Perjalanan Cinta Darren Dan Karren

Perjalanan Cinta Darren Dan Karren
Bab 6.


__ADS_3

[Darren]


Entah mengapa hatiku sangat kesal, aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi. Aku menariknya dan membawa ke lorong gelap. Aku mencengkram dagu Eun Mi.


"Berapa tarifmu?" tanyaku menatapny tajam.


"Le-lepas! aku tidak menjual diri," jawabnya memegang tanganku yang mencengkram dagunya.


"Tidak menjual diri? Dengan pakaian minim dan berada di tempat seperti ini? apa kau sedang bergurau denganku?" kataku marah.


Eun Mi menepis tanganku, "Itu bukan urusanmu juga. Aku tidak mengenalmu, tplong bersikaplah sopan, Tuan." katanya berbalik marah.


Aku melebarkan mata. Aku tersadar, jika hanya aku yang mengenalinya. Apa ini artinya dia sungguh tak ingat padaku? dia melupakanku?


Eun Mi langsung pergi meninggalkan aku. Aku sangat kesal. Segera aku pergi memanggil pelayan. Aku menyampaikan pesan, jika aku ingin menemui pemilik klub secara pribadi. Pelayan langsung membawaku menemui pemilik klub,.dan Pemilik klub menyambutku ramah.


"Berapa harga Choi Eun Mi?" tanyaku.


"Hm ... apa Anda menginginkannya? Dia memang wanita cantik. Dan tentu saja harganya mahal," kata pemilik klub berbelit.


Karena tak suka berbelit-belit, aku segera menulis harga pada swbuah cek dan memberikannya pada si pemilik klub.


"Aku akan membelinya dan menjadikannya wanitaku. Apa dengan nominal segini cukup?" tanyaku menatap pemilik klub.


"Astaga, ini nominal yang banya. Anda sungguh-sungguh mengeluarkan uang banyak deminya? Apa Anda yakin, membeli Eun Mi senilai dua ratus juta?" tanya pemilik klub seolah tak percaya.


"Ke mana aku harus mengirimnya?" tanyanya menatapku.


Aku memintanya mengirim Eun Mi ke hotel yang pernah aku kinjungi. Dan lokasiny tak begitu jauh dari klub ini. Aku juga meninggalkan nomor teleponku, meminta dia menghubungiku setelah mengantar Eun Mi ke Hotel.


"Baik, Tuan. Akan segera saya kirim." katanya.


Aku pergi meninggalkan ruangan dan berjalan keluar dari gedung klun. Segera aku menuju parkiran, masuk dalam mobil dan meminta Paman Boby mengantarku ke Hotel tujuanku. Dalam perjalanan, aku  menghubungi Hotel dan langsung memesan kamar.


Tidak lama kami sampai. Mobil yang dikemudikan Paman Boby berhenti di lobby utama.


"Paman kembali saja, aku tidak akan pulang malam ini. Terima kasih sudah mengantar," kataku.

__ADS_1


"Ya, selamat beristirahat." jawab Paman Boby.


Paman Boby langsung pergi, aku masuk ke dalam gedung hotel dan langsung berjalan menuju resepsionis. Aku menunjukkan bukti, jika aku telah memsan sebuah kamar suite room dan resepsionis itu langsung menberiku sebuah kartu.


Segera aku pergi, menuju kamar yang telah kupesan. Dalam perjalan menuju kamar, aku berpikir keras. Apakah aku sudah gila? apa yang terjadi padaku?  Demi wanita, aku sudah mengeluarkan uang senilai dua ratus juta, bahkan menyewa sebuah suite room hotel bintang lima.


Aku ada di depan kamarku, aku menempel kartu dan membuka pintu. Aku menutup pintu kembali. Aku membuka jas dan kemejaku. Badanku terasa lengket. Aku berjalan ke kamar mandi untuk mandi. Sekalian mendinginkan kepalaku.


Sepuluh menit berlalu, aku selesai mandi dan keluar dari kamar mandi. Aku keluar hanya dengan memakai kimono handuk. Aku mendengar ponselku berdering, dan segera menerima panggilan itu. Ternyata orang yang mengirim Eun Mi sudah sampai. Aku meminta orang itu menunggu agar Eun Mi dijemput pelayan. Aku mengakhiri panggilan dan menghubungi resepsionis. Aku minta agar pelayan mengantar tamuku ke kamar. Aku mengakhiri panggilan dan duduk menunggu.


Tidak lama, aku mendengar pintu kamarku diketuk. Aku mematikan lampu kamar. Aku berjalan membuka pintu, aku membuka pintu perlahan.


