Penyanyi Tanpa Telinga

Penyanyi Tanpa Telinga
=27= Yang Cantik Yang Berharga


__ADS_3

20 menit kemudian~


Haru terlihat sedang mengobrol dengan seorang wanita, mereka terlihat sangat dekat, hingga membuat Semi ragu untuk mendekatinya. Kedua mata Semi tergambar sangat jelas, bagaimana dirinya terlihat cemburu, takut, sekaligus iri melihat kedekatan wanita yang sedang berbicara dengan Haru.


Sementara Haru yang berada ditepi kolam renang sedang asik mengobrol dengan seorang wanita, tanpa mengetahui Semi yang menatap langsung ke arahnya. Iya wanita yang membuat Semi iri itu ternyata adalah Hyuri, sahabat lama Haru.


“Oh ya, selain masalah Songyi... sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan lagi,” celetuk Hyuri.


“Apa?!” tanya Haru polos.


“Skandal kamu sama Semi itu beneran atau cuma pura-pura?” tanya Hyuri.


“Beneran, aku memang sudah berkencan dengannya,” jawab Haru dengan deep voice khasnya.


“Jadi... pada akhirnya kamu menyerah, setelah berusaha menjauhinya dengan segala cara,” angguk Hyuri pelan.


“Heem,” jawab Haru dengan kedipan kedua matanya.


“Tapi, karena kalian belum meresmikannya didepan media, itu artinya aku masih punya kesempatan dong,” goda Hyuri tersenyum licik.


“Heh! Gak ada kesempatan-kesempatan buat kamu,” ucap Haru kesal.


Hyuri berjalan dan lebih mendekati Haru. “Oke, aku akan menyerah, tapi setelah kamu benar-benar sudah pernah tidur dengannya,” bisik Hyuri yang langsung berjalan lebih dulu meninggalkan Haru.


Kedua mata Haru seketika terbelalak saat mendengar ucapan sang sahabat, dia seketika memalingkan wajahnya ke arah punggung sahabatnya yang sudah meninggalkannya sambil meneriakkan, “Heh!” dengan wajah kesalnya dia kembali memalingkan tatapannya kembali ke arah air kolam renang yang terlihat sedikit bergelombang, karena terkena hembusan angin.


Beberapa detik kemudian, Haru yang terlihat masih berdiri dibibir kolam renang tiba-tiba dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba memeluknya dari belakang dengan erat.


“Heh Hyuri, kamu pikir trik ini berhasil menggoda ku? Meskipun kamu melakukan ini, aku gak akan tidur sama Semi sampai aku....” Ucapan Haru tiba-tiba berhenti, ketika dia mulai mengalihkan tatapannya ke arah tangan yang melingkar ditubuhnya.


“Tangan ini! Ini bukan tangan Hyuri.” Haru mencoba melepaskannya secara perlahan, dan membalik badannya.


Disitulah Haru merasa sangat terkejut, karena yang dari tadi dia ajak bicara ada sang kekasih Semi. “Semi, jadi kamu dari tadi yang....”


“Ho, aku dengar semuanya. Apa tadi... kamu bilang, kamu gak akan tidur sama aku?” sahut Semi menundukkan kepalanya sembari tersenyum kecut.


“Apa aku seburuk itu? Enggak maksud ku, apa benar kamu cinta sama aku? Bukan kah hal yang wajar kalau pasangan melakukan itu? Tapi kenapa... kenapa kamu malah gak mau?” tambah Semi yang langsung membalik badannya dengan perasaan kesal, terlihat akan melangkah pergi.


“Semi kamu salah paham, bukan begitu maksud aku, tolong dengerin aku dulu,” sahut Haru meraih lengan Semi.


“Lepasin, kita bicarakan ini nanti.” Dengan nada pelan Semi mencoba melepaskan tangan Haru yang mencoba mencegahnya pergi.

__ADS_1


“Hey tunggu dulu,” kata Haru yang masih berusaha mencegah Semi meninggalkannya.


“Haru lepasin aku bilang!” Semi yang terlihat semakin kesal langsung mencengkram lengan Haru, dan tanpa sengaja mendorong Haru cukup kuat.


“Byuuuurrrrr!!!!” Dorongan kuat Semi membuat Haru terjengkang dan langsung terjun ke kolam renang.


