
Semua tamu datang memberi ucapan selamat kepada Darren dan Choi Eun Mi. Darren menangis haru disaat Papi, Mami, saudara kembarnya dan adik-adiknya memberikan ucapan selamat.
Dominic dan Deric juga mengucapkan selamat kepada Darren dan Choi Eun Mi.
Alberto merangkul Janice. Air mata Janice masih menetes mengingat kenangan masa lalu. Kenangan di mana Janice membesarkan Darren dan Karren dengan tangannya sendiri. Hingga akhirnya melihat anaknya dewasa dan sekarang akhirnya menikah.
Senyum bahagia datang dari Darren dan Choi Eun Mi. Darren meminta semua keluarga berkumpul untuk berfoto bersama. Darren merangkul Choi Eun Mi dan Karren, dan secara bersama sama Choi Eun Mi dan Karren mencium pipi Darren. Darren terkejut, saudara dan istrinya memberinya kejutan.
***
Malam harinya, keluarga Edden dan beberapa tamu yang datang dari luar kota menginap di Villa yang sudah disediakan. Karena bosan dikamar, Karren akhinya keluar dari kamarnya berniat jalan-jalan di taman depan Villa menikmati suasana malam.
Karren membuka pintu utama Villa, berjalan menyeret kaki perlahan keluar dari Villa. Karren berdiri bertolak pinggang menatap langit gelap yang dipenuhi bintang berkerlip-kerlip.
"Wuahhh ... indah sekali. Malam di sini benar- benar indah." Guman Karren, lalu tersenyum cantik.
"Bintang di langit, secantik parasmu, Nona Edden." Tiba-tiba suara seorang pria mengejutkan Karren.
Karren memalingkan wajah ke arah suara, dan melebarkan mata mendapati pria asing berjalan perlahan mendekatinya.
"Si-siapa kau?" Tanya Karren waspada.
"Aku? kau bertanya siapa aku, Nona cantik? Aku adalah malaikat mautmu," kata Pria itu berjalan dengan senyuman penuh misteri.
"Sial! Pada saat seperti ini mengapa bisa ada orang gila sepertinya?" Batin Karren.
Karren berbalik ingin mesuk kembali ke dalam Villa, baru beberapa langkah tubuhnya sudah ditangkap oleh Pria asing tersebut. Mulut Karren dibungkam dengan tangan. Karren berontak, karena kakinya yang terluka, Karren tidak bisa bergerak bebas. Karren menggerang berharap seseorang bangun dan menolongnya. Karren masih berusaha meloloskan diri.
"Darren ... tolong aku. Darren ... " batin Karren dengan air mata berlinang.
***
Sementara itu di dalam kamar. Darren tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya. Perasaanya tidak enak. Pikirannya tertuju pada Karren. Darren mengusap lembut rambut istrinya dan mencium kilas pipi Choi Eun Mi.
__ADS_1
Darren segera turun dari tempat tidur dan pergi keluar dari kamarnya. Darren menutup pintu kamarnya perlahan dan berjalan menuju kamar Karren yang tidak jauh dari kamarnya berada.
Darren mengetuk pintu, "Karren ... kau sudah tidur?" panggil Darren pada Karren.
Tak mendengar suara, Darren lantas membuka pintu ingin memastikan apakah saudarinya itu sudah tidur atau memang tidak dengar saat dipanggilnya.
"Karren ... " panggil Darren.
Darren mendekati petikan lampu dan menyalakan lampu, matanya melebar. Saudarinya ternyata tidak ada di tempat tidur. Darren mencari di kamar mandi, Karren juga tidak ditemukan.
"Karren ... kau di mana?" Panggil Darren mencari.
Dengan cepat Darren keluar dari kamar karren dan berlari mencari Karren. Darren mencari diteras belakang Villa, tidak ada, di dapur juga tidak ada, Darren menatap pintu utama, ia segera berlari menuju pintu utama.
Darren membuka pintu utama dan melihat seseorang asing membawa paksa seorang wanita. Darren mengamati dari jauh, dan terkejut saat melihat jika wanita yang dibawa paksa itu adalah saudari kembarnya, Karren.
Darren berlari cepat mendekati penjahat dan langsung memukul tengkuk penjahat tersebut, sampai tersungkur di tanah. Karren terkejut, Karren tersenyum saat melihat Darren menolongnya.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih," suara serak Karren.
