
~Episode 11~
Ibu Reza masih tidak percaya kalau Reza betulan sudah menikah.
"Apa.....satu kamar kamu bilang.
Hey kamu enggak malu satu kamar dengan anak aku, aku yakin kalian berdua itu enggak beneran sudah nikah kan dan kalian itu cuma bohongin aku agar Reza itu terhindar dari perjodohan, ayo ngaku."
"Dengan cara apa supaya Nyonya ini percaya sama aku, Aku itu betulan udah nikah sama Tuan Reza." berusaha meyakinkan ibu Reza.
" Kamu itu berhijab kamu itu tau tentang ilmu agama dan kamu pasti tahu kan kalau perempuan dan laki-laki yang belum nikah dan satu rumah bahkan satu kamar akan berdosa dan akan menimbulkan suatu fitnah."
"Iya saya tahu Nyonya tapi...."
"Tunggu dulu atau kamu jual diri kamu kepada Reza atau kamu cuma memanfaatkan Reza doang." mencurigai Putri.
"Kalau itu betul terjadi Kamu betul-betul perempuan murahan enggak punya malu. Dan apa kamu enggak malu dengan jilbab kamu yang kamu pakai sekarang itu atau orang tua kamu yang menginginkan kamu untuk ngelakuin hal serendah ini?
"Astagfirullah Nyonya, Nyonya itu salah paham sama aku, aku itu enggak seburuk yang anda pikirkan." Sahut Putri yang berusaha meyakinkan ibu Reza dan sekarang Putri saat ini sudah hampir menangis.
"Hei kamu itu cantik pakaian kamu juga itu sopan pasti banyak orang yang suka sama kamu di luar sana, Kamu harus ingat kalau Reza itu sudah aku jodohkan dengan anak sahabat aku. Jadi aku harap kamu tinggalkan Reza sekarang juga."
" Maafkan aku Nyonya aku enggak bisa tinggalkan Tuan Reza."
"Kenapa tidak bisa?
apa karena anak aku adalah pemuda yang sukses jadi kamu tidak mau meninggalkannya dan kamu ingin memanfaatkannya."
"Tidak Nyonya aku bukan orang kayak begitu dan Nyonya itu salah paham sama aku."
"Ya udahlah aku enggak peduli yang jelas kamu harus tinggalkan Reza sekarang juga.
"Maafkan aku sekali lagi Nyonya aku enggak bisa dan sampai kapan pun aku enggak bakalan tinggalkan Tuan Reza."
"Kamu ini keras kepala juga ya jadi orang."
"Tapi Nyonya bukan itu maksud aku."
"Udah...udah aku enggak mau dengar penjelasan kamu lagi, aku mau pulang dan ingat kalau Reza udah pulang dari kantor kamu kasih tau dia kalau aku dari tadi ke sini."
"Iya Nyonya."
"Dan ingat juga besok malam aku undang kamu datang kerumah aku untuk makan malam kamu harus datang bersama Reza."
"Iya Nyonya."
"Kalau gitu aku pamit pulang."
"Iya Nyonya hati-hati di jalan."
Saat ini Ibu Reza sudah pulang. Putri saat ini sudah menahan air matanya dia terus mengingat apa yang sudah dikeluarkan dari mulut Ibu Reza itu sebenarnya Pak Irwan juga sangat mengasihani Putri tapi Pak Irwan tidak bisa berbuat apa-apa.
*Putri*
"Memangnya apa sih salah aku, aku itu jujur Pak Irwan aku beneran udah nikah sama Tuan Reza tapi kenapa Nyonya tidak percaya kalau aku tuh beneran udah nikah sama anaknya, malahan dia menghina aku kalau aku itu jual diri aku kepada Tuan Reza."
"Sumpah Pak Irwan aku benar udah menikah dan Pak Irwan percaya kan sama aku."
"Iya Non saya percaya kok sama Non Putri kalau Non Putri itu bener udah nikah sama Tuan Reza."