Semi seketika memasang ekspresi terkejutnya, begitu melihat hasil dari perbuatannya. “Haru! Aku minta maaf, aku benar-benar gak bermaksud.” Semi dengan cepat melangkah ke bibir kolam renang, dan menatap Haru yang masih belum muncul ke permukaan.


Sementara, suara jatuhnya Haru ke kolam renang terdengar sampai bagian dalam rumah, hingga membuat semua keluarganya berdatangan sambil memasang wajah cemas. “Kak Haru!” teriak Hemi ke arah kolam renang.


“Semi, bagaimana ini bisa terjadi?!” tanya nyonya Eunji yang sudah terlihat sangat cemas.


“Itu... sebenarnya....” Semi yang berusaha menjawab dengan suara gagapnya semakin membuat semua orang salah paham.


“Heh! Apa kamu mau membunuh Kak Haru? Dengan cara kampungan seperti ini?!” pekik Hemi yang sudah menautkan kedua alisnya.


“Hemi, aku gak bermaksud begitu tapi....” Ketika Semi akan kembali menjelaskan, tiba-tiba Haru muncul dari dalam air dan mengatakan, “Ketemu!!”


Seluruh orang yang mengkhawatirkan Haru itu langsung saja mengalihkan pandangannya ke arah Haru yang terlihat tersenyum setelah keluar dari air, sembari membawa sebuah benda kecil ditangan kanannya. Orang-orang yang sebelumnya hampir menyalahkan Semi, terlihat menghelah nafas bersamaan, saat mengetahui Haru tidak terluka sedikitpun.


“Kalian, kenapa perkumpul disini?” tanya Haru mengangkat kedua alisnya.


Orang-orang itu tidak menanggapi Haru, mereka langsung pergi dengan wajah yang terlihat sedikit kesal karena merasa dibohongi. Sementara Haru hanya terus melempar senyum tipis nya melihat mereka semua pergi meninggalkannya, tapi berbeda dengan Hyunjae yang masih berdiri ditempat yang sama.


Meskipun sudah tidak menggunakan alat bantu dengar, Haru mencoba memahami ucapan Hyunjae yang dilontarkan kepadanya, melalui gerakan bibir yang terlihat sangat jelas. “Heem. Kak Hyunjae bawa alat bantu dengar cadangan kan? Karena sepertinya alat ini rusak setelah jatuh ke air,” angguk Haru sembari menunjukkan alat bantu dengar miliknya.


“Iya, sebaiknya kamu mandi dulu dikamar tamu, aku ambilkan baju ganti dan alat bantu dengar cadangan kamu di Hotel,” ucap Hyunjae yang langsung melangkah pergi.


Setelah memperhatikan mulut Hyunjae yang terlalu lama bergerak, Haru langsung melangkahkan kakinya menuju tempat yang diberitahu Hyunjae. Sebelum meninggalkan tepi kolam renang, sekali lagi kedua matanya kembali teralihkan ke arah Semi yang masih berdiri ditempat yang sama.


Wajah Semi yang terlihat menyesali perbuatannya, membuat hati Haru kembali menggerakkan kedua kakinya menuju sang kekasih. Semi yang mengetahui Haru sudah ada dihadapannya, mencoba melontarkan kata maaf sekali lagi.


“Gak apa-apa, itu bukan salah kamu. Kita akan bicara lagi setelah aku ganti baju,” jawab Haru diiringi senyum lebarnya, kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan yang dikatakan Hyunjae.


....


30 menit kemudian....


Hyunjae terlihat sudah datang dengan tergesah-gesah membawa tas tangan berukuran cukup besar, yang berisi baju, celana, sepatu, dan alat bantu dengar milik Haru. Ketika dirinya berjalan ke arah kamar tamu, tempat Haru sedang membersihkan badan, tiba-tiba langkahnya dihentikan Semi yang langsung menghadangnya.


“Kak Hyunjae, biar aku aja yang nganterin barang-barang itu untuk Haru,” tunjuk Semi ke arah tas tangan yang sedang dibawa Hyunjae.

__ADS_1


“Oke, kalau itu mau kamu,” jawab Hyunjae langsung menyerahkan tas yang dia bawa ke Semi.


