
"Aku akan menjagamu, Eun Mi. Aku akan melindungimu dan akan selalu membuatmu bahagia. Aku berjanju akan setia padamu. Hanya kamu yang ada di dalam hatiku. Aku sangat mencintaimu, Eun Mi." dalam hati Darren.
Darren mencium lembut kepala Eun Mi, Darren mengeratkan pelukannya. Perlahan menutup mata dan tertidur.
***
Dikamarnya, Karren berbincang dengan Deric lewat telepon. Karren tersenyum senang mendengar cerita Deric.
"Hei, Der ... kau sudah baik baik saja?" tanya Karren.
"Ya. Aku sudah merasa lebih baik. Hanya perlu teratur mengoles krim agar lukanya tak berbekas," jawab Deric.
"Lusa datanglah, jika ada waktu. Aku akan buatkan cemilan enak," kata Karren.
"Wah, kalau sudah diminta, aku pasti datang. Aku sekalian ingin memberikanu kejutan," kata Deric.
Karren mengerutkan alisnya, "Kejutan apa? Jangan buat aku penasaran," sahut Karren penasaran.
"Kalau aku katakan, itu bukan lagi kejutan. Nantika saja, kamu juga akan tahu. Tidurlah, ini sudah larut malam." Kata Deric tak memberitahu Karren perihal kejutannya.
"Ya, ya. Baiklah. Kau juga tidur sana. Dahhh ... " kata Karren.
"Aku mencintaimu, K ..." kata Deric tiba-tiba.
Karren kaget, "Ka-kau ... jangan menggodaku. Dasar ..." gerutu Karren.
"Hahaha ... baiklah, aku tutup teleponnya ya. Dahh ... " sahut Deric.
"Ya," jawab Karren.
Deric lantas mengakhiri panggilannya dengan Karren.
Deg ... Deg ... Deg ... jantung Karren berdegup kencang. Karren maraba dadanya. Wajahnya memerah, Karren menggeleng-gelengkan kepala.
"Astaga, kenapa Deric membuat jantungku berdebar? Ini gila, apa aku benar benar sangat menyukai Deric?" batin Karren.
Karren meletakan ponsel di meja, dan berbaring. Menarik selimut menutupi wajahnya. Karren masih terus terbayang wajah Young Jun.
"Jun, tenanglah di sana. Maaf, jika aku menyakiti hatimu. Aku tidak bermaksud menyakitimu," gumam Karren. Karen perlahan menutup mata dan terlelap tidur.
***
Sementara semua orang tertidur lelap, siapa sangka di luar, seseorang menatap rumah Alberto dengan penuh rasa benci. Seseorang itu ada di dalam sebuah mobil.
__ADS_1
"Karren Edden, aku akan balaskan dendam adikku! Aku pasti akan melenyapkanmu dengan tanganku sendiri."
Suara misterius dari orang yang misterius, seseorang itu terus menatap ke arah rumah dan tersenyum jahat. Tidak lama kemudian melesat pergi bersama mobilnya.
***
Akhirnya hari yang ditunggu tunggu tiba. Hari pernikahan Darren dan Eun Mi. Semua anggota keluarga hadir, termasuk anggota keluarga Choi Eun Mi. Upacara pemeberkatan nikah berlangsung. Upacara berjalan lancar dari awal pertengahan hingga akhir. Darren dan Eun Mi bertukar cincin dan berciuman. Semua bersorak bahagia, terlebih Karren.
Darren dan Eun Mi turun dari Altar berjalan perlahan meninggalkan gereja.
Darren dan Eun Mi masuk ke dalam mobil dan melesat pergi menuju tempat resepsi. Semua tamu juga pergi dan meninggalkan gereja. Alberto satu mobil dengan Janice, Dominic, si kembar Robert dan Rebecca. Sedangkan Karren satu mobil dengan Deric. Ada sesuatu hal yang membuat Karren merasa cemas dan gelisah. Perasaan Karren tidak tenang.
"Sayang ada apa?" tanya Deric.
Karren menggelengkan kepala, "Entahlah, perasaanku tidak enak. Aku merasa akan ada sesutu yang terjadi," kata Karren.
"Apa kamu sakit?" tanya Deric, meraba dahi Karren, "kamu belum makan?" tanya Deric lagi. Deric tampak khawatir.
"Ya. Aku melewatkan waktu sarapan tadi. Aku terlalu lama berdandan," jawab Karren.
"Kenapa kau melewatkan sarapan? tidak berdandan pun kau selalu tampak cantik, Karren. Jangan abaikan kesehatanmu," kata Deric.
