
“Tutup matamu!”
Aku langsung mengalihkan mukaku dan dia mengganti kaosnya yang terkena muntahanku tadi dengan kaos bersih.
Aku masih melihat ke luar. Mukaku masih merah dan bayangan tubuh Sehwa tidak bisa hilang dari otakku. Sekarang otak dan mataku sudah ternoda.
Karena terlalu lelah, aku akhirnya tertidur di mobil. Namun karena posisiku kurang nyaman, akhirnya aku terbangun. Mobil sudah berhenti di depan rumahku. Gila, berapa lama aku tertidur.
Aku melihat Sehwa yang masih duduk di depan kemudi, dia menoleh ke luar.
“Kau tidak membangunkanku?”
Tanyaku tapi tidak dijawab, dia masih memunggungiku dan melihat ke luar.
Dia kenapa?
“Terima kasih sudah mengantarku. Maaf merepotkanmu.”
“Cepatlah masuk, sudah malam.” Dia masih belum melihat ke arahku.
Aku akhirnya turun dan melambaikan tangan ke Sehwa, tapi dia langsung menjalankan mobil dan pergi begitu saja.
Dia kenapa sih?
Saat aku masuk rumah, aku melihat orang tuaku yang menatapku tajam.
“Dari mana?”
“Ke taman hiburan bersama Mingyu.”
“Tadi Mingyu ke sini mencarimu. Dia bilang kamu mengilang.”
Oh, jadi Mingyu ke rumahku.
“Itu.. Kita terpisah dan Mingyu mengira Sera sudah pulang, jadi dia pulang duluan.” Jelasku.
“Lalu tadi siapa yang mengantarmu?” tanya ayahku.
“Itu.. Pacar Sera.”
“Kamu sudah punya pacar?”
“I-iya.. Tadi Sera menelfonnya untuk dijemput.”
Mati aku. Aku sudah banyak berbohong pada orang tuaku. Bagaimana jika aku kena batunya.
“Yasudah sana masuk kamar. Hp kamu juga kenapa dimatiin? Papa dan mama jadi khawatir.”
“Eh itu, hp Sera batrenya habis. Yasudah pa ma, Sera ke kamar dulu. Malam pa ma.”
Aku langsung mengisi batrai hpku yang ternyata masih 30%, akhirnya aku menyalakannya dan notifikasi langsung masuk semua.
Berarti baterai hpku tidak habis. Apa Sehwa yang mematikan hpku? Tapi untuk apa?
Aku cek pesan dari Mingyu dan aku terkejut saat mengetahui Mingyu sekarang ada di taman hiburan sedang mencariku.
Lah dia kembali dan mencariku. Aku jadi merasa bersalah.
__ADS_1
***
Aku masuk ke kelas dengan penuh senyum. Walaupun kejadian semalam cukup memalukan tapi aku senang karena bisa jalan bersama Sehwa untuk kedua kalinya.
“Sekarang jelaskan padaku, kemarin kau ke mana?” tanya Mingyu yang seenaknya masuk ke kelasku.
Dia berdiri di depanku, jadi hal itu membuat Lisa dan Gela memperhatikanku.
Semalam aku hanya mengirim pesan ke Mingyu bahwa aku sudah pulang dan menyuruhnya untuk tidak perlu khawatir, lalu aku langsung tidur karena lelah.
“Aku naik wahana.”
“Lalu lelaki yang angkat telfonku siapa?”
Mingyu tidak tau kalau itu Sehwa? Memang dia tidak mengenali suaranya?
“Dia tidak berbuat macam-macam kepadamu kan?” tanya dia.
“Aku tidak papa. Dia mengantarku pulang dengan selamat.”
Mengantar? Padahal aku yang meminta dia mengantarku pulang. Aku jadi ingat bahwa aku belum membayar ongkos ke dia.
“Kalian semalam pergi?” tanya Lisa.
“Terus aja pergi berdua. Tinggalin kita.” Sindir Gea.
“Aku kemarin jalan ke taman hiburan bersama Sera. Tapi saat akan pulang dianya menghilang. Kan aku bingung mencarinya.”