Semi dengan cepat menerimanya, diiringi senyum lebarnya, dia melanjutkan langkah Hyunjae menuju ke kamar tamu, tempat Haru sedang membersihkan badannya. Setibanya dia disana, ruangan yang dia pijak itu masih terlihat kosong.


Suara air yang terus mengucur dari shower masih terdengar sangat jelas dari arah kamar mandi. “Ternyata durasi mandinya lebih lama dari dugaan ku,” gumam Semi.


Beberapa detik kemudian Haru keluar dari kamar mandi, dia hanya menggunakan handuk kimono berwarna putih. Kedua mata mereka seketika bertatapan, Haru tak memberikan respon khusus dan hanya melanjutkan langkahnya mendekati sang kekasih.


“Eeem, kamu jangan salah paham dulu, aku bukan mau bahas yang tadi, tapi aku cuma mau ngantar ini,” tunjuk Semi ke arah tas berwarna biru yang sudah ada diatas tempat tidur.


Haru tersenyum tipis melihat kondisi muka Semi yang terlihat sangat canggung. “Aku gak dengar kamu ngomong apa, tapi sepertinya kamu cuma ingin mengantarkan ini,” jawab Haru.


Kedua tangan Haru mulai membuka tas biru yang dibawakan Semi, barang pertama yang dia cari adalah alat bantu dengar miliknya. Karena menurutnya, barang itu adalah barang terpenting baginya, setelah menemukannya dia langsung memakainya di satu telinganya.


Meskipun alat bantu dengar cadangan yang dibawa Hyunjae adalah alat bantu dengar dengan model standar, tapi dia sangat menghargainya, karena alat bantu dengar yang memiliki model umum itu memiliki ketahanan yang lebih awet dari pada alat bantu dengar miliknya yang lebih canggih.


“Nah, sekarang cepat katakan, apa yang ingin kamu katakan tadi,” celetuk Haru.


“Ho?! Ah, aku bilang... aku cuma mau ngantar ini, dan gak ada maksud lain, termasuk membahas apa yang kita bicarakan sebelum kamu jatuh,” jawab Semi.


Haru kembali melempar senyum lebarnya, perlahan dia melangkah mendekati Semi. “Aaa... jadi itu sebebnya wajah kamu jadi sangat canggung,” ujarnya diiringi langkahnya yang semakin mendekati Semi.


Semi yang kembali terlihat gugup, mecoba terus melangkah mundur, meskipun pada akhirnya langkah kakinya terhenti oleh tepi tempat tidur, yang berhasil membuatnya kembali terduduk diatas tempat tidur. Sementara, Haru terus melangkah mendekati Semi, hingga membuat kedua kaki mereka bersentuhan.


“Aku sebenarnya cuma mau menjelaskan masalah tadi, tapi karena aku masih berpakaian seperti ini, bagaimana kalau langsung kita lakukan aja, tanpa penjelasan.” Satu tangan Haru yang gagah itu langsung menjatuhkan Semi, hingga membuat sang kekasih itu jatuh terlentang.


Jantung Semi semakin berdegup sangat kencang, layaknya genderang perang yang terus dipukul, ketika melihat Haru mulai memasang wajah nakalnya. Kedua matanya yang hampir berhenti berkedip itu, terus terfokus ke arah bibir Haru yang selalu terlihat seksi baginya.


Kedua mata Semi terus mengantisipasi serangan yang sewaktu-waktu dilancarkan oleh Haru, dengan jantung yang hampir meledak, dia mencoba terus bersikap waras dihadapan Haru yang sepertinya sudah mulai hilang kendali.


Haru menggunakan tangan kirinya untuk menopang tubuhnya yang sudah menggantung tepat diatas Semi. “Aku, bukannya gak mau tidur sama kamu, tapi aku tipe cowok yang gak mau merusak sesuatu yang cantik, sebelum dia benar-benar sudah jadi milik ku,” ujar Haru sembari membelai wajah cantik Semi dengan menyingkirkan semua helai rambut yang menutupi wajah cantiknya.


“Kita sudah berkencan, kita juga memiliki perasaan yang sama, bukannya itu sudah membuktikan kalau aku sudah jadi milik kamu?” tanya Semi kembali.


“Bukan itu yang aku maksud, tapi...


.


.


.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2