Perjalanan Cinta Darren Dan Karren

Perjalanan Cinta Darren Dan Karren
Bab 14.


__ADS_3

Deric kembali kerumah sakit bersama Dominic. Karren pulang bersama Alberto dan Janice. Sepulang dari rumah duka, Karren terlihat murung. Darren mengetuk pintu kamar Karren perlahan.


"Siapa?" tanya Karren.


"Ini aku. Apa aku boleh aku masuk?" tanya Darren.


"Ya. Masuklah," jawab Karren.


Pintu dibuka oleh Darren. Ia segera masuk dalam kamar Karren. Darren mendekati Karren yang duduk di sofa, dan duduk disamping Karren.


"Kau kenapa?" tanya Darren.


"Tidak apa-apa. Hanya saja, aku terus merasa sedih dan bersalah pada Young Jun." jawab Karren.


"Kenapa denganwajahmu?" tanya Darren, melihat wajah Karren yang bengkak.


"Oh, Papi tidak cerita padamu? Young Jun menamparku saat di rumah sakit," jawab Karren memegang wajahnya.


"Apa sudah diobati?" tanya Darren khawatir.


"Ya, sudah. Kau tidak perlu cemas." jawab Karren.


Darren memeluk Karren, Karren mengeratkan pelukan. Punggung Karren di usap lebut oleh Darren.


"Jaga dirimu baik-baik. Aku tak selalu bisa berada di sisimu, kau mengerti maksudku, kan?" kata Darren.


"Ya, aku mengerti. Kau juga harus bisa menjaga diri baik-baik," kata Karren mengingatkan.


"Aku menyayangimu," ucap Darren dengan suara lembut.


"Aku juga menyayangimu," balas Karren.


Karren melepas pelukan. Karren menatap Darren.


"Di mana Eun Mi?" tanya Karren.


"Dia ada di apartemen. Saat kembali ke Prancis aku akan membawanya, dan aku akan menikahinya. Kenapa kita tidak menikah bersama saja?" Usul Darren.

__ADS_1


Karren terkejut, "Apa? Aku tidak ingin buru-buru, menikahlah dulu, berikan aku keponakan yang banyak," kata Karren menggoda Darren.


"Menunggu apa lagi? Deric adalah pilihan terbaik saat ini," sahut Darren berpendapat


Karren menggelengkan kepala, "Menikah bukanlah sesuatu yang bisa kita putuskan dengan mudah, aku masih takut dengan apa yang terjadi dulu. Pada Mami. Bisa saja kan hal itu menimpaku. Mami Berpisah dengan papi, dan Mami membesarkan kita berdua sendirian. Aku tidak menyalahkan Papi, juga tak akan menyalahkan Mami. Aku hanya ingin belajar dari pengalaman yang kulihat. Jika ingin menikah, aku harus bisa memeprtahankan pernikahanku sampai akhir. Aku tidak mau menjadi janda yang nantinya diremehkan, apalagi sampai menikah lagi. Karena itu, aku tak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Biarlah semua berjalan mengalir apa adanya," jelas Karren.


"Buang jauh-jauh pikiran jelekmu. Itu tidak akan terjadi padamu. Aku tahu kekhawatiranmu. Akupun khawatir tiba-tiba Eun Mi meninggalkanku, tapi kita harus ingat, setiap hal ads resiko yang harus dihadapi. Sekecil apapun itu. Melangkahkan kaki saja itu juga beresiko, tapi kalau tak melangkah, bagaimana bisa berjalan?" sahut Darren.


Karren tersenyum, "Wah, kau pandai bicara sekarang. Hahaha ... Darren, semua hal bisa saja terjadi tanpa dirrncanakan. Ah, sudahlah. Sebaiknya kau pergi, aku mengantuk, aku akan tidur. Besok pagi harus ke rumah sakit melihat Deric." kata Karren mengusir Darren dari kamarnya.


"Ya, aku pergi. Selemat istirahat," kata Darren mencium pipi Karren.


Karren berbalik mencium pipi Darren, "Ya, selamat malam." Ucap Karren.


Darren pergi meningglakan kamar Karren. Karren berpindah tempat, dari sofa ke tempat tidur. Ia segera masuk dalam selimut dan berbaring.


Karren menatap langit-langit kamarnya, "Semoga kau bisa tenang di sana, Young Jun. Selamat tinggal," dalam hati Karren.


