
~Episode 13~
"Aku Dina.
Aku adalah seorang Dokter Bedah dan aku bekerja di salah satu rumah sakit yang di bilang cukup terkenal juga, Rumah sakit ini berada di Amerika tepatnya di Kota New York."
"Aku sangat bersyukur bisa kerja di rumah sakit ini walaupun aku merasa sedikit sedih karena aku harus berpisah sama Putri yang merupakan sahabat paling aku sayang. Sudah lama aku enggak mendengar suara lembutnya, aku enggak nelfonan sama Putri jadi aku sangat rindu sama dia."
"Kenapa aku enggak nelfonan sama Putri...? ya...karena nomor HP Putri enggak aktif setiap aku menelfonnya. Mungkin Putri juga sibuk seperti aku karena sahabat aku itu adalah seorang dokter juga tapi dia berkerja di Indonesia tepatnya di Bandung."
Dokter Bedah adalah dokter spesialis yang mengobati penyakit, cederah, atau kondisi gawat darurat pada tubuh melalui metode bedah (Operatif) dan obat-obatan untuk menjadi dokter bedah.
Seorang harus menyelesaikan pendidikan dan profesi dokter umum, lalu menyelesaikan pendidikan spesialis ilmu bedah.
"Kira-kira sekarang Putri lagi apa ya? Batin Dina."
"Apa dia juga merindukan aku, seperti aku merindukan dia sekarang?"
"Ah...Aku coba telfon Putri aja deh."
"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif" Ya itulah yang di katakan dari suara yang ada di balik layar HP Dina.
"Aduh masih enggak aktif juga Putri kenapa sih kok nomor kamu enggak aktif-aktif sihh. Merasa sedih๐ข๐."
Tiba-tiba seorang perawat masuk ke dalam ruangan Dina.
"Assalamualaikum Dok boleh kah saya masuk...?. Sahut perawat itu."
"Iya silahkan." Kata Dina.
"Ada apa Sinta...?"
"Maaf Dokter Dina ada yang ingin ketemu sama Dokter."
"Siapa...? apakah seorang keluarga pasien...?"
"Iya Dokter."
"Maksud saya pasien yang mana?"
"Keluarga dari pak Marsuki Dok."
"Oh pak Marsuki yang jadi pasien saya itu selama beberapa bulan ini...?"
"Iya Dok."
"Jadi Keluarganya ada dimana?"
"Dia lagi ada di ruang tunggu dokter."
"Oh kalau gitu kamu silahkan suru dia temui aku sekarang juga di ruangan aku ini mumpung aku enggak terlalu sibuk."
"Baik Dokter."
Perawat itu pun memanggil orang yang dia maksud tadi.
"Permisi Pak."
"Iya"
"Dokter Dina bersedia bertemu dengan bapak."
"Ow iya suster."
"Kalau gitu mari saya antar bapak ke ruangan Dokter Dina."
Mereka pun berjalan menuju ruangan dokter Dina itu.
"Permisi Dok" (Sambil mengetuk pintu).
"Silahkan Masuk."
Mereka pun masuk ke ruangan itu.
"Kalau gitu saya permisi dulu Dok, Pak." sahut perawat itu.
"Iya Makasih."
*Diruangan*
Mereka berdua saling bertatap mata dan mereka berdua merasa mereka pernah saling ketemu.
"Sepertinya aku pernah ketemu sama kamu...? Sahut Alex."
__ADS_1
"Mmmmm iya juga sih, aku juga berpikir kayak gitu, Sahut Dina."
"Tapi dimana ya...? sambil berpikir."
"Oh iya aku udah ingat. Kamu kan temannya yang sudah nabrak mobil sahabat aku kan waktu itu...?"
"Enak aja teman kamu itu yang bawa mobilnya enggak bejus jadikan mobil teman ku jadi lecek."
"Iih intinya teman kamu tuh yang rese tidak bedah jauh dengan kamu."
"Ihhhh dasar cewek nyebelin."
