
Setibanya di rumah, aku langsung mandi dan bersiap tidur.
Namun deringan hp yang asing membatalkan niatku untuk tidur.
Aku mendekati jaketku yang tersampir di kursi lalu
memeriksa sakunya. Ada hp yang tidak ku kenal. Saat ku lihat nama penelfon, di
sana tertulis ‘Mama’. Hp siapa ini?
Akhirnya aku mengangkatnya, siapa tau penting.
‘Sayang kau di mana? Kenapa belum pulang?’
Nah suara ibu-ibu yang sedang mencari anaknya.
“Maaf?”
“…”
Tidak ada jawaban.
‘Ini siapa ya? Pacarnya? Tolong Sera suruh pulang karena
ini sudah malam.”
Sera? Jadi ini hp Sera? Kenapa bisa ada di kantong
jaketku?
Aku harus menjawab apa? Aku saja tidak tau dia adi mana.
“Iya tante, ini dia sedang ke toilet.”
‘Oh yasudah. Oiya nama kamu siapa? Sera sering cerita
kalau dia memiliki pacar tapi tidak pernah mengatakan siapa pacarnya.’
Itu anak bicara apa saja ke ibunya.
“Nama saya Sehwa.”
‘Nama yang bagus. Kapan-kapan main ke rumah, kenalan
dengan tante.’
“Ah, iya tan..”
‘Yasudah, jaga Sera ya.’
“Iya tante.”
Dan telfonpun terputus. Gila ya itu bocah, apakah dia tidak
takut terkena batunya membohongi orang tua?
Perasaan tadi setelah selesai makan dia langsung pamit
pulang, kenapa belum sampai rumah.
Aku tiduran sembari memainkan hp Sera. Hp nya terkunci
dan iseng aku memasukkan tanggal lahirku dan terkejut saat hp itu terbuka.
Aku tak menyangka dia menggunakan tanggal lahirku sebagai
sandi hp nya. Aku saja tidak menggunakannya.
Aku melihat wallpapernya yang untungnya tidak menggunakan
fotoku.
Ku lihat-lihat aplikasi yang dia install dan aku tak
menemukan satupun games. Tapi aku menemukan beberapa aplikasi membaca komik
online.
Dia suka membaca komik ternyata.
Iseng aku membuka galerinya namun terkunci. Dan aku
kembali memasukkan tanggal lahirku dan kembali terbuka.
Aku tak berhenti tertawa melihat foto selfienya. Mukanya
itu lho jelek banget. Bahkan dia sikat gigi saja juga selfie.
Sumpah mukanya jelek banget, muka-muka bangun tidur.
Aku semakin tertawa saat melihat foto Sera yang bibirnya
dia bentuk seperti paruh bebek.
Maksudnya apa coba.
Semakin ke bawah, aku menemukan foto-fotoku dari yang
candid hingga yang pernah ku upload di social media.
__ADS_1
Dia penguntit.
Bahkan ada fotoku yang masih dengan model rambut lama, udah
lama banget malah. Tapi aku terlihat tampan di foto itu.
Saat masih asik melihat foto-foto, aku terkejut saat
hpnya berbunyi. Ada telfon dari ibunya lagi. Aku harus menjawab apa jika Sera
belum kembali?
Deringanpun terhenti, namun hp itu kembali berdering lagi
dengan nama yang sama. Akhirnya aku mengangkatnya.
“Ha-“
‘Kembalikan hpku?!’
Aku langsung menjauhkan hp itu dari telinga. Aku sangat
yakin ini suara Sera.
‘Kau jangan sembarangan membuka hpku. Aku akan ke rumahmu
sekarang. Kau ada di rumah kan?!’
Dia terlihat sangat panik karena hpnya ada padaku, lagi
pula aku sudah melihat isinya.
“Kan aku tidak tau sandimu. Besok saja di sekolah, sudah
malam.”
‘Yasudah taruh hpku dan jangan kau pegang-pegang.’
“Memang di hpmu ada apa? Video porno?”
‘Jangan bercanda!’
“Jangan-jangan isinya aku semua.”
Aku ingin tertawa saat dia hanya diam beberapa saat. Nah
kan.
‘Pokoknya jangan buka-buka hpku!’
“Hmm.”
galerinya.
Lumayan aku menemukan banyak foto hina Sera, kalau aku
upload pasti dia bakal marah besar haha.