“Yang penting sekarang aku di sini dan tidak terjadi apa-apa.”
Saat istirahat, aku pergi ke kantin bersama Lisa dan Gea. Aku sangat lapar karena tadi tidak sempat sarapan, maklum malamnya keasikan memimikan Sehwa.
Baru juga dipikirkan, aku sudah melihat Sehwa yang sedang duduk bersama teman-temannya. Dan aku melihat bangku di dampingnya kosong.
Aku menepuk punggung Lisa. “Aku duluan ya.”
“Kau mau ke mana?” tanya Lisa tapi saat dia melihat arah jalanku, dia langsung tau.
“Hai.” Sapaku ke mereka semua.
“Oh Sera.” Ucap Chang Jung.
“Namaku masih Lee Sera, belum jadi Oh Sera. Tapi sebentar lagi.”
Uhuk!
Sehwa langsung tersedak makanan dan aku memberikan segelas air untuknya, tapi dia lebih memilih air milik kak Mun.
Kak Chang Jung dan yang lain tertawa. Aku tau maksud kak Chang Jung hanya menyapa dengan embel-embel oh, bukan memanggil ‘Oh Sera’ tapi kan mirip dia memanggilku dengan marganya Sehwa, haha.
Sehwa menaruh gelas yang sudah kosong itu kasar dan menatapku tajam.
“Jaga ucapanmu. Jangan asal bicara.”
Aku cemberut. “Iya iya maaf.”
“Kau tidak makan?” tanya kak Jong Han. “Mau aku pesankan? Tapi bayar sendiri.”
“Aku pesan es kopi hitam.”
__ADS_1
“Kau bilang hitam jangan kepadaku.” Sahut kak Jong Han.
Lha dia kenapa? Katanya tadi memesankanku?
“Jangan baper.” Itu kak Mun yang bicara.
Ada apa dengan kata hitam? Kak Jong Han kenapa agak sensi?
“Makannya?”
“Seperti Sehwa.” Jawabku. Sehwa lagi makan nasi goreng yang sepertinya sangat enak.
“Pak, nasi goreng seperti Sehwa satu dan es kopi satu.”
“Kopi hitam.” Koreksiku. Nanti malah dibuatin kopi susu.
“Iya kopi hitam.” Sungut kak Jong Han.
Kak Mun, kak Lean dan kak Chnag Jung tertawa mendengar ucapan kak Jong Han.
***
Tidak lama pesananku datang dan aku langsung makan. Namun baru beberapa suap, aku sudah kepedasan. Gila! Ini nasi gorengnya kenapa pedes banget.
“Kak Jong Han, kenapa pedes banget?” aku langsung minum es kopiku dan sisa setengah.
“Kau bilang seperti Sehwa. Punya diakan juga pedes.”
Aku melihat Sehwa yang sekarang juga melihatku.
Alamat, lambungku perih lagi nih.
“Kalau kau tidak suka, tidak usah dimakan.” Ucap Sehwa yang melanjutkan makan nasi gorengnya. Dia sepertinya suka yang pedas-pedas.
“Aku suka kok.”
Aku melanjutkan makan sampai keringat membasahi wajahku tapi suapan ke delapan, tangan Sehwa menahan sendokku. Aku menatapnya, mata dan bibirku sudah memerah karena kepedasan.
Akhirnya aku menaruh sendokku dan mengambil es kopi, namun lagi-lagi ditahan Sehwa. Dia memberikan es the miliknya dan aku langsung menghabiskannya.
“Kau jika dibilangin suka tak patuh.”
“Kau tidak papa Ser?” tanya kak Chang Jung. “Keringatmu banyak.”
“Aku.. Aku tidak papa kak.” Jawabku dan senyum tipis.
Aku sudah akan melanjutkan makan lagi namun Sehwa langsung menarik sendok dan piringku. Dia menjauhkan piringku.
“Kembalikan, aku mau makan.”
“Kau ingin bunuh diri?!” geram Sehwa.
…
__ADS_1
Sehwa menatapmu sembari tersenyum tipis. "Jangan lupa like, komen, dan share."