"Ehhhh apaan sih cowok tidak jelas, udah ah kamu keluar aja dari ruangan aku."
"Enggak boleh kayak gitu dong aku kan kesini mau ngebahas perkembangan tentang keadaan kakek aku."
"Ohh pasien aku atas nama Pak Marsuki itu kakek kamu toh, kok kamu beda banget ya sama dia dan anaknya. Kalau Pak Marsuki itu dan anaknya sangat sopan dan santun sangat bertolak belang sama kamu." Sahut Dina.
"Apa-apaan sih....aku kesini itu enggak mau berdebat sama kamu ya, ngerti...?"
"Ok...terus mau kamu apa...?
" Aku kan udah bilang kalau aku ke sini itu mau tau perkembangan tentang kakek aku."
"Ok aku jelesin. Selama berapa minggu ini aku lihat banyak sekali perkembangannya dimana Pak Marsuki sudah bisa menggerakkan kakinya sendiri."
Untuk lebih baiknya lagi aku sarankan agar pak Marsuki mengikitu latihan pemulihan atau Fisioterapi Fisik. Latihan ini sangat berperang penting dalam membantu memperkuat otot-otot daera yang terlibat."
Berapa menit kemudian Dina pun sudah selesai menjelaskan kepada Alex.
Alex Pun pamit untuk pulang.
"Kalau gitu aku pamit pulang dulu ya." Kata Alex.
"Iya, salam buat Pak Marsuki."
"Iya, sambil berdiri dari tempat duduknya."
"Ehhh tunggu dulu Pak Alex."
"Ada apa...?
"Ingatkan pada kakek kamu itu jangan terlalu memaksakan untuk menggerakkan kakinya. Dan ini obat anti nyeri jangan lupa disuru minum ya."
Alex pun meninggalkan Dina di rungan itu sedangkan Dina melanjutkan aktivitasnya.
"Sumpah emang dunia ini sempit banget ya...kok orang itu ada disini juga, emang enggak ada tempat lain apa. Kenapa justru di negara ini juga sih....?
"Uhhhh mana dia juga cucu dari Pak Marsuki lagi, otomatis aku sering dong ketemu sama dia."
"Uhhh bete."
*Jam Makan Siang*
Saat ini waktu menunjukkan pukul 12 siang itu tandanya jam makan siang sudah tiba. Dina saat ini males makan siang di kantin rumah sakit itu jadinya Dina ke restoran favoritnya untuk makan siang.
"Sinta...panggil Dina."
"Iya Dok...?"
"Aku keluar dulu ya, aku mau makan di luar aja soalnya aku lagi males makan di kantin."
"Oh iya Dok."
"Dan ingat kalau ada pasien yang cari aku kamu jangan lupa telfon aku ya dan kamu layani mereka sampai aku datang."
"Iya Dok aku akan layani mereka."
"Kalau gitu aku pergi dulu."
"Iya Dokter hati-hati."
*Dina pun pergi untuk makan siang tapi sebelum dia ke restoran Dina terlebih dahulu mampir ke mesjid untuk sholat.
Ohhhh iya aku hampir lupa kenalin kalian tentang orang yang tadi Dina temani ngombrol yang namanya Sinta.
Sinta itu adalah asisten pribadi Dina. Sinta magan di rumah sakit itu. Sinta jadi asisten pribadi Dina karena Sinta orangnya baik dan bisa di percaya dan Dina sendiri yang memasukkan Sinta untuk bekerja di rumah sakit ternama itu walaupun hanya sekedar sebagai perawat. Sinta sendiri yang menawarkan dirinya untuk menjadi asisten pribadi Dokter Dina.
*Di Restoran*
Dina memasuki Restoran itu dan dia langsung duduk di pojok di meja yang kosong itu. Tidak lama Dina duduk di meja yang kosong Dina pun memanggil pelayan itu.
"Pelayan teriak Dina, sambil melambaikan tangannya tanda memanggil pelayan itu."