"Pak Irwan enggak usah panggil aku Non Putri karena sebenarnya aku tuh sama kok sama kalian, sama-sama pelayan."
"Maksud Non tadi gimana kok Non bilang kalau Non Itu pelayan? sedikit heran."
"Iya aku menikah sama Tuan Reza bukan dasar cinta. Tapi Pak Irwan jangan salah paham dulu sama aku. Tuan Reza itu tidak mencintai aku sama sekali."
"Kenapa Non ngomong begitu kalau Tuan Reza menikahi Non Putri itu artinya dia jatuh cinta sama Non Putri."
"Enggak Pak Irwan dan bapak salah, nyatanya Tuan Reza tidak cinta sama aku."
"Apa aku salah jika aku melakukan hal kayak gini? aku lakukan hal kayak gini karena aku enggak mau Tuan Reza lakukan hal yang tidak aku inginkan kepada orang tua ku dan adik aku."
"Non Putri saat ini saya belum mengerti apa yang di maksud dengan Non Putri dan maaf kalau saya lancang tapi saya betul-betul penasaran apa yang di maksud Non Putri tadi."
"Sebenarnya aku nikah sama Tuan Reza itu karena semuanya adalah syarat dari Tuan Reza, jika aku menikah sama Tuan Reza maka dia tidak akan melakukan hal yang tidak aku inginkan kepada keluarga ku. Tapi jika aku tidak menerima persyaratan itu maka orang tua aku dan Adik aku akan di usir dari rumah dan menjadi gembel."
"Semua perusahaan yang di miliki ayah ku bahkan rumah aku akan Tuan Reza sitah. Dan aku tidak mau melihat keluarga ku di perlakukan begitu."
"Kenapa Tuan Reza lakuin hal kayak gitu kepada keluarga Non Putri?
"Tuan Reza salah paham sama Ayah aku Pak Irwan."
"Sumpah aku akan lakukan apapun yang Tuan Reza perintahkan kepada ku agar dia tidak melakukan hal negatif kepada keluarga ku. Bahkan aku pun akan relah pertaruhkan nyawa ku demi keluarga aku Pak Irwan."
Saat ini Putri sudah betul-betul menangis dia udah enggak bisa menahan air matanya lagi.
"Saya salut dengan Non Putri sungguh mulia hati Non Putri, bahkan masa depan Non Putri saja Non Putri itu pertaruhkan demi kebahagiaan keluarga Non Putri."
"Dan Non Putri tenang aja karna Nyonya Besar sebenarnya itu enggak sejahat yang di pikirkan Non Putri, dia itu tadi kayak gitu karna saya yakin Nyonya masih tidak percaya aja dengan semua ini karena Tuan Reza dia tidak memberi kabar kepada kita semua kalau Tuan itu udah menikah dengan Non Putri."
"Iya Pak Irwan aku mengerti kok dengan semua ini tapi bagaimana cara saya menjelaskan semua ini kepada Nyonya besar kalau aku itu beneran sudah menikah sama Tuan Reza."
"Tadi aja Pak Irwan udah lihat kan aku udah jelasin semuanya kepada Nyonya kalau aku beneran udah nikah sama Tuan Reza tapi apa malah Nyonya menghina aku di depan kalian semua."
"Sabar Non dan Non Putri jangan menangis lagi saya mohon."
"Iya Pak Irwan."
*Kantor*
Reza dan Rangga pun sudah sampai di kantor dan semua karyawan kaget melihat kedatangan Reza di kantor itu. Semua menyambut Reza dan Rangga dengan sopan.
"Selamat pagi Pak Reza, Pak Rangga." Sahut Dila.
" Selamat pagi." sahut Rangga sedangkan Reza hanya diam saja sambil berjalan menuju ruangannya.
"Ibu Dila beritahukan kepada yang lainnya kalau saat ini kita akan mengadakan rapat."
"Apa kita mau rapat Pak Rangga?