"Siapa?" tanyaku.


"Sa-saya Choi Eun Mi. Tuan menyuruh saya datang," kata Eun Mi.


Aku segera membuka pintu lebar. Eun Mi melangkah masuk, dan aku langsung menutup pintu kamar. Aku berjalan mendekati Eun Mi. Aku memeluknya dari belakang. Eun Mi melepas tanganku. Dan berbalik.


"Ma-maaf, Tuan. saya tidak melayani itu. Saya datang hanya untuk menemai minum saja," katanya.


Aku berjalan menyalakan lampu. Eun Mi sangat kaget melihatku. Matanya langsung membulat.


"Ka-kau ... untuk apa kau memanggilku?" tanyanya marah.


"Kau tahu? aku sudah membelimu. Jadi, sekarang kau itu milikku." jawabku kesal.


"Apa? Aku tidak mau kamu beli. Aku akan kembalikan uangmu," jawabnya.


"Mau tidak mau itu bukan urusanku. Ayo, cepat layani aku." perintahku.


"Apa kau sudah gila?" tanyanya mengerutkan dahi.


Entah mengapa, perasaanku semakin kacau. Marah, kesal dan kecewa. Tercampur aduk menjadi satu. Aku dengan cepat menarik tangannya dan mencium bibir wanita itu secara paksa. Eun Mi memukulku, aku terus menciumnya. Tak lama aku melepaskan ciumanku. Aku melihat napasnya naik turun.


"Bukankah kau sudah sering melakukannya? Kenapa ciumanmu begitu buruk? Bagaimana caramu memuaskan pelanggan?" tanyaku.


"Kau sungguh pria gila! aku bukan bukan wanita hina seperti itu," katanya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Benarkah? Buktikan padaku. Aku ingin lihat!" kataku yang langsung merobek gaun Eun Mi.


"Aaa ... jangan, jangan lakukan ini!" teriakmya.


"Kenapa harus malu? Biar aku melihat tubuhmu. Sudah berapa banyak laki-laki yang menjamahmu? Apa kau pandai memuaskan mereka?" tanyaku.


Aku terus merobek baju Eun Mi. Kini hanya tersisa pakaian dalamnya saja. Badannya putih mulus, aku terus mendekatinya. Eun Mi mundur hingga jatuh ke ranjang. Aku langsung menindihnya. Aku mencium bibirnya. Tanganku dengan cepat melepaskan semua milik Eun Mi. Eun Mi terus berontak, aku melepaskan ciumanku. Dan bahkan menampar wajahku.


"Bedebah sialan! beraninya kau melecehkanku," katanya dengan meneteskan air mata.


"Seorang wanita penghibur punya muka bicara seperti itu padaku? beraninya kau menamparku," kataku mengerutkan dahi.


"Sudah aku katakan. Aku bukan wanita penghibur. Aku tidak pernah disentuh pria," katanya.


Entah mengapa, aku seakan tak percaya kata-katanya itu. Pikiranku sudah keruh.


"Kalai begitu, biarkan aku memeriksanya. Aku akan tahu, perkataanmu sungguhan atau bohong." jawabku.


Aku menciumi leher dan bahu Eun Mi. Hmm ... wangi, dan lembut.


"Lepas, dasar bedebah!" makinya meronta.


Aku tak menghiraukannya, Eun Mi terus meracau. Aku menciumin setiap inci tubuhnya. Eun Mi bahkan sampai menggigit tanganku.


Aku segera melepas kimono handukku. Aku mencium bibir Eun Mi. Entah kenapa aku menjadi seperti ini. Ciumanku berubah menjadi *******.


"Ummhh ...


Suara Eun Mi yang tertahan di mulut. Aku pun melepas ciumanku, aku melihat dalam matanya. Aku menyatukan tanganku dan tangannya.


"Pria sampah ... " gumamnya menangis.


Aku merasakan sesuatu yang hangat. Aku melihat air mata Eun Mi. Aku menyekanya. Aku terus melalukan seranganku. Eun Mi mendesah dan terus menangis. Aku pun mempercepat gerakanku.


"aaaaaaaahh ... uhhhhhh ... hmmmmmmmhhh ... sakit!"


Eun Mi mencengkram bahuku. Kukunya mencakar bahuku. Aku terus menyerang, hingga akhirnya aku mencapai batasku. Aku lagsung berdiri, aku kaget melihat noda merah di tempat tidur. Mataku seakan keluar dari tempatnya. Eun Mi menangis, dia perlahan bangun, dia menutupi tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


__ADS_2