
POV Dila
Bulan November ini aku sudah kelas XII, aku juga sudah jadian dengan salah satu teman kecil ku dulu, aku tak bisa menceritakan bagaimana awal kami jadian, Koko yang selalu ku harap tak pernah kunjung menembak, hanya selalu memberi harapan palsu, sering mengapel ke kelas ku tapi tak pernah menyatakan perasaan. Begitu pula dengan Tio hubungan yang agak renggang di kelas X dulu semakin membaik, hanya saja mengenai perasaan tak pernah ku dapat jawaban, Sampai masa itu tiba ketika dia teman kecil ku di zaman SD yang hilang kabar berita cukup lama muncul kembali dan menembak ku sebut saja namanya Khoir.
Di waktu SD dulu Khoir anak yang aktif dan paling pintar, selalu dapat juara 1 dan umum, setiap ada lomba cerdas cermat selalu dia yang menjadi perwakilan sekolah. Sebenarnya perasaan ku untuk Khoir saat itu tidak ada, aku menerima dia agar bisa melupakan Koko dan Tio, dan berharap dengan berjalan waktu perasaan ku pada Khoir bisa tumbuh.
__ADS_1
Perjuangan Khoir yang rumahnya sangat jauh dari rumah ku bahkan melewati jurang ia lalui untuk apel malam Minggu, tetapi kami tidak kemana-mana hanya makan bakso, ia sangat tampan dan gagah.
Momen pada hari idul Fitri tahun itu aku pergi bersama dia, dan juga beberapa teman SD kami bermaksud mengadakan reuni dan lebaran ke rumah guru-guru. Banyak teman yang tidak menyangka mengapa kami bisa jadian. Memang hari- hari yang ku lewati bersama Khoir menyenangkan dan membuat ku dapat melupakan Koko dan Tio.
Di tahun itu keluarga kami mulai merasakan kehilangan, orang tua yang terpisahkan dari anak, 2 orang kakak yang kehilangan adik, dan seorang adik yang kehilangan kakak. Bagaimana juga ada hikmah dari kepergian Mai ke pulau Jawa, dimana ibu sudah hampir bisa mengontrol emosi, ayah yang tidak terlalu main tangan, kakak beradik yang mulai berkurang berantamnya.
__ADS_1
Disisi lain karena sudah kelas XII aku meningkatkan belajar ku, apalagi ketika itu selalu di semangati Khoir. Hingga akhirnya kami membahas tentang universitas. Diriku yang memang dari keluarga kurang mampu sudah berkali-kali di jelaskan ayah tidak akan menyambung perguruan tinggi apalagi lagi prestasi ku yang tidak seberapa. Sedangkan Khoir memiliki cita-cita tinggi, ia ingin kuliah di Malaysia. aku merasa sangat minder dengan dia, rasanya tidak pantas aku yang bodoh ini jika berdampingan dengan Khoir, lalu aku pun juga tidak ingin menjalani hubungan jarak jauh. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk berpisah. Sebenarnya aku jatuh cinta dengan dia dan benar - benar bisa melupakan mereka yang hanya PHP pada ku, tapi jalan cerita ku bersama Khoir berakhir sampai disitu.
Bersambung
Selamat menikmati cerita ini ya, semoga masih suka dengan cerita ini yang mungkin masih banyak kekurangan. jangan lupa like komen dan vote ya πβΊοΈπ
__ADS_1