__ADS_1
"Iya Nona tungggu, sambil berjalan menuju ke meja Dina."
"Ada yang bisa saya bantu Nona dan Nona mau pesan apa?"
"Iya saya mau pesan nasi goreng spesial dan minumannya Es jeruk aja mba."
"Iya Nona makasih dan tunggu sebentar ya Nona."
"Iya."
Dina pun menunggu pesanannya yang dia pesan tadi sambil memainkan HP yang ada di tangannya. Tiba-tiba ada seorang yang laki-laki langsung duduk di depan Dina. Ya siapa lagi kalau bukan Alex.
Ya Alex juga sudah dari tadi ada di restoran itu tapi dia baru sadar kalau Dina juga ada di restoran tepan dia berada sekarang. Dina yang menyadari Alex ada di depannya itu, Dina langsung kaget.
"Enggak sopan banget sih jadi orang, sahut Dina yang sedikit jutek."
"Enggak sopan bagaimana sih maksud kamu?.
"Iya-iyalah kamu enggak sopan kenapa coba kamu langsung duduk di depan aku ๐ disana kan masi banyak meja yang kosong."
"Iya-iya sorry galak banget sih jadi cewek. Dasar ratu galak."
"Apa kamu bilang aku galak...?
Kamu tuh yang nyebelin jadi orang."
Pesanan Dina pun datang
"Ini Nona pesanannya."
"Iya makasih."
"Kalau gitu saya permisi."
"๐Dina hanya tersenyum."
"Tunggu dulu pelayan tadi pandai bahasa Indonesia? masih bibgung...?"
"Gimana enggak pandai bahasa Indonesia, kamu enggak lihat dia kan orang Indonesia sama dengan kita."
"Ohhhh iya...hehehheh."
"Oh kamu doyan makan nasi goreng juga ya dan kamu juga suka minum Es jeruk?.
"Iya emang kenapa????
Mau aku suka makan nasi gorek kek, bakso kek, atau apa pun itu semuanya kan bukan urusan kamu."
"Iya santai aja kali ๐ galak banget sih kamu jadi cewek kan aku tadi cuma nanya baik-baik doang. Enggak usah ngegas kayak gitu kali jawabannya."
"Emangnya aku tabung gas apa kamu bilang aku ngegas...aneh."
"Iya enggak usah galak kayak gitu kali."
Dina juga menyadari kalau dirinya terlalu kasar sama orang yang ada di depannya itu.
"Gimana aku enggak marah kamu tuh nyebelin banget tau enggak jadi orang dan kalau aku lihat muka kamu emosi aku tuh tiba-tiba dateng."
"Ehhhh kamu enggak boleh ngomong gitu dan kalau kamu jatuh cinta sama aku baru tau rasa kamunya."
"Apa kamu bilang aku jatuh cinta sama kamu?
Idiihhhhh amit-amit aja aku mau sama kamu dasar kegeeran."
"Lihat aja nanti kamu akan jatuh kedalam pelukan aku."
"Udah ahh pindah enggak dari sini๐ jijik tau enggak aku dengerin kamu ngomong kayak gitu. Dan asal kamu tahu kamu itu udah bikin aku enggak selera makan ."
"Iya udah lihat aja nanti pasti kamu akan jatuh cinta sama aku๐. Kalau gitu aku pergi dulu ya ratu galak ๐ Bye...."
"Uhhhhh dasar gila." Sahut Dina sambil mengunya makanannya itu."
Alex pergi meninggalkan Dina yang sampai sekarang masih ngomel-ngomel.
Assalamualaikum guys maaf ya kalau ceritanya kurang menarik, maklum aku juga masih dalam proses belajar kok๐
Aku ucapin banyak terimakasih kepada teman'' yang udah mampir baca karya aku ini.
Jangan lupa like, komen and vote ya teman2 ku.
Berikan aku masukan dong guys agar karya ku tamba bagus nantinya๐
Makasih teman-teman
__ADS_1