Perjuangan Cinta Sera

Perjuangan Cinta Sera
Chapter 9


__ADS_3

“Lepaskan aku, jangan menarikku sembarangan.” Protesnya saat kita sudah jauh dari kak Hyeri.



“Ayo naik wahana! Bagaimana jika kita naik itu?” aku menunjuk wahana Tornado.



“Memang kau berani?”



“Berani! Kau tidak tau, aku kan Lee Sera.” Jawabku semangat.



Sehwa tertawa remeh. “Lalu jika kau Lee Sera, kenapa?”



“Ya tidak kenapa-kenapa sih.” Aku hanya meringis menanggapi Sehwa.



“Kita naik sekali dan kau jangan menggangguku lagi. Aku sudah ingin pulang.”



Aku mengacungkan jempol dan senyum lebar. Akhirnya bisa bermain wahana dengan Sehwa.




***



Aku menelan salivaku saat sudah duduk di wahana. Gila! Aku takut! Nanti jika aku jatuh bagaimana?!



Seorang penjaga memasangkan pengaman tapi tetap saja aku takut.



“Kau takut?”



“T-Tidak!”



Sehwa tertawa, dia pasti tau bahwa aku takut karena mukaku sangat terlihat.



Tangan kananku reflek mencengkram lengan Sehwa saat wahana mulai bergerak.



Selama wahana berlangsung, aku hanya menjerit dan memanggil ibuku. Apalagi saat diputar-putar, kepalaku langsung dingin dan mual.



Saat wahana berhenti dan aku ingin berdiri, kakiku lemas. Untung Sehwa memegangku dan menahanku agar tidak terjatuh.



Aku menutup mulutku. Sumpah aku ingin muntah sekarang juga.



“Kau tidak papa?”



Huek!



Aku akhirnya muntah ke baju Sehwa.



“Aish! Kau!” dia langsung menjauhkan badannya dariku tapi kakiku masih lemas dan hamper jatuh. Alhasil dia kembali menangkapku dan membantuku duduk. “Kau memang suka menyusahkan orang ya.”



“Kepalaku pusing.”



“Makannya jangan sok berani.”



Aku langsung menutup mulutku saat merasa ingin muntah lagi.



“Kau jangan mengeluarkannya sembarangan! Tahan!”



Sehwa menarikku ke tempat sampah dan mengarahkan mukaku ke tempat sampah. Aku langsung memuntahkan isi perutku. Bibirku jadi kotor karena bekas muntahan.



“Hwa.. Minum..”



“Tunggu sebentar.”



Sehwa mencarikanku minum dan aku langsung kumur dan minum. Aku melihat kaos Sehwa yang tadi terkena muntahanku. Dia pasti merasa jijik.



“Bajumu.”

__ADS_1



Dia melihat bajunya. “Semua karenamu.”



“Aku akan membelikanmu baju ganti.



“Tidak perlu, aku ada baju di mobil.”



Aku hanya mengangguk. Aku melihat hpku yang sedari tadi ku silent sedangkan Sehwa sedang menelfon kak Hyeri.



Mingyu menelfonku beberapa kali dan juga mengirimkan banyak pesan.




Mingyu: Kau di mana?


Mingyu: Kenapa kau pergi tiba-tiba?


Mingyu: Ser


Mingyu: Woi Ser


Mingyu: Kau di mana?


Mingyu: Jangan bilang kau pulang duluan?


Mingyu: Ser cepat read


Mingyu: Sera


Mingyu: Angkat telfon ku


Mingyu: Kau pulang meninggalkanku??


Mingyu: Ser, tolong angkat telfon ku



Duh, aku lupa jika masih ada Mingyu.



Sera: Aku berlum pulang



Tidak dibaca



“Oh yasudah hati-hati, maaf aku tidak bisa mengantarmu.”




“Karenamu, Hyeri pulang sendiri.”



Dalam hati aku tertawa. Aku berhasil mengusir dia, haha.



“Hwa anta raku ke toilet. Aku kebelet.”



“Pergi sendiri, jangan manja.”



“Kau tega membiaranku sendiri? Kepalaku masih pusing, nanti jika aku menabarak pohon bagaimana?”



“Tabrak yaudah tabrak.”



“Sudah cepat antar aku, sekalian membersihkan bajumu.”



Aku langsung menarik Sehwa ke toilet. Aku menitipkan tasku dan langsung masuk ke toilet.



Sedangkan Sehwa pergi ke toilet laki-laki untuk membersihkan bajunya. Tak lama ternyata Mingyu menelfonku dan Sehwa yang mengangkat.



“Ser kata ibumu, kau belum pulang? Kau masih di sana? Ini aku di depan rumahmu.”



Sehwa diam dan melihat nama yang menelfon ‘Mingyu’



“Ser jawab aku.”



“Dia bersamaku.”



“…” “Kau siapa? Kenapa hp Sera ada padamu?”



Sehwa hanya diam.

__ADS_1



“Woi! Kau jangan macam-macam dengan Sera! Jika kau berani menyentuh Sera, aku akan menghajarmu!” Sehwa menjauhkan hp dari telinganya karena Mingyu berteriak dengan keras.



“Kau di mana sekarang?! Jangan menyentuh pacarku!” teriak Mingyu.



Sehwa langsung mematikan sambungan dan menon aktifkan hp. Dia benci orang yang teriak-teriak.



Saat aku keluar dari toilet dia langsung melempar tasku, untung aku bisa menangkapnya.



“Pacarmu menelfon, dia bilang sudah pulang.”



Aku mengernyit. Pacarku? Siapa? Kau?



Aku mengambil hpku tapi mati. Mungkin batrenya sudah habis.



“Aku tidak punya pacar. Kan aku sukanya kamu.”



“Tch.” Dia berdecak. “Kau sudah punya pacar tapi masih mendekatiku.”



“Serius aku tidak punya pacar. Memang siapa yang menelfon?”



“Pacarmu.”



“Tau dari mau dia pacarku?”



“Dia bilang sendiri.”



“Kau percaya? Siapa? Mingyu?” tebakku dan aku sangat yakin jika yang menelfonku adalah Mingyu. Berarti Mingyu sudah pulang dan meninggalkanku? Kenapa dia tega?



“Aku tidak peduli.”



Aku melihat Sehwa sembari senyum dan menunjuk-nunjuk lengannya. “Kau cemburu ya.” Goda ku.



Sehwa langsung menatapku malas. “Kau jangan kepedean.”



“Sudah, akum au pulang. Badanku bau karena muntahanmu.”



Sehwa pergi meninggalkanku, tapi aku langsung mengikutinya dan jalan di sampingnya.



“Kenapa kau mengikutiku?”



“Mau pulang juga.”



Dia mempercepat langkahnya dan aku juga melakukan hal yang sama hingga dia berhenti di dekat mobilnya.



“Kau bilang ingin pulang. Kenapa mengikutiku?”



“Kan pulangnya bersamamu.”



“Kau ingin menumpang? Tidak gratis.”



“Tenang saja nanti aku bayar.”



Sehwa menghela nafas dan membuka pintu mobilnya. Saat aku membuka pintu belakang, ucapan dia menghentikanku.



“Kau pikir aku supirmu? Duduk depan.”



Aku menutup pintu belakang dan membuka pintu depan.



Aku kaget saat tiba-tiba dia membuka kaosnya sontak mukaku memerah melihat badan Sehwa yang terbentuk sempurna.



“Tutup matamu!”

__ADS_1


__ADS_2