Perjalanan Cinta Darren Dan Karren

Perjalanan Cinta Darren Dan Karren
Bab 17.


__ADS_3

Darren segera memanggil pelayan dan meminta pelayan mengambil kotak obat. Darren dibantu Deric segera mengobati luka dan memar Karren.


"Aku tak akan pergi ke mana-mana. Kau juga tak perlu khawatir. Aku akan membantumu. Kita akan bersama-sama melawan mereka yang berniat jahat padamu. Aku tak akan meninggalkanmu sendirian," kata Darren.


Mata Karren berkaca-kaca dan Karren akhirnya menangis, "Aku tidak tahu harus bicara apa, Darren. Kau tetap menjadi yang terbaik," kata Karren.


Darren memeluk karren erat, mengusap rambut Karren. Karren mencengkram erat baju Darren, menangis tersedu.


Karren melepas pelukan, "Ah, ini memalukan. Sudah sebesar ini masih menangis seperti bayi," gumam karren.


Darren menyeka air mata Karren, "Aku akan ambil air minum dan obat pereda nyeri. Deric, (menatap Deric) tolong jaga Kao Kao sebentar." kata Darren.


Deric mengangguk, duduk disamping Karren. Darren kembali membawa obat dan segelas air minum untuk Karren. Darren memberikan air minum dan obag pada kepada Karren. Karren menerima, menelan obat dan langsung meneguk habis minuman dalam gelas dengan sekali minum.


Ponsel Darren berdering, panggilan dari Choi Eun Mi.


Karren msnatap Darren, "Pergilah. Kasian istrimu sendirian. Aku menunggu papi dan Mami. Kami akan menyusulmu nanti. Tenang saja, acara resepsimu pasti akan berjalan dengan baik. Meski kami datang terlambat," kata Karren.


Darren menghela nafas panjang, "Bukan soal resepaiku, Karren. Tapi aku khawatir padamu. Baiklah, aku pergi dulu. Deric, tolong aja Karren. Saat ini aku hanya bisa percaya padamu. Sampai bertemu di taman," kata Darren.


"Ya, aku pasti menjaganya." jawab Darren.


Derren mendekat dan mencium kilas kening Karren. Darren berjalan cepat keluar rumah, lewat pintu samping. Deric memperhatikan luka Karren, ia merasa lega luka wanita kesayanganny tidaklah parah. Sedangkan Karren terus memikirkan seseorang bernama Grey Franklie. Pikirannya penuh tanda tanya. Siapa sebenarnya Grey Franklie. Merasa tak asing, tetapi ia lupa.


***


Darren menemui Choi Eun Mi. Pikiran Darren masih tertuju kepada Karren. Darren merasa sedih, melihat saudari kembarnya terluka. Choi Eun Mi memegang tangan Darren dan bertanya mengapa Darren terlihat murung.


"Ada apa sayang?" tanya Eun Mi.


"Tidak ada, aku hanya sedikit lelah. Apakah kau masih serasa mual?" tanya Darren mengalihkan topik pembicaraan.


"Tidak, aku baik baik saja. Jangan cemas. Kesehatanmu jauh lebih penting saat ini. Kamu semalam kan demam," kata Eun Mi.


"Sayang, aku baik baik saja. Jangan khawatir, suamimu ini adalah pria tangguh." kata Darren tersenyum tampan.


Choi Eun Mi tersenyum cantik menatap Darren. Darren memeluk erat Choi Eun Mi dengan sepenuh hati. Darren berusaha tersenyum di depan Choi Eun Mi. Tidak ingin istri kesayangannya khawatir. Ia juga tidak bisa begitu saja menceritakan apa yang terjadi pada Karren kepada Eun Mi.


Choi Eun Mi melihat sekeliling, "Di mana Papi, Mami, Karen dan si kembar kecil? aku tak melihat mereka.


Darren kaget, "Oh, itu. mereka sedang dalam perjalanan. Duduklah beristirahat, karena kita akan berdiri lama menyambut tamu yang lain nanti. Aku ada perlu menghubungi Karren. Lupa menanyakan sesuatu," kata Darren.

__ADS_1


Choi Eun Mi menganggukkan kepala, "Iya, aku mengerti." kata Eun Mi.


Darren mengecup kilas kening Choi Eun Mi. Darren pergi menjauh dari Choi Eun Mi dan menghubungi Karren. Darren masih khawatir dengan kondisi Karren.


(Panggilan terhubung)


"Hallo, Kareen. Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Darren.


"Hei, hei, tenang saja. Aku baik baik saja. Jangan khawatir. Untuk apa kau menelepon, taman dan rumah bersebelahan," kata Karren.


"Aku kan tak bisa kembali ke ruma, makanya aku telepon. Aku tak bisa tenang memikirkanmu," kata Darren.


