan cepat mengalihkan tatapannya, dibibir kecilnya itu terlukis sebuah senyum kecil yang menandakan kalau dia puas membuat sang kekasih kepanasan. Sementara Haru yang sudah duduk di kursi depan food truck masih mencoba mendinginkan pikirannya dengan menenggak langsung ice americano yang dia pegang tanpa menggunakan sedotan.


Haru juga terlihat beberapa kali mengunyah es batu sembari terus memasang wajah kusutnya. “Sebenarnya siapa dia? Kenapa tiba-tiba ada di lokasi syuting? Apa maunya? Apa dia gak pernah melihat berita, kalau dewi Korea sudah ada yang punya,” batin Haru.


Ketika suasa hati nya sedang kesal, tiba-tiba Semi datang menghampirinya dengan mengatakan, “Haru, kita harus segera pengambilan gambar. Kamu harus ganti baju sekarang.”


Seketika tatapan Haru beralihkan ke sumber suara yang mengajaknya bicara, dalam sorotan matanya itu dia terus bergumam, “Dia manggil aku cuman mau syuting? Apa dia gak ingin ngasihtau siapa laki-laki yang dia ajak bicara?”


“Aku tahu, aku akan bersiap sekarang.” Haru terlihat masih terus memasang wajah masamnya saat menjawab ucapan sang kekasih.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Haru dengan cepat berdiri dan pergi meninggalkan Semi begitu saja. Semi yang memiliki perasaan sangat peka pun kembali tersenyum tipis, setelah melihat wajah Haru yang masih terlihat kesal.


“Ternyata dia beneran merasa kesal,” gumam Semi sambil melihat minuman yang Haru tinggalkan di meja.


Waktu pengambilan gambar pun menjadi lebih cepat di hari itu, entah karena kedua aktor berakting dengan sangat bagus, atau memang Haru sengaja bersikap serius untuk mempersingkat waktu syuting. Saat para kru masih sibuk merapikan alat-alat syutinya, Haru sudah keluar lebih dahulu dari ruang gantinya.


Tanpa mengalihkan pandangan ke yang lainnya, dengan langkah cepat Haru berjalan menuju ke mobilnya, dan langsung masuk kedalamnya. Ketika dia masih sibuk memasang sabuk pengamannya, tiba-tiba seorang wanita membuka pintu mobilnya begitu saja dan langsung duduk di kursi penumpang yang ada disebelah Haru.


Ya, siapa lagi yang berani berbuat seperti itu kalau bukan Semi sang kekasih. “Ke namsan tower sekarang,” pinta Semi.


“Heh, kamu pikir ini taxi? Gak ada namsan tower, aku capek... mau pulang sekarang,” tolak Haru.


Mendapat penolakan dari Haru secara tegas, membuat Semi hanya bisa menghembuskan nafasnya untuk mengurangi rasa kesal. “Dia, teman aku waktu SMA namanya Lee Yoon,” celetuk Semi.


“Ya terus kenapa memangnya? Gak penting juga buat aku,” jawab Haru yang masih memasang wajah kusutnya.


Jawaban yang didengar Semi saat itu seketika semakin membuat senyumannya semakin lebar. “Hey... aku tau dari tadi kamu merasa cemburu kan? Dengan kehadirannya,” goda Semi.


“Aku?! Cemburu? Sama laki-laki kayak dia?" helah Haru sembari tersenyum lebar.


"Enggak mungkin! Dilihat dari sudut manapun aku lebih tampan dari dia, jadi kenapa aku harus cemburu?!” sambung Haru sembari mengalihkan tatapannya.


“Benarkah?! Yaudah kalau gitu aku minta anter Yoon aja ke namsan tower.” Semi kebali menggoda sang kekasih dengan pura-pura akan keluar dari mobil.


“Eh, tunggu!” Sesuai dugaan Semi, dengan cepat satu lengannya langsung ditahan sang kekasih.

__ADS_1


Hembusan nafas berat seketika keluar dari mulut Haru, sebelum mengungkapkan apa yang ada dipikirannya. “Benar, aku memang gak kesal waktu kamu ngobrol sampai bisa ketawa dengan teman kamu itu,” ucapnya.


“Kenapa memangnya? Apa aku gak boleh merasa kesal? Apa aku salah bersikap seperti itu?” sambung Haru.


Sekali lagi Semi melempar senyum lebarnya sembari menatap wajah Haru yang masih kelihatan kesal, namun baginya wajah yang dia tatap saat itu nampak menggemaskan.


“Ketawa? Kamu... malah ketawa melihat aku kesal seperti ini?” tanya Haru membelalakkan kedua matanya.


“Ho, kamu terlihat menggemaskan. Pertama kalinya aku melihat kamu cemburu seperti ini,” jawab Semi dengan nada candaan.


“Menggemaskan?! Apa maksud kamu menggemaskan?” balas Haru.


“Sini biar aku tunjukkan dimana letak menggemaskannya.” Semi langsung menarik jaket biru yang Haru pakai, lalu memegang kedua pipi Haru dengan kedua tangannya.


Kedua tangan Semi yang sudah berada dipipi Haru itu tidak hanya tinggal diam, dia malah sengaja menekan kedua pipi Haru hingga membuat kedua bibir Haru mengecil. Tidak hanya sampai disitu, Semi juga menggoyang-goyangkan tangannya sembari mengatakan, “Ini sisi menggemaskan dari diri kamu.”


