
Sehwa sudah pulang. Aku heran kenapa ibuku bisa begitu
ramah dengan Sehwa. Sehwa juga tanpak biasa saja dengan semua kebohongan yang
aku buat.
Mau ditaruh di mana mukaku nanti?
Citraku yang semakin jelek di depan Sehwa. Dan ibuku
sudah membongkar semua aibku di depan Sehwa.
Aku memandangi kaos olahraga Sehwa yang ada di kursi. Dia
tadi yang menyelamatkanku saat pingsan. Lagi-lagi aku merepotkaannya.
Besok aku tetap sekolah walaupun jalanku pincang. Saat di
koridor, aku bertemu kak Chang Jung. Dia membantuku jalan ke kelas.
“Makasih kak.”
“Santai saja.” Dia tersenyum dan mengecak rambutku. “Aku
ke kelas dulu.”
“Iya.”
Dia langsung pergi meninggalkanku, dan tak berapa lama
Gea masuk kelas.
“Kak Chang Jung kenapa keluar dari kelas kita?”
“Dia tadi membantuku jalan.”
“Oiya, kau kan kemarin pingsan. Aku dan Lisa sebenarnya
ingin menjengukmu di UKS tapi karena melihat kak Sehwa kita akhirnya pulang.”
“Iya, dia menungguku dan mengantarku pulang.”
“Mungkin dia sudah menyukaimu. Buktinya dia peduli
padamu.”
Sehwa menyukaiku? Tidak mungkin. Ada juga dia membenciku.
“Ada juga dia membenciku.”
“Coba kau pikirkan. Sifat dia sudah berubah tidak seperti
saat pertama kali kau mendekatinya. Kau ingat saat dia membawamu ke UKS saat
maagmu kambuh?”
Iya aku sangat ingat. Dia membopongku saat itu. Aku
bahkan menangis di pelukannya.
“Kau tidak melihat mukanya? Mukanya sudah sangat
khawatir. Aku juga heran kenapa dia bisa tau jika kau punya penyakit maag.”
Itu karena aku pernah meminta tolong padanya untuk
mencarikanku obat maag saat di UKS waktu itu. Jadi aku tidak terkejut jika dia
mengetahui aku punya sakit maag.
“Setelah itu dia memarahiku.”
“Menurutku dia memarahimu karena dia peduli padamu. Aku
juga akan marah padamu karena kau tetap bersikeras memakan nasi goreng pedas.”
Tiba-tiba wajah Sehwa kemarin terbayang di otakku. Wajah
sehwa saat menatapku dengan ekspresi yang entahlah aku tidak tau.
“Aku ada ide.” Gea membisikkanku sesuatu.
“Kau gila?! Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu!”
“Ayolah hanya untuk membuktikan jika kak Sehwa menyukaimu
atau tidak. Nanti aku dan Lisa memantaumu dari jauh.”
“Tapi..”
“Sudah, nanti aku dan Lisa yang membuat rencana.”
__ADS_1
Apa aku harus melakukan rencana Gea?
Yasudahlah coba saja. Siapa tau berhasil.
Hari berikutnya kakiku sudah lebih baik dan aku sudah
bisa berjalan normal.
Dari kejauhan aku melihat Sehwa yang masuk ke
perpustakaan. Tanpa basa basi, aku langsung mengikutinya.
Aku mencarinya di setiap sudut perpustakaan dan aku
menemukannya sedang berdiri di dekat salah satu rak buku sembari membaca sebuah
buku.
Dengan mengendap-endap, aku mendekatinya dan
mengagetinya.
“Sehwa!”
Aku tertawa saat dia terkejut karena aku mengagetinya,
namun tawaku terhenti saat penghuni perpus mengingatkan aku jika di perpus
tidak boleh gaduh.
“Maksudmu apa?” dia menatapku tak suka.
“Ya kau sendiri terlihat sangat serius, jadi aku kegetin
saja. Lagi baga buku apa?”
Aku melihat buku yang dipegang Sehwa, buku pelajaran.
Oiya aku lupa jika dia sudah keals dua belas.
Sebentar lagi dia lulus. Dan jika dia lulus sebelum suka
denganku, berarti harapanku pupus sudah.
Aku tidak akan bisa bertemu dia lagi.
aku memperhatikan buku itu. Dia sepertinya tau apa yang sedang aku pikirkan
karena ekspresiku sudah berubah menjadi sedih.
***
Chang Jung:
Ser,
kau ada waktu?
Sera: Ada kak, kenapa?
Chang Jung: Coba kau lihat ke luar jendela
Aku melihat pesan kak Chang Jung bingung. Kenapa dia
menyuruhku melihat ke luar jendela?
Tapi aku mengikuti apa yang dia katakan. Saat aku melihat
ke luar, aku melihat kak Chang Jung yang sedang melambaikan tangannya ke
arahku.
Sera:
Kak Chang
Jung kenapa ada di depan rumahku?
Chang Jung: Ingin mengajakmu jalan. Aku sedang bosan.
Sera: Tunggu sebentar, aku turun
Aku langsung mengambil jaket dan turun untuk menemui kak Chang
Jung.
“Kak Chang Jung sejak kapan di sini?”
Dia melihat jam tangannta. “Belum lama.”
“Ayo masuk dulu kak, di luar dingin.”
__ADS_1
“Aku kan ingin mengajakmu jalan. Kau sudah makan?”
“Belum.”
“Yasudah temani aku makan saja. Aku sedang ingin makan
ramen.”
“Tapi aku pamit dulu dengan orang tuaku, takutnya nanti
mereka mencariku.”
“Yasudah sana. Aku tunggu.”
Setelah pamit, kak Chang Jung membawaku ke kedai ramen
yang belum lama ini buka.
“Kau pernah ke sini?”
“Belum, kakak pernah?”
“Aku pernah ke sini sekali bersama teman-temanku.”
Pasti Sehwa dan kawan-kawan.
“Kau ingin memesan apa?” aku melihat menunya, ada banyak
varian ramen.
“Sama seperti kakak saja.”
Tak lama pesanan kita tiba.
Wahh asapnya mengepul. Aku jadi tak sabar.
Aku mengambil hp dan memotret ramen milikku. Upload ah.
sera.lee Ramen🍜
“Ser, hadap sini.”
Aku menoleh dan dia mengarahkan kamera hp nya kepadaku.
Reflek aku langsung menutup mukaku.
“Ih kak, jangan foto tiba-tiba nanti mukaku jelek
bagaimana?”
“Memang sekarang kau cantik?”
pcj_ Thank sudah
mau menemani makan b>@sera.lee
Kak Chang Jung ngetag aku sebuah foto. Tuh kan di upload.
Untung mukaku ketutupan, jadi tidak terlihat jelek.
“Jangan main hp terus. Buruan dimakan, sebelum dingin.”
Aku akhirnya menaruh hp ku dan makan. Kita tidak banyak
bicara saat makan karena memang tidak baik jika makan sambal bicara.
Saat aku akan ikut membayar, ternyata kak Chang Jung
sudah membayarnya. Ya lumayan lah dapat ramen gratis.
Dia mengantarku pulang, saat aku menawarkannya untuk
mampir namun dia menolaknya karena ingin cepat pulang dan tak mau merepotkanku.
Aku langsung masuk kamar dan melepas jaket. Aku
membaringkan badanku di kasur sembari bermain hp.
__ADS_1