"Ya. Kalau begitu, bisa kita mampir ke supermarket? Aku ingin membeli kue atau roti untuk ku makan," pinta Karren.
"Tentu saja," sahut Deric.
"Hanya ada ini, hari ini cakenya laku terjual." Kata Deric memberikan sebungkus Kue dan susu kotak.
Karren membuk bungkusan, "Oh, ini sudah cukup, terima kasih," ucap Karren.
Deric tersenyum mengusap kepala Karren, "Ya. Sama-sama. Makanlah perlahan," kata Deric.
Mobil kembali bergerak, turun kejalan mengikuti rombongan. Karren makan cake dengan lahap. Deric menatap Karren tertawa melihat mulut Karren yang belepotan krim. Lampu jalan berubah merah.
Karren menatap Deric, "ada apa? Kenapa tertawa?" tanya Karren.
"Ada krim yang menempel di bibirmu," kata Deric.
"Oh, benarkah?" Kata Karren mengambil tisu, tetapi tangan Karren ditahan oleh Deric. "Ada apa?" tanya Karren bingung.
"Biar aku saja yang bersihkan," kata Deric.
Deric menarik tangan Karren dan langsung mencium bibir Karren. Deric menyapu bersih sisa-sisa krim di bibir Karren. Deric melepas ciuman dan tersenyum. Karren menutup mulutnya dengan kedua tangan. Karren merasa sangat malu.
__ADS_1
"Kenapa rasanya sangat manis ya?" gumam Deric.
Karren memukul bahu Deric, "Dasar kau. Sudah aku katakan, jangan menggodaku. Kau senang sekali menggodaku. membuatku malu saja," gerutu Karren.
Karren berpaling dan tidak sengaja melihat ke arah kaca mobil, ada sebuah mobil asing mengikuti. Perasaan Karren semakin tidak tenang.
Karren menatap Deric," Der ... perasaanku tidak enak. Apa kita sedang diikuti? kau kenal pemilik mobil di belakang kita?" tanya Karren.
Deric melihat kaca mobil, "Tdak, ada apa? Apa itu bukan mobil salah satu rombongan?" tanya Deric.
Karren mengerutkan dahinya, "Mencurigakan," gumam Karren. "Der, tepikan mobilmu dan turunlah, biarkan aku yang menyetir. Aku akan lihat bagaimana keahliannya mengemudi." kata Karren.
Deric menganggukkan kepala, menghentikan mobil di pinggir jalan. Deric dan Karren bertukar posisi. Karren memasang Earphone ditelinganya menghubungi Papinya. Panggilan tersambung, tetapi Alberto belum mengangkat panggilan Karren.
Karren mengemudi dengan tenang, "Persiapkan dirimu, Der. Jika takut tutup saja matamu," kata Karren.
Deric twrkejut, "Ka-Karren, jangan membuatku jantungan. Apa yang kamu lakukan?" tanya Deric. Saat ia merasa Karren sedang mengebut.
Tak lama panggilan Karren diterima Alberto.
"Ya,sayang. Ada apa?" tanya Alberto.
"Papi, papi di mana?" tanya Karren.
"Di jala. Kau di mana?" tanya balik Alberto.
"Papi, sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi. Papi tunggu aku di depan kafe langganan Papi. Jangan langsung menuju tempat resepsi. Aku harus turunkan Deric lebih dulu," kata Karren.
"Apa? ada apa sebenarnya? Kau ... " kata-kata Alberto terpotong oleh Karren.
"Cepat, Papi. Ini darurat!" seru Karren.
Karren menambah kecepatan mendahului semua mobil rombongan. Termasuk mobil Alberto. Alberto melihat mobil Karren diikuti mobil asing, Alberto keluar dari jalur dan menyusul mobil Karren.
Janice bingung melihat suaminya mengebut, "Sayang, ada apa?" tanya Janice.
"Entahlah. Sepertinya putri kita berada dalam masalah," kata Alberto.
"Apa Karren pernah berurusan dengan anggota mafia?" tanya Dominic.
"Ada apa? Aku tidak tahu soal itu. Karren hanya seorang detektif yang menyamar menjadi seorang pengacara. Itu yang kutahu," jawab Alberto.
"Perhatikan baik-baik jenis mobil yang mengikuti Karren. Jenis itu adalah jenis mobil yang kebanyakan digunakan agen pembunuh bayaran," kata Dominic.
__ADS_1
Alberto terkejut, "Apa? Sial! Aku harus mengejar Karren," kata Alberto.
Alberto menginjak pedal gas dan menembah kecepatan. Mobil di depan Alberto berjalan zig zag. Seakan bisa membaca gerakan Alberto. Alberto lantas menghubungi Karren.