
"Karren, jawab jujur pertanyaan Papi. Apakah kau sedang ada masalah dengan seseorang?" Tanya Alberto.
"Tidak, Papi! Aku tidak pernah melakukan kesalahan dalam tugasku, dan aku tidak pernah sekalipun menyinggung orang lain. Hanya saja aku mencurigai seseorang, dia bernama Gray Franklie. Nama belakang Franklie tidak asing bagiku, entah mungkin saja dia kerabat, saudara atau apalah itu dari seseorang yang pernah berurusan denganku saat aku berada di Autralia. Sungguh, aku tak pernah melibatkan diri dalam urusan berbahaya dengan sengaja mengganggu orang," kata Karren menjelaskan.
Alberto memijat keningnya. Ia segera berdiri dari posisinya duduk dan mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Alberto menghubungi seseorang. Ia menghubungi Ethan, saudara sepupunya.
(Perbincangan di telepon)
"Hallo, Al. Ada apa?" jawab Ethan.
"Et, aku mengganggumu? Kau sibuk? Apa kau di hotel?" Tanya Alberto.
"Ya, aku di hotel. Ada apa?" Tanya Ethan penasaran.
"Datanglah, jika tidak sibuk. Terjadi sesutau tidak terduga di villa." Ucap Alberto.
"Ah.. baiklah, aku akan datang." Jawab Ethan.
Alberto mengakhiri panggilan. Memasukan ponselnya kembali ke dalam saku celana. Alberto kembali duduk dan menatap Karren lekat. Janice ikut duduk di samping Alberto dan mengusap punggung suaminya itu.
"Karren, coba ingat-ingat kembali. Apakah selama kau bekerja di Australia kau pernah menangani kasus besar? Kasus pembunuhan misalnya, atau mungkin kau sudah berurusan dengan dunia mafia? Jujur saja menurutku seseorang dibalik ini semua sangat kuat dan memiliki kekuasaan. Tidak akan mudah dihadapi." Kata Dominic tiba-tiba angkat bicara.
Karren berpikir, kembali mengingat-ingat kejadian pada masa lalu. Pada saat ia masih bekerja di Australia. Mata Karren mrmbulat, Karren teringat akan sesuatu yang kemungkin besar berhubungan dengan ini semua.
(Karren pernah mendapatkan kasus yang berhungan dengan dunia gelap. Perdagangan obat-obatan terlarang, karena geram dan kesal anggotanya tidak kunjung mendapatkan hasil akhinya Karren turun tangan sendiri menyelidiki. Karren menyamar dan mulai terlibat lebih dalam. Karren merencanakan semua dengan matang bersama timnya. Pada akhirnya Karren berhasil menangkap kepala, tidak hanya ekor. Pada saat itu ada yang mencoba kabur. Dan akhirnya Karren menembak kaki seseorang yang kabur itu. Seseorang itu mengaku sebagai Giorge Franklie, Karena bersalah dan menjadi buronan selama bertahun-tahun, Giorge akhirnya di jatuhi hukuman mati. Dan pada saat itulah Karren menjadi pusat perhatian di tempatnya bekerja. Cantik, trampil dan gesit. Juga memiliki pemikiran yang cerdik.)
Karren menatap Dominic, "Paman, baru saja mengingat sesuatu. Dan kejadian itu memang berkaitan. Sepertinya aku sudah menyingung seseorang yang punya kekuasaan. Saat di Australia aku pernah menangkap seseorang bernama Giorge Feanklie, namun dia mencoba kabur. Aku menembak kakinya, saat di persidangan Giorge dijatuhi hukuman mati. Dan aku ingat seseorang pernah memakiku, mengataiku akan memberiku pelajaran. Wah, ternyata dia sungguh mengejarku sampai kesini. Aku tidak bisa percaya ini," kata Karren. Yang sungguh tidak menyangka semuanya akan menjadi runyam seperti ini.
Semua orang terkejut mendengar penjelasan Karren. Janice merangkul lengan Alberto erat, Alberto menatap Janice.
"Semua akan baik-baik saja. Jangan cemas." Bisik Alberto merangkul Janice.
__ADS_1
Meski sudah di tenangkan oleh Alberto namun Janice masih merasa was-was. Janice tidak ingin sesuatu terjadi pada Karren. Janice hanya bisa berdoa agar Karren baik-baik saja.
"Jika seperti itu kita seharusnya bisa membuat kesepakatan. Kita bisa bertanya apa sebenarnya yang dia inginkan." sahut Darren.
"Masalah ini tidak sesederhana itu Darren. Kau tidak mengenal mereka, mereka tidak mudah di hadapi. Mereka mengincarku, aku tidak akan melibatkan kalian semua dalam masalah ini. Aku akan menyusun rencana untuk melawannya. Namun, sebelum itu aku harus lebih dulu memulihkan kondisi kakiku." Ucap Karren.