Karren perlahan menutup mata dan terlelap tidur. Berharap besok akan ada hal baik yang datang menyambutnya.


***


Sementara itu Alberto dan Janice berbincang di kamar. Mereka membahas tentang anak-anak mereka.


"Tidak ku sangka, waktu berputar begitu cepat. Sebentar lagi akan jadi nenek dan Kakek, Al." kata Janice.


Alberto memebcium Janice, "Ya, nenek cantik," goda Alberto.


Janice tersenyum, "Jangan menggodaku, sayang. Darren akan menikah, bagaimana dengan Karren ya? dia telihat tenang dan diam saja tidak membahas apapun," kata Janice.


"Aku tak bisa menebak isi hatinya. Bagaimana kalau kau tanyakan saja padanya. Sesama wanita biasanya akan lebih terbuka. Karren akan malu jika aku yang tanya," jawab Alberto.


"Aku berpikir apakah selama ini dia selalu dingin pada lawan jenis itu karena pengaruh dari masa lalu? Dulu kan aku dan kau tidak bersama sampai anak-anak remaja. Hahhh ... (menghela napas) ini salahku, andai saja aku dulu langsung jujur padamu saat aku hamil mereka. Seandainya kita tidak berpisah, mungkin Karren tidak akan punya pikiran negatif kepada laki-laki," kata Janice.


"Maaf, semua salahku. Akulah yang terlalu gegabah saat itu. Sehingga membuatmu menderita," kata Alberto.


Janice tersenyum menatap Alberto, "Oh, ayolah, sekarang kita bersama, dan akan terus bersama. Jangan sampai kita bsrpisah lagi. Karena aku tidak bisa hidup tanpamu," kata Janice.

__ADS_1


Alberto meraba lembut wajah Janice,"Ya, sayang. kita akan berasama selalu, sampai akhir usia kita. Aku janji padamu. Aku mencintaimu, istriku." kata Alberto.


Alberto mencium lembut bibir Janice. Janice merangkul leher Alberto dan membalas ciuman Alberto. Mereka tenggelam dalam cumbuan.


***


Di kamar, Robert dan Rebeca masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dua anak itu sedang membicarakan sesuatu.


"Hei, Beca, apa kau menyukai kakak Eun Mi?" tanya Robert.


"Kenapa kau bertanya itu padaku? ada apa? Kau tidak suka?" tanya Rebecca.


"Suka, jika kak Eun Mi memang orang baik." jawab Robert.


Rebeca menatap Robert, "Robert, apa maksudmu?" tanya Rebecca.


Robert menggelengkan kepala, "Entahlah, ini hanya firasatku saja. Sepertinya kakak Darren akan ada dalam masalah. Semoga saja firasatku tak benar," kata Robert.


Rebeca menepuk bahu Robert, "Jangan bicara asal, cepat tidur. Kita masih kecil jangan urus urusan orang dewasa." kata Rebecca.


"Ya, kau benar. Ayo kita tidur, besok kita harus kembali ke sekolah, kan?" kata Robert.


Robert dan Rebeca naik ke atas ranjang dan masuk dalam selimut, mereka berbaring. Mereka saling merapat satu sama lain.


Robert menatap Rebecca, "Selamat malam, Beca. Dan selamat tidur," kata Robert.


"Ah, ya. Selamat malam juga. Selamat tidur," jawab Rebecca.


Robert dan Rebeca menutup mata mereka. Keduanya terlelap dan mulai menjelajah dunia mimpi.


***


Darren tidur memeluk Eun Mi. Eun Mi merenggangkan pelukan menatap Darren. Darren menatap Eun Mi dan tersenyum.


"Terima kasih sayang, aku mencintaimu." kata Eun Mi, meraba lembut wajah Darren.


Darren tersenyum, "Aku juga mencintaimu sayang. Lusa setelah menikah, aku akan bawa kamu ke Amerika. Kita akan bangun keluarga yang bahagia di sana.

__ADS_1


Eun Mi mengangguk, Darren mencium kilas kening Eun Mi. Eun Mi tersenyum cantik, mencium kilas pipi Darren. Eun Mi memeluk Darren dan perlahan menutup mata. Darren mengusap lembut rambut Eun Mi.


__ADS_2