Darren melepas pelukan dan menatap si penjahat yang tersungkur di halaman.
"Siapa penjahat ini? Aku akan mengurusnya, kamu bisa berjalan sendiri masuk ke dalam rumah?" Tanya Darren.
"Aku bisa. Bawalah dia ke dalam dan kita ikat. Aku ingin mengintrogasinya sendiri saat dia bangun." Jawab Karren yang berjalan perlahan menyeret kaki menuju pintu utama Villa.
Darren menyeret perlahan tubuh penjahat itu mengikuti Karren. Dengan susah payah akhirnya mereka sampai di dalam Villa. Darren mendudukkan penjahat di kursi dan mengikat tubuh penjahat itu kursi. Darren membungkam mulut penjahat itu dengan kain.
Karren duduk di sofa dengan napas naik turun. Darren mengambil gelas dan menuang air minum, berjalan perlahan mendekati Karren. Darren duduk di samping Karren dan memberikan gelas berisi air pada Karren.
"Minumlah ini, atur napasmu dan tenangkan dirimu." Kata Darren.
Karren menerima gelas berisi air pemberian Darren, dan meneguk air minum dalam sekali tegukan. Karren meletakan gelas di meja dan bersandar di sofa.
__ADS_1
"Ini benar-benar gila. Di saat banyak orang di sini, mereka berani sekali menculikmu," Kata Darren geram.
"Sepertinya aku tau siapa pelakunya, dia orang yang sama dengan kejadian siang tadi. Pasti orang suruhan Gray Franklie. Aahhh ... bagaimana bisa aku lupa apa urusannku dengan seseorang bernama Franklie. Namun, nama itu memang tidak asing bagiku." kata Karren.
"Sepertinya kita harus memberi si franklir atau siapa itu pelajaran yang akan terus diingatnya sampai mati. Bagaimana kalau kita memancingnya keluar?" usul Darren.
"Ide bagus. Sepertinya memang harus kupukul," kata Karren.
Terdengar suara langkah kaki, Deric keluar dan terlejut melihat Darren dan Karren duduk bersama di sofa ruang tamu.
"Ah, kalian di sini. Kalian tidak tidur?" Tanya Deric.
"Bagaimana bisa tidur, Karren baru saja terbebas dari bahaya. Hampir saja Karren di culik oleh penjahat itu. (Menunjuk seseorang yang terikat di kursi) mereka sudah semakin berani." Ucap Darren dengan suara meninggi.
Deric terkejut, melebarkan mata. Deric mendekati Karren, jongkok di depan Karren dan memegang tangan Karren.
"Kau baik-baik saja? Apa kau keluar dari villa tadi?" Tanya Deric mengerutkan dahinya.
"Ya, aku bosan di kamarku makadari itu aku keluar," Jawaban Karren santai.
"Aku sudah peringatkan, jangan kelaur seorang diri. Kamar kita bersebelahan apa sulitnya mengetuk pintu kamarku. Kau tidak mendengar apa kataku Karren," kata Deric sedikit kecewa karena Karren tidak mau dengar kata-katanya.
"Maafkan aku, aku tidak akan ulangi lagi." Jawab Karren dengan wajah menunduk.
Darren mengehela nafas panjang, mendengar percakapan Karren dan Deric. Ternyata Karren masih Karren yang sama, Karren yang sulit untuk dikendalikan. Darren bersandar sofa, telinganya masih terus mendengar Deric dan Karren berbincang.
***
Keesokan harinya. Semua berkumpul di ruang utama, Alberto sedang berbincang dengan polisi. Alberto ingin agar orang yang berniat menculik putrinya segera diselidiki. Polisi mengiyakan dan dan membawa penculik Karren segera ke kantor polisi.
"Ini tidak benar. Aku harua tanya pada Karren. Apa hal yang sebenarnya terjadi. Bagaimana bisa Karren berurusan dengan mereka?" batin Alberto.
Alberto duduk di hadapan Karren, menyilangkan kaki dan menyilangkan dua tangan di dadanya. Alberto menatap tajam ke arah Karren. Karren langsung menundukkan kepala. Ia tahu arti tatapan Papinya itu, sehingga ia tidak berani menatap Papinya.
__ADS_1