Sembari tersenyum lebar, Semi terus menggoyang-goyangkan kedua pipi Haru seenaknya. “Heh... lepasin, atau kita gak jadi ke namsan tower,” ancam Haru dengan wajah menggemaskannya.


Mendengar jawaban dari Haru, seketika membuat Semi kembali bersemangat dan langsung menjauhkan tangannya dari wajah Haru. “Oke, kalau begitu kita berangkat sekarang!” ucap Semi dengan nada semangat.


Haru memalingkan wajahnya yang tampan sembari melempar senyum kecilnya tanpa menatap ke arah sang kekasih, sebelum memacu mobilnya menuju namsan tower. Perubahan ekspresi Haru yang menjadi lebih hangat membuat perjalanan mereka berdua menjadi lebih tenang dan bahagia, layaknya sepasang kekasih pada umumnya yang sedang berkencan setelah pulang kerja.


Malam itu di area sekitar namsan tower terlihat cukup ramai dipenuhi orang yang sedang menikmati suasana malam yang tenang. Beberapa orang ada yang sedang mengabadikan momen dengan orang terkasih mereka dengan ponsel milik mereka, beberapa orang juga ada yang hanya sekedar berjalan-jalan denga bergandengan tangan bersama pasangan mereka.


Termasuk Haru dan Semi yang terlihat sedang menikmati malam sembari menautkan tangan mereka satu sama lain. Keduanya memang berniat langsung menuju namsan tower, namun suasana yang cukup ramai, membuat Semi terus tersenyum saat melihat beberapa orang yang sedang menghabiskan waktu bersama dengan pasangan ataupun keluarga mereka.


Haru yang berjalan bersamanya hanya bisa ikut tersenyum saat melihat sang kekasih nampak bahagia dan seperti tidak memiliki beban selama hidupnya. Ketika langkah mereka hampir tiba di lift namsan tower, tiba-tiba pandangan Semi teralihkan ke seorang penjual yang sedang membuka lapak kecilnya.


“Haru, kita kesana dulu,” tunjuk Semi sambil menarik paksa tangan Haru.


“Heh!” Kalah itu Haru terihat cukup terkejut dengan tarikan Semi, terbukti saat dia mengangkat kedua alisnya.


Semi yang cukup antusias berjalan cepat menuju ke seorang penjual yang menjual gembok pasangan, kedua mata Semi yang tak dapat berbohong terus menyusuri beberapa model gembok yang berjajar disana. Setelah dia melihat-lihat cukup lama, akhirnya dia mengambil satu pasang gembok pilihannya, gembok itu berwarna ungu muda.


“Ambil kalau kamu suka,” celetuk Haru yang terus mengamati Semi.


“Gak apa-apa?! Tapi bukannya kamu kurang suka sama hal-hal seperti ini?” tanya Semi menatap Haru.


“Dari mana kamu tahu aku gak suka hal-hal seperti ini? Perasaan... aku gak pernah bilang ke kamu,” jwab Haru.


“Kamu memang gak pernah bilang ke aku, tapi kamu pernah bilang ke fans kamu melalui media,” tegas Semi.

__ADS_1


“Aaa... itu dulu. Lagian itu sudah lama juga,” elak Haru.


“Oh, gitu,” angguk Semi.


“Yaudah sebentar aku bayar dulu.” Haru mengeluarkan dompet miliknya, dan langsung menyodorkan kartu kreditnya ke sang penjual.


Setelah membayar barang yang mereka beli, mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju ke lift yang akan membawa mereka ke puncak namsan tower. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit, lift itu akhirnya berhasil membawa mereka ke puncak namsan tower dengan waktu singkat.


Puncak Namsan Tower~


Baru juga menginjakkan kakinya di puncak naman tower, tiba-tiba ada dua orang perempuan yang mendekati mereka. “Permisi, apa anda Kim Haru?” tanya salah satu dari dua orang yang menghampirinya.


“Iya betul saya Kim Haru,” jawab Haru dengan sopan.


“Wah... hebat! Kita fans Kak Haru dari Kakak pertama kali debut. Karna itu, apa kita boleh minta tandatangannya?” tanya salah satu wanita yang mengaku fans Haru, sembari menyodorkan note kosong dan sebuah bolpoin kepada Haru.


“Sekalian foto juga Kak,” sahut wanita lainnya.


“Ho, boleh.” Sekali lagi Haru memperlakukan para fansnya dengan sangat ramah, dia juga menerima note dan bolpoin yang disodorkan fansnya untuk dia tandatangani.


Setelah memberikan dua tandatangannya, Haru langsung mengembalikan note dan bolpoin itu kepada fans nya. Kedua fans yang nampak belum puas itu mencoba mengajak Haru berfoto bersama sesuai yang mereka katakan diawal, secara bersamaan mereka semakin mendekat ke Haru dan perlahan mencoba menempelkan badan mereka di lengan kanan dan kiri Haru.


Tidak hanya itu, dengan sifat fans nya yang kurang sopan itu, sampai membuat Semi terdorong hingga sampai kebelakang.


Pada awalnya, Haru membiarkan dua fans yang cukup membuatnya merasa risih itu terus menempel padanya, tapi tiba-tiba dia mendengar suara rintihan orang terjatuh dari arah belakang.


“Awwhh!!”


Suara itu seketika membuat Haru memalingkan wajahnya, dan disaat itu dia sudah melihat....


.


.


.


.


.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2