__ADS_1
"Iya ini adalah rapat dadakan kamu beritahukan aja kepada yang lainnya kalau kita akan adakan rapat dan ini perintah dari Pak Reza."
"Siap Pak Rangga." Sahut Ibu Dila yang merupakan asisten Rangga."
*Ruang Rapat*
Waktu rapat pun di mulai dan saat ini Reza akan membahas tentang masalah keuangan yang ada di kantornya.
Penyebab adanya kesalahan laporan keuangan. Adanya kesalahan laporan keuangan bisa disebabkan oleh proses yang kurang tepat dalam pembuatan laporan keuangan tersebut. orang yang membuat laporan keuangan juga sebaiknya orang yang dapat dipercaya dan memilih kemampuan yang memenuhi.
Kesalahan dalam pembuatan laporan keuangan juga bisa disebabkan karena adanya hal-hal yang lain yang terjadi dalam pembuatan laporan misalnya adanya transfer ·data antara sistem yang berbeda, input data secara manual, input data ke dalam platform offline, atau penggunaan perangkat lunak yang kurang tepat.
*Reza*
" Selamat pagi semua."
"semalat pagi Pak Reza."
" Saya minta maaf dengan kalian semua karena saya saat ini mengadakan rapat yang dibilang dadakan kayak begini. Saya sengaja datang ke sini dari Indonesia karena saya mendapatkan kabar kalau ada masalah di kantor kita ini."
"Masalah.....? sahut orang yang ada di dalam ruangan itu.".
"Iya di kantor kita ini terjadi sedikit masalah tentang keuangan perusahaan kita."
"Dan tunggu dulu Pak Ridho mana kenapa dia enggak ikut rapat pagi ini?
"Maaf Pak Reza, Pak Ridho ada di luar kota Soalnya ada perusahaan lain yang ingin kerjasama dengan perusahaan kita, jadi Pak Ridho yang bersedia untuk pergi keluar kota untuk bertemu dengan pengusaha yang ingin kerjasama dengan kita."
"Oh begitu,
Ibu Dila tolong ambilkan aku data-data keuangan di tahun lalu dan data-data di tahun ini soalnya aku ingin lihat."
"Baik Pak, Ini data-datanya Pak Reza."
Reza pun memperhatikan data-data yang diberikan Dila dan data-data yang diabawah dari Indonesia di perhatikan juga.
Dia memperhatikan dimana letak perbedaan data-data yang dia miliki itu.
Beberapa menit dia memperhatikan Reza pun mendapat selisih dari data yang satu dengan data yang dia miliki.
"Betul-betul ada yang tidak beres dengan semua ini."
"Ada apa Pak Reza? sahut semua karyawan."
"Kenapa data yang saya miliki berbeda dengan data-data yang ada di kantor ini? kalian perhatikan saja data di tahun yang lalu dengan data di tahun ini semuanya berbeda jumlah pemasukannya dan jumlah pengeluarannya tidak sama dengan data yang saya punya."
"Apa ada yang bisa jelaskan ini semua? Jangan kalian pikir data pembayaran yang diberikan oleh perusahaan lain yang kita temani kerjasama itu, mereka semua tidak memberikan data-data kepada saya juga. Kalau kalian semua berpikir kayak gitu maka Kalian salah besar dengan semua ini." Sahut Reza.
"Kalian harus mengaku siapa yang sudah memainkan dana kantor, ayo mengaku."
"Maafkan kita Pak Reza kita semua tidak tahu ini tentang masalah penggelapan uang."
"Kenapa ibu Dila bilang gitu kalau semuanya tidak tahu tentang masalah ini?
Apakah kalian semuanya tidak memperhatikan pekerjaan kalian?
"Data-data kantor ini dan data-data yang saya pegang terlihat jelas perbedaannya. Dan tepat jelas sekali kalau ada yang sudah berani memainkan uang kantor."
"Maaf Pak Reza tapi masalah keuangan di kantor ini untuk tahun lalu dan tahun ini kita semua tidak menyadarinya kalau data-data keuangan di kantor ini semua palsu.