"Jangan cemas aku baik baik saja. Setelah selesai dengan acaramu nanti, Papi memintaku pergi ke rumah sakit," kata Karren.


"Ya, aku akan mengantarmu nanti. Dibmana Deric? Kamu bersama dengannya, kan?" tanya Darren.


"Tentu saja aku bersamanya. Saat ini Deric sedang pergi ke kamar mandi," jawab Karren.


"Baiklah kalau begitu. Aku harus mendampingi Eun Mi," kata Darren.


"Ya," jawab Karren.


***


Karren dan Deric duduk di sofa. Setelah mengakhiri panggilan dengan Darren, ponsel Karren kembali berdering. Panggilan dari Janice. Karren tersenyum dan menerima panggilan dari Janice.


(Panggilan terhubung)


"Ya, Mi. Ada apa?" tanya Karren.


"Karren, apa kau baik-baik saja? Apa lukamu sakit? Kenapa tak langsung ke rumah sakit?" tanya Janice.


"Lukaku tidaklah parah, Mami. Dan aku baik-baik saja. Tidak perlu cemas, aku akan kerumah sakit setelah acara resepsi pernikahan Darren." jawab Karren.


"Syukurlah kau baik-baik saja. Mami bisa tenang sekarang. Papimu terus mendesak mami menghubungimu," kata Janice.


Karren tertawa, "katakan pada Papi aku baik baik saja," kata Karren.


"Ya, sayang. Samapi bertemu di rumah." kata Janice.


"Ya, Mi. Hati-hati di jalan," jawab Karren yang langsung mengakhiri panggilan.

__ADS_1


Karren tersenyum, memasukan ponselnya ke dalam tas. Karren tersenyum senang, karena semua keluarga begitu peduli padanya.


Deric menatap Karren, "Aku iri padamu Karren." kata Deric.


Karren menatap Deric, "Ada apa? Kenapa?" tanya Karren.


"Kamu bisa menikmati kasih sayang keluarga yang utuh. Berbeda denganku yang sudah kehilangan mamaku," jawab Deric sedih.


"Jangan bersedih Deric. Kamu bisa anggap keluargaku sebagai keluargamu. Bukankah Mamiku sangat menyukaimu. Sampai menentang keputusan Papiku saat itu, apa kau lupa?" kata Karren.


Deric tersenyum, "Ya, kamu benar. Aku juga bahagia, karena akhirnya Paman Alberto mau menerimaku sebagai kekasihmu." kata Deric senang.


"Tentu saja. Meski terlihat menyeramkan, sebenarnya Papiku orang yang berhati lembut. Kau orang baik, tidak mungkin Papi menentangmu. Terima kasih Deric, sudah berusaha.  Kamu yang terbaik," puji Karren.


Karren tersenyum tipis mendekat dan mencium pipi Deric. Wajah Deric tiba-tiba merona, Deric kaget dan langsung merasa malu. Wajah lucu Deric membuat Karren tidak bisa menahan tawa.


***


Sementara itu suasana tegang menyelimuti mobil Alberto. Alberto masih memikirkan kondisi putri kesayangannya. Begitu juga Janice dan Dominic yang juga merasa cemas.


"Karren sungguh baik-baik saja? Lukanya pasti sakit sekali," kata Dominic.


"Bagi Karren luka seperti itu hanyalah luka kecil. Karren kami adalah wanita yang tangguh, jangan cemas, kata Janice memuji putrinya.


"Kau benar. Aku bisa melihatnya. Anakmu tumbuh luar biasa Jane," kata Dominic.


"Tentu saja. Siapa dulu Ibunya," sahut Janice menyombongkan diri.


"Apa yang Karren katakan?" tanya Alberto.


"Karren mengatakan agar kau tidak cemas," jawab Janice.


"Gadis kecilku sudah tumbuh dewasa rupannya. Dengan berani melindungi Papinya saat melihat Papinya berada dalam bahaya," kata Alberto bangga.


"Benar sekali. Putraku belum tentu seberani putrimu," kata Dominic menyahuti.


Alberto mrnatap Dominic, "Apa kau bergurau? Tidak ingat saat Deric tersiram air panas saat itu. Demi Karren, Deric rela menahan rasa sakit. Itu sudah merupakan perbuatan seorang pria sejati. Terima kasih, Dom. Kau sudah berhasil mendidik Deric menjadi pria yang baik," kata Alberto memuji.


"Tentu saja. Siaapa dulu Papanya," jawab Dominic tertawa.


Janice dan Alberto saling memandang lalu tertawa. Robert dan Rebecca hanya saling memandang. Tidak ingin mencampuri urusan orang dewasa.

__ADS_1


__ADS_2