
Alberto menghela nafas, lalu mengembuskan napas perlahan. Alberto pun menjelaskan niatannya, Padahal niatan Alberto mengundang keluarga Lee adalah untuk meminta pertanggung jawaban Nyonya Lee atas tindakan tidak sopannya pada Karren. Penjelasan Alberto membuat semua orang tercengang.
"Baiklah, kalau Karren putriku sudah memutuskan seperti itu. Mau tak mau aku juga setuju. Kita akan lihat hasilanya nanti satu bulan kemudian. Deric dan Young Jun harus berusaha sendiri dan mengerahkan kemampuan masing-masing agar bisa membuat Karren jatuh cinta. Siapapu pemenangnya, aku akan menikahkannya dengan Karren." kata Alberto.
Karren terkejut. Ia tidak berpikir jauh dan malah salah paham. Justru membuat masalah menjadi semakin rumit. Ia lantas duduk diantara Deric dan Young Jun. Karren terdiam, dia berharap semoga tidak salah dalam mengambil keputusannya. Dia hanya ingin bahagia. Tidak ingin rumah tangganya kelak hancur. Entah Deric atau Young Jun yang jelas Karren hanya ingin seseorang yang setia dan mencintainya sepenuh hati.
***
Deric mengajak Karren berolah raga bersama. Mereka lari berkeliling taman tak jauh dari kediaman kelaurga Alberto tinggal. Setelah beberapa kali berkeliling Deric dan karren memutuskan beristirahat. Mereka duduk berdampingan di kursi taman dibawah pohon.
Deric menatap Karren, "Apa oleh aku bertanya sesuatu?" tanya Deric.
"Tentu, apa yang ingin kau tanyakan? Tidak perlu sungkan padaku," kata Karren menatap Deric.
"Apa kau menyukai Jun?" tanya Deric.
"Ya, aku menyukainya sejak dua belas tahun lalu. Dia adalah teman dekatku," jawab Karren.
"Bagaimana denganku? Bagaimana persaanmu padaku?" tanya Deric lagi.
"Hmm ... aku juga menyukaimu, kau orang yang baik dan perhatian," jawab Karren.
"Sepertinya, jika ingin nenikah denganmu, aku harus berjuang keras agar bisa mendapatkan hatimu. Rasa sukamu tidak lebih dari rasa sebagai teman, kan?" kata Deric.
Karren terkejut mendengar kata-kata Deric. Karren melihat Deric dengan tatapan heran. Deric menatap Karren dan tersenyum tampan.
"Tidak perlu cemas, aku akan bersaing dengan adil. Aku tidak akan melukai Young Jun," kata Deric.
"Terima kasih, Deric. Berjuanglah," ucap Karren.
"Tentu aku harus berjuang. Terima kasih sudah menyemangatiku," jawab Deric.
"Ayo, kita beli makan. Aku akan traktir," ajak Karren.
__ADS_1
"Boleh. Kebetulan aku lapar. Bagaimana dengan sup iga? ada kedai yang menjual sup iga dengan rasa yang enak di ujung jalan sana," jawab Deric.
"Boleh saja. Ayo, kita ke sana." kata Karren mengajak.
Karren berdiri dan diikuti Deric. Karren menggandeng tangan Deric. Karren merasakan sesuatu, jantungnya berdetak kencang. Deg ... deg ... deg ...
"Eh, kenapa jantungku berdebar? Hanya karena aku menggandeng tangan Deric? Tidak, tidak, tidak, ini pasti ada yang salah," batin Karren.
Deric dan Karren sampai di kedai. Deric langsung memesan porsi sup iga dengan nasi. Deric memandang sekitar. Deric melihat seorang pelayan membawa sup panas, dan tidak sengaja tersandung. Dengan cepat Deric memeluk Karren. Sup pun tumpah di punggung Deric. Karren terkejut, Deric melindunginya dari sup panas. Deric meringis, karena menahan rasa sakit.
"Ma-maafkan saya, Tuan."
"Sshhh ... " gumam Deric.
"Deric, kau baik baik saja? punggungmu ... " tanya Karren menatap punggung Deric.
"Aku tidak apa-apa. Bagaimana denganmu. Kau terluka?" tanya Deric terlihat khawatir.
"Tuan, maafkan saya. Saya tidak melihat jalan dan tersandung. Maaf ... " kata pelayan.