Jadi kita semua minta maaf Pak Reza."
"Pengelolaan kas yang buruk dapat menjadi salah satu penyebab buruk pada perusahaan kita, apabila dari pencatatan penerimaan dan pengeluaran dalam setiap bulan tidak dikelola dengan baik maka posisi nilai kita tidak dapat diketahui apakah sedang untung atau rugi."
"Saat ini saya tidak bisa menyimpulkan siapa yang sudah berani memainkan uang perusahaan tapi suatu saat nanti saya dan Rangga akan mendapatkan pelakunya."
*Rumah Reza*
Setelah selesai rapat Reza pun pulang ke rumah, Setelah dia sampai di rumah dia mencari keberadaan Putri.
"Selamat siang Pak Reza."
"Iya siang Pak Irwan.
Pak, Putri ada dimana? tanya Reza."
"Oh Non Putri ada di belakang Tuan Reza."
"Di belakang......emang dia lagi ngapain?
"Bukannya Tuan sendiri yang nyuru Non Putri cabut rumput yang ada di lapangan."
"Oh iya aku lupa.
Ehhhh Pak aku ke kamur dulu ya aku mau ganti baju."
"Iya Tuan Reza."
Reza pun naik ke kamarnya untuk mengganti baju. Setelah Reza sudah mengganti baju dia pun turun ke bawah untuk menemui Putri.
*Putri*
Putri saat ini masih menangis dia tidak bisa melupakan apa yang sudah Ibu Reza katakan kepadanya. Baru kali ini dia merasa sangat terhina tapi mau gimana lagi ini semua harus Putri hadapi.
"Ya Allah aku harus gimana kenapa Nyonya besar tidak percaya kalau aku itu udah menikah sama Reza."
"Aku tahu Tuan Reza udah di jodoh kan dengan anak sahabatnya Nyonya tapi kenapa Nyonya marah sama aku dan menyuruh aku untuk meninggalkan Tuan Reza."
"Aku enggak bakalan ninggalin Tuan Reza kalau bukan Tuan Reza yang ninggalin aku duluan."
"Ya Allah aku harus gimana?
Kenapa semuanya ini semakin sulit sih? Kenapa semua salahkan aku, Tuan Reza juga kenapa dia nikahin aku. Apa benar dia sengaja nikahin aku karena dia tidak mau dijodohkan dengan anak sahabat Nyonya? Kalau semua itu benar berarti Tuan Reza betul-betul keterlaluan jadi orang.
"Kenapa sih aku yang harus jadi sasaran dia Kenapa Tuan Reza sangat jahat."
Saat ini Putri tidak bisa menahan air matanya lagi dia terus menangis sambil mencabut rumput yang ada di lapangan itu.
Tiba-tiba Reza datang.
__ADS_1
"Hai orang kampung belum selesai rumputnya kamu cabut."
Saat itu Putri merasa kaget dia enggak mau terlihat sedih di depan Reza.
Putri cepat-cepat ngelap air matanya itu.
"Hai orang kampung aku ngomong sama kamu, ayo sini."
"Iya Tuan Reza tunggu."
Putri pun menghampiri Reza itu.
"Ada apa Tuan, kenapa sih Tuan marah-marah terus?
"Ya suka-suka aku dong mau marah sama siapa itu bukan urusan kamu."
"Iiihhh apaan sih Tuan Reza baru pulang kantor aja udah marah-marah sama aku. Apa dia bilang terserah dia mau marah sama siapa itu bukan urusan aku katanya, pasti itu urusan akulah nyatanya dia kan marah sama aku dasar orang gila berhati batu, batin Putri."
Reza menyadari kalau Putri sedang sudah menangis karena saat ini mata Putri sangat bengkak dan memerah.
"Tunggu dulu apa kamu udah nangis?
sini aku lihat kamu beneran nangis atau enggak."