***
Saat istirahat, dia menungguku di depan kelas, mungkin
dia malu jika harus masuk.
Tanpa kata dia mengulurkan tangannya, meminta hpnya.
“Ketinggalan di rumah.”
“Kenapa kau meninggalkannya? Kau sengaja ya?”
“Bercanda kali,” aku mengambil hpnya dari saku dan
langsung direbutnya tapi aku langsung menjauhkannya hingga dia tidak bisa
meraihnya. “Bilang apa?”
“Makasih!” aku memberikan itu hp dan dia langsung pergi.
“Kenapa hp Sera ada padamu?” tanya Chang Jung.
“Kemarin dia salah memasukkannya ke kantong jaketku.
Sengaja mungkin, agar aku menemukan hpnya.”
“Pikiranmu selalu buruk kepada Sera.”
Aku tidak mendengarkannya dan pergi ke kantin.
Semakin hari, aku melihat Chang Jung semakin dekat dengan
Sera. Bahkan aku sempat melihat Chang Jung mengantar Sera pulang.
Bukannya aku cemburu, tapi aku tidak suka karena dulu
Sera pernah mengatakan kepadaku bahwa dia akan melakukan apapun agar aku suka
padanya, tapi dia malah sudah menyerah. Dulu aku memang senang Sera menyerah.
__ADS_1
Tapi akhir-akhir ini aku tidak suka dia terus tertawa bersama Chang Jung.
Saat aku pulang dari latihan basket, aku melihat Sera
yang sedang berdiri bersandar di Lorong sembari memainkan hp. Tumben belum
pulang.
Aku lewat di depannya dan dia tidak peduli, bahkkan tak
mengalihkan pandangan dari hp nya.
Saat aku sudah melewatinya, aku berhenti dan berbalik
badan. “Kau belum pulang?” tanyaku.
Sera menoleh dan menatapku. Dia mengedarkan pandangan,
mencari sesuatu.
“Kau bicara denganku?” dia menunjuk dirinya sendiri.
“Apakah ada orang lain selain kau di sini?”
“Em tidak ada. Aku sedang menunggu kak Chang Jung.”
“Oh.”
Sudah ku duga.
“Kau serius sudah menyerah denganku?”
Dia mengedipkan mata beberapa kali. Wajahnya terlihat
jelas kebingungan kenapa aku bisa bertanya seperti itu ke dia.
Jangankan dia, aku saja juga bingung kenapa bisa-bisanya
aku bertanya seperti itu.
“Kan kau sendiri yang menyuruhku menyerah.”
“Tapi kau yang ngotot ingin membuatku suka padamu dengan
cara apapun.”
Dia langsung mengalihkan pandangan. “Aku lelah.”
Aku tersenyum sinis. “Ternyata kau mudah menyerah.”
Dia langsung menatapku tak suka. “Kau yang membuatku
menyerah! Kau selalu memarahiku. Kau selalu menghinaku. Dan kau selalu
memberikanku tatapan yang membuatku sakit hari.”
“Bukankah kau suka aku berbuat seperti itu?”
“Hanya orang bodoh yang suka hal seperti itu. Aku juga
memiliki perasaan.” Dia mengalihkan panangannya karena aku melihat matanya
berkaca-kaca.
Aku berjalan mendekatinya namun dia langsung mundur. Dia
tak bisa mundur lagi saat punggungnya sudah menempel di tembok koridor. Aku
mememjarakannya dengan tanganku namun dia tetap mengalihkan pandangan dan tak
ingin melihatku. Aku tau dia menangis. Dia menangis karena aku.
“Kau belum bisa membuatku suka padamu. Jadi kau tidak
boleh menyerah.”
Ku sentuh dagunya dan memaksanya menatapku. “Aku tau kau
masih menyukaiku.” Ucapku di depan bibirnya.
“Aku tunggu perjuanganmu untung mendapatkanku lagi.” Ku
cium bibirnya dan dia hanya diam membeku.
Pipinya memerah dan terlihat lucu. “Ini yang pertama
untukmu?” tanyaku dan dia tak menjawabnya.
Aku tersenyum dan mengacak rambutnya. Itu yang kedua.
Karena yang pertama aku sudah mengambilnya saat kau tidur di mobil waktu itu.
Ya, saat itu aku menciumnya saat tidur. Pecundang memang.
Aku pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan apapun lagi.
***
__ADS_1