Karren mengeluarkan sejumlah uang dan meletakkan di meja, "Tolong lain kali lebih berhati hati. Maaf, saya harus mengantar teman saya segera ke rumah sakit," kata Karren.
Karren menarik tangan Deric keluar dari kedai. Karren terlihat kesal dan juga merasa bersalah. Karren membawa Deric ke rumah sakit dengan menumpangi taksu.
"Aku baik baik saja, kenapa harus ke rumah sakit?" kata Deric.
"Kau sudah gila karena kuah sup ya? punggungku tersiram kuah yang mengepul, dan kau berkata baik-baik saja? kau minta kuhajar?" kata Karren geram.
Deric tersenyum, "Terima kasih," ucap Deric.
"Bodoh!" gumam Karren.
"Ya, aku memang bodoh. Karenamu aku jadi bodoh. Apa kau tahu, kalau aku tak melindungimu, justru kau yang akan terluka. Lantas, bagaimana aku akan menghadapi orang tuamu dan Darren? Ketahuilah, aku melakukan ini karena aku tak ingin orang yang sangat aku cintai terluka," kata Deric.
__ADS_1
Deg ... deg ... deg ... Lagi-lagi jantung Karren berdetak. Saat mendengar pernyataan Deric.
"Te-tetap saja itu berbahaya. Pasti kulitmu melepuh. Bisa-bisa Paman Dominic marah marah besar," kata Karren.
"Tidak akan. Papaku pasti akan mengerti, kalau aku jelaskan. Kau tidak perlu khawatir," kata Deric.
Karren terdiam dia merasa bersalah. Jika bukan karena melindunginya Deric tidak akan terluka. Taksi berhenti di lobby rumah sakit, Karren segera membayar biaya taksi dan turun bersama Deric. Segera Karrenmembawa Deric ke unit gawat darurat dan memanggil perawat yang berjaga.
Perawat dan Dokter langsung menangani. Karren menemani Deric. Karren terlihat sangat gelisah dan cemas. Karren menggigit ujung ibu jari tangannya karena khawatir. Karren terkejut saat dokter menggunting kaus Deric, punggung Deric melepuh dan luka bakarnya lumayan parah. Dokter membersihkan luka, lalu mengoleh krim luka bakar. Deric tak bersuara namun kedua tangannya mengepal. Karren tau Deric kesakitan. Karren membelai lembut rambut Deric. Deric menatap Karren, Karren tersenyum dan memegang tangan Deric.
Dokter selesai mengoles obat. Dokter mangajurkan Deric dirawat inap selama beberapa hari untuk melihat reaksi obatnya. Deric langsung menolak, meminta dirawat jalan. Namun, Karren menyuruh perawat menyiapkan ruang VIP untuk Deric. Karren menatap Deric dengan tatapan tajam, membuat Deric tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya bida menghela nafas panjang. Mau tidak mau Deric menerima keputusan Karren.
"Maaf, karenaku kamu jadi seperti ini." gumam Karren.
"Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil," jawab Deric.
"Tidak, Deric. Kondisimu tidak baik, kulitmu melepuh cukup parah. Dan pasti itu sangat sakit, kan?" jawab Karren sedih.
Perawat datang dengan membawa kursi roda. Karren membantu Deric duduk di kursi roda.
"Mari saya antar ke ruang rawat inap," kata perawat.
"Silakan pandu, biarkan saya yang mendorong kursi rodanya," kata Karren.
Karren mendorong kursi roda Deric mengikuti perawat. Mereka sampai di ruang rawat inap VIP yang sudah disiapkan bagi Deric.
"Silahkan, saya sudah bersihkan kamarnya. Jika Anda atau pasien butuh sesuatu, silakan tekan tombol di belakang tempat tidur. Perawat jaga akan langsung datang," kata perawat.
"Ya, tidak terimkasih," jawab Karren.
"Sama-sama, semoga suami anda cepat sembuh," kata perawat tersenyum lebar.
Karren kaget, matanya melebar. Begitu juga Deric. Perawat itu pergi meninggalkan Karren dan Deric. Karren dan Deric masuk dalam ruangan. Karren membantu Deric pindah ke tempat tidur pasien. Deric duduk di tepi tempat tidur.
__ADS_1