Sahut Reza sambil mengangkat dagu Putri itu karena dia ingin memastikan Putri beneran sudah menangis apa enggak.
"Maaf Tuan aku enggak nangis kok."
"Terus kenapa mata kamu bengkak dan memerah kayak gitu? jangan-jangan kamu benar nangis.
"Hahaha jangan-jangan kamu nangis
gara-gara aku hukum kamu untuk cabut rumput itu dan kamu enggak sanggup selesaikan itu semua."
"Iihhh apaan sih Tuan Reza ini aku tuh enggak nangis kok tadi pas aku cabut rumputnya enggak sengaja tanahnya kena mata aku jadinya kayak gini deh."
"Oh aku kira kamu nangis."
"Enggak Tuan.
Ehhh Tuan udah makan siang?
"Belum emang kenapa?
"Kalau gitu aku buatin nasi goreng ya Tuan."
"Iya ok."
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah. Putri pun pergi membuat nasi goreng untuk Reza sedangkan Reza dia lagi nonton di ruang tamu.
*Ruang Tamu*
"Tuan Reza..."
"Iya ada apa pak Irwan?
"Tadi nyonya dari sini Tuan."
"Apa Ibu aku dari sini?
" Iya Tuan."
"Terus dia ketemu sama Putri?
"Iya Tuan itu masalahnya tadi Nyonya marah sama Non Putri.
"Emangnya Non Putri enggak ngasih tahu ke Tuan kalau Nyonya datang ke sini?
"Enggak tuh, Putri engak kasih tahu aku Pak Irwan kalau Ibu aku tadi dari sini."
"Dan Non Putri itu nangis loh Tuan tadi."
"Nangis bapak bilang, emangnya kenapa Putri nangis Pak?
"Iya Tuan, kasihan banget ya Non Putri."
"Emangnya Ibu aku ngomong apa sama Putri sampai-sampai dia nangis?
"Banyak deh Tuan dan aku enggak enak kasih tahu Tuan apa yang sudah Nyonya bilang."
"Ngomong aja emangnya Ibu aku ngomong apa sama Putri sampai-sampai Putri nangis." tanya Reza lagi.
"Non Putri disuruh ninggalin Tuan dan katanya Tuan itu cuman bohong-bohong doang nikah sama Non Putri dan Non Putri bilang kalau Tuan itu beneran udah nikah sama Non Putri tapi Nyonya tetap enggak percaya."
"Dan Nyonya bertanya sama Non Putri bilang berapa banyak uang yang Tuan kasih sama Non Putri sampai-samapi dia itu mau nikah bohongan dengan Tuan."
"Kelewatan banget tuh Ibu aku datang ke sini terus dia caci maki istri aku."
What sejak kapan Reza anggap Putri itu sebagai istrinya.
"Itu dia Tuan aku sungguh kasihan sama Non Putri dia tadi dicaci-maki sama Nyonya tapi Non Putri tetap aja lembut dan sopan.
Dan dia bilang sampai kapanpun dia enggak mau ninggalin Tuan katanya."
"Yang bener Putri ngomong gitu?
" Iya Tuan sampai-sampai Nyonya itu bilang kalau Non Putri itu keras kepala dan dia tetap disuruh ninggalin Tuan karena Tuan itu sudah dijodohkan dengan anak sahabat Nyonya."
"Dan kata Nyonya dia undang Tuan dan Non Putri untuk makan malam di rumahnya."
"Ibu undang aku untuk makan malam, Kapan?
"Besok malam Tuhan kata Nyonya."
"Oke aku akan kesana sama Putri besok"
~Bersambung~
Assalamualaikum teman-teman jangan bosen-bosen baca lanjutan karya aku ini ya. Dan aku ucapin banyak terimakasih kepada kalian semua yang sudah sempatkan waktunya untuk mampir di Karya aku ini. Jangan lupa like, comment and favorit ya guys.
__ADS_1
Follow ig aku dong guys nanti aku follback
ig: multi_astuti