"Papi setuju denganmu, saat paman kalian datang ayo kita bicarakan lebih serius lagi mengenai ini semua." Jawab Alberto tiba-tiba.
***
Ethan datang ke Villa di mana Alberto dan keluarganya berkumpul. Ethan mendengar cerita dari Karren mengenai kejadian saat itu.
Ethan menatap Karren, "jadi apa langkah selanjutnya? Kau ingin bagaimana Karren?" Tanya Ethan.
"Paman, aku akan menghadapi sendiri Gray Franklie, aku hanya butuh memulihkan cideraku secepatnya." Jawab Kerren.
Ethan memeriksa cidera kaki Karren, "Kakimu cidera dan butuh waktu sekitar satu bulan untuk bisa pulih." Kata Ethan menatap cidera kaki Karren.
"Paman, kita tidak bisa menunggu selama itu." Jawab Kerren.
"Ayolah paman, tidak bisakah paman membantuku?" Karren memasang wajah memelas.
Ethan menghela napas panjang menatap Alberto, Ethan menggeleng seakan tidak bisa menolak permintaan keponakan yang disayangainya itu.
"Baiklah, baiklah, besok paman akan melakukan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit. Paman paling tidak bisa menolakmu." Keluh Ethan.
Karren tersenyum, "Paman yang terbaik." Karren memuji Ethan.
"Ayo kita susun rencana perlawan, dalam misi kali ini papi juga akan turun tangan membantu." Alberto membuka suara.
"Baiklah, kita akan pelajari lebih dulu lawan kita seperti apa. Karren berikan informasi akurat pada kami sejauh yang kau ingat, apapun itu. Darren, carilah informasi mengenai latar belakang Gray di internet atau kau beli saja informasi yang berhubungan dengannya dari berbagai sumber. Kita harus mulai mempelajari semuanya dan mengumpulan informasi sebanyak-banyaknya," Kata Ethan.
__ADS_1
Hari itu menjadi hari yang panjang, Karren memberikan iformasi apa yang di ketahuinya, sedangkan Darren masih sibuk mencari di internet dan bertanya pada penjual informasi. Ia di bantu Alberto. Semua data mengenai Grey ternyata sudah diblokir.
Ethan mendengar cerita Karren dan mencatat hal-hal yang penting. Mereka semua sibuk sampai lupa waktu.
***
Hampir sebulan lamanya, Albertho, Ethan, Karren dan Darren melakukan persiapan. Domonic dan Deric ditugaskan Alberto untuk menjaga Janice, Choi Eun Mi dan juga si kembar Robert dan Rebeca.
Kondisi Karren juga sudah pulih total.
Sesuai rencana. Karren menjadi umpan dan datang menemui Gray. Karren di pantau oleh Alberto, Darren dan Ethan. Karren datang dengan persiapan yang matang, Karren juga sudah menyiapkan senjata andalannya, apalagi jika bukan jarum beracun.
Karren menghela nafas panjang, Karren mengurai rambutnya, membenahi alat dengar yang terpasang di telinganya. Memakai rok mini dan sepatu boots hampir selutut. Memakai kaos dengan baju anti peluru di balut jaket kulit hitam. Karren terlihat cantik dan Seksi.
"K ... kau dnegar aku?" Tanya Darren.
"Satu ... " jawab Karren.
Satu artinya ya, dan dua artinya tidak. Ini seperti kata rahasia.
"Berhati-hatilah, jangan sampai terluka. Senentar lagi Papi akan menyusulmu." Ucap Darren.
"Satu," jawab Karren.
"Hitungan mundur, masukalah. Tiga, dua satu ... siap ..." kata Darren memberi aba-aba.
Karren masuk melewati penjaga, Karren menujukan pesan pada penjaga. Penjaga melihat pesan, tau jika itu pesan dari bosanya.
"Angkat tanganmu dan berputarlah nona cantik." Goda seseorang.
Karren tersenyum cantik, mengikuti kemauan orang yang ada dihadapannya. Karren melangkah maju dan berputar, tangan Karren langsung memukul tengkuk penjaga itu hingga tersungkur. Karren melihat kamera pengawas, Karren melopat ke atas meja dan merusak kamera pengawas.
__ADS_1
Karren kembali berjalan masuk untuk menemui Gray, Karren melumpuhkan semua penjaga Gray dan merusak kamera pengawas, bertujuan agar Gray tak bisa melihat saat Alberto masuk ke dalam mengikuti jejak Karren.
Alberto memaksa ikut, tidak ingin putrinya terjadi apa-apa. Alberto terus mengendap-endap masuk mengikuti Karren.