
Kejadian aku mencium pipi Sehwa langsung menyebar ke
seluruh sekolah. Aku tidak heran, karena aku menciumnya saat jam sekolah dan
banyak murid yang melihat.
Mingyu dan kak Chang Jung bahkan langsung menanyakan
kebenaran beritua itu dan aku menjelaskan kalau itu semua benar.
Mereka sempat kecewa denganku, terutama Mingyu. Dia
bahkan mengatakan bahwa aku labil tapi aku mengakui bahwa aku memang labil.
Saat di kantin, aku melihat Sehwa sedang bersama
teman-temannya. Dia duduk di antara kak Lean dan kak Hyeri.
Aku langsung mendekati mereka dan duduk di antara Sehwa
dan kak Hyeri.
“Kau kenapa sih? Ganggu orang makan saja!” itu kak Hyeri
yang marah-marah, namun aku tidak peduli.
Aku memperhatikan Sehwa yang sedang makan sembari
menopang dagu.
Aku tidak peduli jika semua yang ada di kantin sedang
memperhatikanku. Mungkin hanya Sehwa seorang yang tidak ingin melihatku.
Aku mendekatkan dudukku dengan Sehwa dan dia langsung
melirikku tajam namun aku malah tersenyum.
Ku ulurkan tangan, mengambil sebutir nasi yang ada di
sudut bibir Sehwa dan aku bisa melihat jika muka Sehwa terkejut.
Sumpah jantungku berdebar saat jariku menyentuh sudut
bibirnya.
Dia langsung menepis tanganku dan masih menatapku tajam.
Sebelum Sehwa sempat berbicara, kak Hyeri menjambak rambutku dan itu membuat
dudukku menjauh dari Sehwa.
“Kau, adik kelas harus menjaga sikap. Kau sudah tidak
sopan! Dasar gtl!.”
Aku mendapat makian dari kak Hyeri. Rambutku perih karena
dia masih menjambakku.
Tidak mau tinggal diam, aku juga ikut menjambak
rambutnya. Akhirny aksi jambak menjambak tidak dapat dihindarkan.
Kak Chang Jung dan kak Mun sudah sempat melerai, namun
gagal dan aksi itu berakhir saat guru datang.
Alhasil aku dan kak Hyeri mendapat hukuman yaitu lari
memutari lapangan 5x
Aku tidak membawa baju olah raga, tapi yasudahlah.
Aku memasang headset dan memutar musik dari hp ku. Dihukum sembari mendengarkan
music boleh lah hahaha
Aku melihat kak Hyeri sudah lari lebih dulu dan aku di
__ADS_1
belakangnya. Namun baru satu putaran dia pingsan. Aku yakin dia hanya pura-pura
pingsan agar tidak di hukum karena tadi aku melihat matanya terbuka sedikit.
Dasar kadal.
Aku lari pelan, semacam lari pagi. Bedanya ini siang dan
cuaca sangat terik. Mana aku memakai rok, kulitku bisa belang.
Baru tiga putaran namun aku sudah kecapean. Lariku mulai
lambat dan badanku sudah berkeringat. Seragamku bisa bau nih.
Aku lari lagi dan akhirnya mendapat empat putaran. Kurang
satu kali lagi.
Aku harus semangat.
Dan tanpa ku sadari, sedari tadi Sehwa memperhatikanku
dari jendela kelasnya. Dia bahkan tidak memperhatikan guru yang sedang
menjelaskan.
Saat tersisa setengah putaran, aku terjatuh dan lututku
tergores. Aku melihat lututku yang mengeluarkan darah.
Aku melihat jalur lariku yang tinggal setengah. Dengan
sedikit usaha lebih, aku berdiri dan lari lagi namun pandanganku lama-lama
buram dan aku hanya ingat ada badan yang menangkapku agar tidak jatuh ke tanah.
Saat aku bangun, aku sudah ada di UKS. Aku tidak
menemukan siapa-siapa tapi tak lama aku melihat guru jaga.
“Kamu sudah sadar? Tidur saja, jangan memaksakan diri.”
memejamkan mata, tapi batal karena melihat bajuku yang sudah berganti menjadi
pakaian olahraga.
Aku langsung membuka selimut dan ternyata hanya bajuku
yang ganti. Rok ku masih terbalut dengan sempurna, dan aku juga melihat lututku
yang diperban.
Melihat aku yang sepertinya panik akhirnya guru itu
menjelaskan apa yang terjadi.
“Tenang saja. Ibu yang mengganti bajumu. Sudah sekarang
kamu tidur dulu saja, badan kamu masih lemas.”
Aku akhirnya menuruti kata guru itu. Ku pejamkan mata
sembari menghirup aroma kaos yang aku pakai. Wangi. Dan aku suka wanginya,
hidungku terasa tak asing dengan wangi ini.
Tak terasa ternyata aku sudah tertidur sangat lama bahkan
hingga jam pulang sekolah. Saat aku terbangun, aku melihat Sehwa yang duduk di
samping ranjangku.
Dia melihatku dengan tatapan aneh.
“Akhirnya bangun juga. Kau tidur seperti orang mari
saja.”
“Kenapa kau di sini?”
__ADS_1
“Aku tidak boleh di sini? Yasudah, aku pergi.” Yah dia
benar-benar ingin pergi.
Aku langung menahannya dan menyuruhnya kembali duduk.
“Ke mana guru jaga?”
“Pulang.”
“Kenapa pulang?”
“Ini sudah lebih dari jam pulang. Makannya jika tidur
jangan seperti orang mati.”
Akhirnya aku diantar Sehwa pulang karena aku tidak bisa
jalan normal. Dia juga menggendongku di punggungnya dan aku hanya memeluknya
sembari memejamkan mata.
Aku tau kaos siapa yang aku gunakan sekarang, kaos Sehwa.
Sesampainya di rumah, ibuku sedang menyiram bunga di
halaman depan. Dia langsung menghampiriku dan Sehwa.
Mati aku. Ibu tidak boleh tau jika yang mengantarku
adalah Sehwa. Dia Taunya Sehwa adalah pacarku.
Aku langsung turun dari motor dan pegangan tiang.
“Sudah cepat pergi. Sebelum ibuku datang.” Usirku.
Bukannya pergi, dia malam menoleh ke arah ibuku yang
sampir tiba.
“Aku masih punya sopan santun.” Sindirnya.
Dia melepas helm dan turun dari motor. Dia menyapa ibuku
dan memperkenalkan diri. Bodoh memanh. Jika seperti itu ibuku langsung
mengetahui kalau kau itu pacarku.
“Pacar Sera itu ya? Ayo masuk dulu.”
Ibuku melihatiku. “Kaki kamu kenapa Ser?”
“Dia tadi dihu-“ aku langsung memeluk Sehwa dan menutup
mulutnya. Gila! Jadi orang jangan jujur-jujur!
“Sera tidak papa ma. Hanya tadi jatuh saja.”
“Oh yasudah ayo masuk dulu.”
Dan pada akhirnya Sehwa membantuku masuk. Duh bisa terbongkar
semua kebohonganku selama ini.
***
__ADS_1